Panggil papa dan mama

Dave menikmati nasi goreng diatas piringnya. Begitu pula dengan Amira dan juga Hamid. Tapi tidak dengan Rania yang hanya mengaduk-aduk. Sikap Rania sama persis seperti anak kecil yang sedang mogok makan.

"Ayok dimakan mumpung masih hangat. Nanti kalau sudah dingin tidak enak lagi," bujuk Dave sambil mengunyah dan tanpa melihat pada Rania. Rania memutar matanya dengan malas serta ujung bibirnya ditarik ke sebelah sisi.

"Makan saja, Om. Tidak perlu banyak bacot," ketus Rania. Dave tersenyum tipis tanpa berucap. Sementara Amira melototi Rania yang masih terus mengaduk-aduk nasinya seperti bocah. Tapi sayangnya, Rania tidak melihat ekspresi kekesalan sang mama.

"Kamu belum pernah merasakan betapa sulitnya mencari sebutir nasi. Di luar sana masih banyak yang......." Mendengar sang papa berceramah, Rania langsung menyuapkan nasi berukuran yang tak tanggung ke dalam mulutnya, sampai kedua pipinya mengembung.

Rania semakin dongkol saja. Papanya itu seolah tidak bisa memahami isi hatinya. Tapi Rania bisa apa selain bisanya diam dan terus mendengarkan cerocosan Hamid. Heran, biasanya wanita yang cerewet ini malah laki-laki. Beberapa hari kemarin saat dicueki, Rania merasa telinganya adem ayem dan tentram. Tapi pagi ini, telinganya kembali berdengung mendengar kecerewetan Hamid.

Apa yang Rania lakukan, sontak membuat Hamid menghentikan ceramahnya. Dia menatap diam Rania, begitu pula dengan Amira.

"Pelan-pelan makannya," ucap Dave dengan lembut.

"Uhuk, uhuk" Rania terbatuk sampai mulutnya yang penuh nasi itu menyembur. Pada saat yang sama, tangan kiri Rania meraba-raba meja mencari air minum. Sementara tangan kanannya menutupi mulutnya yang terbatuk-batuk.

"Biar saya bantu." Tanpa menunggu persetujuan Rania, Dave menuangkan air dari teko kaca ke dalam gelas Rania yang masih kosong. Untuk sementara, Rania menyampingkan rasa gengsinya menerima bantuan dari Dave karena urgent. Jika tidak, dia bisa kehilangan nyawanya akibat tersendat nasi.

Dave tersenyum saat melihat Rania meneguk air pemberiannya sampai tandas. Begitu pula dengan Amira, sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah sang putri yang entah kapan berubah dewasanya. Sementara Hamid hanya diam lalu menyeruput kopinya yang tinggal ampasnya.

"Saya permisi dulu, pak Hamid dan Bu Amira," pamit Dave setelah selesai sarapan dan akan berangkat ke kantornya.

"Mulai sekarang panggil saya papa dan panggil istri saya mama."

Dave termangu menatap dua orang tua yang ingin dipanggil papa dan mama olehnya. Apa tidak lucu? Usia nya dengan mereka paling hanya beda tipis.

"Kenapa? Apa anda keberatan?"

Dave langsung geleng-geleng kepala, agar mertuanya itu tidak salah paham." Bukan, bukan seperti itu. Ba-baik lah pak, eh ma-maksud saya papa dan....em mama. Saya permisi dulu."

Meskipun terdengar lucu obrolan antara para orang tua, Rania berusaha untuk tidak tertawa. Rania hanya menunjukan sikap cuek nya saja.

"Iya, hati-hati," balas Amira. Hamid mengangguk tanpa berkata. Sementara Rania memainkan jari-jari tangannya tidak peduli.

Dave melihat ke arah Rania, tapi istrinya itu masih asik dengan dunianya. Jangankan membalasnya, melihatnya saja tidak.

Melihat sikap cuek Rania, Amira berseru," Raniaaaa!" Rania langsung mendongak tapi tidak bertanya apa-apa.

"Suami mu mau berangkat kerja. Antar sana ke teras."

Rania tidak mengiyakan juga tidak menolak perintah Amira, melainkan memegang perutnya sambil meringis." Aduuuh, mules...." lalu beranjak pergi begitu saja dengan langkah tergesa-gesa.

Melihat kelakuan Rania membuat Amira merasa tidak enak hati pada Dave. Sementara Hamid, lagi-lagi menyeruput kopinya yang sebenarnya tinggal ampasnya saja.

"Tolong maklumi sikap Rania ya, pak Dave," ucap Amira. Dave tersenyum disertai anggukan tanpa berucap apapun. Setelah itu, Dave beranjak pergi tanpa dampingan istrinya.

Tiba di kamar, Rania tidak masuk ke kamar mandi melainkan tolak pinggang sambil menggerutu." Enak saja nyuruh aku antar dia. Emang siapa dia? Ngasih aku uang juga tidak."

Ternyata, tadi Rania hanya pura-pura mules saja, agar tidak mengantar Dave ke teras depan.

