Laura membawa beberapa makanan menggunakan troli ke dalam kamar Aaron, saat itu Aaron sudah menunggu dengan menyesap rokoknya beberapa alkohol ada di meja kecil samping tempat duduknya.
Perlahan Laura masuk dan mendiring troli tersebut. Saat melihat Laura sudah masuk, Aaron mematikan rokoknya di asbak dekat dirinya.
"Tuan Aaron, makanan anda sudah siap." Kata Laura memindahkan semua makanan ke atas meja berbentuk persegi di depan Aaron.
"Kau sudah makan?" Tanya Aaron.
Laura menggelengkan kepalanya.
"Duduk dan temani aku makan." Kata Aaron.
"Ta... Ta.. Tapi... Tuan..."
"Lakukan ketika ku suruh. Aku tidak suka mengatakannya dua kali." Kata Aaron sibuk mengiris steak dagingnya.
Laura pun duduk dan akhirnya ia memilih mengambil soup.
Saat itu Laura ragu apakah ia benar-benar harus makan atau hanya sekedar duduk menemani Aaron.
"Kau belum menyentuh makananmu, apa kau tidak suka? Aku akan panggil Koki untuk memasakkan makanan kesukaanmu."
"Aaah... Tidak Tuan... Saya suka." Kata Laura kemudian menyendok kuah soup asparagus tersebut.
"Persiapkan dirimu, besok pagi kau akan ikut denganku ke Negara Kamboja."
"Uhuuukk!!! Y... Ya Tuan?" Tanya Laura yang terkejut.
"Kau akan ikut perjalanan bisnis ku, karena aku butuh seseorang menyiapkan semua keperluanku." Kata Aaron.
"Sa... Saya?"
"Siapa lagi. Jadi sekarang makan lah yang banyak." Kata Aaron.
Kemudian Laura menyeruput sedikit demi sedikit soup asparagus itu sembari memikirkan akan menaiki apa mereka ke Kamboja, jika itu pesawat, Laura memikirkan hal-hal mengerikan, ia takut sekali ketinggian.
Akhirnya setelah Aaron selesai makan, Laura pun membersihkan semua piring dan mangkuk tersebut.
Sebelum Laura pergi, Aaron menahan tangan Laura.
"Tunggu di sini." Pinta Aaron.
Aaron pun masuk ke sebuah ruangan dan tak lama kemudian ia keluar dengan membawa paper bag besar .
"Pakai itu saat kita berangkat besok. Jangan pakai pakaian pelayan." Kata Aaron.
"Te.. Terimakasih Tuan Aaron." Kata Laura.
"Hari ini aku akan pergi, dan pulang tengah malam, jadi tak perku menyiapkan makan malam." Kata Aaron.
"Baik Tuan." Laura pun menundukkan kepalanya dan pergi membawa troli berisi sisa makanan dan piring-piring kotor.
Laura membawa semua itu kembali ke dapur, baru beberapa menit Laura berada di dapur dan mencuci semua piring yang di gunakan Aaron, ia melihat iring-iringan mobil mewah telah pergi meninggalkan Mansion.
"Apakah Tuan Aaron sudah pergi?" Tanya Laura melihat lagi melalui jendela dapur.
Saat itu tiba-tiba Laura mendengar sebuah keributan. Teriakan-teriakan itu sangat kencang dan seperti saling memaki.
Laura pun keluar bersama para koki-koki dan melihat keluar, apa yang sedang terjadi.
Saat keluar ke taman belakang, ternyata Lucy sudah berguling-guling di atas rumput, mereka saling mencakar dan menjambak dengan salah satu pelayan lain.
"Lucy! Emily!" Suara Hensen cukup tinggi meski tidak berteriak, suara itu dingin dan penuh kewibawaan.
"Tu... Tuan Hensen..." Kata Lucy melongo.
"Bu... Bukankah anda ikut dengan Tuan Aaron." Tanya Lucy.
"Apakah itu penting bagi mu. Jadi, ini pekerjaan kalian jika aku meninggalkan kalian. Katakan siapa yang memulai perkelahian, dan apa penyebabnya." Kata Hensen datar dengan wajah sedingin es kutub utara.
"Tuan Hensen... Sebenarnya dia merebut pacar saya, jadi saya sangat marah, dia menggoda pacar saya dengan tubuhnya."
"Tidak Tuan Hensen, Lucy lah yang telah menggoda pacar saya, dia tidur dengannya dan bahkan lupa dengan pekerjaannya di mansion." Kata Emily.
Hensen menarik nafas pelan.
"Jadi, siapa pacar kalian." Tanya Hensen dengan nada dingin.
Emily dan Lucy terdiam.
"Katakan." Kata Hensen.
"Gerry..." Kata Emily dan Lucy secara bersamaan.
"Gerry tukang kebun di mansion ini?" Tanya Hensen cukup terkejut.
