Jalan-Jalan Sore

Tak butuh waktu lama, aku pun sudah tiba di depan rumah. Setelah membayar ongkos kepada sang sopir, aku bergegas keluar dari mobil lalu merogoh tas untuk mengambil kunci.

Setelah mendapatkan nya, aku segera membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.

"Assalamualaikum," salam ku kemudian mengunci pintu kembali.

Keadaan di dalam rumah masih sama, seperti saat aku tinggalkan tadi. Aku berjalan masuk ke dalam kamar dan menyimpan tas selempang ke dalam lemari pakaian.

Aku merebahkan tubuh lelah ku di atas ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah. Aku menatap langit-langit kamar dan kembali mengingat tentang apa yang baru saja aku lakukan bersama Thomas, sahabat suamiku itu.

"Hmmmm, ternyata permainan Thomas tak kalah hebat dengan mas Dodi. Bukan cuma itu saja, dia juga mesra dan romantis. Aku jadi merasa nyaman saat bersama nya," gumam ku dengan senyum mengembang.

Aku terus mengkhayal saat-saat indah bersama Thomas. Saking senang nya, aku sampai berguling-guling di atas ranjang persis seperti anak-anak balita.

"Thomas... Thomas... Kau memang lelaki sempurna yang pernah aku temui. Wajah mu, senyuman mu, mata mu, bibir mu... Ah, aku jadi mabuk kepayang di buat nya."

Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan ketampanan dan kemesraan dari sahabat suamiku itu. Hingga tanpa sadar...

Bruugghh...

Aku terjatuh dari atas ranjang dan tersungkur di lantai.

"Adooohh, kok bisa sampai jatuh begini sih? Bikin sakit pinggang ku saja," gerutu ku kesal.

Sambil memegangi pinggang yang terasa sakit, aku pun mulai bangkit dari lantai dan kembali duduk di tepi ranjang.

Aku memandangi wajah ku sendiri dari pantulan cermin meja rias yang ada di depan ku.

"Cantik..." gumam ku memuji diri sendiri.

"Pantas saja Thomas sampai tergila-gila dengan ku. La wong wajah ku saja cantik begini, hihihi..."

Aku cekikikan sendiri sambil terus memandangi wajah ku yang terlihat sangat cantik dan menawan menurut ku.

Sedang asyik memandangi wajah sendiri, tiba-tiba...

"Kamu lagi ngapain, sayang? Dari tadi kok senyam-senyum sendiri? Kesambet ya," canda mas Dodi yang sudah berdiri tegak di depan pintu kamar.

"Astaga naga, kaget aku!" pekik ku sembari mengelus dada yang berdebar-debar kencang.

"Kamu ini kebiasaan banget sih, Mas. Suka banget bikin orang jantungan," gerutu ku memasang wajah masam.

"Hehehe... Maaf, sayang. Mas gak sengaja. Habis nya kamu aneh sih, senyam-senyum terus dari tadi. Mas kan jadi takut," jawab mas Dodi cengar-cengir.

"Takut? Emang nya aku hantu apa? Pake acara di takutin segala?" balas ku sewot.

"Emang iya, kamu itu adalah hantu cantik yang sangat menggoda, hahahaha..." gelak mas Dodi.

"Edan," umpat ku memutar bola mata malas mendengar candaan receh suami ku.

Mas Dodi melangkah masuk ke dalam kamar, lalu meletakkan tas kerja nya di atas meja. Ia membuka baju dan celana panjang yang di kenakan nya, lalu melemparkan nya dengan sembarang ke lantai.

"Lolololohh, kok malah di buka semua? Emang nya mas mau ngapain?" tanya ku curiga.

"Mau mandi, sayang. Badan mas gerah banget nih. Pengen berendam di dalam bak air," jawab mas Dodi.

Mendengar penuturan mas Dodi yang tidak masuk akal, aku pun langsung terkejut dengan mata membulat.

"E e e e eh, ya jangan dong! Masa mau berendam di dalam bak air? Entar bak nya jadi kotor dong? Aneh-aneh saja tingkah nya," omel ku kesal.

"Kan ada kamu yang bersihin, hehehehe..." Mas Dodi terkekeh lalu melangkah dengan santai ke dalam kamar mandi.

"Enak aja, di kira aku ini pembantu apa? Tukang bersihin bak mandi?" sungut ku memanyunkan bibir.

Mas Dodi tidak menghiraukan omelan ku. Ia tetap masuk ke dalam bak air dan duduk berendam di dalam nya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah menyebalkan suamiku itu.

