Makan Bersama

"Ya, tunggu sebentar, Thom."

Mas Dodi membalas lambaian tangan Thomas sembari tersenyum.

"Ayo kita kesana, sayang!" seru mas Dodi menarik lengan ku.

Aku tidak menyahut. Aku hanya mengangguk dan berjalan beriringan bersama mas Dodi. Setibanya di depan Thomas, aku dan mas Dodi duduk berdampingan di depan lelaki selingkuhan ku itu.

"Kalian berdua mau makan apa? Pesan lah, biar aku yang traktir!" ucap Thomas tersenyum.

"Waaahh, beneran ini, Thom?" balas mas Dodi girang.

"Iya beneran, pesan lah makanan kalian! Kita makan bareng disini," ucap Thomas lagi sambil sesekali melirik kepada ku.

"Oke sip," balas mas Dodi mengacungkan jempol.

Mas Dodi mengedarkan pandangan nya kesana kemari mencari pramusaji. Setelah menemukan nya, ia pun melambaikan tangan.

"Mbaaak, sini!" seru mas Dodi.

"Baik, Pak."

Wanita pramusaji itu pun datang menghampiri meja kami sambil membawa pena dan kertas di tangan nya.

"Mau pesan apa, Pak?" tanya wanita itu.

"Soto ayam nya 2, es teh nya juga 2. Dan satu lagi, gak pake lama, hehehehe..." canda mas Dodi terkekeh.

"Oke siap, di tunggu ya, Pak!"

"Oke," jawab mas Dodi kembali mengacungkan jempol.

Setelah wanita itu pergi, mas Dodi kembali membuka percakapan dengan Thomas. Sedangkan aku dan Mira, kami berdua hanya diam dan menjadi pendengar setia saja.

"Gimana kerjaan kamu, Dodi? Lancar?" tanya Thomas.

"Alhamdulillah, lancar. Kamu...?" tanya mas Dodi balik.

"Alhamdulillah, kerjaan ku juga lancar."

Thomas tersenyum dan kembali melirik ke arah ku. Ia mengerlingkan sebelah mata nya, saat mas Dodi dan Mira sedang memandang ke arah laut.

Melihat kelakuan aneh Thomas, aku pun membelalakkan mata selebar-lebarnya. Aku takut kalau kelakukan nya itu akan ketahuan oleh Mira ataupun mas Dodi.

"Ck, benar-benar gila nih orang. Bisa-bisanya dia melakukan hal konyol begitu, di saat-saat seperti ini," batin ku dongkol.

Aku memalingkan wajah ke sembarang arah untuk menghindari pandangan mata Thomas. Karena merasa risih dengan kelakuan sahabat suamiku itu, aku pun memiliki ide untuk mengambil ponsel dan mulai mengotak-atik nya.

Suasana hening sesaat. Kami berempat sibuk dengan lamunan dan isi kepala masing-masing. Hingga pada akhirnya...

Kring kring kring...

Suara dering ponsel dari dalam tas Mira memecah kesunyian di antara kami semua. Istri Thomas itu pun langsung merogoh tas kecil nya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga nya.

"Halo assalamualaikum," salam Mira.

"Oke, tunggu lah disana! Aku otewe sekarang."

Mira mengakhiri panggilan lalu menyimpan ponsel nya kembali. Setelah itu, ia menatap ke arah suami nya sembari berucap...

"Mas, aku ke kios dulu ya. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan disana," pamit Mira seraya mencium punggung tangan Thomas.

Aku melengos melihat pemandangan yang tidak aku suka di depan ku. Sementara mas Dodi, ia hanya plonga plongo melihat sahabat dan istri nya itu.

"Oke, Sayang. Hati-hati di jalan ya," ucap Thomas tersenyum manis kepada Mira.

"Iya, Mas."

Selesai berpamitan kepada suami nya, Mira pun beralih kepada ku dan juga mas Dodi.

"Kartika, Mas Dodi, aku permisi dulu ya! Lain waktu kita makan bareng lagi," pamit Mira tersenyum simpul.

"Oke, Mir."

Mas Dodi membalas senyuman Mira. Begitu pun dengan ku. Aku juga tersenyum kepada rival ku itu, lalu menganggukkan kepala.

Setelah berpamitan, Mira pun bergegas bangkit dari duduk nya lalu melenggang pergi meninggalkan kami bertiga. Setelah kepergian Mira, aku kembali menyibukkan diri dengan ponsel yang ada di tangan ku.

Sementara itu, Thomas terus saja memandang ku sambil sesekali menyeruput es teh nya.

"Thom, kelihatan nya sekarang istri mu gemuk kan ya?" ucap mas Dodi membuka perbincangan.

