Bab 20 Akhirnya terungkap

Shaka menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku. Semalam merupakan pengalaman paling buruk dalam hidupnya sehingga Shaka yang kelelahan sampai tak mampu untuk ganti baju dan tertidur masih mengenakan pakaian formalnya.

Shaka mer aba ranjang sebelahnya berharap menemukan sosok istrinya yang memang setiap hari ritual sebelum bangun adalah saling berpelukan mesra.

Namun Shaka tak menemukan sosok yang dia cari. Akhirnya mau tak mau dia akhirnya membuka mata. Dan benar saja tak ada Hana di sana.

Akhirnya Shaka bangun dari ranjang dan langsung mencari keberadaan istrinya tanpa pergi ke toilet dulu.

Dengan mengucek matanya Shaka masih sangat berantakan langsung pergi keluar kamar mencari Hana. Tempat pertama yang dituju adalah dapur, dan benar saja istri kesayangannya itu sedang sibuk memasak.

Shaka langsung memeluk istrinya dari belakang sambil mengusal pada ceruk leher Hana.

"Morning Baby.." Shaka berucap dengan begitu lembut.

Bukannya menjawab Hana yang saat ini sedang mencincang bawang justru semakin menghentakkan pisaunya dengan keras hingga membuat Shaka terkejut.

"Masak apa sih." tanya Shaka yang sejak tadi tak mendapat respon dari Hana.

"Masak KAMU." jawab Hana sedikit ngegas.

"Kok masak aku, nanti kalau dimasak kamu nggak punya suami dong." Shaka masih berusaha menggoda Hana.

Hana kini meletakkan pisau nya dengan kasar lalu berbalik menatap Shaka dengan nyalang.

"Biarin aku nggak punya suami sekalian kalau suamiku ternyata tukang selingkuh."

Shaka tentu langsung mengernyit saat Hana menuduh dirinya selingkuh.

"Selingkuh? siapa yang selingkuh sayang?"

Hana pun akhirnya mentoel bekas lipstick yang ada pada pipi Shaka dan menunjukkannya.

"Ini apa?? bekas ciuman siapa Mas sampai meluber di segala tempat begini. Mas aku kurang setia gimana sama kamu. Sekali aja nggak ditemani waktu acara kelakuan kamu udah kayak gini. Jangan-jangan selama ini kamu ke luar kota cuma alasan aja. Kamu ternyata punya wanita lain. Mas kamu JAHAT.. Kamu TEGAA.." Hana mengambil benda yang paling dekat dengannya dan langsung memukulnya. Dia meraih wortel dan terus memukul-mukul kan pada Shaka. Untung saja bukan pisau yang diambil.

"Sayang.. Aku nggak selingkuh.. awww.. Aku jelasin dulu.. aduh.. aww.." Shaka berusaha menepis pukulan Hana.

"Pokoknya aku nggak terima Mas kamu selingkuhi aku," Hana pun menghentikan pukulannya lalu diam terisak sambil berjongkok.

"Sayang.. " Shaka ikut berjongkok mendekat istrinya.

"Kamu adalah satu-satunya orang paling berharga dalam hidupku saat ini Mas, aku nggak pernah punya siapa-siapa. Aku kesepian dan haus kasih sayang. Hidupku hampa dan kini terasa berwarna saat hadirnya kamu. Tapi kalau kamu udah nggak cinta aku, kamu bosan sama aku lebih baik aku pergi aja dari dunia ini. Aku nggak sanggup lagi kalau harus diduakan dan menderita karena cintamu mas.. lebih baik aku mat.." belum selesai Hana berbicara Shaka langsung membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Baru akhirnya Shaka melepas ciumannya saat Hana sudah tidak lagi meronta.

"Aku akan jelaskan semuanya. Mas berani sumpah nggak pernah selingkuh sayang. Cuma kamu yang ada di hatiku dan tolong dengarkan aku dulu ya, please." Shaka memohon.

"Tapi itu.." Hana masih menunjuk noda lipstick di pipi Shaka.

Shaka pun akhirnya meraih tissue dan langsung membersihkannya.

"Sayang, ini bukan selingkuh justru semalam Mas mengalami kejadian paling mengerikan dalam hidup Mas." Shaka berucap sambil kedua netranya tampak berembun.

"Kenapa? apa yang terjadi?" Hana pun akhirnya jadi penasaran.

"Semalam sepulang acara mas nggak sengaja lihat seorang perempuan yang sedang berdiri di samping jembatan sayang. Mas pikir  dia mau bundir. Karena khawatir akhirnya mas coba tolongin dia, eh nggak taunya dia malah mau terkam mas. Mana ternyata wanita jadi-jadian alias waria lagi. Andai aja semalam nggak ada tukang becak yang nolongin mungkin suami kamu ini sudah terenggut kesuciannya." Shaka bercerita dengan netra berkaca-kaca.

