Akhirnya Hensen pun menghubungi kepolisian, mereka datamg beberapa menit setelah Hensen menghubungi, dan menyerahkan bukti rekaman pada polisi, beberapa mobil polisi dan ambulan memenuhi mansion Aaron.
"Dimana Tuan Aaron?" Tanya Norris Willchuck.
"Tuan Aaron cada di kamarnya, dia terpukul karena mengingat kematian sang adik." Kata Hensen.
Norris kemudian berjalan keluar dan melihat ke sekeliling mansion.Tak sengaja ia melihat seorang gadis yang membuka gordyn, namun gadis itu hanya terlihat kepalanya.
Itu adalah Laura, ia ingin melihat kakeknya, saat Aaron masuk pria itu langsung mengatakan jika kakekknya adalah penjahat paling terkeji.
"Dia memang sangat menyayangimu, dengan keberaniannya dia masuk ke dalam sarangku, membawa uang 100juta dollar, dia rela mati untukmu, agar kau tidak tersangkut dalam masalah dendam ini, tapi sayangnya aku punya cara lain menghancurkannya." Kata Aaron dan masuk ke dalam kamar mandi.
Saat itu Laura ingin melihat kakeknya, ia membuka tirai jendela sedikit, dan masih dengan posisi terduduk, ia pun akhirnya dapat melihat Douglas. Dengan cepat Laura menutup mulutnya melihat keadaan Douglas sudah di penuhi darah.
Norris melihat itu meski hanya kepala nya yang terlihat namun ia tahu ada sesuatu yang janggal.
"Katakan pada Tuan Aaron dia harus memenuhi panggilan untuk menjadi saksi, tapi dia juga aka terkena sanksi karena memukul Tuan Douglas." Kata Norris.
"Baik." Kata Hensen.
Norris Willchuck, sebenarnya telah sangat lama mengincar para gangster, terutama Aaron dan Jarvies, ia ingin menangkap mereka karena Norris yakin, Aaron dan Jarvies memiliko bisnis gelap, seperti penjualan narkobaa.
"Kalai begitu saya pergi." Kata Norris dan melihat ke lantai atas lagi, gadis yang melihat ke arah bawah melalui jendela sudah tak terlihat, namun Norris sangat yakin, melihat bagaimana keadaan gadis tersebut, jelas gadis itu di kurung. Norris berjanji dia harus mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kehidupan Aaron.
Sedangkan Aaron sendiri memilih tetap berada di kamar mandi, ia mencuci tangannya dari darah, cukup lama ia menatap wajahnya sendiri di depan cermin, emosinya masih belum stabil, yang jelas, kini ia ingin meluapkannya pada Laura, cucu kesayangan Douglas La Faye.
Aaron pun keluar dari kamar mandi dan mendapatai Laura masih bersembunyi di dekat ranjang dengan menutupi tubuh nya menggunakan selimut.
Laura duduk meringkuk memeluk kakinya, ia menangis dan ketakutan dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut, tubuhnya terlihat gemetaran.
Perlahan Aaron pun mendatangi Laura, saat Laura melihat kaki Aaron yang besar nan kuat, Laura semakin menutupi wajahnya masuk ke dalam selimut.
Dengan kasar Aaron menarik Laura ke atas dan melemparkan tubuh setengah telanjang itu ke atas ranjang.
"Ja... Jangan... Saya mohon... Jangan mendekat... Jangan sentuh saya..." Kata Laura menangis tergugu.
Aaron melepaskan celananya dan kini ia sudah telanjang, dengan kasar Aaron menarik kaki Laura yang kecil hingga Laura pun terpelanting kebelakang di atas ranjang lembut itu.
"Aaahhh!!!" Pekik Laura.
Saat itu Aaron memaksa dan merobek seluruh pakaian Laura, sontak Laura menjerit dan berteriak, ia melawan dan memukul Aaron.
"PERGIII!!! TIDAK MAU!!!"
Namun pukulan Laura tentu tak akan berpengaruh pada Aaron.