"Bukan kelihatan nya lagi, tapi memang iya," jawab Thomas.

Aku tetap diam sambil terus mengotak-atik ponsel ku. Aku tidak ingin ikut campur percakapan antara suami dan selingkuhan ku itu. Aku cukup menjadi pendengar setia saja.

"Mira itu terlalu sibuk dengan dunia nya sendiri. Dia tidak pernah merawat diri ataupun penampilan nya. Beda jauh dengan istri kamu," tutur Thomas sembari mengalihkan pandangan nya kepada ku.

Degh...

Aku terkesiap mendengar ucapan Thomas yang terlalu berani menurut ku. Aku menatap tajam ke arah Thomas, seakan-akan menunjukkan kalau aku sedang marah dengan perkataan nya barusan.

Melihat ekspresi ku itu, Thomas pun hanya tersenyum dan kembali mengerlingkan mata nya.

"Huh, dasar edan!" umpat ku dalam hati.

Aku membuang nafas kasar, lalu kembali berpura-pura sibuk dengan benda pipih di tangan ku.

"Beda jauh dengan istri ku? Maksud nya gimana sih, aku gak ngerti?" selidik mas Dodi.

"Maksud nya... Istri ku tidak perduli dengan diri nya sendiri. Beda dengan istri kamu yang selalu merawat dan menjaga penampilan nya, agar terlihat cantik di depan suami ataupun orang lain," jelas Thomas panjang lebar.

"Oooohhh, gitu."

Mas Dodi manggut-manggut mendengar penjelasan sahabat nya, kemudian ia pun kembali memandang ke arah laut dengan tatapan kosong.

Thomas menautkan kedua alis mendengar jawaban mas Dodi yang terdengar biasa-biasa saja.

"Cuma oh doang?" tanya Thomas heran.

"Lah, trus aku harus jawab apa?" balas mas Dodi dingin.

"Yaaa... Paling gak nya seneng kek, atau bangga kek, karena mempunyai istri yang cantik seperti ini."

Thomas kembali memandangi ku dengan tatapan nakal.

"Tidak perlu, karena aku sudah tau kalau istri ku ini memang cantik dan juga menggoda, hahaha..." gelak mas Dodi sembari menoel dagu ku.

"Iiiihhh, apaan sih. Malu tauuu..." rengek ku manja seraya menepis tangan mas Dodi.

"Ya, kamu memang benar, Dodi. Istri kamu ini memang sangat menggoda," batin Thomas.

Thomas memanyunkan bibir mendengar candaan mas Dodi. Seperti nya ia sedang cemburu melihat tingkah nakal suami ku itu.

"Biarin... Palingan si Thomas langsung pulang, trus maksa istri nya untuk ehem-ehem, hihihi..." cibir mas Dodi cekikikan.

Aku langsung mengalihkan perhatian ku kepada Thomas. Aku menggeleng pelan, memberi isyarat kepada selingkuhan ku itu, untuk tidak melakukan apa yang di katakan mas Dodi barusan.

Thomas yang langsung mengerti dengan isyarat ku itu pun hanya tersenyum tipis, lalu kembali berucap...

"Ah, kamu bisa saja, Dodi. Kalau masalah itu sih tidak perlu di ajarin. Aku juga tau apa yang harus aku lakukan," ucap Thomas.

"Hehehe, bener juga sih." Mas Dodi terkekeh menanggapi ucapan sahabat nya.

Sedang asyik bercanda ria, wanita pramusaji pun datang dengan dua nampan di tangan nya.

Setelah menata makanan dan minuman di atas meja, wanita itu pun menyerahkan nota pembayaran kepada Thomas.

"Ini bil nya, Pak!" ucap nya.

Thomas menerima secarik kertas itu, lalu merogoh dompet dari saku celana nya. Ia mengambil beberapa lembar uang biru lalu menyerahkan nya kepada wanita itu.

"Ini, Mbak."

Oke, terima kasih, Pak. Saya permisi dulu," pamit nya.

"Oke, silahkan."

Thomas tersenyum lalu menyimpan dompet nya kembali ke dalam saku.

"Ayo, silahkan di makan!" seru Thomas.

"Wokeh," jawab mas Dodi mengacungkan jempol.

Sedangkan aku, aku hanya mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Aku dan mas Dodi mulai menyantap hidangan yang ada di atas meja. Sementara Thomas, ia hanya diam sambil mencuri-curi pandang kepada ku.

"Dasar, orang aneh!" umpat ku dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Thomas dengan ekor mata ku.

🌷 Terima kasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya man teman 🙏🌷

Terpopuler

Comments

cancer

cancer

lanjut

2023-12-28

0

Leo

Leo

next up

2023-12-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!