Shaka menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku. Semalam merupakan pengalaman paling buruk dalam hidupnya sehingga Shaka yang kelelahan sampai tak mampu untuk ganti baju dan tertidur masih mengenakan pakaian formalnya.
Shaka mer aba ranjang sebelahnya berharap menemukan sosok istrinya yang memang setiap hari ritual sebelum bangun adalah saling berpelukan mesra.
Namun Shaka tak menemukan sosok yang dia cari. Akhirnya mau tak mau dia akhirnya membuka mata. Dan benar saja tak ada Hana di sana.
Akhirnya Shaka bangun dari ranjang dan langsung mencari keberadaan istrinya tanpa pergi ke toilet dulu.
Dengan mengucek matanya Shaka masih sangat berantakan langsung pergi keluar kamar mencari Hana. Tempat pertama yang dituju adalah dapur, dan benar saja istri kesayangannya itu sedang sibuk memasak.
Shaka langsung memeluk istrinya dari belakang sambil mengusal pada ceruk leher Hana.
"Morning Baby.." Shaka berucap dengan begitu lembut.
Bukannya menjawab Hana yang saat ini sedang mencincang bawang justru semakin menghentakkan pisaunya dengan keras hingga membuat Shaka terkejut.
"Masak apa sih." tanya Shaka yang sejak tadi tak mendapat respon dari Hana.
"Masak KAMU." jawab Hana sedikit ngegas.
"Kok masak aku, nanti kalau dimasak kamu nggak punya suami dong." Shaka masih berusaha menggoda Hana.
Hana kini meletakkan pisau nya dengan kasar lalu berbalik menatap Shaka dengan nyalang.
"Biarin aku nggak punya suami sekalian kalau suamiku ternyata tukang selingkuh."
Shaka tentu langsung mengernyit saat Hana menuduh dirinya selingkuh.
"Selingkuh? siapa yang selingkuh sayang?"
Hana pun akhirnya mentoel bekas lipstick yang ada pada pipi Shaka dan menunjukkannya.
"Ini apa?? bekas ciuman siapa Mas sampai meluber di segala tempat begini. Mas aku kurang setia gimana sama kamu. Sekali aja nggak ditemani waktu acara kelakuan kamu udah kayak gini. Jangan-jangan selama ini kamu ke luar kota cuma alasan aja. Kamu ternyata punya wanita lain. Mas kamu JAHAT.. Kamu TEGAA.." Hana mengambil benda yang paling dekat dengannya dan langsung memukulnya. Dia meraih wortel dan terus memukul-mukul kan pada Shaka. Untung saja bukan pisau yang diambil.
"Sayang.. Aku nggak selingkuh.. awww.. Aku jelasin dulu.. aduh.. aww.." Shaka berusaha menepis pukulan Hana.
"Pokoknya aku nggak terima Mas kamu selingkuhi aku," Hana pun menghentikan pukulannya lalu diam terisak sambil berjongkok.
"Sayang.. " Shaka ikut berjongkok mendekat istrinya.
"Kamu adalah satu-satunya orang paling berharga dalam hidupku saat ini Mas, aku nggak pernah punya siapa-siapa. Aku kesepian dan haus kasih sayang. Hidupku hampa dan kini terasa berwarna saat hadirnya kamu. Tapi kalau kamu udah nggak cinta aku, kamu bosan sama aku lebih baik aku pergi aja dari dunia ini. Aku nggak sanggup lagi kalau harus diduakan dan menderita karena cintamu mas.. lebih baik aku mat.." belum selesai Hana berbicara Shaka langsung membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Baru akhirnya Shaka melepas ciumannya saat Hana sudah tidak lagi meronta.
"Aku akan jelaskan semuanya. Mas berani sumpah nggak pernah selingkuh sayang. Cuma kamu yang ada di hatiku dan tolong dengarkan aku dulu ya, please." Shaka memohon.
"Tapi itu.." Hana masih menunjuk noda lipstick di pipi Shaka.
Shaka pun akhirnya meraih tissue dan langsung membersihkannya.
