Sebelah alis Dave terangkat melihat tingkah istrinya yang tak ubahnya seperti bocah kecil. Usianya saja yang sudah dua puluh dua tahun, tapi sikapnya itu seperti kelakuan bocah berusia dua belas tahun ke bawah. Jika ada perlu dengannya, kenapa tidak bersikap lebih sopan? Mengetuk pintu dan ijin masuk. Ini malah menggedor-gedor kaca, melambaikan-lambaikan tangan dan bibirnya bergerak-gerak. Jika yang melihat kelakuannya hanya Dave seorang tidak masalah. Tapi ini masalahnya, yang melihat kelakuannya tak hanya Dave melainkan dua orang client penting.
"Isshhh, siapa gadis itu? Kenapa dia berani mengganggu kita."
Mendengar gerutuan wanita yang sedang meeting bersamanya membuat Dave merasa malu dan menjadi tak enak hati pada wanita itu.
"Ehem. Sebentar, Nona." Setelah berkata, Dave langsung bangkit dan beranjak tanpa menunggu respon dari wanita itu maupun pria tua yang sedang bersama mereka.
Setelah membuka pintu, Dave langsung menyorot tajam ke arah Rania. Sementara Rania hanya termangu di tempat. Sikap keberanian Rania tiba-tiba menghilang begitu saja dan digantikan oleh perasaan gugup campur takut. Apalagi melihat kilatan sorot mata Dave yang tak seperti biasanya. Saat ini, Rania seperti bukan melihat sosok Dave melainkan sosok orang lain.
"Mau apa?" Tanya Dave dengan suara ngebass. Suara yang tak biasa itu pun semakin membuat nyali Rania menciut. Ternyata, Dave cukup menakutkan jika sedang marah.
"A...."
Baru saja Rania akan membuka mulutnya, Dave langsung menarik paksa tangan Rania dan membawanya ke tempat yang tidak dapat dilihat oleh kedua client nya.
"Aduuuh, Om sakiiit," keluh Rania, pura-pura kesakitan agar Dave melepaskan tangannya. Tapi Dave tidak peduli, dia terus saja membawa Rania hingga menjauh dari ruangan itu. Setelah jauh dari ruangan itu, Dave baru melepaskan tangan Rania.
Rania memutar-mutar pergelangan tangan bekas dipegang paksa oleh Dave. Kulit Rania itu putih mulus tapi sensitif. Jadi meskipun dipegang hanya sebentar, kulitnya langsung memerah.
"Tidak sopan. Sakit tau," gerutu Rania dan tatapan yang tak lepas dari pergelangan tangannya.
Melihat tangan Rania yang memerah, Dave merasa bersalah. Ya meskipun kesalahannya hanya secuil, tetap saja Dave merasa bersalah.
"Ehem, maaf. Apa perlu kita obati ke dokter?"
Rania menggeleng cepat. Bukan itu tujuan utama Rania menemui Dave. Ada hal yang lebih penting dari pada sekedar mengurusi kulitnya yang sensitif.
Dave menghela nafas." Kamu mau apa kemari? kenapa tidak mengetuk pintu dan ijin masuk saja kalau ingin bertemu dengan saya?" Dave berusaha menenangkan emosinya dan berbicara selembut mungkin. Meskipun sebenarnya Dave sangat kesal dan ingin memarahi Rania. Rania itu sentimen sama seperti kulitnya. Jika Dave berkata sedikit kasar, bukan tidak mungkin Rania akan balik marah besar padanya.
"Ya, a-aku mau nemuin, Om saja." Rania bergerak menyamping, enggan bertatapan dengan Dave.
"Saya disini, kenapa mengarah ke situ?"
Rania tidak peduli. Dia malah menyilangkan kedua tangan dengan bibir yang terus mengerucut.
Dave kembali menghela nafas, lalu menyentuh pundak Rania. Tapi Rania justru menepis kasar tangan Dave tanpa berkata apapun.
Sikap istrinya itu benar-benar bikin adrenalin Dave naik.
"Apa saya ini pria menjijikan di matamu, Rania? Sehingga kamu sama sekali tidak ingin saya sentuh meskipun hanya seujung kuku?"
Rania menyorot ke arah Dave dengan mata yang sudah berkaca-kaca." Apa Om lupa sama perjanjian kita?"
Dave tertegun. Melihat mata Rania yang sudah penuh dengan airmata, hati Dave meluluh dan menyadari kesalahannya. Kesalahan yang menurutnya kecil belum tentu menurut Rania.
"Ma-maaf," ucap Dave, mengalihkan tatapan nya ke arah lain.
