"Ta.. Tapi... Apa kesalahan saya...." Tanya Laura matanya mulai berair.
Aaron tidak menjawab pertanyaan Laura, ia hanya menatap dengan mata tajam dan masih mencengkram pergelangan tangan Laura.
"Sampai Tes DNA itu keluar kau akan di kurung dan tidak boleh kemana-mana." Kata Aaron kemudian ia berdiri dan meninggalkan Laura.
"BRRAKK!!" Pintu di tutup dengan sangat kasar, membuat bahu Laura tersentak.
Laura kemudian menangis, ia tidur dengan posisi miring dan memeluk dirinya sendiri.
Sedangkan Aaron yang pergi ke kamarmya melalui pintu penghubungan, ia melihat Hensen sudah berada di kamarnya.
"Persiapkan pesawat pribadi, kita akan pulang, dan periksa apakah ada anak buah Douglas yang memata-matai kita." Perintah Aaron.
Kemudian Aaron mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, Aaron menghisap rokok itu, ia merasa kesal dan harus menetralkan emosinya.
"Kau mendapatkannya." Kata Aaron.
Kemudian Hensen mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya.
Itu adalah Liontin milik Aurora yang di lelang.
Aaron mengambil itu, dan membiarkan rokoknya masih ada di mulutnya.
Kemudian Aaron membuka liontin tersebut, ada sebuah foto yang wajahnya sudah samar, namun ia masih sangat mengenali ibunya, di pangkuan sang ibu adalah foto Aurora dan Aaron meski wajah-wajah di foto tersebut samar karena itu adalah foto hitam putih yang jadul, namun Aaron sudah sangat hafal dengan Liontin itu.
"Ini benar-benar milik adikku." Kata Aaron meremasnya dengan erat.
"Tuan, tapi belum tentu Nona Laura adalah cucu dari Tuan Douglas La Faye. Apa anda tidak terlalu bersikap berlebihan pada..."
Kedua mata Aaron langsung menatap dingin dan marah pada Hensen.
"Apa kau menyukai Laura juga." Kata Aaron.
"Ti... Tidak Tuan bukan begitu... Saya hanya..."
"Dengar Hensen, apapun yang terjadi, jangan pernah membuat Laura pergi. Aku ingin Douglas merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang dia sayangi." Perintah Aaron.
"Baik Tuan."
"Persiapkan pesawatnya sekarang. Kita pulang malam ini juga." Perintah Aaron.
"Tapi, pekerjaan kita masih banyak di sini Tuan, bahkan penjualan kita sedang sangat di minati."
"Percayakan itu pada para anak buah." Kata Aaron.
"Baik Tuan."
Hensen pun pergi, ia melakukan perintah Aaron.
Akhirnya sore hari dimana Laura sedang tertidur karena kelelahan menangis, dan kakinya juga sakit, dengan masih memakai gaun hitamnya, Laura tidur seperti kucing yang melingkar, terlihat menyedihkan dan sangat kasihan.
Hensen mengetuk pintu kamar Laura.
"Nona Laura." Panggil Hensen.
Berkali-kali Hensen memanggil dan kemudian kesadaran Laura kembali, perlahan matanya terbuka meski mata itu terlihat bengkak, namun ia masih tetap terlihat cantik.
Mendengar seseorang memanggilnya, Laura turun dari ranjang dan berjalan tanpa alas kaki, ia membuka pintu kamarnya.
"Nona Laura kita pulang Ke Negara Mex sekarang." Kata Hensen.
"Sekarang? Bukankan kita akan di sini selama satu minggu?"
"Tuan Aaron mengajak pulang sekarang, sudah menunggu di mobil."
"Dia... Sudah ada di mobil." Tanya Laura dengan suara lembut.
Kemudian Laura masuk ke dalam kamarnya dan ia pun giduh, ia bingung apa dulu yang harus ia kemasi, hingga ketika ia mengambil beberapa baju dan memasukkannya ke dalam tas jinjingnya, ia tak memperhatikan jalannya, Laura tersandung sendal heelsnya dan ia terjatuh.
"BRUKKK!!!"
" Aaakk....!!!"
Dengan cepat Hensen masuk ke dalam kamar dan melihat semua berantakan, kemudian Hensen pun memapah Laura untuk duduk.
"Nona, tak perlu membawa semua barang, ada anak buah Tuan Aaron yang akan membereskannya dan membawanya pulang ke Negara Mex, anda hanya perlu membawa diri sendiri."
Laura kemudian melihat kolam renang yang ada di balkonnya, ia bahkan belum mencicipi rasanya berenang di sana, kemudian air matanya mengucur, ia pun seolah sedang di sadarkan dan di tampar oleh keadaan yang sebenarnya. Mimpinya singkat, di perlakukan baik dan sopan adalah hal yang mustahil.
"Aku mengharapkan apa." Kata Laura.
"Ya Nona?" Tanya Hensen.
"Bukan. Bukan apa-apa." Kata Laura menghapus air matanya.
Saat itu Laura sadar bahwa ia baru saja di butakan oleh sesuatu yang bahkan tidak akan pernah ada di kehidupannya yaitu kehidupan mewah, tenang, dan bahagia, Laura sadar diri, seumur hidupnya dia hanya akan mendapatkan penderitaan dan hinaan.
Kemudian Laura hendak berdiri, namun ternyata kakinya terkilir.
"Aaakkk... Sepertinya kaki saya terkilir saat jatuh tadi." Kata Laura.
