Rania bingung dengan perasaannya sendiri. Dia tidak mencintai pria tua itu. Tapi, kenapa dia tidak suka atas apa yang pria itu lakukan. Kenapa dirinya bersedih? Kenapa dirinya menangis? Kenapa dirinya merasa tersakiti? Kenapa? kenapa tuhan?
Prak
Krenteng
Krenteng
Dalam sekejap, peralatan make up yang berjejer rapih di atas meja rias, berserakan diatas lantai. Ya, Rania menghempas habis alat-alat kecantikan miliknya saat emosinya memuncak. Saat ini hanya itu saja yang bisa Rania lakukan. Karena sejatinya, Rania tidak punya tempat untuk berkeluh kesah serta mengeluarkan unek-unek nya.
Tok
Tok
"Non Rania, Non Rania. Apa Non Rania baik-baik saja?"
Bi Arum yang secara kebetulan sedang melintasi kamar Rania, tak sengaja mendengar kegaduhan dikamar Rania. Tanpa berpikir panjang, bi Arum pun langsung mengetuk dan memanggil-manggil nama Rania. Takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada putri majikannya itu. Apalagi orang tuanya sedang tidak ada, dan suaminya baru saja pergi.
Rania yang mendengar suara bi Arum, seketika menghentikan tangisnya. Namun, Rania enggan membuka pintu kamarnya. Apalagi kamarnya dalam keadaan acak-acakan. Rania tak ingin art nya itu banyak tanya lalu menceritakan pada orang tuanya.
"Tidak apa-apa, bi. Aku sedang sibuk memberesi kamarku," sahut Rania dengan suara tinggi, agar terdengar oleh art nya itu.
Di depan pintu, kening bi Arum mengkerut. Sejak kapan anak majikannya itu mau membersihkan kamarnya sendiri? Selama ini, bi Arum lah yang melakukan semuanya termasuk membereskan tempat tidurnya.
"Apa sekarang Non Rania sudah berubah lebih rajin? syukurlah. Ternyata dinikahi tuan Dave, bisa mengubah sifat malasnya Non Rania," bathin Bi Arum, tersenyum. Lalu beranjak meninggalkan pintu kamar Rania.
Drrttt
Tepat saat Rania memunguti peralatan make up diatas lantai yang telah diacak-acak olehnya, ponselnya bergetar. Rania tak langsung mengambilnya, karena Rania pikir itu hanya notifikasi sebuah pesan dan dia bisa membacanya kapan saja.
Drrttt
Ponselnya kembali bergetar, dan Rania masih tetap mengabaikannya.
Drrttt
Rania menoleh ke arah nakas dimana ponselnya tergeletak. Getaran yang ketiga kalinya ini menarik rasa penasaran Rania. Kira-kira siapa yang mengirim pesan beruntun itu?
Rania menghentikan aktifitasnya, lalu mendekati nakas mengambil ponselnya. Di layar ponsel nampak nama Renata.
"Ternyata Renata. Ada apa ya? tumben dia kirim pesan, biasanya juga langsung telpon."
Dengan rasa penasaran, akhirnya Rania membuka sebuah aplikasi chat. Nampak tiga pesan dari Renata di sana.
"Hai, Rania sedang apa? Aku harap kamu baik-baik saja ya?"
"Aku dapat kiriman foto dari temanku nih!"
"Coba deh kamu perhatikan, itu si Kevin cowok mu kan yaaaaaaa?"
Rania memperhatikan sebuah foto seorang pria memakai switer dipeluk oleh seorang wanita berambut panjang memakai topi.
Glek
Rania merasa kesulitan menelan air ludahnya sendiri melihat foto itu. Meskipun wajah dua orang itu tidak nampak karena posisi membelakangi, tapi dari switer yang dikenakan oleh pria itu, jelas Rania mengenalinya. Karena switer itu limited edition yang Rania berikan sebagai kado ulang tahun seorang pria yang sangat special dihatinya. Hingga kini, posisi pria itu belum tergantikan oleh siapa pun. Ya walaupun pria itu pernah mengecewakan dirinya dihari pernikahan mereka.
"Ke-Kevin," ucap Rania lirih, dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Lalu dalam hitungan detik, tetesan-tetesan airmata Rania berjatuhan sampai membasahi layar ponselnya.
Drrrtt
Pada saat yang sama, ponsel Rania kembali bergetar. Sambil terisak-isak, Rania membaca pesan dari Renata.
