Aaron melihat wajah Gerry yang sudah ketakutan, ia juga memandangi tubuh Gerry yang tak berdaya, kedua kakinya tak bisa berdiri dengan sempurna dan tentu saja gemetaran, antara menahan sakit dan juga menahan putus asa.
"Hensen."
"Ya Tuan."
"Potong miliknya, dan sayat wajahnya, dia selalu menganggap benda miliknya itu memuaskan banyak wanita dan dia selalu menganggap wajahnya setampan dewa. Aku paling membenci pria-pria bejat." Kata Aaron.
"Dengan senang hati tuan."
"Bawa dia ke tempat favoritmu." Kata Aaron kemudian pergi keluar dari ruangan tersebut.
Gerry mulai kebingungan apa yang akan di lakukan oleh Hensen.
"Tu... Tuan Hensen... Maafkan saya... Saya mohon, lepaskan saya, Saya akan pergi jauh dan tidak akan menginjakkan kaki saya di sini." Kata Gerry.
"Dengan masih memiliki tubuh itu? Ku rasa tidak."
Kemudian Hensen keluar dan menyuruh para anak buah untuk menyeret Gerry yang tak bisa berjalan.
Mereka pun membawa Gerry ke ruangan bawah tanah.
Gerry di seret dan kemudian kedua tangannya di ikat menggantung memakai rantai.
Hensen memegangi pisau yang kemudian ia asah agar lebih tajam, lalu Hensen memeriksa ketajaman itu menggunakan ibu jarinya.
"Tu... Tuan Hensen... Maafkan saya... Tolong lepaskan saya... Saya janji tidak akan membuat kekacauan lagi." Gerry sudah menangis dan ketakutan.
"Tapi, sayangnya aku bukan orang pengasih dan pemaaf." Kata Hensen.
"Saya mohon Tuan Hensen katakan pada Tuan Aaron untuk melepaskan saya."
"Kau memerintahku?" Kata Hensen mendekat dan mengarahkan pisaunya pada pipi Gerry.
"Ti.. Tidak Tuan... Saya tidak berani." Kata Gerry.
"Jadi, mari kita lihat mana yang lebih kau sayangi, apakah ini...." Hensen menggaris pipi Gerry dengan pisaunya.
"AAAARRGGHHHH!!!" Teriak Gerry.
Darah mengucur di pipinya, dan mulut Gerry gemetaran. Air liurnya keluar karena tak kuasa menahan sakit, saat Hensen mengiris pipinya.
"Ataukah yang di sini..." Kata Hensen menunjuk bagian benda milik Gerry dengan pisau, dimana saat itu Gerry tak memakai celana.
"Kau pasti menikmati tubuh-tubuh para pelayan di mansion ini. Bagaimana, apa kau sudah puas? Jadi ku pikir ini sudah tidak berguna lagi bukan?" Kata Hensen.
"Huuuuuu.... Uuu... Uuuuuww....!! Tolong jangan itu Tuaannn.... Ampuni sayaa....!!!" Teriak Gerry meraung-raung dan menangis.
Hensen kemudian memakai sarung tangannya yang berwarna hitam.
"Tu... Tuan... Tidaakk... Jaaangggaaannn!!!" Teriak Gerry ketika Hensen mulai mengarahkan pisaunya pada barang milik Gerry.
Teriakan Gerry begitu keras hingga mengisi seluruh ruangan bawah tanah, namun suara itu tak akan terdengar oleh siapapun, hingga beberapa jam Hensen menyiksa Gerry dan membuat Gerry benar-benar tak berdaya, darah sudah mengucur di sana dan di sini.
Benda yang bisa memberikan dirinya kenikmatan pun sudah tak ada lagi, karena telah di potong oelh Hensen dan Hensen kemudian melepaskan sarung tangannya.
"Buang dia." Perintah Hensen pada sang anak buah.
"Baik Tuan Hensen."
Kemudian Hensen pergi, ia naik lagi ke atas, sedangkan para anak buah melepaska rantai di tangan Gerry, dengan menyeret nya, mereka membawa Gerry keluar Mansion dengan menggunakan mobil, dan membawanya pergi ke daerah yang sepi.
Para anak buah Aaron kemudian mengeluarkan Gerry dari bagasi mobil dan melemparkannya ke semak-semak dalam keadaan mengenaskan, saat itu Gerry belum mati, ia masih hidup, dan para anak buah Aaron pun meninggalkan Gerry yang meraung-raung lemah meminta tolong.
******
Di kamar Aaron, saat itu Aaron yang baru saja selesai dengan Gerry masuk ke dalam kamar, saat itu Laura sudah tidur tanpa selimut.
Kemeja putih ternyata tidak bisa sepenuhnya menutup tubuh Laura, pakaian itu justru membuat Laura semakin terlihat cantik dan seksi, dan tentu saja membuat paha putih yang mulus dan dada Laura begitu terekspose menggoda.
"Sepertinya salah membawanya ke sini, aku akan bicara pada Hensen untuk menyiapkan kamar di sebelah kamarku, agar ke depannya Laura tak perlu tinggal di kamar para pelayan. Aku tahu aku bersikap seperti ini hanya karena dia mirip dengan adikku yang mati. Ya karena itu saja, karena aku tak ingin dia bernasib sama seperti adikku." Kata Aaron menyakinkan dirinya sendiri.