"W-Waria? maksudnya Mas dicium Waria? emang di jembatan mana?" Hana masih membeo mendengarkan cerita Shaka.

"Di jembatan Pattimura yang. Mana kek nenek lampir lagi dandanannya. Body sih masih oke tapi wajahnya aduh nggak banget." gerutu Shaka.

"Emang Mas mau kalau dia cantik?"Hana yang semula bersedih kini hilang seketika kesedihannya.

"Amit-amit Mas masih normal sayang. Udah ada istri secantik ini masak masih nyari manusia jadi-jadian." ucap Shaka dengan wajah cemberutnya.

"Udah-udah mandi sana biar nggak ada bekasnya itu." Hana berusaha menahan tawa membayangkan bagaimana sang suami yang terkenal tegas dan dingin justru digoda waria.

"Janji jangan ceritain ke orang lain. Cukup jadi rahasia kita saja sayang. Dan lagi, jangan ketawain." Shaka menatap Hana dengan tajam.

"Iya.." Hana tersenyum manis namun setelah Shaka menghilang di balik pintu kamarnya dia baru tertawa sampai perutnya terasa sakit.

"Astaga.. mau ketawa tapi kasian. Nggak diketawain tapi konyol banget. Aduh suamiku.."

****

Setelah menempuh perjalanan panjang dengan penuh kepanikan dan ketegangan akhirnya Nico dan Diana sampai di rumah sakit tempat Mama Vania dirawat.

Hati Nico terasa hancur saat melihat sang mama harus terbaring lemah tak berdaya bahkan berbagai alat menancap di tubuhnya. Yang menjadi pertanyaan Nico adalah sakit apa yang sebenarnya diidap oleh Mamanya?

Tak berselang lama Dokter pun menghampiri Nico dan Diana. Dia meminta keduanya datan ke ruangannya untuk memberitahu kondisi Mama Vania.

"Selamat siang, Nona Diana putrinya Ibu Vania kan? kami hanya ingin mengabarkan kondisi Ibu Vania semakin memburuk. Obat yang kami resepkan sepertinya tidak diminum dengan teratur sehingga memicu pertumbuhan selnya menjadi lebih parah. Padahal dalam kondisi ini saya sudah sarankan untuk teratur minum obatnya." ucap Dokter tersebut.

"Maaf dokter, padahal saya sudah sering mengingatkan mama untuk rutin minum obat. Mungkin Mama lupa, kami juga kebetulan tidak tinggal satu rumah dengan Mama." ujar Diana merasa tak enak hati.

Nico sejak tadi masih bingung dengan arah pembicaraan Dokter dan Diana. Apalagi sepertinya Diana lebih mengerti kondisi Mama Vania ketimbang dia.

"Tunggu, ini apa yang sebenarnya terjadi? mama saya kenapa dokter?" tanya Nico penasaran.

"Ibu Vania mengidap kanker otak dan sudah stadium tiga. Apa adik anda tidak memberi tahu hal ini? selama ini adik anda nona Diana yang rutin menemani ibu anda untuk berobat." ucapan dokter tersebut jelas seperti sebuah tombak yang menghantam tepat pada jantung Nico.

Otak Nico terasa blank sejenak saat mendengar hal itu lalu kemudian dia menatap Diana yang sedang duduk di sampingnya dengan tajam.

Diana sendiri hanya bisa menunduk sambil meremas kedua tangannya dengan kuat. Bagaimana dia harus menghadapi Nico jika sudah begini.

Hingga dokter selesai menjelaskan kini Diana dan Nico berjalan keluar ruangan menuju koridor menuju ruangan dimana Mama Vania dirawat. Nico berjalan lebih dulu sementara Diana mengekor di belakangnya.

Koridor tersebut tampak lengang tak ada seorangpun yang melintas sebab tempat itu memang ruangan pasien khusus dengan perawatan kelas atas dan tak sembarangan orang bisa kesana.

"Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini padaku Diana?" NIco akhirnya membuka suara. Nico menghentikan langkahnya lalu menatap wajah Diana.

"Kak.." Diana rasanya begitu kelu untuk menjelaskannya apalagi saat ini Nico menatapnya dengan begitu tajam.

"Aku nggak nyangka ya, apa sih yang sedang kalian rencanakan? aku ini putranya, anak satu-satunya dan darah dagingnya. Dan kamu.." Nico mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkan pada Diana.

"Kamu hanya orang baru yang hadir di hidup kami, tapi bahkan mama lebih percaya kamu, hebat sekali kau menguasai keluargaku ya, ku pikir kau polos dan baik Dina, ternyata kau hanya gadis licik dan munafik. Kau pembohong bahkan setelah aku mempercayakan perasaanku padamu. Apa jangan-jangan cintamu itu juga bohong Diana? dimana janjimu agar kita saling terbuka dan terus terang?" Tampak sekali sorot kecewa di mata Nico.

