Bab 2. Sudah Diputuskan

“Dia calon kakakmu, Sam,” sahut Sarah cepat.

Semula senyum yang mengembang itu mendadak pudar. Kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi. Dia pikir kalau pria ramah itu yang akan dijodohkan dengannya, rupanya Pearl salah.

“Oh, Zack. Dia masih bersemedi dan akan keluar kalau terjadi gempa,” ujar Sam meledek kakaknya sendiri.

Pearl jadi tahu kalau nama pria itu adalah Sam, sedangkan calon suaminya adalah Zack. Pertemuan pertama sudah membuat Pearl salah paham. Bagaimana kalau dia bertemu dengan pria itu?

“Mama akan panggil Zack,” pamit Sarah kepada anak dan suaminya.

Sarah tahu bahwa memanggil Zack adalah masalah yang rumit. Anak sulungnya itu hampir tidak pernah melangkahkan kaki keluar kamar, apalagi sampai keluar mansion. Tidak seorang pun dari kalangan pebisnis yang mengenal Zack lebih baik. Dia tidak pernah muncul dalam pertemuan apa pun. Hanya Sam lah yang dikenal banyak orang dan dianggap sebagai penerus perusahaan bisnis Vincent Wesly.

Semua kegiatan dilakukan Zack di mansion orang tuanya. Mulai dari bangun tidur, mengurus kantor, sarapan, senam, dan semua yang menyangkut dirinya sendiri benar-benar dilakukan di mansion. Dia juga tidak pernah pergi ke restoran, kafe, bahkan klub malam. Sungguh kehidupannya tentang dirinya sendiri.

Bagi Sarah, Zack adalah berlian yang disimpan cukup lama. Makanya ketika tahu kalau anak sulungnya akan dijodohkan dengan gadis dari kalangan biasa, rasanya ada penolakan batin. Zack hanya akan cocok bila disandingkan dengan sesama miliarder.

Mengetuk pintu dan menunggu beberapa detik sampai pintu kamar itu dibuka. Zack terbiasa mengunci kamarnya agar tak sembarang orang tahu ataupun lancang masuk tanpa persetujuan darinya. Dia memang tidak menjawab ketukan itu, tetapi sesegera mungkin membukanya.

“Mama? Ada apa?” tanyanya dari balik pintu yang terbuka setengah, tentunya setelah melihat ke luar.

“Papa memintamu untuk turun. Ada tamu yang akan bertemu denganmu.”

“Perjodohan? Aku tidak mau.”

Sebenarnya Zack sudah tahu kabar ini dari papanya, tetapi dia pikir masih membutuhkan waktu lagi. Dia juga pernah mendengar kabar gadis itu, hanya saja Zack sama sekali tidak tertarik. Kehidupannya adalah tentang dirinya sendiri dan kepuasan berada di dalam mansion. Zack bukan pria yang tidak normal, tetapi dia juga tahu betul kelak kehidupannya akan berubah secara drastis. Tinggal menunggu waktu saja.

Vincent sadar betul kalau sekarang putranya berusia 30 tahun. Jika tidak segera menikah maka Sam yang akan menikah terlebih dahulu. Namun, Vincent tidak pernah setuju sebab kekasih Sam tidak sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan Vincent.

“Zack, sekali ini saja. Turunlah! Jangan buat papa kecewa pada pilihannya!” Ini adalah inisiatif pertama Sarah untuk membujuknya, tetapi dari dalam lubuk hati Sarah suka sekali dengan penolakan Zack.

“Aku tidak mau. Bukankah Mama bisa menyampaikan kepada papa? Mengapa harus aku yang turun?”

“Zack,” ucap Sarah pelan. “Temui gadis itu! Kalau kau ingin menolak, sampaikan saja dengan baik. Gadis itu pasti mengerti.”

“Bagaimana kalau dia tidak mengerti?” Zack menyudutkan posisi mamanya.

“Kau tidak perlu khawatir, Zack. Gadis itu sudah kuminta pulang, tetapi pernikahan kalian tetap akan dilangsungkan. Papa sudah menyusun tanggalnya dan semua persiapan dimulai pada esok hari,” sahut Vincent yang tiba-tiba sudah berada di belakang istrinya.

Setelah Sarah meninggalkan ruang tamu, Vincent segera menyadari satu hal kalau Zack pasti tidak akan mau turun. Dia sempat berbincang sebentar dengan Pearl yang kebetulan terlihat memandang Sam cukup lama. Vincent menyadari kalau gadis itu awalnya mengira akan dinikahkan dengan Sam, tetapi setelah penjelasan panjang lebar, gadis itu mau menuruti permintaan Vincent.