Kemudian Aaron pun melepaskan bajunya, ia terbiasa tidur tanoa memakai pakaian, dan hanya memakai celana saja, Aaron tidur di atas sofa berbaring dengan menyedekapkan kedua tangannya di atas dadanya.
Namun, alih-alih menutup mata, pandangannya justru terus tertuju pada Laura yang tengah tidur dengan posisi miring.
Paha dan pantat Laura jelas mengundang hasratnya.
"Ck...!" Decak Aaron kemudian ia duduk dan meremass kepalanya.
Saat itu Aaron hanya memakai celana panjang dan tak memakai baju masih saja merasa gerah dan panas, ia pun pergi ke balkon.
"Panas." Kata Aaron dan memilih tidur di sana.
Namun, baru sekejap menutup matanya, mimpi yang sama kembali merasukinya.
"Kakak... Aku mencintai Jarvies...!"
Itu adalah kenangannya, ketika adiknya mengatakan pada Aaron bahwa ia mencintai sosok pria yang membuatnya tersenyum bahagia, senyuman lebar itu, senyuman polos dan lugu itu begitu Aaron rindukan.
"Aurora..." Panggil Aaron masih dalam keadaan bermimpi.
"Kakak... Aku ada janji dengan Jarvies... Aku pergi dulu!"
"Aurora... Jangan... Jangan pergi...!!!" Kata Aaron masih dalam keadaan tertidur dan memanggil-manggil adiknya.
Ingatan itu adalah dimana terakhir kali Aaron melihat Aurora, barulah setelah 3 hari, Aaron menemukan Aurora mati dalam keadaan gantung diri di gudang milik Jarvies.
Saat itu Jarvies menjelaskan pada Aaron, bahwa ia tidak bertemu dengan Aurora di tempat yang sudah di janjikan, Jarvies mengatakan bahwa ia menunggu Aurora hingga malam namun Aurora tak kunjung datang.
Informasi terakhir beberapa orang melihat Aurora berada di HAVVY CLUB bersama seorang pria, namun Aaron tak pernah percaya karena adiknya tak akan pernah menginjakkan kakinya di club.
"Kakak.. Aku pergi....!"
Aurora berpamitan dengan wajah sumringah dan wajah yang bercahaya serta senyuman yang lebar, dia terlihat sangat bahagia, hingga pada akhirnya di temukan mati dengan wajah dan tubuh penuh luka dan lebam, akibat pemerkosaaan.
"TIDAAKKK AURORAA, JANGAN PERGI!!!"
Aaron terus berteriak, membuat Laura terbangun dan sudah berada di dekat Aaron.
Saat itu Laura ingin membangunkan Aaron.
"Tuan Aaron..." Panggil Laura.
"AURORAA... !!! JANGAN PERGI...!!!" Teriak Aaron.
"Tuan... Bangun... Apakah anda bermimpi buruk?" Tanya Laura.
Saat itu Laura menyentuh dahi Aaron yang berkeringat.
Namun, dengan gerakan cepat dan gerakan reflek Aaron langsung menarik dan membanting tubuh Laura ke atas ranjang kayu.
"BRRUUKKK!!"
"Aaaghhhh....!!" Kepala Laura membentur ranjang kayu tersebut.
"Kau..." Kata Aaron yang sudah sadar.
"Ya... Tuan... Ini saya, anda mengigau dan keringat dingin, saya mencoba membangunkan anda." Kata Laura meringis kesakitan.
Saat itu Luara ada di bawah tubuh Aaron, dan tubuh Aaron menindih tubuh Laura.
Tanpa sengaja Aaron melihat payudara Laura, karena tindakan itu saat Aaron menarik Laura, membuat beberapa kancing kemeja Laura lepas.
Laura segera menutupi bagian dadanya, kemudian Aaron tersadar dan ia segera bangkit lalu duduk.
"Jam berapa sekarang." Tanya Aaron.
"Pukul 5 pagi Tuan. Kenapa anda tidur di sini Tuan?" Tanya Laura.
"Aku kepanasan." Kata Aaron.
"Anda bisa mengecilkan ac nya, saya menjadi tidak enak sudah tidur di ranjang anda." Kata Laura.
"Tidak masalah. Bersiaplah kita akan berangkat ke Kamboja." Kata Aaron berbicara dengan tanpa melihat ke arah Laura.
Saat itu Aaron pun langsung berdiri dan beranjak pergi menuju kamar mandi, ia menghidupkan shower, dan langsung berdiri di bawah siraman shower.
Aaron ingat bagaimana ia menindih tubuh Laura, dan ia melihat serta merasakan payudaraa yang besar dan sintal itu di dadanya. Tiba-tiba saja miliknya sudah tegak berdiri.
Sekuat tenaga Aaron mengepalkan kedua tangannya dan menutup mata, rahang dan wajahnya menguat, hingga urat-urat ototnya menonjol.
"Aku bukan pria badjingan seperti mereka yang telah membuat adikku mati." Kata Aaron mengepalkan tangan di bawah siraman air shower.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
vanilla althea smith
keinget asisten andi asisten nya rayyan di kupu"malam tapi masih perawan
2024-09-24
0
Firanty Ranty
ada yang tau GK siapa pembunuh Aurora 😁😁 aku dah cari" tapi GK dpt🤭
2024-07-06
0
AZKHA WIRADITYA
Aurora temen ku jirr
2024-06-11
0