Tengah malam ketika semua sudah tertidur lelap, dan Laura juga sudah tidur di kamarnya.
Seseorang tengah mengendap-endap mencari dimana kamar tidur Laura.
Semua pelayan memiliki kamar tidur sendiri-sendiri, Aaron menghormati privasi para pelayan-pelayannya.
Ketika kamar yang di cari pun ketemu, pria itu tersenyum sumringah dan jahat.
Gerry mengendap-endap masuk ke dalam kamar Laura.
Melihat Laura sedang tidur dengan pulas, perlahan Gerry memandangi seluruh tubuh Laura yang saat itu tak memakai selimut.
Baju Laura pun tersingkap sedikit, membuat Gerry semakin tak bisa tenang, ia ingin sekali memeluk dan menjamah Laura lalu melakukannya hingga pagi. Gerry membayangkan pasti sangat nikmat.
Kecantikan Laura menghipnotisnya, Gerry pun langsung membuka rok milik Laura naik dengan pelan seketika kini rok itu tersingkap naik ke atas.
Gerry memandanginya, namun ketika tangan Gerry hendak maju dan menyentuh bagian itu, Laura pun membuka matanya sedikit lebih dulu sebelum tangan Gerry menyentuhnha, Laura langsung terkejut, ia langsung menarik tubuhnya mundur dan menjauh, bagaimana bisa ada pria di dalam kamarnya. Laura melihat roknya tersingkap dan langsung membenarkan sembari ingin berteriak.
"Bagaimana....!!!"
Belum sempat berbicara lagi, Gerry sudah menutup mulut Laura, dan mencengkram tangan Laura.
"Mmmhhbbb!!!"
"MMBBHHHH!!!"
Laura berteriak-teriak.
Gerry dengan cepat melepaskan celananya hingga kini hanya tersisa pakaiannya.
"Sstt..."
"Sssstt..." Kata Gerry menenangkan Laura.
"Kau belum tahu rasanya, jika sudah tahu, kau akan menikmatinya dan akan selalu meminta lebih padaku..." Bisik Gerry.
Gerry masih menutup mulut Laura, dan siap menarik celana dalam milik Laura.
Namun Laura memberontak kemudian menggigit tangan Gerry dengan kuat.
"BRENGSEK!!!!" Maki Gerry.
"Toloonggggg!!!"
"TOLLOONGGGGG!!!"
"SIAPAPUN TOLONGG AKUUU!!!" Teriak Laura.
Laura berteriak-teriak, ia pun juga hendak pergi, namun dengan cepat Gerry menarik tubuh Laura dan memitingnya, Gerry lalu menyumpal mulut Laura dengan celana dalam milik Gerry, dengan mencengkram tangan Laura juga.
"Hmmmbbhhh!!!"
"HMMMBBBB!!!"
Laura memberontak sembari air matanya menangis.
Kini Laura menangis sejadi-jadinya, mengapa ia selalu menjadi korban seperti ini, apakah ia perlu merusak wajah dan tubuhnya agar semua pria tak melakukan hal kejam seperti ini.
"BRRAAKKK!!!" Pintu di dobrak dari luar.
Ternyata itu adalah Aaron dan Hensen, di belakangnya adalah Emily serta Lucy.
Emily dan Lucy menutup mulut mereka, karena menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan.
Mulut Laura tersumpal celana dalam milik Gerry, tangan Laura terikat dan pakaian Laura sudah sobek sana-sini, belum lagi Gerry dalam keadaan setengah telanjang.
"Tu... Tuan...!!!" Mata Gerry terbelalak, sontak Gerry terkejut, bagaimana mungkin bisa semuanya berkumpul dan memergokinya.
"Seharusnya kau memeriksa lebih dulu, karena kami sedang melakukan meeting bersama. Kau membuat para gadis pelayan bertarung, jadi sampai tengah malam ini mereka ku hukum bekerja lembur, dan Tuan Aaron baru saja pulang." Kata Hensen mendekat.
Gerry pun meringkuk dan menutupi miliknya dengan kedua tangannya, kemudian Gerry hendak meraih dan memakai celananya namun Hensen menginjaknya, hingga membuat Gerry tak bisa mengambilnya.
Aaron maju dan mengambil sumpalan celana dalam di mulut Laura, ia juga melepaskan ikatan tangan Laura. Perlahan Aaron melepaskan mantelnya dan memakaikannya pada Laura.
"Hensen. Aku akan membawa Laura ke kamarku, kau bawa Gerry ke ruanganku." Perintah Aaron.
"Baik Tuan."
"Dan untuk para pelayan wanita mulai besok, cari kepala pelayan yangvseperti penjagal, agar mereka semua bisa lebih patuh dan tertib, aku tidak suka mansionku menjadi perkumpulan para keledai, sama saja mereka menginjak-injak harga diriku." Kata Aaron.
"Baik Tuan Aaron." Kata Hensen.
Laura pun di papah pergi keluar oleh Aaron, namun di koridor baru setengah perjalanan, Laura hendak terjatuh karena kakinya terasa sangat lemas, air matanya pun tak kuasa terus keluar.
Tubuh Laura masih gemetaran dan bergidik, ia masih ketakutan.
Kemudian Aaron langsung menggendong Laura dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Aku berusaha membuatmu menghindari para pria brengsek, namun ternyata di dalam mansion ku justru ada pria yang tak bermoral." Kata Aaron.
Laura hanya diam dalam gendongan Aaron.
Sesampainya di dalam kamar, Aaron membaringkan Laura, dan menuangkan air putih di gelas yang ada di meja kecil dekat ranjang.