"Oh iya, hampir saja aku lupa. Uang dari Thomas kemarin belum aku ambil dari bawah kolong sofa,"

Aku menepuk jidat lalu bergegas keluar dari kamar. Aku berlari kecil menuju ruang tamu lalu membungkukkan badan untuk mengambil uang yang aku sembunyikan kemarin.

Setelah mendapatkan nya, aku duduk bersila di atas sofa kemudian memisahkan antara uang bagian mas Dodi dan uang bagian ku. Setelah itu, aku kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa uang pemberian Thomas di kedua tangan ku.

Sesudah menyimpan uang bagian ku ke dalam lemari pakaian, aku kembali duduk di tepi ranjang sambil memegang uang bagian mas Dodi.

Tak lama berselang, mas Dodi pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang dan rambut basah.

"Mas, ini ada titipan uang dari Thomas kemarin siang. Aku lupa memberikan nya pada mu," ucap ku seraya menyodorkan uang itu kepada nya.

Mas Dodi tidak berkata apa-apa. Ia menerima uang itu lalu menghitung nya. Selesai menghitung, ia menyimpan uang pemberian Thomas itu ke dalam laci meja.

"Itu uang apa, Mas?" tanya ku penasaran.

"Uang hasil penjualan barang," jawab mas Dodi sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil.

Ia duduk di kursi meja rias sambil terus mengusap-usap kepala nya.

"Oooohhh," balas ku.

Aku hanya manggut-manggut mendengar jawaban nya itu. Kemudian aku kembali merebahkan diri di atas ranjang, dengan kedua kaki yang di biarkan menjuntai di lantai.

"Mas..."

"Hmmmm..." mas Dodi menatap ku dari pantulan cermin.

"Kita jalan-jalan, yok!" usul ku.

"Emang nya mau jalan-jalan kemana?" tanya mas Dodi.

"Ya kemana aja, yang penting kita pergi jalan-jalan. Atau, makan di luar juga boleh," jawab ku kembali mendudukkan diri di tepi ranjang.

"Ya sudah, kamu bersiaplah! Mas mau ganti baju dulu," seru mas Dodi.

"Oke siap, Mas."

Dengan semangat 45, aku pun langsung bergegas berganti pakaian dan memoles sedikit wajah. Setelah selesai, aku mengambil tas kecil dari dalam laci, lalu menyampirkan nya ke bahu.

Begitu pun dengan mas Dodi. Selesai berpakaian dan merapikan rambut nya, ia mengambil kunci motor lalu melangkah keluar dari kamar.

"Ayo, kita berangkat sekarang!" seru mas Dodi.

"Oke," aku mengangguk dan mengikuti langkah nya sampai keluar rumah.

Setelah mengunci pintu, kami berdua segera naik ke atas motor dan memulai perjalanan. Aku melingkarkan kedua tangan di pinggang mas Dodi, lalu menyandarkan kepala di atas bahu nya.

"Mau makan dimana?" tanya mas Dodi sambil terus melajukan kendaraan nya.

"Terserah mas, aku ngikut saja," jawab ku.

"Gimana kalau kita makan di warung soto ayam yang ada di pinggir pantai?" usul mas Dodi.

"Boleh, di situ pun jadi," jawab ku setuju.

Sesudah menentukan pilihan, mas Dodi pun semakin menambah laju kendaraan nya. Sepuluh menit kemudian, kamu berdua pun sudah tiba di tempat yang di tuju.

Setelah memarkirkan motor di tempat yang sudah tersedia, dada ku tiba-tiba berdegup kencang saat melihat mobil milik Thomas yang sedang terparkir tak jauh dari tempat ku berdiri.

"I-itu kan mobil Thomas? Sedang apa dia disini? Apa jangan-jangan, dia sedang makan bersama istri nya?" batin ku gelisah sembari celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Thomas.

"Ayo, kita masuk!"

Mas Dodi menggandeng lengan ku dan mengajakku untuk masuk ke dalam warung soto itu. Dengan perasaan was-was, aku pun mengikuti langkah mas Dodi sambil terus mengedarkan pandangan ku ke segala arah.

"Woy, Dodi. Sini...!" seru Thomas melambaikan tangan ke arah kami berdua.

Degh...

Dada ku semakin berdebar-debar hebat, saat melihat Thomas dan istri nya Mira sedang duduk lesehan di bagian sudut warung.

"Duuuhhh, kenapa harus ada mereka berdua sih disini? Bikin mood ku rusak saja," batin ku kesal.

🌷 Terima kasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya man teman 🙏🌷

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

seru 😁

2023-12-20

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!