Rania masih menempelkan telinganya pada daun pintu. Percakapan akrab antara Dave dengan seseorang yang entah siapa diseberang telpon sana menarik perhatian telinga rania untuk terus menguping. Rania yang selama ini masa bodoh dengan siapa Dave bertemu, dengan siapa Dave berbicara, entah mengapa kali ini Rania beneran ingin tahu urusan suaminya itu.
Akan tetapi saat Rania hendak menegakkan tubuhnya karena merasa obrolan suaminya telah usai, sebuah kejadian tak terduga pun menimpa Rania.
Dug
"Aduuuhh"
Rania mengaduh kesakitan sambil memegang keningnya saat tanpa disangka, daun pintu tiba-tiba mencium jidatnya secara kasar. Tak hanya keningnya saja yang kepentok, tubuh Rania pun terdorong sampai menempel pada dinding.
Betapa terkejutnya Dave. Akibat ulahnya yang tak hati-hati saat membuka pintu, istrinya sendiri menjadi korban pintu yang dia dorong.
"Rania..."ucap Dave dengan raut wajah cemas. Dave sendiri sama sekali tidak menduga, istrinya yang Dave pikir sudah tidur nyenyak diatas ranjang, kenapa tiba-tiba berada di balik pintu.
"Kamu tidak apa-apa?" Dave hendak menyentuh kening Rania tapi Rania malah menepis tangan Dave dengan kasar.
"Aku tidak apa-apa," ucap Rania sedikit ketus dan dengan perasaan yang bercampur aduk antara sakit, kesal dan...entah lah. Rania sendiri pun tak dapat menggambarkan perasaannya saat ini.
Disaat Dave hanya diam menatapnya, Rania beranjak. Namun tanpa disangka, Dave memegang lengannya." Maaf, saya tidak sengaja. Tolong maafkan saya," ucap Dave dengan penuh penyesalan.
Mendengar kata maaf dari Dave, Rania memejamkan matanya. Dari lubuk hati yang terdalam, Rania mengakui bahwa Dave tidak lah bersalah. Dave tidak sengaja. Tapi kenapa lidah Rania rasanya sulit sekali untuk mengucapkan kata "iya" dan lagi-lagi Rania menepis tangan Dave tanpa berucap sepatah kata. Lalu, Rania naik ke atas ranjang tidurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Melihat tubuh Rania yang sudah tertutup penuh tanpa celah, Dave mengusap wajahnya kasar. Dave menyesal sudah menyakiti istrinya tanpa sengaja dan membuatnya marah. Namun benaknya bertanya, apa yang sebenarnya sedang Rania lakukan dibalik pintu? lagi, Dave mengusap wajahnya.
Rania perlahan menyibak selimut bagian kepala setelah Dave masuk ke kamar mandi. Memegang benjolan di keningnya yang sudah sebesar telor ayam kampung. Rania pun meringis." Ala Mak Mak. Sial banget nasibku malam ini."
Krek
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Rania langsung menutup kembali kepalanya dengan selimut.
Selang beberapa saat, Rania merasa ranjangnya bergoyang. Artinya, Dave sudah berada diatas ranjang yang sama dengan Rania.
Dag Dig Dug
Begitulah keadaan detak jantung Rania saat ini. Bentuk respon salah satu organ tubuhnya terhadap sesuatu yang sebenarnya tak diinginkan Rania. Tapi Rania tidak bisa menolaknya, karena itu merupakan spontanitas.
"Saya minta maaf sudah menyakitimu. Dan saya benar-benar tidak sengaja menyakitimu."
Gumaman lembut dan tulus itu, ya tuhan. Siapapun pasti meleleh mendengarnya. Tapi sayangnya, ego Rania lebih gede. Hatinya yang masih sekeras batu karang, sulit menerima maaf dari Dave.
Dave meletakkan kedua tangannya dibawah kepala dengan posisi menyilang. Menatap langit-langit dengan pikiran yang melayang-layang. Bukan memikirkan hal yang indah-indah. Dave hanya memikirkan keberadaan Kevin. Dan keingintahuannya kenapa putranya itu tidak ingin menikahi gadis yang sedang tidur satu ranjang dengannya. Padahal putranya itu sering kali bercerita bahwa dia sangat mencintai gadis ini.
Dave menghirup nafas panjang. Padahal raganya sangat lah lelah, tapi matanya sulit sekali memejam. Sesekali Dave melirik ke arah Rania yang tidur tanpa gerak serta selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Pemandangan yang selalu Dave lihat selama tidur satu ranjang dengan Rania. Demi menjaga tubuhnya agar tak disentuh olehnya, Rania rela tidur pengap-pengapan.
"Apa aku semenakutkan itu, Ran?"
Pagi-pagi sekali Dave bangun. Karena sebelum pergi ke kantornya, Dave harus mengecek sebuah apartemen yang baru dibeli untuk ditempati oleh seseorang.