"Minumlah." Kata Aaron.
Laura duduk dan meminum air putih itu.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Aaron.
Laura mengangguk pelan.
Kemudian Aaron beranjak ke ruangan ganti dan mengambil kemeja putih miliknya.
"Gantilah bajumu. Aku akan pergi mengurus tukang kebun itu." Kata Aaron.
Laura menerima kemeja itu dengan perlahan dan menundukkan kepala.
"Tenang saja, kau aman di kamarku, di depan kamar ada anak buahku yang berjaga."
"Te... Terimakasih banyak." Kata Laura menghapus air matanya.
Aaron hanya diam sejenak.
"Istirahatlah, besok pagi kita akan berangkat ke Kamboja, ku pastikan kejadian hari ini tidak akan terulang lagi." Kemudian Aaron meninggalkan Laura.
Di ruangan kerja Aaron, Hensen masih bermain-main sembari menunggu Aaron.
Saat itu Gerry di suruh berdiri dan merentangkan kedua kakinya, sedangkan Hensen duduk dan melemparkan berkali-kali pisau kecilnya, pisau itu menancap di antara paha nya dan di bawah benda milik Gerry.
"Wusshh!!! Sreekk!!" Pisau menancap di dinding kayu.
Tak berapa lama, pintu di buka dan itu adalah Aaron, Hensen kemudian berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Kau bermain-main?" Tanya Aaron pada Hensen.
"Sedikit Tuan."
"Bukankah akan seru, jika kau sengaja melemparkan pisau itu meleset, kita lihat apakah dia akan kesakitan atau kenikmatan." Kata Aaron kemudian duduk dan membidik.
Aaron dengan cepat melemparkan pisau itu dan pisau pun terbang.
"WUUUSSHHHH!!!"
"JLEEBBB!!!"
"AAAARRGGHHH!!! TUAN AARON MAAFKAN SAYA!!!" Teriak Gerry sembari menangis.
Aaron sengaja membuat pisau itu menancap pada paha Gerry.
Darah keluar dan pisau masih tertancap di paha Gerry.
"Kau berlagak sekali Gerry. Sejak kapan kau membuat lingkaran setan itu." Kata Aaron mengambil rokok dan Hensen pun memantikkan apinya.
Aaron menyesap rokoknya dan kemudian duduk di tepi meja kerjanya.
"Kau merasa dirimu tampan dan gagah?" Tanya Aaron sembari menyesap kecil rokoknya dan menghembuskannya.
"Tu... Tuann... Ampuni saya..." Gerry mulai goyah dan hendak terjatuh.
"Tetap berdiri." Perintah Aaron.
Gerry pun berdiri dengan gemetaran, karena pahanya begitu sakit.
"Tuann... Ampuni saya..." Pinta Gerry lagi menangis.
"Jadi, berapa banyak pelayan yang sudah kau tiduri." Tanya Aaron.
"Tidak... Tuan... Tidak ada... Mereka berbohong, sayaa... Saya...." Gerry mencari cari alasan.
Aaron kemudian mengulurkan tangannya lagi pada Hensen, Hensen pun memberikan pisau kecil lagi pada Aaron.
"Tenang saja stocknya banyak." Kata Aaron membidik lagi.
"Aku sedang lelah, kali ini pasti juga meleset. Katakan padaku berapa banyak pelayan yang sudah kau tiduri." Kata Aaron lagi.
"Tu... Tuan... Sa... Saya minta maaf..." Kata Gerry menangis.
"SIUUUWWW WUSSHH!!"
"JLEBBB....!!"
"AAARRRGGGHHH!!!" Gerry berteriak kesakitan, hingga suaranya menggema di ruangan kerja Aaron.
Pisau itu menancap di paha satunya milik Gerry, kemudian Gerry terjatuh di lantai.
"Jika kau terjatuh, kepala mu yang akan menjadi sasaran." Kata Aaron.
"Ti... Tidaakk... Jangan...." Kata Gerry gemetaran.
Kemudian Gerry pun berdiri dengan kaki gemetar dan bersandar pada dinding kayu batas ruangan kerja dengan kamar mandi.
Aaron kemudian mematahkan putung rokoknya di asbak, rokok itu masih sedikit panjang, lalu ia mematikannya di asbak, menekan bara api itu hingga mati.
Aaron menelan ludahnya dengan kasar, melihat Gerry dengan tatapan dingin dan tajam, kemudian Aaron mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya.
Tangan Aaron terampil memainkan pisau lipat itu, kesana dan kemari, kemudian ia mendekat pada Gerry.
Saat itu Gerry, tak sanggup berdiri dengan sempurna.
"Kau merasa tampan?" Tanya Aaron.
Gerry menggelengkan kepala dengan cepat, keringat mengucur di seluruh tubuhnya, bahkan ia gemetaran, Gerry yang setengah telanjang benar-benar terlihat menyedihkan. Kedua pahanya pun tertancap pisau, dan darahnya mengalir hingga ke kaki-kakinya dan membasahi lantai.
Kemudian Aaron mengarahkan pisau itu di pipi Gerry.
"Sebelum bertindak seharusnya kau tahu sedang menginjakkan kaki mu di mana." Geram Aaron.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
🌺🌸CantikaLovely🎀💖
Jd kangen Ben ama Deasy...Novel yg sangat luar biasa....keren bangettt...msh blm move on dr Ben n Deasy 😘😘😘
2024-03-27
15
kacangtanah22
Aaron Lebih lembut sama wanita beda jauh sama Benjove
2024-02-14
0
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
gerry dijadikan kasim. baru mantap.
2024-02-01
1