Pertunangan tidak akan pernah terjadi, tetapi Vincent secara resmi sudah menjelaskan bahwa kedatangan Pearl ke mansionnya merupakan kesepakan perjodohan dan pernikahan akan segera dilangsungkan. Awalnya gadis itu lama sekali menyetujui, tetapi Vincent berhasil meyakinkan kalau Zack adalah pria yang tepat untuk menikah dengannya.

“Aku suka heran, mengapa Papa tidak bertanya dulu padaku?”

“Mengapa kau tidak menghargai usaha papa untuk mempertemukan dengan gadis itu? Setidaknya kalian bisa mengenal lebih dekat.”

Harapan Vincent begitu besar untuk mengubah pola hidup Zack. Dia berharap ketika sudah menikah nanti, gadis itu bisa mengeluarkan Zack dari mansionnya. Awalnya, mereka akan berbulan madu. Setelah itu, banyak jadwal yang harus diselesaikan Zack setelahnya.

“Baiklah. Aku akan menghargai usaha Papa dengan menerima pernikahan. Terserah dengan siapa pun, aku tak peduli.” Zack menutup pintu kamarnya dengan perlahan sebagai wujud penolakannya barusan. Dia memang menerima, tetapi dengan tidak melanjutkan perbincangan itu sudah menjadi lawan dari keputusan yang sebenarnya.

Sementara itu, Pearl kembali ke rumah dengan perasaan gundah. Dia belum bertemu dengan Zack, tetapi sudah menerima pernikahan yang akan dilangsungkan beberapa minggu lagi. Perihal kepastian tanggalnya, Vincent yang akan berbicara dengan Jackob, papanya.

“Sayang, kau sudah pulang?” tanya Jackob yang sudah menunggu kedatangan gadis itu.

Wajah Pearl ditekuk, kesal, dan terlihat sangat kacau. Dia pulang ke rumah membawa kebahagiaan untuk orang tuanya, tetapi kekecewaan untuk dirinya sendiri. Dia meletakkan tasnya di atas meja ruang tamu.

“Apakah ini merupakan perjodohan bisnis, Pa? Sebenarnya perjanjian apa yang sudah Papa buat dengan Tuan Vincent?”

“Papa dan Vincent adalah sahabat, Pearl. Jadi, ….”

“Oh, jadi karena persahabatan itu, Papa akan merendahkan diri Papa sendiri?”

“Apa maksudmu?” Jackob terkejut. Sepertinya ada masalah penting yang membuat putrinya marah.

Vincent adalah orang kaya. Dia memiliki mansion yang sangat luas, bahkan rumah Pearl sendiri hanya sebagian kecil bila dibandingkan dengan kekayaan calon mertuanya. Pearl juga harus segera menikah tanpa bertemu dengan calon suaminya. Bagaimana kalau pria itu jahat? Bisa saja Pearl akan dijadikan mangsanya ketika sudah terikat secara khusus dengannya.

“Keluarga kita pernah disokong oleh Tuan Vincent. Jika tidak, kau tak akan mungkin bisa kuliah di luar negeri. Dia pria yang baik, Pearl. Makanya papa setuju ketika kalian akan dijodohkan.”

“Tuan Vincent memang baik, Pa. Namun, Papa tidak tahu dengan anak-anaknya, bukan? Asalkan Papa tahu, aku tidak dijodohkan dengan Sam, melainkan dengan Zack.”

Seketika Jackob terkejut. Dia memang kerap kali bertemu Sam, bahkan dia menyetujui sebab menganggap kalau Vincent memiliki anak tunggal. Selama ini Vincent tidak pernah menceritakan anaknya yang lain.

Seketika kepala Jackob mendadak pusing karena merasa dibohongi. Baginya, Sam adalah pria yang pantas untuk mendampingi putrinya. Dia sangat hangat, ramah, dan peduli kepada sesama.

“Papa akan menghubungi Tuan Vincent.”

Ketika tahu Jackob menghubungi, Vincent terlihat bahagia sekali. Sebenarnya dia memang akan menghubungi lebih dulu, tetapi karena ada pekerjaan yang penting sampai dia lupa.

“Ah, akhirnya kau menghubungiku dulu, Jackob. Aku sudah merencanakan semuanya. Terima kasih sudah mengirimkan putrimu kemari.”

Terpopuler

Comments

Retno Palupi

Retno Palupi

lanjut

2024-02-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!