"Apa wanita itu yang bernama Lydia? Dasar tua keladi tidak tau diri, tidak tau malu, tukang selingkuh. Pantas saja waktu dipaksa nikah sama aku dia tidak nolak, ternyata memang doyannya sama daun muda."
Melihat pemandangan yang tak sedap dipandang mata serta hati itu membuat mood Rania bertambah semakin kesal saja. Sudah kesal terhadap Mario yang belum membuahkan hasil tapi sudah meminta uang terus, ditambah lagi Rania melihat suaminya jalan bersama sugar baby nya dengan mesra didepan matanya sendiri.
Mario mengikuti arah sorot mata Rania." Lho, bukanya itu bokapnya si Kevin calon mertua mu, Ran? Sama siapa dia, cantik banget ceweknya. Hebat ya bokapnya si Kevin walaupun sudah tua, tapi mainannya sama cewek-cewek muda yang cantik. Si Kevin saja kalah sama bokapnya haha."
Rania me re mas jari-jari tangannya dengan amat sangat geram serta menggertakkan gigi-giginya. Ucapan Mario barusan seolah membandingkan pacar Kevin dan pacar papanya, serta tawa Mario itu menambah darah Rania semakin mendidih meluap-luap saja.
Brak
Rania menggebrak meja. Hal itu sontak membuat Mario tersentak terkejut.
"Apa maksud mu ngomong kayak gitu, hah?" Tanya Rania lantang dan dengan tatapan nyalang.
Mario hanya menatapnya bengong.
"Maksud mu aku ini tidak lebih cantik dari cewek itu, begitu?"
"Si-siapa yang ngebandingin kamu sama cewek itu, Ran-Ran?" kilah Mario membela diri.
"Si Kevin saja kalah sama bokapnya. Itu apa maksud mu? Kamu kan tau, aku ini ceweknya Kevin. Kamu ngomong begitu sama saja dengan ngomong cewek si Kevin tidak lebih cantik dari cewek ganjen itu. Gitu kan maksudmu?"
"Kok kamu jadi baperan gitu sih, Ran! padahal aku....."
"Ah, sudahlah." Rania memotong ucapan Mario dan bangkit.
"Mulai sekarang kerja sama kita putus." Sambungnya sambil menyimpan ponselnya kedalam tas.
"Aku tidak mau pakai jasa mu lagi. Aku mau nyari detektif yang lebih profesional dan lebih bisa ku andalkan. Bye..." Membesarkan matanya diakhir kalimat. Mario langsung menahan tangan Rania yang hendak beranjak." Tunggu, Ran."
"Lepasin tanganku." Rania menepis kasar tangan Mario, hingga tubuh Mario sedikit terhuyung. Rania tidak peduli. Dia langsung beranjak pergi.
"Ran, Rania...kamu salah paham. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tentu saja kamu yang paling cantik, Ran. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan mu di dunia ini, Ran.." Ucap Mario panjang lebar dengan suara keras sehingga suaranya itu mencuri perhatian pengunjung lainnya, termasuk dua orang yang duduk agak jauh.
Rania tidak mempedulikan rayuan Mario yang terdengar memalukan itu. Rania terus saja bergerak menjauhi Mario tanpa melihat kebelakang.
"Sepertinya pria itu tidak terima diputusin sama ceweknya deh, Om," ucap gadis cantik yang duduk dihadapan seorang pria berjambang tebal, dan tatapannya terfokus pada punggung Rania.
"Om, tidak tahu Lydia," sahut pria itu tanpa melihat pada gadis yang mengajaknya bicara. Tatapan pria itu tak bergeser barang sedikitpun dari gerak langkah Rania, hingga Rania menghilang dari pandanganya.
"Gadis itu seperti Rania. Tapi sedang apa dia disini? Dan pria itu, siapa dia?"
Rania mengemudikan mobilnya dengan pikiran dan perasaan yang amat kalut. Mengingat perlakuan manis Dave terhadap sugar baby nya membuat Rania rasanya ingin menjambak rambut serta mencakar wajah wanita itu.
"Awas saja kalau ketemu. Habis kau!" geram Rania, mencengkram kuat kemudi.
Ciiiiit
Braakk
Bola mata Rania membesar dengan nafas yang tersengal-sengal. Terkejut, panik juga bercampur takut, itulah yang Rania rasakan saat ini. Rania tak menyangka, kekesalannya terhadap sang suami serta sugar baby nya berakhir malapetaka di perjalanannya.
