Rencana Liburan

Thomas kembali melajukan kendaraan nya menuju mini market yang berada di sekitaran tempat tinggal ku. Tak butuh waktu lama, kami berdua pun sudah tiba di tempat tujuan.

Aku membuka sabuk pengaman, lalu mencium punggung tangan Thomas sebelum melangkah keluar dari mobil nya.

"Terima kasih ya, Thom. Aku pergi dulu, bye!" pamit ku.

"Oke, Honey. Bye..."

Thomas mengecup dahi ku kemudian membawa ku ke dalam dekapan nya. Setelah itu, aku pun bergegas keluar dari mobil dan berjalan tergesa-gesa ke dalam mini market.

Setelah melihat aku masuk, Thomas pun menjalankan mobil nya kembali ke jalan raya dan bergabung dengan kendaraan lain nya.

Selesai berbelanja, aku mengambil ponsel dari dalam tas lalu memesan taksi online. Tak lama berselang, taksi yang aku pesan pun tiba. Aku segera masuk ke dalam mobil sambil membawa barang-barang belanjaan ku.

Lima menit kemudian, mobil yang aku tumpangi pun berhenti tepat di depan rumah. Setelah membayar ongkos kepada sang sopir, aku pun bergegas keluar dari mobil sambil menenteng barang di tangan kiri ku.

Ceklek...

"Assalamualaikum," salam ku seraya melangkah masuk ke dalam rumah.

"Wa'laikum salam," jawab mas Dodi.

Ia duduk santai di atas sofa ruang tamu sambil menonton tv.

"Mana cemilan Mas, sayang?" tanya mas Dodi memandangi kantong plastik yang ada di tangan ku.

"Ada nih di dalam," balas ku menunjuk ke arah barang belanjaan.

Aku membuka barang bawaan ku, lalu mengambil beberapa cemilan ringan yang di sudah di pesan oleh mas Dodi.

"Nah, ini cemilan nya. Jangan di habisin semua ya, aku juga mau!" ucap ku meletakkan semua cemilan itu ke atas meja yang ada di depan mas Dodi.

"Iya iya, takut banget sih!" balas mas Dodi sewot.

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan suami ku. Setelah itu, aku melangkah ke dapur lalu menyusun barang-barang belanjaan ke dalam kulkas dan lemari makanan.

Setelah selesai, aku kembali bergabung dengan mas Dodi di ruang tamu dan duduk di sebelah nya.

Aku membuka salah satu cemilan itu, kemudian memakan nya dengan santai sambil menonton tv.

"Mas, besok kan hari minggu. Gimana kalau kita jalan-jalan ke puncak?" usul ku sembari mengunyah cemilan keripik singkong.

"Boleh, tapi kalau cuma kita berdua saja, gak seru dong. Gimana kalau kita ajak Thomas dan istri nya?" tanya mas Dodi meminta pendapat ku.

"Emang nya mereka mau kalau kita ajak kesana?" tanya ku ragu.

"Hmmmm, gak tau juga sih. Sebentar, mas tanya kan dulu!" ucap mas Dodi lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.

Aku hanya mengangguk menggapai ucapan suami ku. Mas Dodi mencari kontak Thomas lalu menghubungi nya.

Tut... tut... tut...

"Halo, Thom. Kamu lagi dimana?" tanya mas Dodi saat panggilan nya sudah tersambung.

"Di rumah. Emang nya kenapa, Dodi?" tanya Thomas balik.

"Hmmmm... Gak kenapa-kenapa sih. Aku hanya ingin mengajak mu liburan ke puncak. Gimana, kamu mau gak?" tutur mas Dodi.

"Kita berdua saja?" tanya Thomas heran.

"Ya enggak lah, para istri juga harus ikut dong!" jawab mas Dodi sembari melirik ke arah ku.

"Ohhh, kirain cuma kita berdua saja. Hehehehe..." Thomas terkekeh.

"Gila kamu, Thom! Untuk apa juga liburan berduaan sama kamu? Hiiiiii... Ogah banget!" balas mas Dodi bergidik geli.

"Hihihi..."

Thomas cekikikan sendiri mendengar ucapan mas Dodi. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar percakapan mereka.

"Jadi gimana, Thom? Kamu mau gak ikut kami ke puncak besok?" tanya mas Dodi lagi.

"Hmmmm, gimana ya?"

Thomas terdengar ragu untuk menjawab. Ia terdiam beberapa saat. Tak lama kemudian, Thomas pun kembali berucap...

"Aku tanya istri ku dulu ya, Dod. Kalau sudah ada kepastian, nanti aku kabari, oke!" tutur Thomas.

"Oke, Thom. Aku tunggu," balas mas Dodi.

