Perlahan Laura hendak meminum wine itu langsung dari botolnya.
Jarvies menunggu dan terus menunggu, dengan wajah berharap nya yang dingin.
Semua orang memuja wajah tampan Jarvies yang begitu rupawan, namun Laura tidak, ia sangat membenci Jarvies, bukan hanya sekali dua kali Jarvies selalu berusaha membawanya pergi, bahkan pada suatu ketika Laura baru pulang bekerja Jarvies terlihat membututinya menggunakan mobil, hingga pada akhirnya Laura menuju ke kantor polisi, membuat Jarvies pun mengurungkan niatnya dan memilih pergi.
Jarvies tidak suka berurusan dengan polisi, baginya polisi hanya akan membuatnya kerepotan.
Laura sudah mengangkat botolnya dan ujung botol tersebut sudah masuk ke dalam mulutnya.
Satu teguk, dua teguk, tiga teguk...
"Bwaahhh!!!" Laura kehilangan nafasnya, kepalanya langsung mendadak sedikit pusing namun ia masih sadar.
"Butuh bantuan?" Kata Jarvies merebut botol wine tersebut.
Laura menggelengkan kepalanya.
Namun, terlambat, Jarvies sudah mencengkram dagunya dengan kuat, dan membuka mulut Laura, dengan tangan kanannya Jarvies menuangkan wine tersebut ke dalam mulut Laura. Hingga Laura gelagapan.
"Berhenti Tuan Jarvies..." Pinta Laura yang sudah lemas .
Tubuh Laura sudah di penuhi dengan wine merah yang tumpah.
"Sa... Saya minta maaf, saya tidak akan melakukan kesalahan lagi." Kata Laura.
Jarvies hanya diam, kemudian ia meminum wine tersebut langaung dari botolnya.
"Jika kau tahu kesalahanmu sejak awal, aku tidak akan membuatmu seperti ini... Lain kali jika aku memesanmu, maka jangan berbohong dan menghindariku." Kata Jarvies.
Saat itu Miguel pun masuk dan langsung mendapati Laura sudah lemas.
"Tuan Jarvies... Anda sudah menyalahi aturan HAVVY CLUB." Tiba-tiba Miguel masuk dengan wajah panik.
Jarvies memandang Miguel dengan tatapan tidak senang.
"Kau bilang apa?" Tanya Jarvies.
Dengan gemetar Miguel pun kembali ingin mengatakan jika Jarvies tidak bisa menyentuh Laura.
"Anda tak bisa menyentuh Laura..."
"PYAARR!!!" Jarvies melemparkan botol wine besar itu ke dinding mengakibatkan suara yang memekakkan telinga dan botol pun pecah kemana-mana.
"Tuan Jarvies, silahkan anda tinggalkan Club saya jika anda tidak bisa mentaati aturan di sini, atau saya panggilkan polisi." Kata Miguel.
Jarvies kemudian berdiri, tubuhnya yang lebih besar dari Miguel, tentu saja membuat Miguel bergidik.
Dengan tangan besar berototnya, Jarvies mencengkram leher Miguel dan mengangkatnya.
"Keeekkkzz...!" Pekik Miguel. Miguel meronta, ia kesakitan karena Jarvies mencekiknya hingga menganggat tubuhnya naik hanya dengan menggunakan satu tangannya.
"Tuan Jarvies tolong lepaskan Tuan Miguel... Saya akan menuruti semua yang anda inginkan." Kata Laura yang masih setengah sadar.
Yessi pun masuk dan mendapati Laura sudah hampir pingsan, lalu memeluknya.
"Laura... Sadarlah apa yang sudah kau ucapkan..." Bisik Yessi.
"Tapi Tuan Jarvies pasti akan menyakiti Tuan Miguel, dia begitu baik pada saya..." Kata Laura.
"BRRAAKKK!!!" Tiba-tiba pintu di tendang oleh seseorang.
"Dimana Jarvies Hollando..." Suara dingin seorang pria mengejutkan semua orang.
Tak hanya itu, ketika pria itu masuk dengan menggunakan mantel hitamnya yang besar, semua mata tertuju padanya.
Sosok pria tampan dengan rambut hitam yang di sisir rapi, dan tubuh tinggi atletis, tak lupa wajahnya membuat semua orang terhenyak, begitu tampan dan sempurna, garis rahangnya kuat, hidungnya mancung, matanya melihat dengan tatapan bak pisau, meski terlihat dingin dan kejam, namun mereka semua tahu, aura yang di keluarkan sosok pria yang baru saja tiba itu begitu kuat.
Aaron Krestsman, pria itu di juluki Bapak Iblis. Sosok yang sangat di takuti oleh semua orang, meski tampan rupawan Aaron tidak tertarik bermain wanita, Aaron adalah ketua Gangster wilayah selatan yang tak banyak bicara, hingga beritanya sampai pada ke telinga para masyarakat, jika Aaron Krestsman adalah pria yang telah membantai para gangster hanya dengan kapak. Aaron maju sendirian dan membantai ratusan gangster yang ada di hadapannya saat memperebutkan wilayah.
