Ungkapan Hati Thomas

Selesai menyantap soto dan es teh manis, aku mengajak mas Dodi untuk kembali pulang ke rumah. Aku tidak ingin berlama-lama duduk berdekatan dengan Thomas, selingkuhan ku itu.

"Mas, kita pulang, yok!" seru ku menyikut lengan mas Dodi.

"Loh, kok malah pulang sih? Gak mau nyantai dulu disini?" balas mas Dodi.

"Gak ah, aku capek. Mau pulang ke rumah aja," tolak ku.

Thomas menautkan kedua alis dan memandang aneh kepada ku saat mendengar ucapan ku barusan. Ia seolah-olah sedang menyuruh ku untuk tidak pergi dan tetap berada di dekatnya. Itu terlihat jelas dari sorot mata nya.

"Pliiis... Jangan pergi, Honey! Aku mohon," jerit Thomas dalam hati.

Aku menggeleng pelan, lalu membatin...

"Maaf kan aku, Thom."

Aku menunduk. Aku tidak sanggup menatap mata sendu Thomas.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ponsel mas Dodi berdering nyaring memecah keheningan. Ia langsung merogoh saku celana untuk mengambil ponsel yang sedang berdering itu.

Kring kring kring...

"Ya halo, ada apa, Din?" tanya mas Dodi kepada teman kerja nya yang bernama Udin.

"Oh, oke. Tunggu sebentar ya, 10 menit lagi aku sampai disana," tambah mas Dodi menutup panggilan.

Aku dan Thomas hanya diam mendengar kan percakapan antara mas Dodi dan teman nya Udin. Setelah panggilan berakhir, mas Dodi kembali menatap ku dan juga Thomas, lalu berkata...

"Maaf ya, Thom. Aku tidak bisa menemani mu lebih lama lagi disini. Ada urusan mendadak yang harus aku urus di tempat kerja ku," jelas mas Dodi.

Aku pun menyahuti ucapan mas Dodi.

"Lah, trus aku gimana, Mas?" tanya ku bingung.

Mas Dodi tidak menjawab, ia malah mengalihkan pandangan nya kepada Thomas dan kembali berucap...

"Thom, aku boleh minta tolong gak?" tanya mas Dodi.

"Boleh, minta tolong apa?" tanya Thomas balik.

"Kamu bawa mobil kan?" ucap mas Dodi.

"Iya, emang nya kenapa?" Thomas penasaran dengan pertanyaan mas Dodi.

"Tolong antarkan istri ku pulang ke rumah, bisa gak?" balas mas Dodi.

"Boleh, sekalian aku juga mau pulang."

"Oke, makasih ya, Thom. Aku pergi dulu, bye!" pamit mas Dodi.

Setelah berpamitan kepada Thomas, mas Dodi beralih kepada ku.

"Sayang, kamu ikut pulang sama Thomas ya. Mas ada urusan mendadak di kerjaan," ucap mas Dodi sembari beranjak dari tempat duduk nya.

"Ta-tapi, Mas..."

Belum sempat aku meneruskan kata-kata, mas Dodi pun langsung memotong nya secepat kilat.

"Udah, gak usah protes! Kamu ikut saja dengan Thomas, oke!" ucap mas Dodi.

"Huufff, baik lah."

Dengan berat hati, akhirnya aku pun mengalah dan menuruti perintah mas Dodi. Aku melirik ke arah Thomas yang tampak bahagia dengan jawaban ku itu.

"Yes, akhirnya aku bisa dekat-dekat lagi dengan si cantik ini, hihihi..." batin Thomas girang.

Mas Dodi berdiri di depan ku, dan bersiap-siap untuk pergi.

"Ya sudah, mas pergi dulu ya, sayang. Bye..." pamit mas Dodi mengecup kilat dahi ku, lalu melenggang pergi begitu saja.

"Iya, hati-hati di jalan," balas ku lemas.

Aku menatap nanar kepergian suamiku itu. Setelah bayangan mas Dodi hilang dari pandangan, aku pun kembali menatap ke arah Thomas yang sedari tadi tak henti-henti nya tersenyum kepada ku.

"Kamu kenapa sih? Senyam-senyum terus dari tadi. Kumat ya?" cibir ku ketus.

Tawa Thomas pun pecah seketika. Ia merasa terhibur melihat wajah jutek ku.

"Hahahaha... Kamu lucu banget sih, jadi gemes deh," gelak Thomas sembari mencubit kedua pipi ku.

Aku reflek menepis tangan Thomas, lalu celingukan kesana-kemari dengan perasaan was-was.

"Kamu ini apa-apaan sih, Thom? Jaga sikap kamu kalau kita sedang berada di tempat umum seperti ini!" tegas ku sedikit emosi.

"Eh iya, lupa. Maaf ya, Honey. Aku khilaf, hehehehe..." Thomas nyengir kuda sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Khilaf... Khilaf... Alasan aja," gerutu ku kesal.

