“Kita tidak akan pergi, bukan? Ya, sekali lagi Pearl memastikan kalau tiket bulan madu kapal pesiar itu ditolaknya.
“Aku juga tidak ingin pergi, tetapi salah satu permintaanku harus tetap kau penuhi. Sebagai seorang suami, aku bertanggung jawab penuh pada kehidupanmu dan semua yang berhubungan denganmu. Kalau hanya belanja bulanan, semua bisnisku sanggup menopangnya.”
Bisnis? Zack berbisnis apa? Bukankah sejauh ini dia selalu membantu pekerjaan adiknya di kantor? Meskipun itu dilakukan dari mansion atau lebih tepatnya work from home.
“Lalu kau minta aku berada di dalam kamar ini sepanjang hari? Tidak. Aku tidak mau. Aku terbiasa melakukan pekerjaan di luar rumah. Aku pasti akan bosan.”
Enak saja Zack mengatur semua keinginannya. Dia boleh bertanggung jawab pada kehidupannya, tetapi tidak dengan rutinitasnya. Dia menjadi pendiam setelah melakukan protes seharian penuh. Tidak hanya itu saja, ada hal yang cukup mengganjal di benak Pearl.
Bersiap untuk tidur, dia tidak membawa baju ganti. Namun, semua pakaian Pearl sudah disediakan di ruang ganti khusus miliknya berikut perlengkapan make up dan sepatu. Semua pakaian yang ada di sana cukup pas untuk dikenakan, begitu juga dengan ukuran sepatunya.
Tidak mau terlalu melambungkan nama Zack, mungkin saja mamanya sudah mengirim semua detail pakaian putrinya. Setiap gaun tidur yang dia coba, tak satu pun yang tidak pas dia kenakan. Semuanya cocok dan warnanya sangat disukai.
Agak canggung ketika Pearl telah kembali ke kamar. Pada keesokan harinya dia berniat pergi ke kantor lalu pulang ke rumah orang tuanya. Tentunya ingin mengonfirmasi perihal semua busana yang dia kenakan di mansion mertuanya.
“Zack, apa kau sudah tidur?” tanya Pearl perlahan ketika melihat pria itu berada di atas ranjang, terbaring dengan selimut membungkus separuh tubuhnya, dan dengan mata terpejam.
“Katakan! Aku masih mendengarkan.”
Syukurlah dia tidak melihat ke arah Pearl yang tampak kikuk dengan posisinya. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ditanyakan, selain rencananya hari esok. Kamar ini sudah menjadi tempat bersama, tetapi Pearl khawatir kalau Zack akan menempatkan dia di sofa seperti pernikahan perjodohan pada umumnya.
“Ini ranjangmu. Jadi, aku harus tidur di mana?”
“Ukuran ranjangku ini cukup besar. Kau bisa tidur di sisi yang kosong. Kau jangan khawatir karena kita tidak akan melakukan hal-hal aneh. Percayalah!”
Dengan hati-hati, Pearl memposisikan tubuhnya di ranjang. Setelah dirasa posisinya tepat, dia segera mengganti lampu yang terang itu menjadi lampu tidur. Cukup lama dia berada di posisi terbaring dengan mata yang masih terbuka. Ingin rasanya menarik setengah selimut yang dipakai Zack, tetapi dia ragu dan takut mengganggu.
Pada akhirnya, dia terpejam karena hari ini cukup melelahkan. Dari tempat pernikahan lalu ke hotel dan berakhir di mansion mertuanya. Sangat melelahkan dengan banyak drama yang dia hadapi. Itu baru satu hari, belum hari-hari selanjutnya.
Waktu cepat sekali berganti. Malam berubah menjadi pagi yang cukup indah dan nyaman. Pearl sepertinya enggan bangun dari ranjangnya kali ini. Dia merasa nyaman dengan selimut yang menutup setengah tubuhnya. Tidak merasa kedinginan, tetapi sayup-sayup terdengar lagu-lagu romantis.
Rasanya masih berada di alam mimpi kemudian perlahan dia membuka mata setelah merasa tubuhnya kembali bugar. Sialnya lagi, dia terlambat sarapan pagi dan datang ke kantor. Jam dinding di kamar itu sudah menunjukkan tengah hari. Itu artinya, dia sudah ketinggalan banyak hal.
“Oh, ya ampun! Aku terlambat!” Dia merutuki dirinya sendiri. Beruntung orang di sebelahnya sudah tidak ada lagi.