Dengan kasar, Aaron melepaskan pakaian Laura dan membuangnya, ia pun langsung merenggankan kedua paha Laura.
Saat itu emosi Aaron tentu masih meluap dan tak stabil, jika ia ingat adiknya yang telah mati mengenaskan ia akan ingat Douglas dan tentu ia akan melampiaskannya pada cucu kesayangan Douglas, setiap melihat Laura, Aaron selalu teringat bagaimana Douglas dengan kejam memperkossa adiknya, dan di gilir oleh para anak buah Douglas.
Tanpa pemanasan, tanpa belaian, tanpa kata-kata indah, atau bisikan mesra, Aaron langsung mengarahkan benda miliknya pada Laura. Aaron berfikir, adiknya pun pasti di perlakukan seperti itu.
"TIDAAKKK!!! JANGANN!!! TIDAAKKK!!!"
Laura melihat benda besar itu sudah berdiri tegak, ia bahkan tak bisa membayangkan apakah itu bisa masuk.
Laura dengan cepat ingin bangun dari Aaron, namun Aaron langsung mencengkram kedua tangan Laura naik dengan satu tangannya yang kuat dan kekar.
Setelah itu tangan satunya untuk mengarahkan benda miliknya pada bagian sensitif Laura.
Dengan satu kali dorongan milik Aaron pun masuk dan baru kepalanya saja. Aaron menutup matanya, otot-otot kepalanya menegang, otot-otot dan urat-urat tubuhnya pun juga mengeras.
"UGGGH!!!" Aaron langsung merasamiliknya seperti ingin meledak karena begitu membuatnya gila, padahal saat itu baru kepala nya saja yang masuk.
"PENJAHAATT!!!!" Teriak Laura, matanya membulat, air matanya mengalir, dan wajahnya sangat merah.
"SAAAKITT!!! AKU MEMBENCIMU....!!!" Teriak Laura menangis tergugu.
Tubuh Laura menegang karena kesakitan, miliknya terasa panas dan perih, apalagi Aaron tidak melakukan pemanasan, dan Aaron langsung memasukkan miliknya dengan kasar.
Aaron kemudian mendorong lagi, dan kini setengah dari miliknya pun masuk.
"OOGGHH!!!" desahaan Aaron semakin kuat dan tertahan, ia merasakan miliknya mulai di remas, hampir saja ia akan keluar jika ia tak menahan diri dan memgendalikan dirinya.
"Sangat sempit." Kata Aaron.
"Aaaaggghh.... Sakittt... Aku ingin mati..." Pinta Laura dengan menangis tergugu.
Sedangkan Laura merasakan sakit yang luar biasa, kemudian Aaron melepaskan cengkramannya, ia menahan tubuhnya sendiri yang bahkan rasanya ingin klimaks, karena miliknya terasa di remass di dalam milik Laura.
"Saya mohon Tuan... Tolong keluarkan benda itu...." Pinta Laura lemah dan menangis, ia kemudian mencakar lengan Aaron.
Aaron menelan ludahnya dan menenangkan diri, agar ia tidak keluar lebih dulu, sekali dorongan lagi, dan akan masuk seluruhnya.
Pinggul Aaron pun kemudian mendorong sekuat tenaga dan miliknya telah masuk secara penuh ke dalam milik Laura.
"UGGHHH!!! Ini luar biasa." Kata Aaron dan menindih Laura dengan tubuhnya dan miliknya sudah terbenam sepenuhnya. Keringat Aaron mengucur hanya dengan memasukkan miliknya saja, keperawanan Laura kini telah sirna dan hilang di ambil secara paksa oleh Aaron.
"OOUHHHH!!!" Teriak Laura kesakitan, matanya membulat penuh merasaka bagian sensitifnya seperti di robek, Laura mencubit, memukul dan mencakar tubuh lengan dan punggung Aaron, namun semua itu tak berpengaruh apaoun pada Aaron.
