Menggosipkan temannya yang bernama Agatha memang menyenangkan, karena temannya yang agak lain itu gaya hidupnya berbanding terbalik dengan realita hidup keluarganya.
Agatha berasal dari keluarga yang ekonominya jauh di bawah mereka. Lantas punya uang dari mana bisa jalan-jalan ke luar negeri? Agatha tidak bekerja. Kuliah pun tidak sampai lulus. Berbeda dengan mereka yang kuliah sampai lulus. Ada yang sudah bekerja, ada juga yang masih nganggur tapi hidupnya ditopang oleh orang tuanya yang kaya, salah satunya adalah Rania. Rania sendiri tidak pandang buluh dengan siapa dia berteman. Tidak peduli mereka orang kaya atau pun miskin, yang penting se-frekuensi.
"Masa sih!" ucap Risa kurang percaya.
"Emangnya kalian tidak tau?" Tanya Wilona. Renata dan Risa menggeleng serempak.
"Kalau kamu, Ran?" Wilona menyorot ke arah Rania yang hanya duduk diam dan menyimak. Pada saat yang sama, kedua temannya itu mengalihkan tatapannya ke arah Rania secara bersamaan.
Rania yang ditatap ke tiga temannya pun langsung menggelengkan kepala.
"Tapi seminggu ini kamu ngilang, Ran. Emangnya kemana? Ponsel mu saja tidak aktif."
Kalimat pertanyaan Renata yang menyinggung soal ketidak munculan nya selama seminggu, membuat wajah Rania berubah tegang. Akan tetapi, Rania segera mengubah ekspresinya agar temannya itu tidak lagi curiga.
"Aku ke Jepang antar mamaku," jawab Rania asal dan santai.
"Jepang!" ucap ketiga temannya secara bersamaan. Rania mengangguk tanpa keraguan.
"Kok kamu tidak bilang kalau mau ke Jepang?"
"Mendadak. Sudah ah, mending pesan makanan." Rania culingak culinguk mencari sosok waiters. Ketika sorot matanya menangkap seorang wanita berseragam, dia langsung melambaikan tangannya ke arah wanita itu.
Ketiga temannya saling pandang. Kali ini Rania nampak aneh sikapnya. Tapi meskipun rada kurang percaya, mereka memilih diam.
"Ran, beneran kamu yang traktir kita kan?" Tanya Wilona memastikan, sebelum dia memilih menu yang ada di buku.
"Sejak kapan aku ingkar janji? Kalian tinggal pilih saja makanan apa yang kalian mau."
Wilona tersenyum lebar. Lalu memilih menu diantara menu yang paling enak dan mahal. Mumpung gratis pikirnya. Meskipun sebenarnya Rania sering kali mentraktirnya makanan mahal, tapi tetap saja Wilona selalu antusias seperti baru pertama kalinya ditraktir.
Begitu pula dengan kedua temannya yang lain, Renata dan Risa. Mereka pun sama, memesan makanan yang tak nanggung-nanggung dalam jumlah menu yang tak cukup satu macam saja.
Tak hanya itu, mereka juga mengunggah makanan maupun diri mereka ke sosial media masing-masing untuk dipamerkan dengan berbagai macam caption. Hal itu memang sudah biasa bagi mereka, tapi tidak untuk Rania. Diantara mereka, hanya Rania lah yang tidak pernah pamer apapun kegiatannya atau apapun yang dia miliki. Rania memang berteman dengan mereka, tapi sikapnya tidak se-norak mereka yang apa-apa harus dipamerkan ke sosial media. Jangankan pamer, membuka sosmed nya saja sangat jarang.
Tiga jam berlalu.
"Setelah dari sini gimana kalau kita lanjut ke tempat karoke?" Usul Risa pada Rania dan juga dua temannya yang lain.
"Wah, ide bagus tuh. Kita kan sudah lama tidak karoke." Renata menyetujui usulan Risa sembari tersenyum sumringah.
"Aku....setuju setuju saja," ucap Wilona yang seolah pasrah atas usulan temannya. Wilona satu-satunya yang tidak bisa bernyanyi. Suara nya fals dan sumbang. Tak heran jika teman-temannya seringkali meledeknya ketika dia ikut bernyanyi. Oleh sebab itu, Wilona rada malas kalau pergi ke tempat karoke. Dari pada karoke, dia lebih senang pergi ke club malam.
