Sandiwara

Di ruangan yang hanya tinggal dirinya, Rania menghitung lembaran uang dari Dave. Terhitung jumlahnya hanya ada delapan ratus ribu. Nominal segitu masih jauh dari nominal yang Rania butuhkan saat ini.

"Semua ini gara-gara papa. Kenapa papa tega banget bikin hidupku sulit," ucap Rania dengan suara yang bergetar. Airmata nya luluh dan berjatuhan ke atas uang yang baru saja dihitung, sehingga lembaran uang itu menjadi basah oleh airmata Rania.

Disaat Rania tengah terisak, terdengar pintu diketuk. Rania segera mengusut airmata nya dengan telapak tangan. Tak selang lama, seorang pemandu karoke menyembulkan tubuhnya.

"Maaf, kak. Waktunya sudah habis dan ruangan ini akan kami segera dibersihkan. Soalnya akan dipakai kembali sama pelanggan yang baru." Pemandu itu mengusir Rania dengan cara yang halus. Rania mengerti. Oleh karena itu, dia tidak protes. Karena memang semestinya Rania harus sudah check out sejak setengah jam yang lalu.

Rania membuka tas kecil miliknya, berniat untuk menyimpan ponsel dan uangnya dulu. Akan tetapi, bukannya langsung menyimpan dua barang berharganya itu, Rania malah termangu menatap sebuah kunci mobil yang ada didalam tas. Dan pada saat itu pula timbul sebuah ide di otak Rania.

Ditengah gelapnya malam serta rintikan air hujan, Rania terus berjalan sambil ber-sedekap menahan hawa dingin yang mulai menjalar hingga tulang rusuk. Bukannya Rania tak ingin berteduh, tapi jalanan yang Rania lewati kebetulan tidak ada tempat untuk berteduh.

Rania terpaksa berjalan kaki karena tak ada pilihan lain. Tadi saat ditempat karoke, Rania bernegosiasi dengan manager karoke, dan hasil negosiasinya berujung pada mobil kesayangan Rania harus di malam kan di sana, sebagai jaminan sampai Rania datang kembali dan melunasi kekurangannya. Tak hanya itu, Rania juga kesulitan mencari taksi. Oleh karena itu, Rania nekat jalan kaki saja dan berharap ditengah jalan, Rania menemukan taksi atau angkutan umum lainnya.

Tinnnn !!

Sebuah klakson seketika mengagetkan Rania, hingga terpaksa Rania menghentikan langkahnya.

"Rania.."

Sebuah mobil berhenti tepat disamping Rania berdiri. Rania tidak dapat melihat siapa gerangan yang tengah berada didalamnya, karena pencahayaan yang gelap. Tapi jika dari suaranya yang hampir tergerus oleh angin, Rania menyakini suara itu seorang pria.

Menyadari panggilan itu untuknya, Rania lantas bertanya," maaf siapa ya?"

Sosok yang sebelumnya memanggil Rania pun keluar, dan kini benar-benar menampakan seluruh tubuhnya, sekelebat wajahnya serta postur tubuhnya Rania tahu siapa laki-laki itu.

'Om Dave' bathin Rania.

"Kenapa jalan kaki? kemana mobilmu?"

Tanpa menunggu jawaban Rania, Dave langsung mendorong paksa tubuh Rania hingga dimasukkan kedalam mobilnya. Seolah tersihir, Rania hanya menuruti apa yang suaminya itu lakukan padanya.

Melihat pakaian yang dikenakan oleh Rania dalam keadaan setengah basah, Dave langsung melepas jas kebesarannya. Lagi-lagi Rania hanya menurut saat Dave memasangkan jas itu ke tubuhnya.

"Kenapa jalan kaki hujan-hujan begini? Dan mobilmu kemana?"

Rania masih terdiam dengan perasaan kalutnya, hingga Dave yang duduk di sampingnya mengulangi pertanyaannya.

"Kenapa kamu nekat jalan kaki, Rania? Kamu tahu sangat bahaya sekali untuk perempuan jalan kaki di malam hari apalagi ditempat yang sepi."

Rania masih tak merespon pertanyaan Dave. Rania tertunduk dengan kedua bahu yang mulai bergetar. Sadar akan istrinya menangis, Dave pun diam dan menegakkan posisi duduknya.

"Maaf, kalau pertanyaan saya menyakitimu," ucap Dave lirih dengan sorot mata lurus ke depan.

Di sepanjang jalan suasana didalam mobil itu hanya hening, meskipun sebenarnya ada dua anak manusia didalamnya. Dave dan Rania saling diam dengan pikiran mereka masing-masing. Dave bukan tak ingin bicara, tapi Rania lah yang nampaknya enggan berbicara dengannya. Oleh sebab itu, Dave diam dan siapa tahu Rania akan bercerita sendiri. Tapi ternyata, hingga sampai tiba di rumah Hamid pun Rania jangankan bercerita, berucap satu kata pun tidak.

Rania mendahului Dave keluar mobil saat Dave masih melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.

"Rania.."

