Bimbang

Nama : Mira Wati

Usia : 32 tahun

Status : Istri sah Thomas

~ Keesokan harinya ~

Kukuruyuuukk...

Suara kokok ayam saling bersahutan memecah keheningan pagi. Aku mengucek-ngucek mata dan terjaga dari mimpi indah ku.

"Wah, sudah terang ternyata, hoam..." gumam ku menguap lebar.

Dengan langkah sempoyongan, aku mulai beranjak dari ranjang lalu menyambar handuk yang tergantung di samping lemari pakaian. Setelah melilitkan handuk putih itu di tubuh ku, aku pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai, aku kembali melangkah keluar kemudian mengambil daster tipis dari dalam lemari. Sesudah berpakaian dan merapikan diri di depan cermin, aku kembali mengayunkan langkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

Selesai memasak nasi goreng, aku juga menyiapkan dua gelas teh manis hangat lalu meletakkan nya di atas meja makan. Setelah semua nya tertata rapi, aku kembali masuk ke dalam kamar untuk membangunkan mas Dodi.

"Mas, bangun, mas!" ucap ku sembari mengguncang-guncang bahu nya.

"Hmmmm..."

Mas Dodi menggeliat lalu membuka mata. Ia mengarahkan pandangan nya ke jam dinding yang bertengger di tembok.

"Ayo, buruan mandi! Entar kamu telat loh," desak ku.

"Iya iya, berisik banget sih," sungut mas Dodi dengan suara serak khas bangun tidur.

Dengan keadaan setengah sadar, mas Dodi pun mulai bangkit dari ranjang. Ia mengambil handuk yang tergantung di samping pintu kamar mandi, lalu melilitkan nya ke pinggang.

Sambil menunggu mas Dodi selesai mandi, aku pun mulai menyibukkan diri dengan beberes isi kamar yang berantakan seperti kapal pecah. Setelah selesai, aku segera menyiapkan pakaian kerja mas Dodi, lalu meletakkan nya di atas meja.

Ceklek...

Suara pintu kamar mandi terbuka. Mas Dodi mengusap-usap rambut basah nya dengan handuk kecil sambil berjalan ke arah meja.

"Kamu buat sarapan apa, sayang?" tanya mas Dodi sembari memakai pakaian dan merapikan rambut.

"Nasi goreng," jawab ku.

"Huufff, nasi goreng lagi... Nasi goreng lagi... Bosen tau gak?" gerutu mas Dodi seraya membuang handuk yang baru saja ia gunakan ke atas pangkuan ku.

"Gak usah ngedumel. Kalau mau, ya di makan. Kalau gak mau, ya sudah tidak usah di makan, simpel kan?" jawab ku ketus lalu melangkah pergi meninggalkan mas Dodi.

Aku membanting pintu kamar dengan cukup kuat. Aku merasa sangat kesal dengan perkataan suami ku barusan.

"Tinggal makan aja pun, banyak kali cerita nya, sebel."

Aku menggerutu sambil terus mengayunkan langkah menuju meja makan. Sedangkan mas Dodi, ia mengikuti langkah ku sampai ke dapur dengan wajah masam.

Kami berdua duduk bersebelahan. Mas Dodi mencuri-curi pandang ke arah ku dengan ekor mata nya.

Ia tahu, kalau aku sedang kesal dengan nya. Maka dari itu, dia tidak berani untuk menatap wajah ku yang terlihat sangat horor menurut nya.

Aku dan mas Dodi menyantap nasi goreng itu dengan suasana hening, tanpa percakapan apa pun. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan di antara kami berdua.

Setelah acara sarapan selesai, aku mengantar mas Dodi sampai ke depan pintu, lalu mencium punggung tangan nya.

"Mas berangkat kerja dulu ya, sayang. Assalamualaikum," pamit mas Dodi seraya mengecup dahi ku.

"Iya, hati-hati di jalan. Wa'laikum salam," jawab ku tersenyum tipis.

Setelah bayangan mas Dodi hilang dari pandangan, aku kembali masuk ke dalam rumah kemudian mengunci pintu rapat-rapat.

Di saat sedang sibuk membereskan meja makan, terdengar suara dering ponsel dari dalam kamar.

Kring kring kring...

"Ck, siapa lagi sih itu? Pagi-pagi buta gini ganggu orang saja," sungut ku kesal.

Dengan perasaan dongkol, aku melangkah masuk ke dalam kamar, lalu mengambil ponsel yang masih berdering itu dari atas meja rias.

"Thomas...?"

"Ck, mau apa lagi sia dia? Gak ada bosan-bosannya gangguin bini orang," gerutu ku semakin kesal saat melihat nama yang tertera di layar ponsel milik ku.

"Ya, ada apa lagi?" tanya ku ketus saat menerima panggilan dari lelaki selingkuhan ku itu.