Ketiga gadis itu menyorot ke arah Rania serempak. Karena Rania belum memberikan tanggapannya. Rania yang ditatap hanya membesarkan matanya.
"Gimana, Ran. Kamu mau kan ke tempat karoke?" Tanya Renata.
"Aku..aku..." garuk-garuk kepala.
"Ayolah, Ran. Please....." Risa memohon sambil menangkup kedua tangannya.
Rania tidak langsung mengiyakan permohonan Risa. Dia masih bimbang. Jika setelah dari sini lanjut ke tempat karoke, sama artinya dia harus menambah waktu lebih lama. Bagaimana jika orang tua nya keburu pulang dan dirinya masih diluar. Sang papa bisa menyemprotnya habis-habisan.
"Gimana ya...aku.."
"Ayolah, Ran. Biasanya kamu oke oke saja. Yah, yah" bujuk Renata sambil menggoyang-goyangkan tangan Rania.
Melihat kedua temannya yang terus memaksa, akhirnya Rania menghela nafas panjang lalu mengiyakan. Sontak Renata dan Risa berseru riuh, kecuali Wilona yang bersikap biasa saja.
"Sebentar ya, aku mau bayar dulu," ucap Rania sambil bangkit.
"Kenapa tidak dipanggil kesini saja mba kasirnya?" Usul Renata.
"Biar lebih updol," jawab Rania asal, lalu beranjak tanpa menunggu respon Renata. Setelah Rania menjauh, Renata dan Risa saling pandang." Beruntung banget kita punya teman kayak Rania hihihi." Risa terkikik. Begitu pula dengan Renata yang juga tertawa. Menertawakan kebodohan Rania yang begitu mudahnya dimanfaatkan. Sementara Wilona cuek, dia malah senyum-senyum, sibuk chatan dengan gebetan barunya yang katanya orang arab.
Tiba ditempat kasir yang nampak sepi, Rania disambut senyuman oleh seorang staf kasir memakai seragam putih hitam.
"Selamat siang, mba! saya mau bayar tagihan meja no 20," kata Rania sambil memberikan kertas kecil ke arah staf kasir tersebut.
Staf kasir itu pun menerima kertas pemberian Rania lalu mengeceknya pada layar komputer.
"Berapa mba? Tanya Rania dengan rasa kurang sabar. Karena Rania merasa pelayanan staf itu lumayan lelet. Entah karena dia pegawai baru, entah karena komputernya yang eror. Yang jelas tidak seperti biasanya pelayanan di cafe yang terkenal bagus dan mahal itu demikian.
"Sebentar ya kak."
Rania tidak lagi bertanya, melainkan mendengus kesal. Lagi-lagi responnya sama setelah dua kali dia bertanya.
"Ran, sudah belum?" Seru Risa dengan jarak beberapa meter darinya. Risa dan yang lainnya menyusul ke kasir sambil membawa tas nya masing-masing bersiap meninggalkan cafe.
Rania menoleh ke arah mereka."Sebentar," sahut Rania dengan raut wajah bete.
Tak selang lama, staf kasir itu pun memberitahu nominal tagihan makanan yang harus dibayarkan oleh Rania.
"Totalnya empat juta sembilan puluh sembilan ribu kak, termasuk pajak."
Rania sama sekali tidak terkejut. Dengan santainya dia mengeluarkan kartu kredit miliknya. Nominal segitu belum seberapa. Rania bahkan pernah mengeluarkan uang puluhan juta untuk mentraktir teman-temannya.
Kemudian, Rania memberikan kartu kredit miliknya. Dan sang kasir menerimanya lalu melakukan transaksi. Ketika sedang melakukan transaksi, kening staf kasir itu nampak mengkerut.
Rania yang melihat ekspresi aneh sang kasir pun bertanya," Kenapa, mba?"
"Emm, maaf kak. Kartunya ditolak."
"Apa?" Rania menatap kasir itu dengan tatapan kurang percaya. Mana mungkin kartunya ditolak. Mungkin sang kasir sendiri yang tidak tahu cara menggunakan kartunya. Apalagi kasir itu masih baru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
RizQiella
kasian di blokir 😂
2024-06-12
0
Yani
Di bloxir papa mu Rania 🤭
2023-12-29
1
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
kartu kredit Rania sudah di blokir oleh papanya..
2023-12-29
1