Rania menyibak gorden besar di kamarnya. Dibawah sana, nampak mobil BMW milik Dave keluar pintu gerbang. Selang beberapa saat, menyusul Pajero sport milik Hamid. Rania perlahan tersenyum." Good. Its time to hangout." Dengan hati yang riang, Rania berjalan jungkrak jungkrik bak belatung ke arah lemari pakaian. Lalu memilih-milih pakaian yang hendak dia kenakan sambil bersiul-siul.

Selama seminggu ini, Rania hidup seperti di sebuah penjara. Orang tuanya melarangnya keluar rumah dengan berbagai alasan. Mereka pun meminta Rania untuk membatasi pergaulannya serta aktifitas-aktifitas lainnya di luar. Semenjak Rania menikah, sikap orang tuanya itu berubah. Jika dulu protektif, sekarang berubah menjadi diktator.

Stres? tentu. Bahkan mendekati depresi. Sudah ditinggal oleh kekasihnya yang kabur entah kemana, dinikahkan dengan pria tua pula. Selain itu, Rania juga dilarang keluar rumah meskipun hanya ingin sekedar mencari angin.

Rania menuruni tangga dengan jalan mengendap-endap. Takut sang mama melihatnya. Setelah berada di lantai dasar pun Rania masih mengendap-endap. Tapi ketika Rania merasa sudah aman, dia malah dikejutkan oleh seorang wanita baruh baya memakai hijab.

"Astaga bi Arum," ucap Rania sambil memegang dadanya yang berdegub kencang, saat melihat ART yang sudah bekerja belasan tahun di rumahnya itu tiba-tiba nongol di hadapannya.

"Maaf non, bibi tidak bermaksud mengagetkan non Rania," kata bi Arum dengan raut wajah merasa bersalah.

Rania tidak membalas ucapan maaf bi Arum melainkan culingak culinguk kesana kemari. Bi Arum yang melihat gelagat aneh Rania pun bertanya," Non Rania lagi cari siapa to?"

"Mama mana?"Tanya Rania basi basi.

"Lho, bu Amira kan ikut pergi sama bapak. Memangnya non Rania tidak tau?"

Mendengar kabar baik itu, perlahan bibir Rania tersenyum "yes" akhirnya dia bisa pergi tanpa harus berdebat dulu dengan sang mama.

Sambil mengemudi, Rania menghubungi beberapa temannya untuk nongkrong di sebuah cafe. Rania mengatakan akan mentraktir semuanya makan di cafe nanti. Jika menyangkut ditraktir, teman-teman nya itu, dan dalam keadaan sesibuk apapun pasti akan disempatkan. Rania memang yang paling royal diantara teman-temannya. Saking royalnya, terkadang dia dimanfaatkan oleh mereka.

Tiba di cafe di tempat biasa Rania nongkrong bersama teman-temannya, Rania disambut oleh tiga orang teman nya yang sudah datang lebih dulu.

"Hai...." Sapa Rania sambil berjalan ke arah mereka. Lalu mereka saling cipika cipiki.

"Lho, Agatha mana?" Tanya Rania pada teman-temannya sambil menarik kursi yang hendak Rania duduki.

"Katanya sih dia tidak jadi datang. Ada urusan dadakan," jawab Renata. Beberapa menit sebelum Rania datang, temannya yang bernama Agatha itu kirim pesan memberitahu ketidakhadiran nya.

Rania tidak lagi bertanya melainkan manggut-manggut dan bibirnya membentuk huruf O.

"Hebat si Agatha. Seminggu jalan-jalan ke eropa. Baru kemarin dia balik," celetuk Wilona. Rania dan ke dua temannya langsung menyorot ke arah Wilona secara serempak. Cerita Wilona cukup menarik. Menceritakan temannya yang berasal dari keluarga biasa jalan-jalan keliling Eropa. Rania saja yang orang kaya, belum pernah liburan ke negara sana.