"Oke, siap." Thomas menutup panggilan.

Setelah panggilan berakhir, mas Dodi meletakkan ponsel nya ke tempat semula lalu memakan cemilan nya kembali.

"Gimana, Mas? Mereka mau ikut dengan kita?" tanya ku.

"Belum tau, sayang. Thomas belum bisa ngasih kepastian. Kata nya sih mau tanya istri nya dulu," jelas mas Dodi.

"Ooohh, gitu." Aku manggut-manggut lalu mengalihkan pandangan ku ke layar televisi.

"Mudah-mudahan saja Thomas mau ikut. Biar makin seru acara liburan nya," batin ku penuh harap.

~ Malam Harinya Dikamar ~

Ting...

Satu pesan teks muncul di layar ponsel mas Dodi.

"Dodi, aku jadi ikut dengan mu besok," tulis Thomas.

"Oke, besok jam 8 pagi kita berangkat. Kamu datang saja ke rumah ku, biar kita berangkat bareng!" balas mas Dodi.

"Oke," balas Thomas.

Mas Dodi meletakkan ponsel nya kembali di atas meja rias, kemudian merangkak naik ke atas ranjang. Ia membaringkan diri di samping ku dan memeluk erat tubuh ku.

"Pesan dari siapa, Mas?" tanya ku.

"Dari Thomas," jawab mas Dodi.

"Ohhh, trus dia bilang apa?" selidik ku.

"Dia bilang, dia jadi ikut dengan kita besok," jawab nya.

"Oh, syukur lah kalau mereka jadi ikut. Jadi kita ada teman nya disana nanti," balas ku lega.

"Iya, bener."

Mas Dodi mengangguk menyetujui ucapan ku.

"Ya sudah, kita bobok, yok! Mas mulai ngantuk nih, hoaamm..." ucap mas Dodi mulai membetulkan posisi tidur nya.

"Oke," jawab ku.

Aku dan mas Dodi mulai memejamkan mata perlahan. Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan di bawah selimut.

~ Di Kediaman Thomas ~

Setelah menerima panggilan dari sahabat nya Dodi, Thomas pun langsung menemui Mira di dalam kamar. Ia duduk di samping sang istri yang sedang melamun di tepi ranjang.

"Mira, besok kita pergi liburan ke puncak bersama Dodi dan istri nya," ucap Thomas.

Mira tidak menjawab. Ia hanya mengangguk menanggapi ucapan suami nya. Hati nya masih terasa sakit, akibat pengkhianatan Thomas dan juga sahabat nya Sandra.

Thomas menghela nafas panjang melihat wajah kusut sang istri. Kemudian ia pun berganti pakaian dan merebahkan diri di atas ranjang.

"Sudah lah, Mira. Kamu jangan melamun terus! Lebih baik sekarang kamu tidur, agar besok muka kamu cerah. Tidak semrawut seperti itu," cibir Thomas ketus.

Mira tetap bungkam. Ia tidak berminat untuk menjawab ucapan suami nya. Thomas mendengus kesal melihat sikap dingin Mira.

"Hufff, terserah kamu saja lah, Mir. Lama-lama aku capek menghadapi sikap egois mu itu," ucap Thomas membuang nafas kasar.

Karena tidak ingin memancing keributan di antara mereka, akhirnya Thomas pun memutuskan untuk membiarkan sang istri larut dalam kesendirian nya.

"Biarin aja lah, nanti kan sembuh sendiri merajuk nya," batin Thomas pasrah.

Thomas membalikkan badan menghadap tembok lalu memeluk guling. Tak lama berselang, terdengar suara dengkuran halus dari hembusan nafas Thomas.

"Dasar, laki-laki gak peka!" umpat Mira seraya memandangi wajah teduh suami nya.

"Istri lagi merajuk begini, bukan nya di bujuk, malah di tinggal molor. Bikin emosi saja," lanjut nya dengan wajah masam.

Berhubung Thomas sudah tidur, Mira yang sudah mulai mengantuk pun akhirnya menyerah dengan ego nya. Ia merebahkan tubuh gempal nya di sebelah Thomas.

Mira membelakangi tubuh kekar suaminya, sambil memeluk guling. Setelah menyelimuti tubuh nya sendiri, Mira pun mulai memejamkan mata perlahan.

Beberapa menit kemudian, wanita itu pun mulai terlelap dan menyusul sang suami ke alam mimpi.

🌷 Terima kasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya man teman 🙏🌷

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

bkn Thomas yg ga peka .. tapi km sendirilah Mira .. km tuh emang susah di bilangin sih harus nya km berubah jadi lebih perhatiin diri kamu sendiri

2023-12-09

1

Leo

Leo

lanjut

2023-12-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!