Tak seperti hari-hari biasanya pagi ini langit sedikit mendung. Hembusan lembut angin yang menyapu dedaunan membuat suasana semakin syahdu.
Dengan langkahnya yang penuh hati-hati seorang gadis tengah membawa se keranjang tomat hasil kebun yang didapatkan hari ini. Hujan semalaman telah membuat semua tempat menjadi becek apalagi jalan kecil yang menghubungkan ladang dan kediamannya.
BRRUUKK...
Dan akhirnya hal itu terjadi juga. Gadis itu terjerembab di sisi ladang dan membuat tomat-tomatnya jatuh berserakan. Tak peduli dengan keadaannya gadis itu langsung memunguti tomat-tomat tersebut ke dalam keranjang.
"Astaghfirullah.. Diana.. kamu kenapa lagi nak yaampun sudah ibu bilang kalau ke ladang pakai sepatu kebun yang dibelikan kakakmu. Sendal kamu itu sudah licin alasnya jadinya jatuh kan." seorang wanita paruh baya menghampiri putrinya dan membantu untuk berdiri.
"Hehe.. Diana udah nyaman pake sendal loh bu." Bu Wati, ibu kandung Diana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol anak gadisnya.
"Yasudah, ayo cepat mandi itu wajah sama badan kamu penuh lumpur." Ujar Bu Wati.
Diana pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setiap hari gadis yang baru saja lulus SMA itu selalu membantu kedua orang tuanya mengurus ladang. Satu-satunya mata pencaharian keluarga itu demi menyambung hidup.
Sejak kecil berkecimpung dengan merawat tanaman dan sayur mayur membuat Diana terbiasa dengan semua pekerjaan itu. Kehidupan sederhana yang dijalani olehnya membuat gadis itu tak pernah menuntut banyak hal. Bahkan dia tak pernah bercita-cita melanjutkan kuliah meski nilainya cukup bagus di sekolah. dia sadar kemampuan kedua orang tuanya yang semakin tua dan tentu tak ingin terus membebani mereka.
Namun secercah harapan datang saat seorang pria mendatangi keluarganya mengaku sebagai putra kandung ayahnya. Diana tak tahu pasti bagaimana hal itu terjadi namun yang pasti ayahnya juga mengakui hal tersebut.
Shaka, nama kakaknya itu yang perlahan telah membantu kebutuhan keluarganya. Gubuk sederhana yang hanya berdinding papan kini telah berubah menjadi rumah kokoh dan nyaman yang layak di huni. Juga tawaran untuk menempuh pendidikan kuliah yang biayanya akan ditanggung penuh oleh kakaknya.
Diana selalu bahagia ketika mengingat semua kebaikan yang diberikan oleh kakaknya. Dan yang paling membuatnya bahagia adalah kasih sayang yang didapatkan dari kakaknya. Selama ini dia cukup kesepian karena tak memiliki saudara.
TOK.. TOK.. TOK..
"Diana, sudah selesai apa belum nak mandi nya? ada tamu yang mencari kamu di depan." suara Bu Wati langsung membuyarkan lamunan Diana.
"Ya Bu, sebentar lagi selesai." cepat-cepat Diana menyelesaikan ritual mandinya kemudian bergegas berganti pakaian dan menyisir rambutnya.
Setelah rapi barulah Diana keluar menuju ruang tamu. Dia sangat senang saat melihat kakaknya sudah berada di rumah.
"Kakak." sapa Diana dengan bahagia saat melihat Shaka dan Hana, istrinya.
"Diana, salim dulu sama om dan tante." Diana menoleh ke samping dan mendapati sepasang suami istri paruh baya yang dia kenal siapa mereka.
Dengan sopan Diana langsung menyalami mereka dengan mencium tangannya.
"Diana, masih ingat kan sama om dan tante." ucap Vania.
"Iya, Tante Vania juga om Nathan." ucap Diana.
Meski hanya bertemu sekali di pernikahan kakaknya Diana tak pernah lupa dengan dua orang tersebut, apalagi satu orang yang tak pernah dia lupakan.
"Dimana Kak Nico?" gumam Diana dalam hati.
Namun lamunannya langsung terhenti saat Vania, ibu dari Nico membuka suara.
"Diana, kedatangan kami kesini sebetulnya ingin menanyakan secara langsung apakah kamu bersedia jika kami jodohkan dan menikah dengan putra tante, Nico?"
"M-Menikah?" Diana sangat terkejut saat wanita itu menawarinya menikah. Namun saat melihat kedua orang tua dan kakaknya tampak biasa saja membuatnya semakin bingung.
"Maksudnya.. tante meminta saya untuk menikah dengan kak Nico?" Diana kembali mengulang pertanyaan tersebut karena saking terkejutnya.
"Iya Diana, sejak awal bertemu dengan kamu tante sudah merasa sangat senang dan yakin bahwa kamu adalah gadis yang baik, cocok menjadi menantu kami." ucap Vania.
"Betul apa yang dikatakan istri saya." Nathan yang terkenal dengan sikapnya yang sangat dingin dan irit bicara akhirnya buka suara.
Diana menjadi semakin bimbang kemudian dia menatap kedua orang tuanya.
"Bapak tidak pernah memaksa kamu nak, keputusan ada di tangan kamu." ucap Pak Herman.
