Di Villa

Aku terkesiap mendengar ucapan Mira. Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi antara Thomas dan istri nya itu. Tidak ingin memperpanjang masalah, aku pun memilih diam dan tidak bertanya apa pun lagi kepada Mira.

Suasana pun kembali hening. Kami berempat saling bungkam tanpa ada yang bersuara sepatah kata pun.

Setelah melakukan perjalanan selama hampir 3 jam, Thomas pun menghentikan laju kendaraan nya di sebuah villa yang cukup besar.

Aku membangunkan mas Dodi yang tertidur pulas di bahu ku dengan menepuk-nepuk pelan pipi nya.

"Mas Dodi, bangun, Mas...! Kita sudah sampai," bisik ku.

"Eh, sudah sampaikan ya? Hoaamm..." balas mas Dodi terkejut lalu menguap lebar.

"Iya, kita sudah sampai." Aku mengangguk pelan.

Mas Dodi mengangkat kepala nya dari bahu ku, kemudian mengamati keadaan sekitar villa dengan kening mengkerut.

"Loh, Thom. Ini villa siapa?" tanya mas Dodi bingung.

"Villa bos ku," balas Thomas dingin.

"Emang nya bos mu ada nanam saham disini juga ya?" selidik mas Dodi penasaran.

"Iya ada. Udah ah, gak usah banyak tanya. Ayo, kita kesana!" seru Thomas seraya membuka pintu mobil dan melangkah keluar.

"Hmmmm, oke lah."

Mas Dodi mengangguk lalu mengajak ku untuk keluar dari mobil.

"Ayo, sayang!" seru mas Dodi.

"Iya," aku mengangguk lalu ikut melangkah keluar bersama suami ku.

Sementara Mira, manusia jadi-jadian itu tetap bungkam dan mengikuti langkah suami nya dari belakang.

Setelah mengeluarkan koper dan barang-barang lain nya dari bagasi mobil, aku dan mas Dodi berjalan di belakang Thomas dan Mira.

Sesampainya di depan teras villa, kami berempat di sambut hangat oleh sepasang lansia yang bertugas untuk menjaga villa mewah itu.

"Selamat datang, Tuan-tuan, Nona-nona. Mari silahkan masuk!" ucap wanita tua yang bernama mbok Inem.

Sedangkan lelaki tua yang bernama mang Karta, yang berdiri di samping mbok Inem, ia hanya tersenyum dan membungkukkan badan.

"Terima kasih, mbok."

Thomas tersenyum lalu mengangguk. Setelah itu, Thomas pun beralih kepada kami yang masih berdiri tegak di belakang nya.

"Ayo, kita masuk!" seru nya.

"Oke," jawab ku dan mas Dodi serempak.

Mira tidak menyahut. Ia terus menutup mulut nya dan kembali melangkah mengikuti Thomas, sambil menenteng tas kecil di tangan nya.

Aku dan mas Dodi terus mengikuti langkah Thomas sampai ke ruang tamu yang cukup luas, dengan perabotan yang serba lengkap tentunya.

Kami berempat duduk berdampingan di atas sofa dengan pasangan masing-masing. Sedangkan mbok Inem dan mang Karta, mereka berdua hanya berdiri di samping sofa, dan kembali berucap...

"Kamar tidur nya ada di lantai, Tuan. Kalau ada butuh apa-apa, bilang saja ke saya, Tuan!" jelas mbok Inem.

"Baik, mbok." Thomas kembali tersenyum.

Aku, mas Dodi, dan Mira hanya diam sambil terus mendengar percakapan mereka.

"Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan. Mari..." pamit mbok Inem.

"Oke, silahkan, mbok."

Mbok Inem dan mang Karta melangkah pergi menuju dapur. Mereka kembali beraktivitas dan melakukan pekerjaan nya masing-masing.

Mbok Inem sibuk di dapur dan memasak makanan untuk kami berempat. Sementara mang Karta, ia sibuk membersihkan pekarangan dan kolam renang yang berada di sisi kanan villa.

Setelah kepergian kedua lansia itu, Thomas pun mengalihkan perhatian nya kepada ku dan mas Dodi.

"Gimana, Dod? Apakah kamu menyukai villa ini?" tanya Thomas sembari menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan.

"Iya, aku suka. Bagus banget tempat nya, mewah lagi. Kolam renang nya juga bersih. Sip lah pokoknya, hehehehe..."

Mas Dodi mengangguk dan mengedarkan pandangan nya ke segala arah. Begitu pun dengan ku, aku juga memperhatikan setiap sudut ruangan dengan perasaan kagum.

"Nanti kita berenang yok, sayang!" ajak mas Dodi.

"Oke," jawab ku setuju.