"Pagi, Honey..." sapa Thomas dengan nada lembut.

"Udah, gak usah pake acara basa-basi segala. Cepat katakan, ada perlu apa?" lanjut ku semakin ketus.

"Widiih, judes amat sih sayang ku ini. Aku gigit nih, hahahaha..." gelak Thomas.

"Preeetttt..." jawab ku asal.

Aku mendudukkan diri di tepi ranjang sembari menatap wajah ku dari pantulan cermin meja rias.

"Jangan galak-galak dong, Honey! Entar cepat tua loh," hihihi..." canda Thomas cekikikan.

"Udah, gak usah haha hihi terus. Cepat katakan, ada perlu apa?" ucap ku mengulang pertanyaan yang sama.

"Iya iya, sabar dikit napa sih? Ngebet amat," ledek Thomas.

"Kalau kamu gak ngomong juga, aku matiin nih," ancam ku semakin emosi dengan candaan receh Thomas.

"Eits, jangan gitu dong, Honey! Oke oke, aku ngomong nih. Jadi gimana rencana kita semalam?" tanya Thomas mulai serius.

"Rencana apaan?" tanya ku berpura-pura lupa.

"Wah wah wah, kayak nya udah mulai pikun nih orang," cibir Thomas.

"Bukan pikun, tapi lupa," jawab ku cuek.

"Sama aja, dodol!" umpat Thomas kesal.

Aku tersenyum-senyum sendiri mendengar kekesalan Thomas. Karena merasa pegal di bagian pinggang, aku pun merebahkan diri di atas ranjang dengan kedua kaki yang masih menjuntai ke bawah.

"Ya ya ya, terserah kau saja lah. Mau bilangin aku pikun kek, gila kek, amnesia kek, bodo amat!" ucap ku ketus.

"Hahahaha... Sadar diri juga ternyata dia," gelak Thomas.

Aku tidak bergeming. Aku menatap langit-langit kamar sambil terus menempelkan ponsel di telinga.

"Kamu siap-siap ya! Bentar lagi kita ketemuan di hotel X," ucap Thomas mengingatkan.

"Jam berapa?" tanya ku.

"Jam 1, selesai jam makan siang. Gimana, bisa gak?" balas Thomas.

"Oke, bisa. Nanti aku kabari kalau aku sudah siap," jawab ku.

"Oke, sip. Aku tunggu ya, Honey. Bye..." pamit Thomas menutup panggilan.

"Oke, bye."

Setelah panggilan berakhir, aku melempar kan ponsel itu secara asal di atas ranjang. Kemudian aku menutup mata sejenak, membayangkan apa yang akan terjadi antara aku dan Thomas di hotel X nanti.

"Kira-kira, Thomas bisa memuaskan hasrat ku gak ya?" gumam ku lirih.

"Atau jangan-jangan, dia malah kayak ayam. Baru masuk sudah langsung keluar," lanjut ku menduga-duga tentang kekuatan Thomas di atas ranjang.

Setelah beberapa saat mengkhayal yang tidak-tidak tentang Thomas, aku pun kembali duduk di tepi ranjang dengan perasaan bingung.

"Apa sebaiknya aku batalkan saja perjanjian ini ya?" gumam ku ragu.

"Tapi kalau di batalkan, aku bakalan jadi penasaran terus dengan keahlian Thomas di atas ranjang."

"Duuuhhh, malah jadi pusing begini sih mikirin nya!" gerutu ku sembari mengacak-acak rambut.

Aku terus saja berperang dengan isi kepala sendiri. Aku bingung, aku dilema memikirkan perselingkuhan yang baru saja akan di mulai ini.

"Dari pada penasaran terus dengan si Thomas gila itu, mendingan aku lanjutkan saja lah. Soal resiko, pikir belakangan saja."

Setelah memantapkan hati, aku pun bergegas membersihkan diri ke dalam kamar mandi. Setelah selesai, aku langsung berganti pakaian dan memoles sedikit wajah.

"Thomas, aku otewe sekarang."

Aku mengirim pesan kepada Thomas, kemudian memesan taksi online.

Ting...

Tak lama kemudian, balasan pesan dari lelaki itu pun muncul di layar ponsel ku.

"Oke, aku meluncur sekarang," balas Thomas.

🌷 Terima kasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya man teman 🙏🌷

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

perselingkuhan diawal memang terlihat enak.. tapi hati gak akan bisa tenang karena nya 😏

2023-12-20

0

neng ade

neng ade

wah wah berani juga tuh Kartika .. dari rasa penasaran jadi coba2 terus akhir nya kebablasan .. klo Dody tau km selingkuh sm Thomas gimana ya reaksi nya nanti

2023-12-06

1

Leo

Leo

gas terus Kartika. jangan kasih kendor, lanjut Thor semangat 💪

2023-12-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!