"Kenapa kau mencariku..." Kata Jarvies menurunkan Miguel.
"BRUUK!!" Miguel di jatuhkan dengan kasar.
"Anggotamu mencuri barang daganganku." Kata Aaron dingin dan datar.
Aaron pun kemudian duduk dengan santai, ia menyilangkan kakinya dan matanya melirik pada sosok Laura yang masih dalam pelukan Yessi.
"Sepertinya ada kekacauan." Kata Aaron datar.
"Bukan urusanmu. Lagi pula, siapa yang kau tuduh mencuri. Kau ingin membangkitkan peperangan antara kita yang sudah lama bersawang?" Kata Jarvies menyesap rokoknya.
"Jika aku bilang itu dari anggotamu, berarti dari anggotamu." Kata Aaron masih santai.
Jarvies kemudian duduk di samping Laura, dan menarik tubuh Laura untuk duduk di atas pahanya.
"Tuan Jarvies, Laura sudah lemas, anda tidak bisa berbuat begini..."
"BRRUUKKK!!!" Jarvies menendang Yessi.
"Enyah!!!" Kata Jarvies kesal pada Yessi.
Jarvies pun memeluk tubuh Laura yang kecil dan setengah sadar berada di dalam dada besar Jarvies.
"Jadi berapa kerugiannya? Aku akan bayar, lalu enyahlah aku sedang sibuk." Kata Jarvies mengusap rambut Laura yang menutupi wajah Laura.
Saat itulah Aaron melihat wajah cantik Laura, mata Aaron tak berkedip, baru pertama kalinya ia melihat sosok yang begitu bening dan terlihat begitu cantik namun juga menyayat hati.
Kecantikan Laura bagaikan dewi malang yang tersesat di lingkungan para manusia-manusia biadab yang kotor.
"Aku ke sini tidak membicarakan uang. Tapi, aku ingin memotong tangan anggotamu yang sudah lancang mengambil barang dagangan orang lain."
"Astaga... Kau selalu saja berlebihan." Kata Jarvies tertawa.
Melihat sikap Jarvies yang meremehkannya, dengan cepat Aaron mengambil botol Whiskey dan langsung memukulkannya di kepala Jarvies.
"PYYAARRR!!!"
"Aaaaa....!" Para pekerja wanita berteriak dan pergi meninggalkan ruangan.
Sedangkan Miguel masih memperhatikan di sudut ruanganan dengan tubuh gemetar, sesekali ia mengelap wajahnya yang penuh keringat dengan sapu tangannya.
Dengan cepat Aaron pun menarik tubuh Laura ke pelukannya.
"Kepalamu memang harus di sadarkan." Kata Aaron.
"Sialan." Kata Jarvies melihat darah di kepalanya mengucur.
"Bosss...!!!"
"Bosss kau baik-baik saja... " Teriak para anak buah Jarvies.
"Kalian bodoh!!! Masih tanya!!!" Teriak Jarvies.
"Serahkan Laura padaku!" Kata Jarvies marah.
"Jadi namanya Laura. Awalnya aku berniat membuat perhitungan denganmu karena anggotamu lancang mengambil barang dagangan milikku, tapi, setelah sampai di sini ku pikir ada sesuatu yang lebih menarik dari sekedar memberikan perhitungan." Kata Aaron menyibak rambut Laura dan memandangi wajah cantik itu.
"Tu... Tuan... Aaron.. Mohon jangan sakiti karyawan saya..." Kata Miguel.
Aaron memberikan kode pada para pengawalnya untuk maju, dan menghadang.
"SERAHKAN LAURA PADAKUUU!!!" Teriak Jarvies lagi.
Aaron hanya tersenyum dingin dan kemudian menggendong Laura, ia pun melangkah pergi dari Club.
"SIALAN!!! KEJAR SI BRENGSEK ITUUU!!!" Teriak Jarvies lagi.
Kemudian para pengawal pun saling bentrok dan saling pukul, mereka mengeluarkan senjata mereka masing-masing, pedang, pisau, pemukul, atau pun kampak, saling berterbangan menghunus dan membunuh.
"PRAANGGG!!!"
"BRAAKKK!!!"
"KLAANGG!!!"
Semua saling berperang dan membuat Club pun rusak, Miguel memijit kepalanya karena baru saja ia memperbaiki Club, kini para Gangster pun merusaknya kembali.
"Astaga... Kemana Tuan Aaron akan membawa Laura....! Yessi!!! Panggil polisi!!! Atau hubungi Paman dan bibi Laura!!!" Teriak Miguel.
Sedangkan Jarvies, ia berdiri di balkon dan melihat Aaron telah membawa pergi Laura, dengan perasaan marah Jarvies menekan kepalanya yang terus saja mengeluarkan darah.
Bersambung\~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Firanty Ranty
waaaah..makin menarik nich ceritanya
2024-07-06
0
αуαηgηуαᴳᴼᴶᴼᴷᴵᴷᴼᵇᵃᵍⁱ2
cantik Laura, maka jd incaran bnyak lelaki😌
2024-05-21
1
Fifi A González
muka becek 😭😭😭
2024-04-23
0