Rania terpaksa menghentikan gerak langkahnya saat Dave memanggilnya tanpa menoleh ke belakang. Dave bergegas mendekati Rania.

Tanpa disangka, Dave menautkan tangannya pada tangan Rania. Hal itu sontak saja membuat Rania terkejut, membesarkan matanya menatap Dave.

"Lepaskan tanganku, Om!" Rania berontak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dave yang cukup kuat.

"Biarkan saya memegang tangan mu sampai masuk kedalam kamar. Kamu tidak ingin dimarahi sama orang tuamu kan?" Mendengar itu, tenaga Rania melemah. Rania tak lagi melakukan perlawanan, pasrah atas apa yang Dave lakukan.

Di sebuah sofa, Amira menyiku kuat lengan Hamid yang sedang menikmati teh hangat buatan bibi Arum. Perbuatan Amira hampir saja membuat Hamid menyemburkan teh yang tengah diseruput nya itu.

"Kenapa sih, ma. Ngagetin saja!" Hamid menggerutu kesal, tapi saat melihat isyarat lirikan istrinya menunjukkan ke suatu arah, Hamid pun terdiam lalu sorot matanya mengikuti arah lirikan Amira.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Hamid melihat menantu dewasanya sedang menuntun istri manjanya yang nampak lemah. Sebuah pemandangan yang sangat langka, dan tidak menyangka mereka sudah sedekat itu. Perlahan bibir Hamid yang di kelilingi kumis serta jenggot itu pun tersenyum.

"Ehem."

Dave dan Rania menghentikan gerak langkahnya saat mendengar deheman keras dari arah ruang bersantai. Mereka langsung mengalihkan tatapannya ke arah sana. Dave sedikit membesarkan bola matanya saat melihat mertuanya sedang tersenyum mesem kearahnya.

"Pak Hamid, em maksudnya, papa Hamid dan.. ma-mama Amira," ucap Dave. Tiba-tiba Dave menjadi gugup. Tak hanya gugup, Dave juga merasa malu telah bersikap seolah romantis dihadapan mertuanya. Tapi lain dengan Rania yang justru bersikap santai. Tak hanya itu, Rania juga memepetkan tubuhnya serta menyandarkan kepalanya pada bahu Dave. Perbuatan Rania terang saja semakin membuat jantung Dave berdetak tak karuan.

Hamid dan Amira saling pandang serta saling melempar senyuman. Mereka pikir putri keras kepalanya itu sudah ke-semsem sama suami dadakan nya. Dan hal itu jelas membuat mereka sangat senang.

Awalnya, Hamid marah dan berniat akan memarahi Rania saat bi Arum melapor bahwa Rania keluar rumah tadi pagi. Tapi sekarang, setelah melihat Rania pulang bersama suaminya dan nampak mesra, sepertinya niat Hamid itu akan diurungkan.

"Baru pulang, pak Dave?" Tanya Amira basa basi.

Dave tersenyum canggung." Iya, ma-mama Amira. Tadi saya ajak Rania nongkrong di cafe dulu," melirik pada Rania yang masih bergelayut manja di pundaknya. Pada saat yang sama, Rania pun mendongak dan tersenyum pada Dave.

"Ya sudah, istirahat lah. Kalian pasti lelah."

Dave mengangguk. Setelah itu, Dave pamit pada mertuanya lalu menuntun Rania kembali menaiki anak tangga.

Brug

"Aduh. Kamu tidak sopan sekali, Rania."

Dave protes saat Rania mendorong kuat tubuhnya, hingga Dave terjerembab ke atas kasur.

"Sandiwaranya sudah selesai, Om. Tidak usah mencari kesempatan dalam kesempitan sampai tidak mau melepas tanganku," sewot Rania dengan mimik wajah yang tak semanis tadi. Sikap Rania kembali berubah menyebalkan setelah berada didalam kamar. Dave hanya mengelus dadanya.

Terpopuler

Comments

rhicantix dewy

rhicantix dewy

seng sbar

2024-01-14

0

💝F&N💝

💝F&N💝

kuwalat, kamu rania
suami srbaik dave kamu abaikan. awas bucin lo kamu nanti

2024-01-06

0

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

dasar istri derhaka...sudah ditolongi sama suami lalu dijadikan musuh .. Rania hargai suami kamu sebelum menyesal kemudian hari...