Rania tidak merespon ucapan maaf Dave melainkan sibuk mengelap airmata nya yang terus mengucur dengan lengannya.
Dave merogoh sapu tangan di saku celana lalu memberikan pada Rania." Pakai ini saja. Nanti bajumu basah." Tapi Rania menggeleng menolaknya.
"Ini bersih belum saya pakai. Sapu tangan ini juga tidak ada peletnya. Kamu tenang saja."
Rania dengan sigap menarik sapu tangan itu tanpa bicara. Lalu mengelap air matanya dan juga ingusnya. Dave geleng-geleng kepala melihat tingkah Rania yang tidak ada malunya. Setelah selesai, Rania menyodorkan sapu tangan itu pada Dave.
"Nih, ku kembalikan."
Kening Dave mengkerut. Bekas ingus dia kembalikan lagi. Benar-benar tidak punya akhlak." Buang saja."
"Tidak ada tong sampah."
Dave hanya menghela nafas. Dan mau tidak mau, Dave menerima sapu tangannya yang sudah kotor lalu dimasukan lagi kedalam saku celana.
"Sebenarnya ada perlu apa kamu mendatangi saya?" Tanya Dave hati-hati agar istrinya itu tidak lagi tersinggung.
"Aku mau minta nafkah," jawab Rania to the point. Rania pikir tidak perlu basa basi. Teman-temannya sedang menunggu lama diluar.
Sejenak Dave termangu. Istrinya itu minta nafkah. Permintaan yang sebenarnya Dave tunggu-tunggu sejak hari pertama mereka menikah. Dave bukan pria pecundang. Menikahi anak orang tanpa memberinya nafkah uang. Dave sebenarnya pernah memberikan kartu debit untuk Rania, tapi Rania justru mematahkan dan melempar kartu itu ke wajah Dave saat malam pertama setelah pernikahan.
"Aku tidak butuh uang mu, Om. Aku juga tidak butuh, Om. Aku cuma butuh Kevin..Kevin."
Kalimat ucapan lantang Rania itu tidak akan pernah Dave lupakan. Sebagai pengingat saja kalau Rania tidak butuh uangnya apa lagi dirinya.
"Nafkah apa yang kamu butuhkan?"
"Uang."
"Bukan nya kamu tidak butuh uang saya? Bahkan kamu pernah melempar uang itu ke muka saya."
Glek
Rania kesulitan menelan salivanya. Tentu saja Rania masih ingat. Saat dirinya lepas kontrol mencaci maki Dave sedemikian murka. Dan saat itu Dave dengan lapang dada menerima kemurkaan Rania.
"Ehem. Ya sudah kalau tidak mau ngasih saya nafkah. Tidak apa-apa."
Dave memegang lengan Rania saat Rania hendak beranjak. Tapi kali ini, Rania tidak menepis tangan Dave.
"Apa ada saya bilang tidak mau memberimu nafkah?"
Hening
"Tolong lepaskan tangan saya, Om."
Dave langsung melepaskan tautan tangannya dan lagi-lagi meminta maaf pada Rania.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?"
"Terserah," jawab Rania tanpa melihat ke arah Dave. Dave langsung merogoh dompetnya di saku celana.
"Ambilah berapa yang kamu butuhkan."
Dave menyodorkan sekaligus membuka dompet tebal miliknya. Rania melirik dan dengan penuh percaya diri serta tanpa malu, Rania mengambil lembaran uang di dompet itu tanpa dihitung.
"Terima kasih." Lalu ngeloyor pergi begitu saja.
"Raniaa..."
Rania menghentikan gerak langkahnya saat Dave berseru. Kemudian Rania berbalik badan.
"Kalau begitu saya boleh dong meminta hak saya nanti malam."
Sontak Rania membesarkan bola matanya. Dave tersenyum lebar lalu beranjak pergi begitu saja. Rania termangu ditempat. Apa maksud si pria tua itu? jadi dia memberikan uang ini tidak secara cuma-cuma. Dan nanti malam......Rania geleng-geleng kepala." Tidak. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi menukar tubuhku dengan uang yang tidak seberapa ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
🎀⍣⃝ꉣꉣNurrul P.❀∂я
Ya ampun Rania... bikin gemes aja deh 😂
2024-01-13
1
Flo aja
hmmm
2023-12-31
1
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
Rania... Rania...masak gitu bersikap sama suami... tnggu aja nnti kamu bener2 jatuh cinta pd Dave yg kamu anggap om2 🤭🤭😅 nnti bertukar menjadi syg2🤣
2023-12-29
1