Akhirnya, perjalanan selama 1 jam 30 menit di tempuh Aaron dengan beberapa siksaan yang membuatnya menahan dan merantai kebuasan dalam dirinya.
Lehernya mendadak memiliki cupangg dimana-mana.
"Apa kau sengaja melakukannya?" Tanya Aaron dengan wajah yang merah dan berkeringat, pada Laura yang masih tidur pulas.
Bagaimana tidak, jika ia tak mengontrol sifat buasnya yang ada dalam dirinya, maka pesawat itu di pastikan akan bergoyang, dan seluruh penumpang pasti akan menyadari apa yang di lakukan Aaron.
Pesawat pun akhirnya mendarat di bandara Internasional Phnom Penh. Semua sudah keluar dari pesawat, hanya Aaron yang masih berada dalam cengkraman kucing betina yang tertidur.
"Laura... Kita sudah sampai." Kata Aaron membangunkan Laura.
"Laura..." Kata Aaron lagi kemudian ia hendak memutar tubuh Laura.
Namun Laura yang tidak ingat sedang berada di pesawat ia justru menggeliatkan tubuhnya, sontak saja Laura langsung memeluk Aaron.
Sadar, sesuatu tidak beres, ia pun membuka mata, terkejut dengan perilakunya sendiri, Laura langsung turun dan berdiri di samping tempat duduk Aaron.
"Maa.. Maafkan saya Tuan Aaron... Maafkan saya... Saya benar-benar meminta maaf, saya kurang tidur akhir-akhir ini Tuan, entah kenapa saya jadi sangat pulas tidur di tempat anda. Maafkan saya Tuan..." Kata Laura berkali-kali meminta maaf dan membungkukkan punggungnya.
Hensen yang melihat tingkah Laura, dan melihat ke putus asaan di wajah dan di tubuh Aaron, ingin tertawa namun ia masih sangat menyayangi lehernya, jika ia tertawa maka Aaron pasti akan menebas kepalanya.
Hensen melihat ada beberapa bekas cupangg di leher kekar Aaron dan kemudian memberitahu Aaron dengan berbisik.
"Tuan Aaron, apakah ada pertarungan yang tidak bisa anda balas? Beberapa luka merah ada di leher anda." Tanya Hensen tanpa tertawa sedikitpun.
"Aku tahu, beberapa kali kucing kecil itu terus menghisapku, aku takut jika ku balas tindakannya, pesawat ini akan bergoyang." Kata Aaron mulai berdiri dan mengambil mantelnya lalu memakainya.
"Laura pakai mantelmu." Perintah Aaron.
"Baik Tuan." Kata Laura berjalan ke kursinya dan mengambil mantelnya.
Aaron tentu saja melihat gerakan Laura yang memakai mantelnya, saat itu Laura menyibakkan rambut panjangnya, dan terlihatlah leher putih yang mulus tersebut. Sekilas, Aaron membayangkan bagaimana jika ia menghisap leher yang putih dan mulus itu, akan terlihat semerah apa? Apakah seperti cherry, atau kah tomat?
Lalu, Aaron melihat payudaraa besar milik Laura, bagaimana rasanya jika Aaron menyentuhnya, tangan besar yang kekar, dan telapak tangannya yang besar namun sedikit kapalan karena selalu memegang senjata, bagaimana rasanya jika ia meremass dengan keras, bagaimana rasanya di telapak tangannya yang tebal itu, apakah rasanya sekenyal bayangannya.
Namun, kemudian pikiran Aaron kembali mengingat adiknya Aurora yang gantung diri, ia takut Laura juga akan mengalami hal sama saat ia menyentuhnya.
"Tidak akan pernah ku lakukan." Kata Aaron kemudian ia keluar dari pesawat.
Hensen dan Laura pun mengikuti Aaron, jemputan mobil-mobil mewah sudah berada di depan bandara, dan Aaron pun masuk semobil dengan Laura.
Laura terus melihat melalui jendelanya, meski hanya melihat jalanan-jalanan, bangunan-bangunan dan tiang-tiang, Laura nampak bahagia.
"Kau sebahagia itu?" Tanya Aaron.
"Maaf Tuan Aaron, saya baru pertama kali ini bepergian jauh apalagi menggunakan pesawat, dan baru pertama kali ini berada di luar negeri, ini semua seperti mimpi." Kata Laura tersenyum sunmringah.
Wajah Aaron sontak berubah, ketika melihat Laura yang sumringah, cantik dan sangat segar, wajah itu benar-benar membuatnya ingin melahap Laura hingga ke sum sum tulang Laura.
Saat kemudian mobil-mobil sampai di hotel dan berbaris, Aaron keluar di susul oleh Laura.
Laura masih melihat kesana kemari, dimana hotel itu begitu mewah bahkan Laura sampai menganga di buatnya.
Meski mansion milik Aaron juga mewah, semewah hotel, namun Laura tak bisa menikmatinya karena para pelayan terus mengawasinya dan memicingkan mata padanya.
