Rania masuk kedalam kamar mandi sambil bersiul-siul. Betapa senangnya hati Rania pagi ini. Tak perlu mengemis, tak perlu merengek, tiba-tiba dapat uang segepok secara cuma-cuma. Mungkin ini yang dinamakan 'Hikmah dibalik derita'. Memang, kemarin Rania cukup menderita. Selain menderita harus menahan malunya pada orang-orang di karoke, Rania juga harus berjalan kaki di kegelapan malam dan di tengah terpaan gerimis.
Rania memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Tapi, Rania bukan menelisik pakaian yang digunakan nya sudah pas apa belum?melainkan menelisik tubuhnya yang nampak agak berisi. Rania pun heran. Padahal semenjak peristiwa menghilangnya Kevin, nafsu makan Rania berkurang drastis.
"Mungkin ini kah yang dinamakan wanita bahagia menjalani pernikahan nya? Yah meskipun realitanya aku tidak bahagia menikah dengan pria yang seharusnya menjadi papa mertuaku."
Tok
Tok
"Non Rania, ini bibi."
Rania menoleh ke arah pintu." Masuk saja, bi. Tidak dikunci kok," sahut Rania ketika bi Arum mengetuk pintu dan memanggil namanya.
Tak selang lama, muncul dari balik pintu sosok bi Arum. Wanita paruh baya yang sudah dikenal baik oleh Rania saat usianya baru menginjak lima tahun. Bi Arum memang art paling awet di rumah itu. Sebelum bi Arum, art-art yang bekerja di rumah Hamid paling lama bertahan hanya satu bulan saja, karena tak tahan dengan kenakalan Rania. Bi Arum sendiri awalnya baby sitter Rania. Tapi setelah Rania tumbuh dewasa, Hamid menjadikan bi Arum sebagai art atas kemauan bi Arum sendiri.
"Apa Non Rania sedang sibuk?" Tanya bi Arum setelah berdekatan dengan Rania.
"Tidak. Aku baru saja selesai mandi. Memang kenapa?"
"Tadi sebenarnya bibi di suruh ibu bangunkan Non Rania dan di suruh sarapan."
"Oh, ya sudah. Sebentar lagi aku turun."
"Ya sudah kalau begitu bibi permisi dulu, ya!"
Rania mengangguk. Tapi saat bi Arum hendak berbalik, Rania mencegahnya. Rania baru ingat, ada sesuatu yang harus dia tanyakan pada bi Arum.
"Ada apa, Non?"
"Tadi malam aku tidur dikamar bibi kan?"
"Benar."
"Tapi tadi pagi kenapa aku ada di kamarku? Apa bibi yang memindahkan aku ke kamar?
Wajah bi Arum berubah sedikit menegang. Dan perasaan nya mulai was was.
"Em, anu Non...anu..anu..." bi Arum garuk-garuk pipi nya yang sudah nampak keriput.
"Anu siapa, bi?"
"Itu anu..suami non Rania sendiri yang angkat non Rania dari kamar bibi."
Mendengar pengakuan Bi Arum, sontak saja bola mata Rania membelalak.
"Om Daaave....." ucap Rania lirih dan dengan nada yang mengayun. Bi Arum mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalau begitu bibi permisi dulu ya, non."
Bi Arum langsung ngacir dari kamar Rania tanpa menunggu respon Rania yang masih termangu. Bi Arum takut majikan nya itu memberikan pertanyaan berlanjut. Kok bisa? bagaimana Om Dave bisa mengangkat tubuhnya? Pertanyaan-pertanyaan kurang lebih semacam itu. Rania tidak tahu saja kalau sebenarnya, bi Arum sudah CS sama suaminya, Dave.
"Pagi, ma!" sapa Rania, lalu mencium sebelah pipi Amira. Setelah itu, Rania menarik kursi yang hendak dia duduki.
Sikap manis Rania yang hanya dilakukan pada satu orang tuanya saja membuat Amira menatapnya heran." Kok cuma cium mama doang, papamu tidak?"
Rania melirik malas pada Hamid yang sedang menyeruput kopinya." Ogah," ucap Rania sambil mengambil dua lembar roti dari tumpukan roti dan sebotol selai.
"Apa karena sekarang sudah ada..." Amira mesem-mesem menggoda. Rania menarik ujung bibirnya kesamping sambil terus mengolesi rotinya dengan selai sampai luber.
"Ngapain cium orang tua yang sudah jahat banget sama anaknya. Seenak nya saja main blokir kartu kredit," ucap Rania lalu menggigit rotinya dengan geram serta bola matanya menyorot kesal ke arah Hamid. Hamid yang ditatap kesal oleh putrinya, kembali menyeruput santai kopinya.
Amira tahu Rania sedang menyindir suaminya. Dan alasan kekesalan Rania pun sudah jelas. Awalnya Amira tidak setuju atas apa yang suaminya itu lakukan. Tapi jika mengingat Rania yang memanfaatkan kartu itu cukup keterlaluan, Amira jadi berpihak pada suaminya.