"Aku bisa jelaskan kak.. semua ini nggak seperti yang  kakak sangkakan." Diana mencoba untuk menjelaskan. Dia meraih tangan Nico namun seketika Nico langsung menghempaskannya.

"Cukup, aku tidak butuh penjelasanmu. Semua ini sudah jelas dan aku muak padamu Diana. Ku pikir kamu gadis yang berbeda. Ternyata sama saja kau juga menghancurkan hatiku." Nico begitu nelangsa.

"Kak.. aku cinta kakak." Harus bagaimana diana menjelaskannya sementara Nico saat ini sudah terbakar amarah.

"Cukup, jangan katakan itu lagi. Kau tidak tahu arti cinta jangan coba-coba mengatakannya. Dan aku nggak bisa terima dengan kebohonganmu ini. Pergilah Diana.. aku bebaskan kamu sekarang. Aku tidak memaksamu untuk tetap berada di sisiku jika cara kita menjalani hubungan ini dengan dasar kebohongan. Hubungan kita salah dan ini ngak akan berhasil."

DEGG

Ucapan Nico tentu saja langsung menghantam relung hati Diana. Meskipun Diana masih awam perihal menjalin hubungan namun ucapan Nico benar-benar telah melukai perasaannya.

"Tapi kak.. Aku nggak.." Belum sempat Diana meneruskan ucapannya tiba-tiba Nico langsung mencengkeram lengan Diana.

"Tolong Diana. Beri aku waktu sendiri. Jangan menggangguku, pulanglah. Kamu tahu jalan keluar kan?" ucapan Nico memang lirih namun kata-kata dan sorot matanya sarat akan kebencian. Diana sadar suaminya benar-benar kecewa saat ini.

Tak ada yang bisa Diana lakukan lagi. Hatinya terlampau hancur dan kini dia hanya bisa menuruti kata-kata Nico dan berlari pergi meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi wajahnya.

...****************...

Terpopuler

Comments

Myra Myra

Myra Myra

sabar klw x biar Jew Nicole nnty mesti ada penyesalan

2023-12-21

1

Lusi Hariyani

Lusi Hariyani

nah kan klo gini yg d salahkn siapa yg pny penyakit yg bohong orglain yg kena kasihan diana sm aja jd tumbal mertua y sendiri

2023-12-21

4

𝘛𝘳𝘪𝘚

𝘛𝘳𝘪𝘚

nah kan kan bener,terbingkar sudah,,,seenggaknya dengerin dulu nic penjelasan diana,,, ntar nyesel trs mewek /Grin//Grin/