Emily dan Lucy mengangguk pelan, mereka menjadi tontonan bagi seluruh mansion, bahkan Laura yang tak penasaran dengan segala sesuatu pun ia memperhatikan dari jarak yang cukup jauh.
"Dimana Gerry?" Tanya Hensen.
"Tuan Hensen, Gerry sedang membeli pupuk dan beberapa bibit tanaman, seperti nya malam dia baru kembali." Kata seorang tukang kebun lainnya.
"Katakan padanya untuk menemuiku, saat dia kembali." Perintah Hensen.
"Baik Tuan."
"Lalu, untuk kalian berdua, gaji kalian akan di potong setengah dari yang pendapatan seharusnya, dan kalian harus m bekerja lembur sampai pukul 12 malam, sampai sebulan."
Emily dan Lucy menundukkan kepala.
"Baik Tuan Hensen maafkan kami." Kata mereka.
Mereka tidak akan menawar, karena semakin mereka menawar, hukuman dari Hensen pasti justru naik dan terus naik.
Setelah kepergian Hensen, Emily pun ambruk di atas rerumputan hijau yang terawat, ia menangis tersedu.
"Padahal aku harus membayar biaya rumah sakit ibuku... Jika aku tahu, Gerry hanya mempermainkan ku aku tidak akan tidur dengannya." Kata Emily menangis terduduk di atas rerumputan.
"Kau tahu menyesal! Makannya jangan pernah merebut milik orang lain!" Kata Lucy mencerca Emily dan pergi.
Tidak ada yang menolong Emily, para pelayan memang memiliki sifat indivudual, jika pun berkelompok, mereka akan membully yang lainnya.
Tidak ada hal sehat dan hal baik dalam bekerja di mansion tersebut, karena para pelayannya selalu merasa ada senior dan junior, bahkan mereka berani membully pada pelayan lain jika pelayan yang lebih lemah tidak menuruti mereka.
Perlahan Laura pun mendekati Emily lalu mengulurkan tangannya pada Emily.
"Ayo biar ku bantu." Kata Laura.
Emily mendongak ke atas dan melihat seorang gadis yang begitu bersih dan cantik, bagaikan malaikat.
"Kau adalah... Malaikat? Apakah aku sudah mati karena terlalu terkejut dengan pemotongan gajiku?" Tanya Emily.
Laura tertawa kecil.
"Astaga... Cantik sekali..." Kata Emily.
"Ayo aku bantu berdiri, aku bukan malaikat kau masih hidup." Kata Laura tersenyum.
Emily pun menyambut uluran tangan Laura, dan mereka duduk bersama.
"Aku pelayan di sini, nama ku adalah Laura."
"Aahh.. Kau si pelayan baru itu? Kau sangat cantik pantas saja banyak pelayan wanita di sini iri dan membicarakanmu, tapi hati-hati dengan Gerry, dia bejat. Aku benar-benar tertipu dengan wajah nya itu." Kata Emily dengan emosi.
"Aku tahu." Kata Laura.
"Tahu? Tahu yang mana? Para pelayan yang membicarakanmu di belakang, atau Gerry."
"Semuanya." Kata Laura tersenyum.
"Tapi kau hanya diam di perlakukan seperti itu? Para pelayan biasanya akan nekat menindas dan tak main-main pada pelayan lain yang mereka benci." Kata Emily.
"Ya.. Aku tahu... Mereka tak main-main tapi sejauh ini hanya sekedar sindir menyindir, mereka menyindirku ini itu, tapi aku tidak pedulikan itu, aku hanya perlu bertahan hingga semua hutangku lunas kemudian aku pergi dari sini" Kata Laura.
"Hutang? Hutang pada siapa?" Tanya Emily.
Laura pun menceritakan semua kejadiannya pada Emily, tanpa terkecuali. Saat Laura bercerita, Emily seperti ingin menitikkan air mata, penderitaan Laura bahkan tak kunjung usai, di banding dirinya yang sedang di uji ibunya sakit, namun Emily terus saja mengeluh, melihat Laura yang tak pernah mengeluh, Emily menjadi bingung apakah Laura memang gadis yang kuat dan pantang menyerah, ataukah Laura hanyalah adalah gadis bodoh. Bisa-bisa nya selama hidupnya Laura tidak meninggalkan keluarga kejam itu.
Laura pun berhenti bercerita saat dirinya sampai di cerita tentang bagaimana paman dan sepupunya berusaha untuk memperkosanya, dan jelas membuat Emily meradang.
"Astagaa... Jahat sekali keluargamu.... Jika aku dukun, aku sudah mengutuk hidup mereka." Kata Emily prihatin san menghapus air matabuang menetes di sudut matanya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Firanty Ranty
semoga Emily BNR" tulus terhadap Laura
2024-07-06
0
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
Laura dapat teman baru, emily
2024-02-01
0
Cinta
lnjut Thor 👍 cerita y Lom tegang 🤭
2024-01-22
0