Bergegas dia turun dari ranjang lalu pergi ke kamar mandi. Dia harus segera datang ke kantor lalu meminta maaf atas keteledorannya hari ini. Buru-buru menuju ke ruang ganti. Dia juga mendapati baju kerja di sana meskipun tidak banyak.
“Aku harus segera pergi ke kantor untuk meminta maaf.” Wajar saja kalau Pearl berlaku demikian sebab ponselnya masih berada di rumah.
Ketika sampai di ruang tengah mansion, dia tidak bertemu dengan siapa pun. Semua pelayan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tetapi seorang pelayan langsung menghampirinya.
“Nona, apa yang Anda butuhkan? Kami akan menyiapkannya sekarang.”
“Tidak perlu. Aku sedang terburu-buru. Oh, ya, mama dan papa ke mana? Ehm, maksudku semua orang.” Mau tidak mau, Pearl harus tahu seluk-beluk seluruh penghuni mansion itu.
“Tuan dan nyonya sedang pergi karena ada pertemuan. Kalau tuan muda Sam, dia pergi ke kantor. Sementara tuan Zack, kami tidak tahu dia di mana.”
Sepertinya pria itu cepat sekali menghilang atau bersembunyi. Tidak masalah baginya, tetapi hari ini urusannya harus selesai. Sebelum mengingat isi perutnya yang kosong, dia berniat pergi ke kantor. Dia hampir lupa kalau di tangannya tidak memegang uang sepeser pun, apalagi untuk naik taksi. Rupanya ketika sampai di halaman depan, seorang sopir langsung berniat mengantarnya pergi sebab itu merupakan perintah majikannya.
“Tidak perlu seperti ini, Sir. Aku bisa pergi sendiri.” Pearl benar-benar tidak enak hati.
“Maaf, Nona, ini perintah tuan. Jadi, kalau aku tidak mengantarkan ke mana pun Anda pergi, aku khawatir kalau tuan akan memecatku.”
Tidak ada waktu lagi. Pearl memang butuh untuk sampai ke kantor tempatnya bekerja dengan cepat. Dia segera menyetujui sopir tersebut lalu pintu belakang mobil dibuka. Dia diperlakukan layaknya seorang majikan.
“Anda mau diantarkan ke mana, Nona?” tanya sopir tersebut.
“Perusahaan X, Sir. Terima kasih.”
Bagaimana rasanya masuk ke kantor menggunakan mobil mewah? Ini pertama kalinya terjadi sepanjang hidupnya. Ada perasaan tidak nyaman, aneh, dan masih seperti bermimpi. Ingatannya kembali pada selimut menutup tubuhnya yang baru disadari ketika bangun tidur. Dia sempat meraba tubuhnya dan semuanya baik-baik saja.
“Sebenarnya Zack itu seperti apa? Mengapa aku merasa kalau Sam jauh lebih peduli ketimbang dirinya? Ah, aku sudah terlalu menganggap semua buruk dari kelakuannya. Oh, semuanya aku anggap negatif. Mungkinkah dia yang menyelimuti aku semalam?” batin Pearl penuh keraguan.
“Nona, sudah sampai. Jika urusan Anda sudah selesai, aku tunggu di tempat parkir. Tolong jangan pernah pergi selain dengan mobil ini.” Sopir itu segera turun lalu membukakan pintu.
Jika bukan karena suara sopir mengejutkan dirinya, Pearl mungkin akan terus melamun sepanjang hari. Banyak hal yang bertolak belakang dari pandangannya. Sangat banyak sekali yang ingin dia buktikan supaya tahu kebenarannya.
“Terima kasih, Sir. Aku butuh waktu beberapa menit sampai aku kembali ke sini.”
Pearl masuk ke kantor tempatnya bekerja. Banyak pasang mata yang melihat kehadirannya. Dia memang tidak tahu apa pun sehingga sampailah di ruangan CEO sebab menurut pemberitahuan resepsionis, Pearl harus menghadap.
“Selamat atas pekerjaan barumu, Pearl Ocean Harris!” ujar CEO tersebut yang membuat gadis itu membelalakkan mata karena terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
𝐙⃝🦜Zifei_WanitaTangguh💫
Wah, Zack gercep juga
2024-02-04
0
mahrusmuhtar 123
wah jangan² cEO ny Zack atau mungkin sam
2023-12-07
0