2023-12-21

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bimbang
2 Bab 2 Sebuah keputusan
3 Bab 3 Hari pernikahan
4 Bab 4 tak diakui
5 Bab 5 menarik perhatian
6 Bab 6 sebuah rencana
7 Bab 7 cemburu
8 Bab 8 jujur
9 Bab 9 belum siap
10 Bab 10 go public
11 Bab 11 teman toxic
12 Bab 12 teori vs praktek
13 Bab 13 alasan apa
14 Bab 14 gara-gara lumpur l
15 Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16 Bab 16 omongan tetangga
17 Bab 17 posesif
18 Bab 18 Gara-gara jamu
19 Bab 19 mirip tikus kejepit
20 Bab 20 Akhirnya terungkap
21 Bab 21 memutuskan pergi
22 Bab 22 menyesal
23 bab 23 situasi sulit
24 Bab 24 rindu tapi gengsi
25 Bab25 kabar duka
26 Bab 26 Surat perpisahan
27 Bab 27 Takut kehilangan
28 Bab 28 ada yang ketahuan
29 Bab 29 musuh dalam selimut
30 Bab 30 Demam tinggi
31 Bab 31 diusir seketika
32 Bab 32 kecil cabe rawit
33 Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34 Bab 34 Diana ngambek.
35 Bab 35 menanggung akibatnya
36 Bab 36 kembali bermanja
37 Bab 37 obrolan dua sahabat
38 Bab 38 sebuah wejangan
39 Bab 39 Menarik perhatian
40 Bab 40 Yang jadi Prioritas
41 Bab 41
42 Bab 42 pusat perhatian
43 Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44 Bab 44 sebuah hadiah
45 Bab 45 berangkat
46 Bab 46 ternyata...
47 Bab 47 kejutan
48 Bab 48 fakta yang sebenarnya
49 Bab 49 tempat damai
50 Bab 50 biang masalah
51 Bab 51 orang dari masa lalu
52 Bab 52 melampiaskan kekesalan
53 Bab 53 sedih dan senang
54 Bab 54 belum siap memaafkan
55 Bab 55 Hamil?
56 Bab 56 kembali mesra
57 Bab 57 kecurigaan Evan
58 Bab 58 penangkal mual
59 Bab 59 Dimabuk cinta
60 Bab 60 pengganggu
61 Bab 61 Musibah dan kehilangan
62 Bab 62 Keputusan Diana
63 Bab 63 sama-sama terpuruk
64 Bab 64 dukungan dari sahabat
65 Bab 65 Memperbaiki diri
66 Bab 66 masih saling cinta
67 Bab 67 tawaraan pekerjaan
68 Bab 68 Saling merindukan
69 Bab 69 aku merindukanmu
70 Bab 70 fakta yang sebenarnya
71 Bab 71 Aku temani tidur
72 Bab 72 aku ingin pacaran
73 Bab 73 rumah impian
74 Bab 74 menunggu jawaban
75 Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76 Bab 76 masih dirahasiakan
77 Bab 77 Luka di masa lalu
78 Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79 Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80 Bab 80 Akhirnya direstui
81 Bab 81 Semuanya untukmu
82 Bab 82 pulang kampung
83 Bab 83 Kehangatan keluarga
84 Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85 Bab 85 Ya, aku menerimanya
86 Bab 86 mengikhlaskan
87 Bab 87 akhir bahagia
88 karya baru
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1 Bimbang
2
Bab 2 Sebuah keputusan
3
Bab 3 Hari pernikahan
4
Bab 4 tak diakui
5
Bab 5 menarik perhatian
6
Bab 6 sebuah rencana
7
Bab 7 cemburu
8
Bab 8 jujur
9
Bab 9 belum siap
10
Bab 10 go public
11
Bab 11 teman toxic
12
Bab 12 teori vs praktek
13
Bab 13 alasan apa
14
Bab 14 gara-gara lumpur l
15
Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16
Bab 16 omongan tetangga
17
Bab 17 posesif
18
Bab 18 Gara-gara jamu
19
Bab 19 mirip tikus kejepit
20
Bab 20 Akhirnya terungkap
21
Bab 21 memutuskan pergi
22
Bab 22 menyesal
23
bab 23 situasi sulit
24
Bab 24 rindu tapi gengsi
25
Bab25 kabar duka
26
Bab 26 Surat perpisahan
27
Bab 27 Takut kehilangan
28
Bab 28 ada yang ketahuan
29
Bab 29 musuh dalam selimut
30
Bab 30 Demam tinggi
31
Bab 31 diusir seketika
32
Bab 32 kecil cabe rawit
33
Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34
Bab 34 Diana ngambek.
35
Bab 35 menanggung akibatnya
36
Bab 36 kembali bermanja
37
Bab 37 obrolan dua sahabat
38
Bab 38 sebuah wejangan
39
Bab 39 Menarik perhatian
40
Bab 40 Yang jadi Prioritas
41
Bab 41
42
Bab 42 pusat perhatian
43
Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44
Bab 44 sebuah hadiah
45
Bab 45 berangkat
46
Bab 46 ternyata...
47
Bab 47 kejutan
48
Bab 48 fakta yang sebenarnya
49
Bab 49 tempat damai
50
Bab 50 biang masalah
51
Bab 51 orang dari masa lalu
52
Bab 52 melampiaskan kekesalan
53
Bab 53 sedih dan senang
54
Bab 54 belum siap memaafkan
55
Bab 55 Hamil?
56
Bab 56 kembali mesra
57
Bab 57 kecurigaan Evan
58
Bab 58 penangkal mual
59
Bab 59 Dimabuk cinta
60
Bab 60 pengganggu
61
Bab 61 Musibah dan kehilangan
62
Bab 62 Keputusan Diana
63
Bab 63 sama-sama terpuruk
64
Bab 64 dukungan dari sahabat
65
Bab 65 Memperbaiki diri
66
Bab 66 masih saling cinta
67
Bab 67 tawaraan pekerjaan
68
Bab 68 Saling merindukan
69
Bab 69 aku merindukanmu
70
Bab 70 fakta yang sebenarnya
71
Bab 71 Aku temani tidur
72
Bab 72 aku ingin pacaran
73
Bab 73 rumah impian
74
Bab 74 menunggu jawaban
75
Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76
Bab 76 masih dirahasiakan
77
Bab 77 Luka di masa lalu
78
Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79
Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80
Bab 80 Akhirnya direstui
81
Bab 81 Semuanya untukmu
82
Bab 82 pulang kampung
83
Bab 83 Kehangatan keluarga
84
Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85
Bab 85 Ya, aku menerimanya
86
Bab 86 mengikhlaskan
87
Bab 87 akhir bahagia
88
karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!