"Ini sangat sakit." Keringat Laura membanjir, kakinya bahkan gemetar, dan bagian sensitifnya seperti di bakar, dan di iris.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU..."
"Seharusnya kau katakan itu pada kakekmu." Kata Aaron kemudian mulai bergerak perlahan.
"Ogghh... Ini nikmat." Desahh Aaron.
Tubuh kekar Aaron mulai bergerak.
"Sakitt..." Kata Laura.
Tanpa menghiraukan kalimat Laura, Aaron pun mulai mempercepat gerakannya, Aaron mulai merasakan di atas awan, miliknya serasa di manja dalam milik perawan yang sangat ketat.
"Ough... Aagh..." Desahh Aaron dan mulai mempercepat lagi gerakan pinggulnya.
Keringat Laura pun membanjir, perlahan rasa sakit yang begitu menyiksa dan membuatnya ingin mati saja, berubah menjadi sesuatu yang aneh.
Laura merasa geli, seolah ada kupu-kupu di dalam perutnya, aneh dan sangat aneh.
Semakin cepat Aaron memompa pinggulnya kini semakin juga Laura merasakan rasa yang aneh.
"Mmmhhnnggg.... Ngghhhh..." Perlahan suara rendah Laura keluar, ia mulai bisa merasakannya.
Kemudian Aaron meremas kedua payudaraa Laura, dengan kuat, Aaron tidak menggunakan bibir dan mulutnya, ia tidak mencium atau mengulum bahkan mengecup, saat itu Aaron memperlakukan Laura seperti pemuas nafsuunya saja ketika Aaron sangat emosi mengingat bagaimana gampangnya Douglas mengatakan tidak tahu jika Aurora adiknya, Aaron sangat emosi mengingat bagaimana Douglas dengan mudah hanya meminta maaf.
"Mmmhh.... Tidakk... Mmnghhh..."
Aaron kembali memompa pinggulnya, dan terus mempercepatnya.
"Aahhhh... Mmhhh... Cukup... Aku tidak mau... Cukupp... Jangan membuatku harus merasakan ini..." Laura tidak mau merasakan kenikmatan itu, ia menahannya, ia tidak mau.
"Kau harus menerimanya Laura, jadilaah pelacurr ku." Kata Aaron.
"Tidakk... Jangan... Aku tidak mau ini... Mhhhhh... Nnghhh.... Aahhh..."
Laura mencengkram lengan Aaron.
"Jadilah pelacurr, mendesahhlah yang kuat..." Kata Aaron.
Aaron terus mempercepat pinggulnya, ia terus menerus membuat Laura merasa enak, namun Laura terus menahannya, ia tak mau mendesaah, ia tak ingin menikmatinya.
"Aku membencimu, aku tidak mau, milikmu tidak akan membuat ku menikmatinya..." Kemudian Laura menggigit lidahnya.
Aaron terus menerus memompa pinggulnya maju dan mundur dengan cepat, kemudian ia melepaskan semua cairan miliknya ke dalam pengaman yang ia pakai.
"Urggmmm....!!!" Berkali-kali Aaron menggeram dan menyentakka tubuh dan miliknya masuk ke dalam milik Laura.
Beberapa menit Aaron menenangkan tubuhnya yang terus merasakan kejolak kenikmatan, dan kemudian ia mencabut miliknya.
Laura pikir itu sudah berakhir, ia mengatur nafas, dan menangis. Namun, keterkejutannya kembali datang ketika ia melihat Aaron memasang kembali pengaman ke bagian milik Aaron yang masih tegang.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
💚 pecinta komik dan novel💞💝
jadilah pelacur ku najis!! lihat aja Aaron pasti akan menyesal lihat aja kau aroon. kau pasti akan menyesali perbuatanmu brngsek aroon💔💔😡😡😡
2024-05-07
4
🌺🌸CantikaLovely🎀💖
karya2 othor ini...bagus2 tapi perempuan2 pemeran utama selalu d bikin menyedihkan...😭😭
2024-03-27
3
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
Laura.. 😭😭😭😭😭😭
2024-02-13
1