Pearl langsung mengenali pemilik suara itu, yaitu Sam. Pria itu memutar duduknya yang semula membelakangi kemudian menghadap ke arah Pearl. Sam menyunggingkan senyum ramah lalu berdiri.
“Apa yang kau bawa?” tanya Sam tanpa ragu lagi.
“Makan siang. Papa ….”
“Aku sudah tahu. Duduklah!” perintah Sam tanpa menunggu penjelasan selanjutnya.
Pearl menurut saja. Dia meletakkan makanan itu di meja kerja Sam. Andaikan pria itu adalah Sam, mungkin Pearl tidak semerana kali ini.
“Dia tidak datang?” tanya Pearl kemudian.
Sam menggeleng sebagai perwakilan atas jawaban dari pertanyaan Pearl barusan. Tentu saja sudah bisa diprediksi, tetapi Pearl tidak bisa marah, bahkan menuntut. Dia harus tetap mengikuti alur sampai dirinya tertindas lalu menyatakan menyerah.
Sam yang sudah berdiri kemudian memutar posisinya beralih ke tempat duduk di hadapan Pearl. Ya, ruangan itu memang menyediakan dua tempat duduk tepat di hadapan meja CEO. Dia sempat berjongkok sejenak sebelum memposisikan duduk dengan benar membuat Pearl merasakan keanehan.
“Zack itu spesial. Setelah kau bertemu dengannya maka kau bisa menilai seperti apa dia. Hari ini papaku memang meminta dia datang ke kantor supaya bisa bertemu denganmu, tetapi ….”
“Dia menolak lagi? Mungkin aku bukan orang yang tepat untuknya. Mengapa papamu tidak membatalkan saja perjodohan ini? Setidaknya agar dia melepas keterlibatan papaku di dalamnya. Kalau hanya untuk membalas kebaikan keluarga kalian, aku bisa bekerja di mana pun yang kalian inginkan. Bukan dengan cara seperti ini yang terus saja merendahkan aku. Kalau memang Zack menolak ….”
“Zack tidak menolak.”
Pearl membulatkan matanya mendengar penuturan Sam. Andaikan anak laki-laki keluarga Wesly hanya Sam saja, Pearl tidak akan menjadi seperti ini. Susah payah dia menyempatkan waktu dengan harapan bisa bertemu dengan Zack lalu membicarakan rencana pernikahan. Nyatanya itu hanya akan menjadi pembahasan secara sepihak.
“Kalau begitu, mengapa dia tidak datang?”
“Kau tanya saja alasannya nanti. Ngomong-ngomong, makanan apa yang kau bawa? Aku sangat lapar sekali. Aku tahu dari papa kalau kau akan datang saat makan siang. Makanya aku menahan diri untuk tetap berada di dalam ruangan.”
“Buka saja! Kalau begitu, lebih baik aku langsung pamit saja.” Sejujurnya detak jantung Pearl sangat tidak aman ketika berada di dekat Sam.
Pesona dan kehangatan pria itu cukup kuat sampai Pearl merasa kalau pertemuan pertama mereka cukup mengagumkan. Meskipun dia tidak paham betul kalau Sam sudah memiliki kekasih. Dia segera beranjak dari tempat duduknya lalu berniat pergi, tetapi rayuan Sam membuatnya harus bertahan lebih lama lagi di dalam ruangan tersebut.
“Tunggulah sampai aku selesai makan. Setelah itu, aku akan menceritakan alasan Zack tidak datang kemari. Kuharap kau bisa mengerti.”
Memangnya siapa Pearl yang bisa menolak permintaan Sam? Pria itu kembali ke mejanya untuk membuka makanan. Sepertinya persiapan cukup matang sampai pria itu tidak perlu memanggil office boy untuk mengambilkan peralatan makan beserta minumannya.
Makanan yang dibawa Pearl masih hangat sehingga Sam memuji keberuntungan yang akan diperoleh kakaknya nanti. Tidak hanya itu saja, Pearl malah menjadi penonton setia sampai Sam menyelesaikan makan siangnya tanpa menawari lagi pada pemiliknya.
“Makanan ini enak dan lezat. Zack sangat beruntung mendapatkan dirimu. Kau saja begitu baik dengan calon adik iparmu sendiri, bagaimana dengan suamimu nanti? Aku akan sampaikan ini pada Zack kalau kami bertemu.”