"Kok yang di ajak cuma istri mu doang sih, Dod? Kami gak di ajak juga?" protes Thomas sewot seraya merangkul pundak Mira.

"Oh iya lupa, hihihi..." mas Dodi cekikikan.

"Huuuu, dasar temen luknut!" umpat Thomas lalu melemparkan bantal sofa ke arah mas Dodi.

"Eits, gak kena. Weeekk, hahahaha..." gelak mas Dodi seraya menjulurkan lidah.

Mas Dodi menangkis lemparan Thomas sambil terus terbahak-bahak. Aku kembali tersenyum melihat tingkah kocak suami dan selingkuhan ku itu.

"Mbak Mira, jangan murung terus dong! Ayo kita nikmati liburan ini, mbak!" ucap ku dengan senyum sumringah.

"Iya, Kartika." Mira tersenyum kecut menanggapi celotehan ku.

Wanita bertubuh gempal itu tampak tidak bersemangat. Ia menekuk wajah nya kembali dan menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

Aku mengalihkan perhatian ku kepada Thomas, lalu bertanya kepada nya dengan menggerak-gerakkan bibir ku tanpa mengeluarkan suara.

"Dia kenapa?" tanya ku.

"Entah lah," jawab Thomas mengangkat bahu.

Mas Dodi menatap ku lalu menggelengkan kepala. Ia seolah-olah sedang memperingati ku untuk tidak mencampuri urusan Thomas dan istri nya. Aku mengangguk menuruti perintah suami ku.

"Kita ke kamar yok, sayang! Badan mas pegel banget nih, mau istirahat sebentar."

Mas Dodi bangkit dari sofa. Ia menarik tangan ku untuk ikut bersama nya. Aku pun kembali mengangguk dan berjalan beriringan bersama nya ke lantai atas.

Thomas memandang kepergian kami dengan tatapan sinis. Ia mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya.

"Cih, menjengkelkan sekali mereka berdua!" batin Thomas kesal.

Sambil menapaki anak tangga bersama mas Dodi, aku pun menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum termanis ku kepada Thomas.

Bukan nya membalas senyuman ku, Thomas malah memalingkan wajah nya. Lelaki selingkuhan ku itu seperti nya enggan melihat kemesraan ku dengan mas Dodi, yang masih terus menggandeng lengan ku sampai ke lantai atas.

"Kumat," umpat ku dalam hati ketika melihat wajah masam Thomas.

Setibanya di depan kamar, mas Dodi pun melepaskan gandengan nya di lengan ku. Ia membuka pintu kamar dan berjalan masuk ke dalam.

Aku turut mengikuti langkah nya, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang berukuran king size.

"Mas istirahat dulu ya, sayang. Ngantuk banget nih, hoaamm..." ucap mas Dodi kemudian menjatuhkan tubuh nya di atas ranjang.

"Iya, tidur lah. Aku tidak akan mengganggu istirahat mu," balas ku mengangguk.

Mas Dodi membetulkan posisi tidur nya dan mulai memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, suara dengkuran halus pun mulai terdengar dari hembusan nafas nya.

"Huuuu, dasar kebo! Baru saja ketemu bantal, ehh sudah langsung ngorok."

Aku mengumpat sambil memandangi wajah mas Dodi yang terlihat damai dalam mimpi indah nya.

Sedang asik menikmati wajah teduh suami ku, tiba-tiba terdengar suara pesan teks masuk di layar ponsel ku.

Ting...

Aku bangkit dari tepi ranjang dan melangkah ke arah tas kecil yang tergeletak di atas nakas. Aku merogoh tas kecil itu dan mengambil ponsel di dalam nya. Setelah mendapatkan nya, aku menautkan kedua alis melihat nama si pengirim pesan.

"Thomas...?" gumam ku pelan.

"Honey, aku menunggu mu di halaman belakang, sekarang."

Itu lah pesan yang di tulis oleh Thomas, selingkuhan sekaligus sahabat suamiku itu

"Hah, untuk apa dia menunggu ku disana?Trus nanti kalau ada yang lihat, bisa berabe urusan nya," batin ku cemas.

Aku mondar-mandir di depan meja rias sambil memegang ponsel. Aku bingung harus menjawab apa kepada Thomas.

"Aku temui gak ya?" gumam ku ragu.

🌷 Terima kasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya man teman 🙏🌷

Terpopuler

Comments

Leo

Leo

lanjut Thor semangat 💪

2023-12-09

1

neng ade

neng ade

berani banget sih ngajak ketemuan di taman belakang padahal bawa pasangan masing2.. lagian juga si Dodi tuh ngapa2 in juga sih ajak si Thomas

2023-12-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!