"Gimana, Ran. Benar kan itu si Kevin? jangan bilang cewek itu bukan kamu ya! Haha. Masa iya si Kevin selingkuh. Bukan nya si Kevin itu cinta mati sama kamu ya, Ran?" Oya, tapi Minggu-minggu ini, aku kok tidak pernah melihat kamu jalan bareng lagi sama si Kevin, Ran....Emm, jangan bilang kalian sudah putus ya? Hahaha.."
Rania memejamkan matanya setelah membaca kalimat panjang Rania. Selingkuh? Rasanya tidak mungkin. Kevin pria yang baik dan setia. Meskipun penampilannya sering dikatain bragajulan oleh papa Hamid. Adapun masalah Kevin pergi dihari pernikahan mereka, pasti ada alasan lain dan bukan karena ada wanita lain dihatinya selain dirinya. Rania yakin itu.
Rania mengusap airmata nya dan kembali memperhatikan foto itu. Rania merasa ada yang aneh. Kenapa wanitanya yang memeluk Kevin, bukan Kevin nya?
Rania mengusap layar ponselnya yang sudah penuh dengan airmata. Lalu mengetik pesan balasan untuk Renata.
"By the way, kamu dapat dari mana foto ini?"
Tak lama, Renata membalas pesan Rania.
"Dari teman ku."
"Siapa teman mu? Apa aku boleh minta nomernya? Aku ingin tanya-tanya sama dia."
"Dia tidak kenal kamu, Rania. Lagi pula dia tidak akan mau di interogasi sama kamu. Orang nya super sibuk."
Membaca pesan Yang ini, kening Rania mengernyit. Kenapa tidak mau diintrogasi? Sesibuk apa? Dia yang mengambil fotonya dan mengirimnya pada Renata. Seolah dia mengenal siapa pria itu.Teman Renata tidak mengenal Rania tapi tahu kalau pria yang sedang bersama wanita itu adalah kekasih Rania. Logikanya, kalau temannya Renata itu tidak mengenal Rania, tentu teman Renata juga tidak akan mengenal kekasihnya Rania.
"Kalau teman mu itu tidak mengenalku, lantas dari mana teman mu tau kalau pria itu adalah pacarku? Dan kamu juga. Kenapa kamu begitu yakin kalau pria itu si Kevin?"
Satu detik
satu menit
Hingga satu jam kemudian, Renata baru membalas pesan Rania.
Drrtt
"Terserah kamu deh mau percaya atau tidak. Yang pasti kamu jangan menyesal saja dikemudian hari."
Membaca pesan terakhir Renata, Rania hanya tersenyum miring. Teman nya yang satu ini sok tahu sekali. Bagaimana Renata bisa tiba-tiba menebak jika pria itu adalah Kevin! Sementara posisi pria itu memunggungi. Tubuh dan kepalanya dibalut switer. Masalahnya, switer itu masih sangat baru. Baru dua Minggu sebelum acara pernikahan. Pada saat itu Kevin ulang tahun. Rania sendiri belum pernah melihat Kevin memakai switer itu sebelumnya. Apalagi Renata yang bukan siapa-siapa Kevin. Ini cukup Aneh dan harus diselidiki pikir Rania.
Renata tak lagi berkirim pesan, begitu pula dengan Rania yang juga malas bertanya-tanya. Rania menghempas ponselnya begitu saja ke atas kasur, lalu meneruskan aktifitasnya yang sempat tertunda.
Menjelang tidur, Rania kesulitan memejamkan matanya. Membolak-balikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Resah dan gelisah kian dirasakan Rania. Kini, masalah Rania bertambah lagi, yaitu tentang keanehan foto Kevin yang dikirim oleh teman Renata. Siapa teman Renata itu? Rania amat sangat penasaran.
Pada saat posisi Rania mengarah pada ranjang bagian Dave, Rania menatap diam tempat kosong itu. Perlahan tubuh Rania bergeser ke arah sana atas dasar keinginan hatinya. Dan kini, tubuh Rania sudah berada ditempat dimana Dave biasa tidur. Nyaman rasanya. Perlahan kelopak mata Rania menutup dan pikiran Rania beralih ke alam bawah sadar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Yani
Kayanya Renata tau keberadaan Kevin
2023-12-29
1
Ira Sulastri
Dave sama Kevin, bapak anak masa sama2 berengsek nya
2023-12-23
1
Murni Zain
Jangan sok jual mahal Rania..msh untung pak Dave m mengganti kn Kevin..hrs km belajar menerima pak Dave sebagai suami.. enggak ada salah ya dr pada berharap sm Kevin yg sdh berkhianat
2023-12-23
1