Tadi sebelum peristiwa naas terjadi, Rania yang sedang mengemudi diatas kecepatan rata-rata serta pikiran yang amat kalut terpaksa menghindar saat seorang pria tua melintas sembarangan. Alhasil, kini mobil Rania menabrak pohon besar yang ada dipinggir jalan.
Tak selang lama, beberapa orang berdatangan, mengetuk-ngetuk kaca mobil serta memanggil manggil.
"Mba, mba ayok buka mobilnya."
"Mba, apa mba baik-baik saja?"
"Apa orang nya baik-baik saja?"
Kurang lebih seperti itu yang Rania tangkap sebelum akhirnya pandangan Rania berubah menjadi gelap gulita.
Setengah jam kemudian.
Rania mengejapkan matanya. Pemandangan pertama yang Rania lihat adalah langit-langit berwarna putih serta sebuah alat infus.
"Syukurlah, mba sudah sadar," ucap seorang wanita berpakaian serba putih yang baru saja masuk keruangan Rania.
Rania menoleh ke arah wanita itu." Saya kenapa ya, dok?" Tanya Rania agak bingung.
"Tadi mba pingsan dibawa warga kesini. Katanya mobil mba nabrak pohon. Tapi beruntungnya, tidak ada luka parah kok, cuma luka sedikit saja di kening."
Rania memegang jidatnya. Benar saja di sanaa menempel sebuah perban berukuran kecil. Rania pun mulai mengingat semuanya.
"Sekarang mobil saya dimana ya, dok?"
"Saya dengar sih di kantor polisi daerah sini."
"Hadeuuhh." Rania menepuk jidatnya. Selain itu, Rania juga mengacak-acak rambutnya.
Rania meminta pulang pada sang dokter detik ini juga. Padahal pihak dokter yang menanganinya di puskesmas memintanya dirawat barang sehari. Tapi karena Rania kekeh meminta pulang sekarang, akhirnya mau tak mau pihak dokter itu pun membolehkan Rania pulang.
Rania tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan meminta sopir taksi mengantarnya ke kantor polisi untuk mengambil mobilnya. Setelah tiba di kantor polisi dan berbincang-bincang sebentar, seorang polisi membawa Rania ke suatu tempat dimana mobil Rania berada saat ini.
"Ya ampun mobil papa. Kenapa bisa jadi begini..."
Rania menatap sedih bercampur takut. Bayang-bayang kemarahan papa Hamid sudah terngiang duluan di otak Rania, melihat mobil milik papanya dalam keadaan penyok bagian depan. Sekarang, beban Rania semakin bertambah saja. Urusan mobilnya saja belum kelar, sekarang ditambah lagi dengan masalah yang sama persis.
Sore ini, Dave pulang lebih awal setelah dua hari beruntun pulang malam. Urusan kerjaan sudah selesai lah yang menjadi alasan utama Dave. Tapi selain alasan itu, Dave juga ingin menemui Rania dan meminta maaf atas sikap kasarnya tadi pagi.
Krek
Krek
Dave menyipitkan matanya. Gagang pintu kamar yang Dave tarik berulang kali tidak bisa dibuka.
"Apa Rania menguncinya?"
Tok
Tok
"Rania, Rania...apa kamu ada di dalam?"
Berulang kali Dave mengetuk pintu dan memanggil nama istrinya, tapi sama sekali tidak terdengar ada pergerakan didalam sana.
Dave menghembuskan nafas besar dan bertolak pinggang.
"Apa Rania benar-benar tidak membolehkan aku masuk ke dalam kamarnya?"
Tring
Tring
Di waktu yang sama, ponsel Dave berbunyi. Dave langsung merogoh ponselnya, dan setelah tahu siapa yang menelponnya, Dave pun tersenyum.
"Halo cantik. Kebetulan sekali kamu telpon, Om."
"Iya, malam ini Om mau tidur di apartemen mu saja ya!"
Setelah percakapan Dave dengan orang diseberang telpon itu selesai, Dave menutup telpon nya dan langsung beranjak pergi.
Sementara didalam kamar, Rania tergugu di daun pintu dengan hati yang seolah dirobek. Padahal baru saja Rania hendak membukakan pintu untuk Dave, tapi mendengar Dave berbicara dengan pacarnya membuat Rania mengurungkan niatnya. Rania menangis terisak sembari memeluk kedua lututnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Rikarico
hadeuh🤦
2024-01-02
1
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
siasat dulu siapa Lydia, jgn terus nyalahin suami kamu saja Rania...kamu yg bikin cuek sama suami...
2023-12-30
1
Yani
Makan tu gengsi Rania
2023-12-29
1