"Apakah anda bisa berdiri?" Tanya Hensen.
Laura menggelengkan kepalanya..
"Mari, saya akan memapah anda." Kata Hensen kemudian mengalungkan tangan Laura di pinggulnya agar berpegangan padanya.
Lalu Hensen pun memegangi tubuh Laura.
Tanpa memakai alas kaki, Laura berjalan perlahan demi perlahan.
Kulit putih Laura membuat Hensen cukup merasa gerah, apalagi saat itu gaun Laura sedikit terbuka, hanya seperti tanktop yang memanjang, rambut halus Laura bergoyang ke sana dan kemari saat Laura tertatih.
Berulang kali Hensen menarik nafas dan membuangnya pelan, mereka pun sudah masuk ke dalam lift.
"Apakah saya berat Tuan Hensen, anda berkeringat."
"Ini karena udara nya panas." Kata Hensen.
"Tapi di sini dingin." Kata Laura.
"Anda kedinginan?" Tanya Hensen.
Laura mengangguk dan memeluk kedua lengannya. Kemudian Hensen pun melepaskan jas hitamnya dan langsung di berikan pada Laura.
"Pakailah Nona Laura." Kata Hensen.
Kemudian Laura menerima itu, namun ia kesulitan memakainya karena kakinya sangat sakit, ia berusaha bersandar pada dinding lift namun, lift yang seolah bergoyang membuatnya tak seimbang.
"Biar saya bantu." Kata Hensen kemudian membantu Laura memakai jasnya.
Setelah selesai Hensen langsung melonggarkan dasinya yang terasa sesak di lehernya.
"Wuuuh....!" Hensen membuang nafasnya yang panas.
"TING!" Lift terbuka.
Hensen kembali memapah Laura keluar dan dan berjalan menuju mobil, di mana Aaron sudah berada dan menunggi di sana.
Ternyata hari sudah malam, dan Laura masuk ke dalam mobil, Aaron masih bersikap dingin, ia menutup mata dan menyandarkan kepalanya di kursi.
Laura hanya melihat sekilas dan duduk dengan kesusahan.
"Hati-hati Nona Laura." Kata Hensen.
"Maaf Tuan membuat anda menunggu, kaki Nona Laura terkilir." Kata Hensen.
"Mm." Kata Aaron masih menutup mata dan menyedekapkan kedua tangannya.
Melihat sikap Aaron yang dingin, Laura mengigit bibirnya, itu adalah sikap yang sangat kentara.
Mobil pun berjalan, dan mulai keluar dari halaman hotel, saat itu Laura juga hanya diam dan meremas kedua tangannya berkali-kali.
Saat mobil sudah mencapai pertengahan jalan, Aaron kemudian menendang pembatas mobil.
"JEDUG!!!"
Kemudian Hensen membuka pembatas tersebut.
"Ya Tuan." Kata Hensen.
"Pergi ke rumah sakit, kau bawa Laura periksa." Kata Aaron.
"Baik Tuan." Kata Hensen dan menutup pembatas lagi
"Ti... Tidak Tuan... Saya... Saya baik-baik saja." Kata Laura kemudian dengan cepat.
Namun, Aaron masih diam dan tak menggubris Laura.
"Tuan Aaron saya baik-baik saja..." Kata Laura.
"Aku yang memutuskan apa kau baik-baik saja atau tidak." Kata Aaron menjawab dengan melihat ke arah jendela.
Perjalanan menuju rumah sakit tidak terlalu lama, dan mobil pun masuk ke dalam parkiran. Hensen turun membuka pintu mobil, dan Aaron menunggu di mobil.
"Mari Nona Laura." Kata Hensen.
"Ta... Tapi saya baik-baik saja." Kata Laura.
"Biarkan dia berjalan sendiri Hensen, dia akan melihat apakah dia baik-baik saja." Kata Aaron dingin.
Laura menelan ludahnya.
"Periksa dan kembali ke sini, kita harus pulang ke Negara Mex." Perintah Aaron.
"Baik Tuan." Kata Laura.
Kemudian seorang perawat telah datang membawakan kursi roda, Laura duduk di sana dan Hensen pun mendorongnya masuk untuk melakukan pemeriksaan.
Butuh waktu beberapa jam, karena bosan Aaron keluar dari mobil dan menjauh dari rumah sakit, ia butuh merokok.
Ketika sudah berada di luar Rumah sakit, ia pun merokok dengan tenang, beberapa wanita berjalan di gang tersebut dan memperhatikan Aaron, mereka saling berbisik karena terpesona dengan ketampanan dan tubuh Aaron yang tinggi dan ideal.
"Fffuuhhh...." Aaron menghembuskan asap rokok tersebut pelan dan terlihat begitu mempesona.
Jemari tangannya yang panjang dan kuat memegang rokok yang seolah kecil di tangannya.
"Tampan sekali..." Kata beberapa wanita yang selalu lewat dan saling tebar pesona.
Tentu saja Aaron tak memperdulikannya, mata elangnya hanya tertuju pada satu mobil yang terus saja membuatnya curiga.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Firanty Ranty
sumpah aku pingin nangis karena Laura
sesak di dada rasanya nahan airmata supaya tak jatuh
2024-07-06
0
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
Aaron gak tegaan juga lihat Laura kesakitan
2024-02-09
0
istripak@min
mas aron jgn galak" nti bucin
2024-01-31
0