Pearl sudah bisa menduganya. “Memang sebaiknya tak saling bertemu. Aku harus kembali ke kantor sekarang. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan.”
Sam tidak bisa menahannya terlalu lama. Kehadiran Pearl siang ini sudah cukup menghibur. Dia memang berbeda jika dibandingkan dengan Victoria. Pantas saja papanya selalu menyindir kekasihnya sampai Sam bosan dan tidak mau membicarakan itu lagi.
“Tunggu! Setelah kau resmi menjadi istri Zack, aku sarankan kalau kau segera resign dari pekerjaanmu. Dia lebih suka kalau kau berdiam diri di kamarnya tanpa melakukan kegiatan di luar rumah.”
Ucapan Sam terus saja terngiang sepanjang jalan kembali ke kantor. Benarkah Zack merupakan sosok yang mengerikan? Menurut bayangannya, pria itu sepertinya takut dengan udara luar. Mungkin saja Zack adalah pria penyakitan yang dirahasiakan dari semua orang.
Menunggu selama tiga minggu rasanya lama sekali. Orang tua Zack sudah meminta kepada orang tua Pearl untuk mengurus berkas-berkas pernikahan kemudian pemilihan gaun pengantin. Jika pada umumnya itu diselesaikan oleh pasangan calon pengantin maka berbeda dengan Pearl kali ini. Dia harus ditemani mamanya untuk menentukan gaun yang tepat.
“Mam, kalau seperti ini, apa Mama tidak khawatir dengan kehidupanku setelah menikah?” tanya Pearl ketika mulai memilih gaun pernikahan yang tidak memiliki semangat sama sekali.
Dia juga belum tahu pernikahan itu akan digelar di mana, acaranya akan seperti apa, dan berapa tamu undangan yang akan hadir. Menurut kabar yang didapatkan dari papanya, Pearl hanya diminta menyerahkan berkas pernikahan, memilih gaun pengantin, dan melakukan perawatan tubuh secara rutin. Pearl memang bukan gadis yang tidak peduli pada kecantikan atau tubuhnya, justru jauh sebelum perjodohan itu mencuat, dia sangat pandai merawat diri. Kunjungan ke salon tidak pernah absen sama sekali.
“Papamu yakin kalau keluarga Tuan Vincent akan memperlakukanmu dengan baik. Kau adalah menantu yang diinginkan mereka.”
“Mam, kau hanya belum bertemu dengan mereka. Kalau kau bertemu ….”
“Sudahlah, Pearl. Tinggal beberapa hari saja kau akan menikah. Papamu tidak akan menjerumuskan anaknya ke lingkaran masalah yang rumit. Justru dia akan memberikan kebahagiaan padamu yang tidak bisa kami berikan.”
Sadie tidak pernah tahu kalau dari seluruh anggota keluarga di mansion itu cuma Tuan Vincent dan Sam saja yang bisa bersikap hangat. Sementara calon mama mertuanya tampak tidak senang dengan dirinya dan calon suami yang sampai detik ini belum dilihat wajahnya.
Pearl tidak lagi menjawab. Dia mulai menyibukkan diri untuk menentukan gaun pengantin kemudian pulang. Dia hanya mencoba satu atau dua kali kemudian memutuskan tanpa meminta persetujuan dari mamanya.
“Kau yakin akan memakai gaun ini? Ini terlalu biasa untuk keluarga Wesly, Sayang. Ayo, kita tukar dengan gaun yang lebih mewah dan indah!” Sadie menarik tangan anak gadisnya untuk memilih kembali ketika berada di depan kasir.
“Mam, aku yang akan menikah. Jadi, biarkan aku yang memilih gaun ini. Kalau Mama masih bersikeras menukar dengan gaun lainnya, lebih baik batalkan saja pernikahan ini.”
Sadie membeku. Dia tidak menyangka putrinya akan semakin memberontak. Namun, daripada Pearl memilih kabur untuk menghindari pernikahan itu, Sadie mengalah.
“Baiklah. Mama tidak akan lagi ikut campur pada semua yang kau putuskan, tetapi tolong jangan pernah kabur dari pernikahan ini.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Retno Palupi
ini mo nikah serasa mo masuk penjara ya pearl
2024-02-02
0