Waktu terus bergulir, siang pun berubah menjadi gelap. Hari sudah berakhir, malam telah tiba. Hari ini telah berlalu, dan esok hari adalah hari yang baru untuk menjalankan aktifitas kembali. Begitu lah hidup, dan terus akan selalu begitu dari waktu ke waktu.
Kini, Rania berdiri diatas balkon. Menatap ribuan taburan bintang yang berkelap kelip diatas langit. Terlihat sangat indah sekali. Namun sayangnya, keindahan yang Rania pandangi saat ini tak seindah dengan suasana hatinya yang justru suram, gelap serta sunyi.
"Non Rania!"
Rania terperangah saat tiba-tiba, bi Arum menyebut namanya di pintu penghubung antara kamarnya dan balkon. Entah sejak kapan bi Arum berdiri di sana, karena pandangan Rania hanya terpusat pada bintang-bintang diatas langit saja.
"Maaf, Non. Bukan maksud bibi mau mengagetkan Non Rania," sesal Bi Arum merasa bersalah saat melihat Rania terkejut karena ulahnya.
Rania tak mempermasalahkan. Justru Rania bertanya santai maksud kedatangan bi Arum." Ada apa, bi?"
"Anu, Non. Bibi sudah menyiapkan makan malam sejak tadi. Tapi kenapa masih utuh makanannya? apa Non Rania belum makan?"
Rania melihat pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya yang belum dicopot. Jam itu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Rania menghela nafas. Ternyata, dia sudah cukup lama berdiri diatas balkon sampai dirinya lupa belum membersihkan tubuhnya sejak kepulangannya dari tadi sore.
"Saya mau mandi dulu, bi. Nanti saya akan turun," ucap Rania, lalu meminta bi Arum untuk menunggunya di lantai dasar saja. Bi Arum pun bergegas keluar kamarnya.
Setelah membersihkan diri dan rapih, Rania keluar dari kamarnya. Namun, pada saat sedang menuruni anak tangga satu persatu, Rania berpapasan dengan suaminya yang baru pulang bekerja.
"Rania.."sapa Dave lirih. Selain menyapa, Dave juga menghentikan gerak langkahnya dan berdiri di tengah-tengah tangga. Tapi tidak dengan Rania yang justru acuh, menuruni anak tangga tanpa berhenti. Pandangan Rania pun lurus serta tanpa ekspresi. Jangankan membalas sapaan Dave, menoleh ke arah Dave saja tidak. Seolah Dave itu jin yang tak dapat terlihat wujudnya serta tak dapat terdengar suaranya.
Melihat sikap istrinya yang acuh, Dave hanya menghela nafas panjang. Memperhatikan punggung Rania hingga istrinya itu menapakkan kedua kakinya di lantai dasar.
Bi Arum tersenyum saat melihat Rania berjalan ke arah meja makan.
"Kenapa non tidak barengan sama, Tuan Dave? Bibi lihat tuan Dave sudah pulang."
"Jangan panggil dia tuan, karena dia bukan tuan di rumah ini."
Mendengar protes sang majikan yang terkesan jutek, mulut bi Arum hanya menganga.
Rania menggeser kursinya untuk diduduki. lalu mengambil beberapa menu hidangan dan dijadikan dalam satu piring. Jangan dikira Rania tak memikirkan Dave saat ini. Justru melihat Dave tadi mood Rania semakin berubah buruk.
Entah mengapa, Rania merasa kesal. Tadi pagi Dave pergi tanpa sepengetahuannya, dan sekarang pulang pun dalam keadaan malam hari. Padahal biasanya Dave selalu pulang kerja sore hari. Tapi sudah dua hari ini Dave selalu pulang malam.
"Hei, Rania. Apa yang terjadi sama kamu? Dari pada mikirin pria tua itu, mending mikirin gimana caranya biar besok papa mu tidak marah saat tau mobil mu tak berbentuk tertabrak dum truck."
"Non..!"
Seruan bi Arum lagi-lagi mengejutkan Rania, tapi kali ini Rania tak tersentak melainkan biasa saja.
"Kenapa makanan nya cuma di aduk-aduk doang, Non! ayok atuh di makan," kata bibi Arum sambil meletakkan segelas air yang baru saja bi Arum ambil di dapur.
Rania menatap piringnya yang penuh dengan lauk pauk dan sama sekali belum secuil pun dimakan. Sejak tadi, Rania hanya mengaduk aduk saja.
"Maaf, bi. Sebenarnya aku sedang tidak berselera makan."
"Tapi, non Rania.."
Sreet
Rania bangkit, menggeser kursinya. Tapi pada saat Rania berbalik badan, Dave sudah berdiri dihadapannya. Sontak saja Rania terkejut bukan main, dan hampir terjungkal kebelakang jika Dave tidak dengan sigap menahan tubuhnya.
Rania terpaku menatap wajah pria yang ditumbuhi oleh jambang, jenggot serta kumis yang menyatu. Seperti tersihir, Rania terus menatapnya. Begitu pula dengan Dave yang terus menatap manik mata Rania tanpa kedip.