"Jangan marah-marah terus dong, Honey. Entar aku khilaf lagi nih," canda Thomas tersenyum nakal.

"Udah ah, gak usah bercanda terus! Entar kalau ada yang lihat, bisa runyam urusan nya. Ayo buruan, antar aku pulang!" seru ku sembari berdiri dan menyampirkan tas kecil di bahu.

"Siap, tuan putri."

Thomas menyunggingkan senyum termanis nya, lalu bangkit dari tempat duduk nya. Ia berjalan duluan di depan, dan aku pun mengikuti nya dari belakang.

Sesampainya di parkiran, kami berdua pun langsung masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman ke tubuh masing-masing.

"Sudah siap, Honey?" tanya Thomas menoleh sekilas lalu menyalakan mesin kendaraan nya.

"Sudah, jalan lah!" jawab ku.

"Oke," Thomas mulai menginjak pedal gas dan melajukan kendaraan roda empat nya dengan santai.

Hening... Tidak ada percakapan apa pun antara aku dan Thomas. Kami sama-sama sibuk dengan khayalan dan pikiran masing-masing.

Setelah beberapa saat saling berdiam diri, Thomas pun kembali berceloteh ria sambil terus memainkan stir kemudi nya.

"By the way, aku boleh nanya sesuatu gak, Honey?" tanya Thomas.

"Boleh, mau tanya soal apa?" tanya ku balik.

"Soal hubungan kita," balas Thomas.

Aku yang tadi nya fokus menatap jalanan, kini beralih menatap Thomas. Aku mengerutkan dahi dan kembali bertanya...

"Emang nya kenapa dengan hubungan kita? Apakah kamu mau mengakhiri nya?" tebak ku asal.

"Sembarangan kalo ngomong! Baru juga di mulai, masa udah mau berakhir gitu aja. Gak mau, ah!" omel Thomas dengan wajah kesal.

"Lah, bukan itu, trus apa dong ?" balas ku mengulang pertanyaan yang sama.

"Kapan kita ke hotel lagi?" ucap Thomas.

"Oalah, masalah itu toh. Kirain ada masalah apa tadi?" balas ku acuh.

Thomas menoleh, lalu kembali fokus menatap jalanan yang ada di depan nya.

"Di jawab dong, Honey. Jangan diem aja! Aku butuh kepastian mu," desak Thomas.

Aku menghela nafas dalam-dalam, lalu menatap jalanan dari samping kaca mobil. Aku bingung harus menjawab apa kepada sahabat suamiku itu.

Karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari ku, Thomas pun kembali melontarkan pertanyaan nya kepada ku.

"Gimana, Honey? Kapan kita akan bersenang-senang lagi di hotel?"

"Entah lah, Thom. Aku juga tidak tau."

Aku tidak menoleh sedikit pun. Aku tetap memandang ke samping dengan perasaan acak adut tidak karuan. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun kembali bersuara...

"Hmmmm... Nanti-nanti saja ya, kalau ada waktu yang tepat, kita ke hotel lagi," balas ku lirih.

"Ya, baik lah. Terserah kamu saja, Honey. Aku tidak akan memaksa mu. Yang penting kalau kamu ada waktu, kabari aku, oke!" balas Thomas tersenyum manis.

"Oke," balas ku mengangguk.

Tanpa terasa, mobil yang aku tumpangi pun sudah tiba di depan rumah. Aku membuka sabuk pengaman dan bersiap-siap untuk keluar dari mobil.

Namun, sebelum tangan ku membuka pintu mobil, Thomas pun langsung mendekap ku ke dalam pelukan nya.

Ia mendaratkan kecupan-kecupan kilat di wajah dan bibir ku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Setelah itu, ia pun melepaskan pelukan nya, dan berkata...

"Aku mencintaimu, Honey."

Aku membelalakkan mata lebar-lebar mendengar pengakuan Thomas. Aku tidak menyangka jika Thomas akan mengatakan hal itu kepada ku.

"A-apa kata mu? Mencintai ku...?" tanya ku gugup dan jantung berdebar-debar.

"Iya, Honey. Aku memang mencintai mu." Thomas mengangguk.

"Se-sejak kapan?" tanya ku tidak percaya.

"Sejak lama, jauh sebelum kita melakukan hal itu," jawab Thomas lirih.

Degh degh degh ...

Dada ku semakin bergemuruh hebat. Aku semakin terkejut mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir sahabat suamiku itu.

"Aduh, Thomas... Jangan bikin aku baper seperti ini kenapa sih! Bikin aku tidak bisa tidur saja memikirkan nya," gerutu ku dalam hati.

🌷 Terima kasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya man teman 🙏🌷

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

gombalan mu receh Thom .. lalu Mira mau di kemanan .

2023-12-07

0

Triee Wulandari

Triee Wulandari

di tunggu up nya kak.
terima kasih 🙏😊

2023-12-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!