"Sayang, ini bukan selingkuh justru semalam Mas mengalami kejadian paling mengerikan dalam hidup Mas." Shaka berucap sambil kedua netranya tampak berembun.
"Kenapa? apa yang terjadi?" Hana pun akhirnya jadi penasaran.
"Semalam sepulang acara mas nggak sengaja lihat seorang perempuan yang sedang berdiri di samping jembatan sayang. Mas pikir dia mau bundir. Karena khawatir akhirnya mas coba tolongin dia, eh nggak taunya dia malah mau terkam mas. Mana ternyata wanita jadi-jadian alias waria lagi. Andai aja semalam nggak ada tukang becak yang nolongin mungkin suami kamu ini sudah terenggut kesuciannya." Shaka bercerita dengan netra berkaca-kaca.
"W-Waria? maksudnya Mas dicium Waria? emang di jembatan mana?" Hana masih membeo mendengarkan cerita Shaka.
"Di jembatan Pattimura yang. Mana kek nenek lampir lagi dandanannya. Body sih masih oke tapi wajahnya aduh nggak banget." gerutu Shaka.
"Emang Mas mau kalau dia cantik?"Hana yang semula bersedih kini hilang seketika kesedihannya.
"Amit-amit Mas masih normal sayang. Udah ada istri secantik ini masak masih nyari manusia jadi-jadian." ucap Shaka dengan wajah cemberutnya.
"Udah-udah mandi sana biar nggak ada bekasnya itu." Hana berusaha menahan tawa membayangkan bagaimana sang suami yang terkenal tegas dan dingin justru digoda waria.
"Janji jangan ceritain ke orang lain. Cukup jadi rahasia kita saja sayang. Dan lagi, jangan ketawain." Shaka menatap Hana dengan tajam.
"Iya.." Hana tersenyum manis namun setelah Shaka menghilang di balik pintu kamarnya dia baru tertawa sampai perutnya terasa sakit.
"Astaga.. mau ketawa tapi kasian. Nggak diketawain tapi konyol banget. Aduh suamiku.."
****
Setelah menempuh perjalanan panjang dengan penuh kepanikan dan ketegangan akhirnya Nico dan Diana sampai di rumah sakit tempat Mama Vania dirawat.
Hati Nico terasa hancur saat melihat sang mama harus terbaring lemah tak berdaya bahkan berbagai alat menancap di tubuhnya. Yang menjadi pertanyaan Nico adalah sakit apa yang sebenarnya diidap oleh Mamanya?
Tak berselang lama Dokter pun menghampiri Nico dan Diana. Dia meminta keduanya datan ke ruangannya untuk memberitahu kondisi Mama Vania.
"Selamat siang, Nona Diana putrinya Ibu Vania kan? kami hanya ingin mengabarkan kondisi Ibu Vania semakin memburuk. Obat yang kami resepkan sepertinya tidak diminum dengan teratur sehingga memicu pertumbuhan selnya menjadi lebih parah. Padahal dalam kondisi ini saya sudah sarankan untuk teratur minum obatnya." ucap Dokter tersebut.
"Maaf dokter, padahal saya sudah sering mengingatkan mama untuk rutin minum obat. Mungkin Mama lupa, kami juga kebetulan tidak tinggal satu rumah dengan Mama." ujar Diana merasa tak enak hati.
Nico sejak tadi masih bingung dengan arah pembicaraan Dokter dan Diana. Apalagi sepertinya Diana lebih mengerti kondisi Mama Vania ketimbang dia.
"Tunggu, ini apa yang sebenarnya terjadi? mama saya kenapa dokter?" tanya Nico penasaran.
"Ibu Vania mengidap kanker otak dan sudah stadium tiga. Apa adik anda tidak memberi tahu hal ini? selama ini adik anda nona Diana yang rutin menemani ibu anda untuk berobat." ucapan dokter tersebut jelas seperti sebuah tombak yang menghantam tepat pada jantung Nico.
Otak Nico terasa blank sejenak saat mendengar hal itu lalu kemudian dia menatap Diana yang sedang duduk di sampingnya dengan tajam.