Deg
Deg
Detak jantung pun berirama seiring berlangsungnya peristiwa dimana kedua anak manusia sedang menyelami isi hati satu sama lain melalui sorot matanya masing-masing.
Tapi, ketika Rania sadar jika dirinya sedang dipeluk Dave, Rania pun terhenyak dan langsung melepas paksa tubuhnya. Setelah lepas, Rania berjalan setengah berlari ke arah tangga. Dave hanya termangu menatap punggung Rania.
"Apa aku ini menjijikan, Ran?"
"Em, Tuan Dave. Ayok makan dulu." Bi Arum yang secara tak sengaja menyaksikan adegan romantis itu, dengan malu-malu berkata pada Dave.
Dave tersenyum dan sedikit menyugar rambutnya." Iya, bi. Terima kasih."
"Apa itu makanan Rania?" Tanya Dave saat bi Arum hendak mengangkat piring berisi makanan yang hanya diaduk-aduk oleh Rania.
"Iya, Tuan. Saya mau membawanya ke dapur."
"Tidak usah, bi. Letakkan saja disitu."
"Buat apa, Tuan?"
"Mau saya makan."
"Tapi ini..."
"Tidak apa-apa, bi. Itu makanan istri saya yang belum sempat dimakan kan? Kapan lagi saya bisa makan hasil layanan tangan istri saya sendiri." Setelah berkata, Dave langsung duduk di kursi dimana Rania duduk tadi. Bi Arum menggeser tubuhnya, membiarkan Dave melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Melihat Dave makan dengan lahap, Bi Arum hanya termangu ditempat.
"Ya Allah, Non, Non. Kenapa Non Rania belum bisa menerima pria sebaik dan sesabar, Tuan Dave. Padahal pria seperti, Tuan Dave hanya ada satu di dunia ini."
Dave yang baru sadar kalau dirinya diperhatikan oleh bi Arum pun menoleh ke arahnya.
"Kenapa, Bi?"
Bi Arum langsung geleng-geleng kepala." Tidak Tuan, tidak. Kalau begitu bibi tinggal dulu ya?"
Dave mengangguk pelan.
Di kamar, Rania duduk sembari memeluk kedua kakinya yang menekuk. Air matanya berjatuhan tanpa diminta. Rania menangisi kegundahan serta kekalutan hatinya. Rania merasa cobaan hidupnya terus datang bertubi-tubi. Kevin yang meninggalkan nya di hari pernikahan. Dinikahkan paksa dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya. Kartu kredit yang diblokir. Dan sekarang, mobil kesayangan nya ringsek.
Rania memiliki banyak teman, tapi tak satupun dari mereka yang bisa dijadikan teman curahan hatinya. Rania memiliki orang tua yang komplit, tapi mereka bukan lagi orang tua yang nyaman untuk tempatnya berkeluh kesah.
Sementara suaminya. Apa yang Rania harapkan dari pria itu? Pria itu sendiri yang menjadi salah satu sumber masalah hidupnya.
Dave kembali ke dalam kamar setelah selesai makan malam seorang diri. Meskipun makan sendirian, tapi Dave merasa sangat menikmatinya. Entah karena makanan itu hasil racikan tangan istrinya, atau karena Dave merasa lapar. Entah lah dan yang jelas, Dave sangat menikmatinya.
Setelah berada di dalam kamar, kening Dave mengkerut kala melihat kamar itu dalam keadaan kosong.
"Kemana Rania?"
Tapi tak lama, sorot matanya melihat pada pintu balkon yang bercelah.
"Apa Rania ada di balkon?"
Dave berjalan ke arah pintu balkon. Semakin Dave mendekati pintu itu, semakin mendengar suara Isak tangis seseorang. Dave penasaran, dia pun membuka sedikit pintu itu untuk melihat keluar. Ternyata, Isak tangis itu bersumber dari seorang wanita yang sedang menangis pilu yang tak lain adalah istrinya sendiri.
"Kenapa Rania menangis? Apa dia menangisi Kevin?"
Dada Dave seperti ditimpa bebatuan besar, terasa sakit dan sesak melihat istrinya sendiri menangisi pria yang dicintainya. Dave sendiri pun bingung dengan perasaannya akhir-akhir ini. Kenapa dengan hatinya? apa dia mulai menaruh hati pada Rania. Si gadis manja, jutek, pemalas, boros dan yang pasti mencintai putranya, Kevin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
susah jg ya kayak Rania punya kepala batu dan hati keras...gak bisa dilembutkan oleh sesiapa... move on aja Rania dari Kevin..
2023-12-29
1
Yani
Salah kamu sendiri ga bisa pilih temen yang baik
2023-12-29
1
Murni Zain
Kasian bnyk temen tp cm d manfaat in .. semoga Rania belajar dr semua ya ..dn bs terima ttg pernikahan y
2023-12-19
1