Terpopuler

Comments

RizQiella

RizQiella

jangan jangan sama si kep kep

2024-06-12

0

Yani

Yani

Eah kayanya Ada yang nikung nie

2023-12-29

1

Flo aja

Flo aja

liburan ma Kevin

2023-12-25

1

lihat semua
Episodes
1 Pengantin Pengganti
2 Saling Diam
3 Panggil papa dan mama
4 Dicafe
5 Kartu kredit diblokir
6 Desakan teman-teman
7 Minta Nafkah
8 Karoke
9 Sandiwara
10 Terpesona
11 Diamnya Dave
12 Perasaan aneh
13 Perasaan aneh 2
14 Nasib mobil Rania
15 Kegundahan hati Rania
16 Marahnya Dave
17 Wanita bernama lidya
18 Nabrak pohon
19 Foto Kevin
20 Rania hamil ?
21 Seblak
22 Aroma seblak
23 Ego dan Perasaan Rania
24 Mengejar Kevin
25 Pria gi la
26 Sosok misterius
27 Gara-gara kecupan
28 Akting Rania
29 Kerak telor
30 Kepergian Dave
31 Rania sakit
32 Mengunjugi rumah Dave
33 Obat perangsang
34 Godaan Rania
35 Di atas king size
36 Setelah di atas king size
37 Daster
38 Menggoda Dave
39 Album foto
40 Album foto 2
41 Daster robek
42 Switer
43 Pembelaan Dave
44 Ingin perhatian
45 Bertemu Agatha
46 Membuntuti Dave
47 Apartemen Lidya
48 Salting
49 Perubahan sikap Rania
50 Perubahan sikap Rania 2
51 Chatan
52 Chatan 2
53 Menghadiri undangan Wilona
54 Pengakuan Dave
55 Masuk rumah sakit
56 Kepergok suster
57 Burak Ozcivit
58 Pulang
59 Gagal Unboxing
60 Pembalut
61 Hutan belantara
62 Kabar kematian Risa
63 Soto Lamongan
64 Mengunjungi kampung Risa
65 Rumah orang tua Risa
66 Bertemu keluarga Risa
67 Babi hutan
68 Penginapan
69 Sarung
70 Tetangga meresahkan
71 Kedatangan Danu
72 Cemburu
73 Perhiasan
74 Bertemu Kevin
75 Atas Awan
76 Bintang-bintang
77 ID Dave
78 Jones
79 Mencetak baby
80 Pesan Dave
81 Mengunjungi kantor Dave
82 Di atas sofa
83 Cabe-cabean
84 Kedatangan Hamid dan Amira
85 Amanah mertua
86 Di tolong Kevin
87 Honeymoon
88 Honeymoon 2
89 Insecure
90 Penampilan baru Dave
91 Dara Junior
92 Mengunjugi rumah Agatha
93 Mengejar Agatha
94 Mengunjungi rumah Jack
95 Kematian Kevin
96 Pemakaman Kevin
97 Kabar bahagia
98 Jack mengunjungi rumah Agatha
99 Agatha sakit
100 Kejutan Rania
101 Wilona positif HIV
102 Obrolan dua pria
103 Pernikahan Agatha
104 Peristiwa tak terduga
105 Rania diculik
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Pengantin Pengganti
2
Saling Diam
3
Panggil papa dan mama
4
Dicafe
5
Kartu kredit diblokir
6
Desakan teman-teman
7
Minta Nafkah
8
Karoke
9
Sandiwara
10
Terpesona
11
Diamnya Dave
12
Perasaan aneh
13
Perasaan aneh 2
14
Nasib mobil Rania
15
Kegundahan hati Rania
16
Marahnya Dave
17
Wanita bernama lidya
18
Nabrak pohon
19
Foto Kevin
20
Rania hamil ?
21
Seblak
22
Aroma seblak
23
Ego dan Perasaan Rania
24
Mengejar Kevin
25
Pria gi la
26
Sosok misterius
27
Gara-gara kecupan
28
Akting Rania
29
Kerak telor
30
Kepergian Dave
31
Rania sakit
32
Mengunjugi rumah Dave
33
Obat perangsang
34
Godaan Rania
35
Di atas king size
36
Setelah di atas king size
37
Daster
38
Menggoda Dave
39
Album foto
40
Album foto 2
41
Daster robek
42
Switer
43
Pembelaan Dave
44
Ingin perhatian
45
Bertemu Agatha
46
Membuntuti Dave
47
Apartemen Lidya
48
Salting
49
Perubahan sikap Rania
50
Perubahan sikap Rania 2
51
Chatan
52
Chatan 2
53
Menghadiri undangan Wilona
54
Pengakuan Dave
55
Masuk rumah sakit
56
Kepergok suster
57
Burak Ozcivit
58
Pulang
59
Gagal Unboxing
60
Pembalut
61
Hutan belantara
62
Kabar kematian Risa
63
Soto Lamongan
64
Mengunjungi kampung Risa
65
Rumah orang tua Risa
66
Bertemu keluarga Risa
67
Babi hutan
68
Penginapan
69
Sarung
70
Tetangga meresahkan
71
Kedatangan Danu
72
Cemburu
73
Perhiasan
74
Bertemu Kevin
75
Atas Awan
76
Bintang-bintang
77
ID Dave
78
Jones
79
Mencetak baby
80
Pesan Dave
81
Mengunjungi kantor Dave
82
Di atas sofa
83
Cabe-cabean
84
Kedatangan Hamid dan Amira
85
Amanah mertua
86
Di tolong Kevin
87
Honeymoon
88
Honeymoon 2
89
Insecure
90
Penampilan baru Dave
91
Dara Junior
92
Mengunjugi rumah Agatha
93
Mengejar Agatha
94
Mengunjungi rumah Jack
95
Kematian Kevin
96
Pemakaman Kevin
97
Kabar bahagia
98
Jack mengunjungi rumah Agatha
99
Agatha sakit
100
Kejutan Rania
101
Wilona positif HIV
102
Obrolan dua pria
103
Pernikahan Agatha
104
Peristiwa tak terduga
105
Rania diculik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!