Bayangkan saja, tiap bulan suaminya itu harus membayar tagihan kartu kredit Rania dengan jumlah yang tak sedikit. Rania tidak hanya memakai kartu itu untuk kebutuhan dirinya saja, tapi juga untuk menyenangkan teman-temannya. Dan bodohnya, mereka baru mengetahuinya sekarang.
"Papa mu bukan bermaksud....."
"Tidak perlu diomongkan, ma." Rania menyela ucapan Amira. Dan Amira terdiam menatap diam Rania.
"Aku tahu kok. Papa memang sengaja menghukum ku. Hanya gara-gara menurutnya aku ini telah melakukan kesalahan, mempermalukan nya di hari pernikahanku. Apa kalian pikir semua ini mau ku? Aku sudah menebus kesalahanku dengan menikahi Om Dave, pria pilihan papa. Tapi kenapa papa masih menghukum ku dengan teganya memblokir kartu sebagai fasilitas ku selama ini? aku masih punya hak dinafkahi sama orang tuaku kan?"
"Ran..."
Sreet
Rania menggeser kursinya dan bangkit. Hal itu membuat ucapan Amira terputus.
"Selalu saja begitu kalau orang tua mu mau nasehati."
Rania memutar bola matanya dengan malas dan tak mempedulikan sindiran Hamid. Rania beranjak. Tapi baru beberapa langkah, Rania kembali ke meja makan lalu mengangkut piring berisi roti dan segelas susu miliknya. Setelah itu, Rania membawa sarapan nya tanpa sepatah kata. Hamid dan Amira geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan putrinya.
"Ternyata, menikahkannya dengan pria tua tidak mengubah sikap anak tuyul itu menjadi lebih tua," gerutu Hamid.
"Semua butuh proses, pa."
"Kita sudah salah mendidiknya, ma. Andai mama tidak terlalu memanjakan anak tuyul itu......" Amira melototi Hamid. Hamid yang melihat bola mata istrinya membesar pun langsung bungkam.
"Enak saja hanya menyalahkan mama. Orang kita bikin nya berdua."
"Kalau begitu kita bikin lagi saja. Siapa tahu bentukan nya tidak seperti anak tuyul itu," goda Hamid.
Kembali Amira melotot dan seketika itu pula Hamid mengubah muka mesumnya menjadi datar lalu menyeruput kopinya.
Hari ini, Rania tidak beraktifitas apapun. Rania hanya menghabiskan waktunya didalam kamarnya. Tiduran, nonton tv dan main ponsel. Begitu terus yang Rania lakukan sepanjang hari. Hingga menjelang malam hari pun, Rania masih melakukan rutinitas yang sama. Jenuh memang. Andai orang tua nya sedang tidak di rumah, Rania pasti sudah ngelayap sejak siang.
Rania meraih jam weker diatas nakas. Jam mungil itu sudah menunjukan pukul delapan malam. Rania merasa ada yang aneh. Sudah jam delapan malam tapi suaminya belum juga pulang.
Jam weker itu terus memutar, hingga sudah menunjukan pukul sebelas malam. Selama itu pula, Rania merasa waktu begitu lama. Rania pun berulang kali melihat ke arah pintu. Dan lebih anehnya lagi matanya itu sulit sekali untuk dipejamkan.
Rania membolak balik tubuhnya ke kanan kiri. Hal itu dia lakukan sudah berulang kali. tapi tetap saja Rania kesulitan memejamkan matanya.
Kreek
'Om Dave' ucap bathin Rania ketika mendengar suara pintu terbuka. Rania langsung menutup matanya pura-pura tidur.
Meskipun Rania tidak melihatnya secara langsung, tapi dari aroma wangi parfum yang menusuk hidungnya, Rania meyakini jika yang masuk kedalam kamarnya adalah Dave, suaminya.
Tring
Tring
Tak lama kemudian, suara ponsel berbunyi dikamar itu. Rania mengintip dari celah kelopak matanya. Rania melihat, Dave berjalan ke arah balkon sambil menerima telpon. Selain itu, Dave juga menutup pintu balkon.
Entah mengapa kali ini Rania merasa ingin tahu, yang biasanya tak pernah ingin tahu atau tak pernah peduli apapun urusan Dave.
Rania bangkit dan berjalan pelan ke arah pintu balkon. Menempelkan telinganya pada daun pintu.
"Iya aku baru saja sampai di rumah. Haha kamu lucu sekali. Emm, ya sudah kamu tidur gih."
Deg
Detak jantung Rania tiba-tiba berdegub kencang.
"Om Dave bicara dengan siapa? kenapa bicaranya begitu akrab?" ucap bathin Rania.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
🎀⍣⃝ꉣꉣNurrul P.❀∂я
Nah, kan ... kan ... kan ... kepo kan ??
2024-01-13
1
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
hahahaha.... rasain Rania gimana bila dicuekin oleh suami...skrg sudah mau kepo perihal sang suami...
2023-12-29
1
Yani
Rania kepo
2023-12-29
1