Dave melihat ke arah Rania yang masih bergumul dibawah selimut.
"Maaf. Pagi ini, saya pergi tanpa sepengetahuan mu."
Bergegas Dave beranjak dari kamar.
Tring
Tring
Suara weker cukup memekakkan. Rania berusaha membuka kelopak matanya yang lengket. Menyibak selimut lalu menoleh ke arah dimana biasa Dave tidur. Kelopak matanya kembali menyipit saat melihat ranjang itu kosong.
"Apa dia sedang mandi?" Bathin Rania. Namun ada yang aneh. Rania sama sekali tidak mendengar gemericik air.
Rania meraih weker mungil di atas kepalanya. Weker yang selalu Rania letakan di sana, sebagai pengingat waktu seperti orang yang hidupnya sibuk dan harus tepat waktu. Padahal, Rania sendiri salah satu orang yang tak pernah sibuk apalagi harus tepat waktu semenjak setelah lulus kuliah.
Weker itu menunjukan pukul tujuh pagi. Dimana jam segini lah biasanya Dave bangun dan mandi. Tapi...dikamar mandi itu seperti tidak ada aktifitas orang yang sedang mandi. Merasa kurang yakin, Rania pun bangkit dan mendekati daun pintu kamar mandi. Meletakkan telinganya di daun pintu itu. Keningnya mengernyit karena Rania tidak mendengar suara apapun di dalam sana. Masih merasa kurang yakin, Rania pun perlahan membuka pintunya. Dan ternyata, kamar mandi itu memang dalam keadaan kosong. Hanya saja kamar mandi itu dalam keadaan basah dan tercium aroma wangi sabun lili.
Masih belum yakin, Rania pergi ke walk in closet. Membuka lemari khusus pakaian Dave. Didalam sana yang hanya ada beberapa pasang pakaian Dave, sudah tak nampak lagi jas kebesarannya. Tak sampai disitu. Rania pun mengecek sepatu Dave. Dan ketidak adaan sepatunya di sana itulah baru menguatkan Rania bahwa Dave sudah berangkat kerja sebelum dia bangun.
"Kenapa pagi-pagi sekali?"
Glek
Rania menelan salivanya saat teringat tadi malam menguping Dave berbicara lumayan mesra dengan seseorang di telpon.
Tiba-tiba perasaan Rania menjadi gelisah. Namun, Rania buru-buru menepis perasaan gelisah nya itu." Bagus dong kalau dia punya pacar. Siapa tau dia nyerein aku secepatnya."
"Ran, suami mu mana?" Tanya Amira saat melihat kedatangan Rania seorang diri.
"Sudah pergi," jawab Rania lirih sambil menarik kursi dengan lesu.
Sebelah Alis Amira terangkat. Selain melihat Rania yang nampak lesu, Amira juga melihat kening Rania yang benjol tapi tidak sebenjol tadi malam.
Sekuat apa pak Dave, sampai putrinya itu se-lesu dan sampai benjol seperti itu. Amira langsung berpikir ke ranah pertempuran Rania dan Dave diatas ranjang. Oleh karena itu, Amira tidak bertanya.Takut putrinya itu merasa malu. Begitu pula dengan Hamid. Dia pun memiliki pemikiran yang sama dengan Amira.
"Papa tidak melihat mobil mu di garasi," celetuk Hamid. Rania termangu menatap Hamid. Ya ampun, kenapa dirinya melupakan mobilnya. Padahal Dave sudah memberinya uang untuk menebusnya.
"Di bengkel." Alasan yang terdiri dari dua kata itu tiba-tiba langsung saja ada di otaknya.
"Bengkel!" ucap Amira.
Rania mengangguk." Hari ini mau ku ambil."
"Memang kenapa dengan mobilmu?" Tanya Hamid.
"Sedikit tergores kemarin." Rania menjawabnya dengan lancar dan santai, karena Rania memang sudah terbiasa berbohong.
Sekali berbohong, maka akan terus menciptakan kebohongan yang baru. Rania sadar itu. Tapi mau bagaimana lagi. Rania pun tidak mungkin mengatakan sejujurnya. Bisa-bisa, tak hanya kartunya saja yang diblokir, Hamid bisa saja menjual mobilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
turunkan ego kamu Rania... ditakdirkan ketemu Dave sama cewek kamu pasti merasai cemburu kannn... Owh pasti tidak kerana kamu lbh suka jika Dave ceraiin kamu....tnggu aja hati kamu akan berubah 180 derajat mencintai suami tua kamu itu🤭😅
2023-12-29
1
Yani
Rania egois
2023-12-29
1
Diah Elmawati
Heran Rania belum juga mengubah sikapnya terlalu sekali. Suami sendiri tidak diperhatikan dan malahan dibiarkan sendiri.
2023-12-16
1