Aaron pergi dengan beberapa anak buahnya untuk bertemu dengan Jarvies.
Tepatnya di pelabuhan milik Jarvies, dimana kapal-kapal milik Aaron sedang di tahan.
Kapal-kapal tersebut berisikan bahan-bahan baku untuk pembuatan narkobaa, dan ada ganjaa kualitas paling bagus yang Aaron dapatkan dari Indonesia.
Di Negara Mex ini banyak bandar narkoba yang saling sikut menyikut, namun meski begitu para polisi pun sangat kesusahan menahan para bandar karena mereka semua berbisnis dengan sangat tertutup.
Semakin besar bandar narkoba semakin sulit di tangkap.
Mobil-mobil rombongan Aaron sudah tiba di lokasi. Jarvies pun sudah menunggu dan berdiri di tepi pelabuhan dengan menyesap cerutunya.
Aaron keluar dari mobil dan diikuti para anak buahnya. Tak lupa Aaron juga mengeluarkan rokoknya lalu menyesapnya perlahan.
"Jangan main-main Jarvies, kau tahu apa konsekuensinya mengusik singa."
Jarvies menghisap cerutunya kuat-kuat lalu melepaskan asapnya ke udara sembari tertawa kecil.
"Siapa yang mengusik siapa. Kau datang dan mencuri gadis milikku." Kata Jarvies.
"Aaa... Ngomong-ngomong tentang gadis itu, aku sudah membelinya, keluarganya meminta 50juta dollar." Kata Aaron.
"Aku bahkan belum sempat menikmatinya. Sialan!!" Teriak Jarvies.
"Lalu?" Jawab Aaron santai sembari menghisap rokoknya pelan.
"Aku yang menemukannya!!! Serahkan Laura, lalu aku akan menyerahkan semua kapal-kapalmu, bayangkan kerugianmu!!!" Teriak Jarvies.
"Oh ya?" Kata Aaron dan memberikan kode dengan dagunya agar Jarvies melihat ke belakang.
Jarvies pun dengan ragu melihat ke belakang, dan kapal-kapal yang sedang di tahan sudah mulai berlabuh, sedang para anak buah Jarvies sudah terikat dengan mulut di sumpal di di tepi dermaga.
"Sialan!! Dasar tidak berguna kalian semua!!!" Teriak Jarvies.
Kemudian para anak buah Aaron pun maju dan mengeluarkan senjata-senjata mereka, seperti kapak, pedang, palu dan kayu pemukul.
Para anak buah Aaron berdiri di depan Aaron.
Sedangkan anak buah Jarvies juga langsung mengeluarkan senjata mereka, namun mereka semua gemetar dan ketakutan.
"Kalian yakin akan melawan anak buahku dengan tubuh gemetaran seperti itu?" Kata Aaron kemudian membuang rokoknya dan menginjaknya dengan sepatu sembari menyemburkan asapnya pelan.
"Persetan dengan mu Aaron! Kembalikan Laura, aku yanh lebih dulu menemukannya!!" Teriak Jarvies.
"Coba saja jika kau bisa." Kata Aaron.
"Badjingaann!!! Enyahlah!!! Seraaaangggg!!!" Teriak Jarvies pada para anak buahnya.
Para anak buah Jarvies dan Aaron pun maju membawa senjata mereka masing-masing.
"HYYYAAAAAA!!!"
"YYYYYAAAAAA!!!!"
Mereka langsung bentrok dan saking menikam, saling memukul, saling membunuh dan mengiris leher lawan.
Seragam mereka yang memakai jas hitam-hitam berlumuran darah, kemeja putih mereka pun sudah berubah warna menjadi merah karena perkelahian tersebut.
Aaron kemudian mengambil pedangnya yang ada di bagasi mobil dan berjalan pelan menuju para anak buah Jarvies.
Dengan langkah tenang dan santai Aaron berkali-kali mengayunkan pedangnya.
"KRASSSHH!!!"
"KRRAASSHH!!!"
Dengan sikap dingin yang kejam Aaron memotong dan mengiris para musuhnya.
Hingga semua tergeletak di atas tanah dengan banyak darah, tubuh Aaron pun juga di penuhi dengan darah-darah anak buah Jarvies.
Saat itu Aaron melihat ke arah Jarvies.
"Sialan!!! Jangan kira kau sudah menang!!! Tunggu pembalasanku!!!" Teriak Jarvies dan pergi melarikan diri menggunakan mobilnya.
"Tuan Aaron, mereka kalah telak." Kata sang anak buah.
"Bagaimana dengan mayat-mayat ini?" Tanya anak buah Aaron lainnya.
"Bersihkan semuanya, dan berikan pada anjing-anjing kita yang ada di belakang Mansion." Perintah Aaron dengan mengeluarkan rokoknya.
"Baik Tuan."
Aaron pun menghisap rokoknya setelah salah satu anak buahnya memantikkan api.
Dengan tenang Aaron menghisap rokok itu, dan menghembuskan asapnya pelan, ia melihat hamparan mayat yang penuh darah.
Semua anggotanya pun juga seolah bermandikan darah.
"Kerja bagus untuk hari ini." Kata Aaron menepuk salah satu anggotanya.
