Pergi Ke Puncak

~ Keesokan Paginya ~

Mentari mulai menampakkan sinar nya. Suara kicauan burung pun mulai terdengar saling bersahutan. Aku mulai terjaga dari mimpi indah ku lalu melirik ke arah jam dinding.

"Waduuhh, sudah jam tujuh!" pekik ku dengan mata membulat.

"Mas, bangun, Mas... Sudah jam tujuh tuh!" ucap ku seraya mengguncang-guncang bahu mas Dodi.

"Hmmmm... Apaan sih, sayang? Mas masih ngantuk nih," balas mas Dodi dengan suara serak dan mata masih tertutup rapat.

"Ayo buruan bangun, Mas! Kata nya mau liburan ke puncak, kok malah molor lagi sih?" gerutu ku sambil terus mengguncang-guncang bahu nya.

"Eh iya, lupa."

Mas Dodi langsung membuka mata dan bergegas lompat dari atas ranjang. Ia menyambar handuk yang tergantung di samping lemari lalu berlari kecil ke dalam kamar mandi.

"Huuuu... Dasar, pikun!" umpat ku kesal.

Selesai merapikan tempat tidur, aku pun menyusul mas Dodi ke dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, kami berdua pun bergegas berpakaian dan menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke dalam koper berukuran sedang.

Setelah semua nya beres, aku pun melangkah ke dapur dan menyiapkan dua gelas teh manis hangat beserta dua piring mie goreng instan.

"Sini, Mas...! Kita sarapan dulu," seru ku saat melihat mas Dodi berdiri di depan pintu kamar.

"Iya, sayang."

Mas Dodi datang menghampiri ku lalu mendudukkan diri di sebelah ku. Kami berdua mulai menyantap mie goreng instan buatan ku dengan sedikit tergesa-gesa.

Setelah selesai, aku segera mencuci piring dan gelas yang baru saja kami gunakan, kemudian menyusun nya di rak. Setelah semua nya beres, suara klakson mobil Thomas pun terdengar di depan rumah.

Tin tin tin...

"Yaaa, sebentar...!" pekik mas Dodi seraya berjalan ke arah pintu utama.

Setelah pintu terbuka, mas Dodi pun mempersilahkan sahabat dan istri nya itu masuk ke dalam rumah.

"Mari masuk, Thom!" ucap mas Dodi.

"Tidak usah, Dodi. Kita langsung jalan saja, keburu siang soalnya," tolak Thomas sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.

"Ya sudah kalau begitu. Tunggu sebentar ya, aku ambil barang-barang ku dulu di kamar!" ucap mas Dodi kembali melangkah masuk ke dalam kamar.

"Oke," balas Thomas mengangguk.

Melihat kedatangan Thomas dan Mira, aku pun datang menghampiri mereka dan menyapa nya dengan ramah.

Namun, sebelum aku menyapa pasangan suami istri itu, aku pun mematung sejenak. Aku sempat terpana melihat ketampanan Thomas dengan kemeja putih dan kaca mata nya.

"Duuuhhh... Ini orang kok ganteng banget sih. Bikin ngiler saja, hihihi..." batin ku mengagumi selingkuhan ku itu.

Tidak ingin menaruh curiga atas kekaguman ku, aku pun mulai menyapa mereka berdua.

"Hay, mbak Mira, mas Thomas. Apa kabar? Mari silahkan masuk!" sapa ku dengan senyum mengembang.

"Terima kasih, Kartika. Kami disini saja," tolak Thomas dingin.

"Oh, ya sudah kalau begitu."

Aku manggut-manggut lalu mengalihkan pandangan ku ke arah kamar.

"Sudah di bawa semua barang-barang nya, Mas?" tanya ku saat melihat mas Dodi keluar dari kamar sambil menyeret koper dan tas ransel di punggung nya.

"Sudah, sayang ku."

Thomas memalingkan wajah masam nya ke sembarang arah, saat mendengar kata sayang yang keluar dari bibir mas Dodi. Ia terlihat cemburu dengan ucapan suami ku itu.

"Dasar, orang aneh!" umpat ku dalam hati ketika melihat ekspresi wajah Thomas yang tidak enak di pandang mata.

Setibanya di depan pintu, mas Dodi pun menggandeng lengan ku, dan berucap...

"Ayo, Thom! Kita jalan sekarang," seru mas Dodi.

"Oke," Thomas mengangguk seraya menatap tajam ke arah lengan ku yang sedang di gandeng mas Dodi.