"Ini indah sekali." Kata Laura melihat kolam renang di tengah-tengah bangunan yang langsung memperlihatkan pemandangan.
"Kau akan mendapatkan kamar dengan Private Pool jadi kau bisa berenang sesuka hati, aku tahu kau pemalu, kau juga bisa sembari melihat pemandangan."
"Benarkah itu Tuan... Saya tidak sabar ingin berenang... Saya belum pernah berenang..." Kata Laura.
"Tapi sebelum itu kau harus ikut denganku." Kata Aaron.
"Kemana Tuan."
"Kau akan tahu nanti." Kata Aaron.
Kemudian tak berapa lama Hensen datang memberikan CardLock pada Aaron dan Laura. Cardlock berguna untuk membuka pintu hotel.
"Tuan Aaron maaf, saya lupa untuk memesankan kamar hotel yang terpisah, jadi tinggal kamar hotel yang saling terhubung. Kamar hotel anda dan Nona Laura saling terhubung." Kata Hensen.
"Untung kau masih ku butuhkan, jika tidak sudah ku suruh terjun dari pesawat. Lain kali persiapkan sebelum berangkat." Kata Aaron pada Hensen.
"Maaf kan saya Tuan, saya lupa untuk konfirmasi hotel, kesalahan ini tidak akan terulang lagi."
"Ada apa Tuan Hensen?" Tanya Laura.
"Maaf Nona Laura, tinggal sisa kamar yang saling terhubung. Jadi, kamar anda dan Tuan Aaron akan saling terhubung satu sama lain." Kata Hensen.
"Ohh... Jika begitu, saya akan memakai kamar anda saja Tuan Hensen, dimana kamar anda?" Tanya Laura.
"Eerr... Kamar saya sangat sempit Nona Laura, dan jauh." Kata Hensen.
"Tidak apa-apa saya tidak masalah, anda tahu kan saya terbiasa tidur dengan alas apapun saat berada di rumah paman saya." Kata Laura tersenyum polos.
"Anu... Sebaiknya anda masuk, saya sedang banyak pekerjaan." Dengan cepat Hensen melarikan diri dan pergi entah kemana.
Sedangkan Aaron tahu, ini adalah permainan licik Hensen, berulang kali Hensen selalu ingin memberikan wanita atau menjodohkannya dengan banyak wanita.
"Laura masuk lah. Meskipun kamar kita terhubung, aku tidak akan melakukan apapun." Perintah Aaron.
"Baik Tuan." Kata Laura dengan malu.
Kemudian Aaron dan Laura masuk di kamar hotel mereka masing-masing, meskipun kamar mereka terhubung, mereka masuk melalui pintu kamar mereka masing-masing.
Di dalam kamar hotel, Laura menaruh tas jinjingnya, ia melihat mewahnya kamar tersebut, dengan berlari Laura membuka pintu balkon.
"Aaaaaa....!!!" Teriak Laura kegirangan melihat kolam renang yang ada di balkonnya, bahkan pemandangan yang tersuguhkan di depan sana begitu bagus.
"Aku senanggg....!!" Kata Laura kemudian berlari dan langsung melemparkan dirinya ke atas ranjang.
Laura berguling-guling di atas ranjang yang mewah dan lembut, ia berteriak pelan dengan penuh gembira. Setelah berguling-guling Laura berlari lagi melihat kamar mandi, lalu ia berlari lagi bermain air di kolam renang itu.
Di sebelah kamar Laura, saat itu Aaron sedang melepaskan jas dan dasinya, ia mendengar Laura berteriak-teriak kecil saking senangnya, tiba-tiba tanpa ia sadari sudut bibirnya sedikit terangkat naik karena tersenyum tipis.
Saat Laura berlari ke sana kemari pun, Aaron dapat membayangkannya, bagaimana tingkah kekanak-kanakan Laura yang begitu bahagia.
"Apakah dia sebahagia itu? Apa selama ini hidupnya sangat menderita hingga menginap di hotel saja sudah membuatnya sesenang itu." Kata Aaron.
Saat itu Aaron sudah melepaskan pakaiannya dan kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi, ia akan bersiap-siap menuju tempat yang sangat menegangkan dan beresiko, yaitu, pasar gelap di Negara Kamboja.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
vanilla althea smith
kapalan dongg bikin ngakak 😂
2024-09-24
0
Firanty Ranty
aaaah...baca nich novel dibagian episode ini JD ingat slh satu temen ku yg pertama kali menginap di hotel Singapura hotel Ibis nama nya, brankas hotel yg tersedia di setiap kmr dia kira itu microwave dan hampir saja di buat utk menghangatkan makanan yg dr hotel untungnya saja dia meneleponku klu tidak entah apa yg akan terjadi dgn brankas hotel tersebut 🤣🤣
2024-07-06
0
🌺🌸CantikaLovely🎀💖
Laura bukan hanya berkah buat Aaron tapi sekalian ujian 😂😂bersabarlah Aaron
2024-03-27
2