2023-12-29

2

lihat semua
Episodes
1 Pengantin Pengganti
2 Saling Diam
3 Panggil papa dan mama
4 Dicafe
5 Kartu kredit diblokir
6 Desakan teman-teman
7 Minta Nafkah
8 Karoke
9 Sandiwara
10 Terpesona
11 Diamnya Dave
12 Perasaan aneh
13 Perasaan aneh 2
14 Nasib mobil Rania
15 Kegundahan hati Rania
16 Marahnya Dave
17 Wanita bernama lidya
18 Nabrak pohon
19 Foto Kevin
20 Rania hamil ?
21 Seblak
22 Aroma seblak
23 Ego dan Perasaan Rania
24 Mengejar Kevin
25 Pria gi la
26 Sosok misterius
27 Gara-gara kecupan
28 Akting Rania
29 Kerak telor
30 Kepergian Dave
31 Rania sakit
32 Mengunjugi rumah Dave
33 Obat perangsang
34 Godaan Rania
35 Di atas king size
36 Setelah di atas king size
37 Daster
38 Menggoda Dave
39 Album foto
40 Album foto 2
41 Daster robek
42 Switer
43 Pembelaan Dave
44 Ingin perhatian
45 Bertemu Agatha
46 Membuntuti Dave
47 Apartemen Lidya
48 Salting
49 Perubahan sikap Rania
50 Perubahan sikap Rania 2
51 Chatan
52 Chatan 2
53 Menghadiri undangan Wilona
54 Pengakuan Dave
55 Masuk rumah sakit
56 Kepergok suster
57 Burak Ozcivit
58 Pulang
59 Gagal Unboxing
60 Pembalut
61 Hutan belantara
62 Kabar kematian Risa
63 Soto Lamongan
64 Mengunjungi kampung Risa
65 Rumah orang tua Risa
66 Bertemu keluarga Risa
67 Babi hutan
68 Penginapan
69 Sarung
70 Tetangga meresahkan
71 Kedatangan Danu
72 Cemburu
73 Perhiasan
74 Bertemu Kevin
75 Atas Awan
76 Bintang-bintang
77 ID Dave
78 Jones
79 Mencetak baby
80 Pesan Dave
81 Mengunjungi kantor Dave
82 Di atas sofa
83 Cabe-cabean
84 Kedatangan Hamid dan Amira
85 Amanah mertua
86 Di tolong Kevin
87 Honeymoon
88 Honeymoon 2
89 Insecure
90 Penampilan baru Dave
91 Dara Junior
92 Mengunjugi rumah Agatha
93 Mengejar Agatha
94 Mengunjungi rumah Jack
95 Kematian Kevin
96 Pemakaman Kevin
97 Kabar bahagia
98 Jack mengunjungi rumah Agatha
99 Agatha sakit
100 Kejutan Rania
101 Wilona positif HIV
102 Obrolan dua pria
103 Pernikahan Agatha
104 Peristiwa tak terduga
105 Rania diculik
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Pengantin Pengganti
2
Saling Diam
3
Panggil papa dan mama
4
Dicafe
5
Kartu kredit diblokir
6
Desakan teman-teman
7
Minta Nafkah
8
Karoke
9
Sandiwara
10
Terpesona
11
Diamnya Dave
12
Perasaan aneh
13
Perasaan aneh 2
14
Nasib mobil Rania
15
Kegundahan hati Rania
16
Marahnya Dave
17
Wanita bernama lidya
18
Nabrak pohon
19
Foto Kevin
20
Rania hamil ?
21
Seblak
22
Aroma seblak
23
Ego dan Perasaan Rania
24
Mengejar Kevin
25
Pria gi la
26
Sosok misterius
27
Gara-gara kecupan
28
Akting Rania
29
Kerak telor
30
Kepergian Dave
31
Rania sakit
32
Mengunjugi rumah Dave
33
Obat perangsang
34
Godaan Rania
35
Di atas king size
36
Setelah di atas king size
37
Daster
38
Menggoda Dave
39
Album foto
40
Album foto 2
41
Daster robek
42
Switer
43
Pembelaan Dave
44
Ingin perhatian
45
Bertemu Agatha
46
Membuntuti Dave
47
Apartemen Lidya
48
Salting
49
Perubahan sikap Rania
50
Perubahan sikap Rania 2
51
Chatan
52
Chatan 2
53
Menghadiri undangan Wilona
54
Pengakuan Dave
55
Masuk rumah sakit
56
Kepergok suster
57
Burak Ozcivit
58
Pulang
59
Gagal Unboxing
60
Pembalut
61
Hutan belantara
62
Kabar kematian Risa
63
Soto Lamongan
64
Mengunjungi kampung Risa
65
Rumah orang tua Risa
66
Bertemu keluarga Risa
67
Babi hutan
68
Penginapan
69
Sarung
70
Tetangga meresahkan
71
Kedatangan Danu
72
Cemburu
73
Perhiasan
74
Bertemu Kevin
75
Atas Awan
76
Bintang-bintang
77
ID Dave
78
Jones
79
Mencetak baby
80
Pesan Dave
81
Mengunjungi kantor Dave
82
Di atas sofa
83
Cabe-cabean
84
Kedatangan Hamid dan Amira
85
Amanah mertua
86
Di tolong Kevin
87
Honeymoon
88
Honeymoon 2
89
Insecure
90
Penampilan baru Dave
91
Dara Junior
92
Mengunjugi rumah Agatha
93
Mengejar Agatha
94
Mengunjungi rumah Jack
95
Kematian Kevin
96
Pemakaman Kevin
97
Kabar bahagia
98
Jack mengunjungi rumah Agatha
99
Agatha sakit
100
Kejutan Rania
101
Wilona positif HIV
102
Obrolan dua pria
103
Pernikahan Agatha
104
Peristiwa tak terduga
105
Rania diculik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!