Aaron pun melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil, lalu mobil pun berjalan pelan, Aaron kemudian membuka kaca jendela dan membuang rokoknya ke sebuah gudang peledak yang ada di dekat pelabuhan, seketika rokok itu tersulut dengan bahan yang mudah terbakar.
Dengan cepat, api membesar.
"BLLAAAARRR DUUAARRR DUUUAARRRR!!!"
Api itu merembet ke pelabuhan milik Jarvies dan pelabuhan itu pun terbakar habis dengan beberapa kali ledakan-ledakan yang besar.
Sesampainya di mansion, Aaron langsung masuk dengan kondisi tubuh yang penuh dengan darah, ia pun melihat Hensen sedang mengatur para pelayan. Sebagian pelayan yang bekerja di sana sudah hafal dengan Aaron yang selalu pulang dengan begitu banyak noda darah di tubuhnya seolah Aaron baru saja mandi darah.
Sedangkan para pelayan, mereka hanya di tugaskan untuk menyiapkan air selebihnya para pelayan harus keluar.
"Dimana pelayan baru itu. Suruh dia menyiapkan air untuk mandi." Perintah Aaron.
"Saya akan panggilkan Tuan Aaron." Kata Hensen menundukkan kepalanya.
Sedangkan Aaron sudah pergi lebih dulu ke kamarnya.
"Laura." Panggil Hensen.
"Ya Tuan Hensen."
"Kau siapkan air untuk mandi Tuan Aaron."
"Ba... Baik." Kata Laura.
Saat itu Laura sudah memakai pakaian pelayan, berwarna hitam, dengan rok pendek sepaha dan kemeja yang sedikit ketat.
Tubuh Laura memang sangat seksi, bahkan payudarannya pun lebih besar dari biasanya gadis-gadis miliki.
Meski begitu Laura memiliki tubuh yang ramping dan seksi, kecantikannya yang memiliki tubuh dan kulit yang putih bersih membuat para pelayan lainnya merasa cemburu.
Sebelum memasuki kamar Aaron, Laura mengetuk pintu kamar lebih dulu, ia pun masuk dan langsung menuju kamar mandi.
Saat Laura membuka pintu kamar mandi, dia terkejut melihat Aaron sedang membuka bajunya.
"Aaahh astaga... Maafkan saya, saya tidak tahu." Kata Laura.
"Cepat masuk dan siapkan airnya, aku tidak suka menunggu." Kata Aaron dingin.
"Ba.. Baik Tuan."
Laura pun menyiapkan airnya dan memberikan sabun ke dalam bathup.
Sedangkan Aaron sudah melepaskan celananya dan hanya tinggal memakai celana dalam.
"Tuan apakah segini, air dan sabunnya sudah cukup?" Tanya Laura menengok ke belakang.
Namun, ternyata ia justru melihat tubuh berotot Aaron, dengan hanya memakai celana dalam, dimana sebuah tonjolan besar ada di bagian bawah pria tersebut.
"Astagaa... Ya tuhan!! Kenapa anda telanjang!!!" Pekik Laura menutup matanya.
Aaron hanya diam tak menggubris perkataan Laura yang masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Alih-alih menjawab, dengan dingin dan wajah datar Aaron masuk ke dalam bath up.
"Pijat aku di bahu." Pinta Aaron.
"Aa... Apa?" Tanya Laura membuka salah satu jarinya dan mengintip.
"Aku bilang beri aku pijatan, kau sekarang adalah pelayan pribadiku, atau kau lebih suka mengembalikan 100juta dollar milikku." Kata Aaron.
"I... Iya Tuan Aaron. Saya akan memijat anda." Kata Laura dan dengan segera ia duduk di belakang Aaron.
Perlahan jemari lentik Laura pun memijit bahu Aaron, punggung Aaron begitu lebar dan berotot, tangan Laura terlihat begitu kecil dan mulus di kulit Aaron yang berotot dan kuat.
"Kau pintar memijat." Kata Aaron.
"Tu.. Tuan ada banyak noda darah di tubuh anda." Kata Laura.
Laura juga mencium bau darah yang begitu menyengat ia hampir mual ketika melihat baju Aaron.
"Aku membunuh banyak orang." Kata Aaron.
Laura hanya diam mendengar jawaban Aaron.
"Kau tidak penasaran kenapa aku membunuh banyak orang?"
"I... Itu bukan urusan saya Tuan, saya tidak penasaran dengan apapun pekerjaan orang lain, semua orang pasti punya alasan karena melakukan pekerjaan semacam itu."
"Apa kau juga punya alasan kenapa kau melakukan pekerjaan di Club? Kau tahu, saat pertama kali melihatmu. Entah mengapa aku sangat ingin membawamu pulang, aku tidak suka kau bekerja di Club dengan para pria. Kenapa aku seperti itu? Biasanya aku tidak peduli pada wanita manapun?" Tanya Aaron sembari menutup matanya menikmati tangan Laura yang memijitnya.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Keisha Alindya
itu artinya kau jatuh cinta /Facepalm/
2024-12-24
0
Luzi
bunga2 bucin 😁
2024-03-10
1
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
mungkin itu tanda hatimu masih belum mati rasa, aaron
2024-02-01
0