"Ck, sok mesra banget sih. Bikin panas mata ku saja melihat nya," gerutu Thomas dalam hati.

Thomas dan Mira berjalan beriringan masuk ke dalam mobil, dan diikuti aku beserta mas Dodi dari belakang. Pasangan suami istri itu duduk bersebelahan di bangku depan. Sedang kan aku dan mas Dodi, kami berdua duduk di bangku bagian tengah.

"Sudah siap semua?" seru Thomas sembari menyalakan mesin kendaraan nya.

"Sudah," ucap ku dan mas Dodi serempak.

Sedangkan Mira, ia hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun. Wajah lesu nya tampak begitu jelas, seperti layaknya orang yang sedang patah hati.

"Dia ini kenapa sih? Kok muka nya murung terus dari tadi? Lagi kumat kali ya, hihihi..." batin ku cekikikan melihat wajah kusut Mira.

Aku tersenyum-senyum sendiri, lalu memalingkan wajah ke jendela mobil. Sementara itu, Mas Dodi malah menyandarkan kepala nya di bahu ku. Dan itu berhasil membuat Thomas semakin terbakar api cemburu.

Thomas memainkan stir kemudi nya dengan lincah, sambil sesekali menatap wajah ku dari pantulan kaca spion kecil yang ada di depan nya. Wajah nya tampak semakin kesal, melihat kemesraan ku dengan suami ku mas Dodi.

"Dia ini kenapa lagi sih? Serem banget nengokin nya?" batin ku heran.

Aku menautkan kedua alis, dan membalas tatapan mata Thomas dengan tak kalah tajam.

Suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam. Tidak ada satu orang pun yang bersuara. Hanya terdengar suara deru mesin kendaraan yang sedang di kemudikan oleh lelaki selingkuhan ku Thomas.

Hingga pada akhirnya, mas Dodi pun mulai membuka percakapan.

"Nyalakan musik kenapa sih, Thom! Biar gak sepi kayak kuburan begini," cibir mas Dodi.

"Malas ah, berisik!" tolak Thomas ketus.

"Kalau malas, kamu aja yang nyanyi, biar rame!" usul mas Dodi.

"Ogah, suara ku jelek!" balas Thomas sambil terus mencuri-curi pandang kepada ku.

"Huuuu, dasar pelit! Semua nya serba gak mau, trus mau nya apa?" cibir mas Dodi lagi.

"Kamu aja yang nyanyi, biar kami yang dengerin!" usul Thomas.

"Hmmmm, boleh. Siapa takut?" balas mas Dodi lantang.

Masih dengan kepala yang sedang bersandar di bahu ku, mas Dodi pun mulai menyanyikan sebuah lagu.

"Potong bebek angsa masak di kuali. Nenek minta dansa, dansa empat..."

Belum sempat mas Dodi melanjutkan nyanyian nya, tiba-tiba Thomas pun berteriak kuat.

"Stop stop stop...!" pekik Thomas.

"Loh, kok malah di suruh stop sih? Tadi kan kamu sendiri yang nyuruh aku nyanyi, kenapa sekarang malah di suruh stop? Aneh banget," gerutu mas Dodi.

"Emang nya gak ada nyanyian lain lagi ya, selain yang itu?" tanya Thomas ketus.

"Gak ada. Aku bisa nya cuma itu doang, gak ada yang lain lagi." Mas Dodi melengos mendengar cibiran Thomas.

Sementara aku, aku hanya senyam-senyum sendiri mendengar perdebatan kedua lelaki tampan yang ada di depan dan di samping ku itu.

Sedangkan Mira, ia tetap membisu dan sibuk dengan lamunan nya sendiri tanpa menghiraukan keributan yang terjadi di dalam mobil.

"Dia itu sebenarnya orang atau manekin sih? Diem mulu dari tadi," batin ku heran melihat tingkah aneh rival ku itu.

Mira terus saja menatap jalanan dari kaca mobil dengan wajah datar. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.

Ia sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara berisik yang keluar dari mulut mas Dodi dan Thomas suami nya.

"Mbak Mira, kok diem aja sih? Lagi sakit ya?" tanya ku basa-basi.

"Iya benar, Kartika. Aku memang lagi sakit. Lebih tepatnya sakit hati," jawab mira lirih tanpa menoleh kepada ku.

🌷 Terima kasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya man teman 🙏🌷

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

yaahh malah nyanyi lagu potong bebek .. maka nya Thom setel musik aja lah

2023-12-09

1

Leo

Leo

wkwkwk 😂 dasar Dodi gemblung🤣

2023-12-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!