Diana sendiri hanya bisa menunduk sambil meremas kedua tangannya dengan kuat. Bagaimana dia harus menghadapi Nico jika sudah begini.
Hingga dokter selesai menjelaskan kini Diana dan Nico berjalan keluar ruangan menuju koridor menuju ruangan dimana Mama Vania dirawat. Nico berjalan lebih dulu sementara Diana mengekor di belakangnya.
Koridor tersebut tampak lengang tak ada seorangpun yang melintas sebab tempat itu memang ruangan pasien khusus dengan perawatan kelas atas dan tak sembarangan orang bisa kesana.
"Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini padaku Diana?" NIco akhirnya membuka suara. Nico menghentikan langkahnya lalu menatap wajah Diana.
"Kak.." Diana rasanya begitu kelu untuk menjelaskannya apalagi saat ini Nico menatapnya dengan begitu tajam.
"Aku nggak nyangka ya, apa sih yang sedang kalian rencanakan? aku ini putranya, anak satu-satunya dan darah dagingnya. Dan kamu.." Nico mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkan pada Diana.
"Kamu hanya orang baru yang hadir di hidup kami, tapi bahkan mama lebih percaya kamu, hebat sekali kau menguasai keluargaku ya, ku pikir kau polos dan baik Dina, ternyata kau hanya gadis licik dan munafik. Kau pembohong bahkan setelah aku mempercayakan perasaanku padamu. Apa jangan-jangan cintamu itu juga bohong Diana? dimana janjimu agar kita saling terbuka dan terus terang?" Tampak sekali sorot kecewa di mata Nico.
"Aku bisa jelaskan kak.. semua ini nggak seperti yang kakak sangkakan." Diana mencoba untuk menjelaskan. Dia meraih tangan Nico namun seketika Nico langsung menghempaskannya.
"Cukup, aku tidak butuh penjelasanmu. Semua ini sudah jelas dan aku muak padamu Diana. Ku pikir kamu gadis yang berbeda. Ternyata sama saja kau juga menghancurkan hatiku." Nico begitu nelangsa.
"Kak.. aku cinta kakak." Harus bagaimana diana menjelaskannya sementara Nico saat ini sudah terbakar amarah.
"Cukup, jangan katakan itu lagi. Kau tidak tahu arti cinta jangan coba-coba mengatakannya. Dan aku nggak bisa terima dengan kebohonganmu ini. Pergilah Diana.. aku bebaskan kamu sekarang. Aku tidak memaksamu untuk tetap berada di sisiku jika cara kita menjalani hubungan ini dengan dasar kebohongan. Hubungan kita salah dan ini ngak akan berhasil."
DEGG
Ucapan Nico tentu saja langsung menghantam relung hati Diana. Meskipun Diana masih awam perihal menjalin hubungan namun ucapan Nico benar-benar telah melukai perasaannya.
"Tapi kak.. Aku nggak.." Belum sempat Diana meneruskan ucapannya tiba-tiba Nico langsung mencengkeram lengan Diana.
"Tolong Diana. Beri aku waktu sendiri. Jangan menggangguku, pulanglah. Kamu tahu jalan keluar kan?" ucapan Nico memang lirih namun kata-kata dan sorot matanya sarat akan kebencian. Diana sadar suaminya benar-benar kecewa saat ini.
Tak ada yang bisa Diana lakukan lagi. Hatinya terlampau hancur dan kini dia hanya bisa menuruti kata-kata Nico dan berlari pergi meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi wajahnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Myra Myra
sabar klw x biar Jew Nicole nnty mesti ada penyesalan
2023-12-21
1
Lusi Hariyani
nah kan klo gini yg d salahkn siapa yg pny penyakit yg bohong orglain yg kena kasihan diana sm aja jd tumbal mertua y sendiri
2023-12-21
4
𝘛𝘳𝘪𝘚
nah kan kan bener,terbingkar sudah,,,seenggaknya dengerin dulu nic penjelasan diana,,, ntar nyesel trs mewek /Grin//Grin/
2023-12-21
0