Sementara Shaka dan Hana tampak tersenyum lembut seolah memberikan semangat untuk sang adik.
"Tidak perlu terburu-buru Diana, kamu pikirkan saja dulu tawaran tante." ucap Vania.
Diana terdiam, tapi melihat sorot mata Vania membuatnya merasa bimbang. Kelihatan sekali bahwa wanita itu sangat mengharapkan dirinya.
"Tante, maaf sebelumnya tapi ada yang ingin saya tanyakan, mohon ijin jika kita bicara berdua saja? Boleh kan Bu? setelah berbicara dengan Vania kini Diana menatap ibunya.
"Tentu sayang, ayo kita mengobrol berdua." jawab Vania antusias.
Setelah ijin ke semua orang mereka pun mengobrol berdua.
Dengan memandang hamparan berbagai macam tanaman sayur yang ada di ladang samping rumahnya kini Diana dan Viona duduk di teras. Entah keberanian dari mana yang membuat Diana ingin sekali menanyakan banyak hal.
"Diana, apa yang ingin kamu bicarakan nak?" tanya Vania.
"Emm.. tante, saya hanya ingin bertanya kenapa harus saya? kan.. masih banyak gadis lain yang lebih cantik dan lebih mapan. Saya kana hanya.."
"Karena tante tahu kamu adalah gadis yang baik." jawab Vania cepat.
"B-Baik.. maksudnya dalam hal apa tante?" Diana masih ingin tahu alasan sebenarnya.
"Begini, tante melihat kamu begitu dewasa meski usia masih muda, kamu cantik, tulus dan rajin. Tante yakin kamu nggak pernah neko-neko. Untuk kata kamu tadi tentang mapan, tante tidak butuh itu, tapi tante butuh seorang yang tepat. Sejak awal tante sudah merasa cocok sama kamu." Vania tampak menggigit bibir setelah mengucapkan hal itu.
Diana memang bisa dibilang gadis polos, namun siapa sangka bahwa dirinya memiliki kepekaan yang luar biasa. Dia tahu bahwa semua yang diucapkan Vania masih belum sepenuhnya jujur.
"Hanya itu saja tante? tapi saya rasa ada hal lain yang membuat tante ingin menikahkan Kak Nico dengan saya. Apa karena alasan balas budi telah memberikan rumah dan ladang ini?" KIni Diana tak lagi basa basi.
Dia tahu jika kakek dari Nico yang telah memberikan tanah ini untuk ditempati dan dijadikan ladang Pak Herman untuk menyambung hidup. Kisah kelam di masa lalu Pak Herman yang membuatnya kesulitan dalam mencari pekerjaan membuatnya harus menerima pemberian ini sebagai imbalan karena telah menyelamatkan nyawa Kakek Nico dari kecelakaan.
"Bukan.. bukan itu, sebenarnya tante..." ucapan Vania terjeda. Dia tampak menundukkan kepala.
"Kenapa tante?" Diana kembali menuntut jawaban.
"Tante sakit, hidup tante mungkin nggak akan lama lagi. Dokter mendiagnosa bahwa tante mengidap kanker otak stadium tiga. Oleh sebab itu tante ingin memberikan seseorang yang bisa menemani Nico. Tante tidak ingin dia mendapatkan pasangan yang salah." Air mata keluar dari kedua netra wanita cantik yang telah berusia tak muda lagi itu.
Diana tergugu dengan pernyataan Vania. Rasa terkejutnya akan tawaran menikah itu saja belum mereda kini lagi-lagi dia harus mendengar fakta lain yang tak kalah mengejutkan.
Rasanya Diana bingung harus bersikap bagaimana. Meski dia tak terlalu dekat sebelumnya dengan Vania namun melihat tangis pilunya tentu membuatnya tak tega.
"Seharusnya tante tak mengatakan hal ini tapi kamu terus meminta tante untuk jujur, dan kini tante sudah jujur. Nico adalah putra tante satu-satunya dan tentu tante ingin dia selalu bahagia. Dan kemarin Nico sempat alah pilih pasangan. Tante takut hal itu kembali terjadi." ujar Vania samil menyeka air matanya.
"Apa Kak Nico tahu alasan perjodohan ini?" tanya Diana kemudian.
Vania menggeleng kemudian meraih tangan Diana dan meremasnya.
"Semua orang tidak ada yang tahu penyakit yang tante idap. Hanya suami dan dokter yang menangani tante. Kini kamu yang akhirnya juga tahu." Vania tersenyum kecut.
"Tapi kenapa tante tidak jujur saja pada Kak Nico?" tanya Diana lirih.
"Tidak sayang, sebelum Nico menemukan jodohnya Tante tidak mau membuatnya merasa terbebani dengan kondisi tante." ujar Vania.
Melihat tubuh ringkih wanita di sampingnya membuat Diana tersentuh. Benar-benar luar biasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Meski telah bertaruh nyawa melahirkan namun tugasnya tak sampai di situ saja, seorang ibu masih harus berjuang membesarkan, mendidik, dan memastikan kebahagiaan sang anak seumur hidupnya.
Diana tanpa ragu langsung memeluk Vania. Berharap dengan pelukan itu sedikit memberikan semangat untuknya.
Hingga setelah tangis Vania mereda dan lebih tenang kini Diana dan Vania kembali bergabung dengan semua keluarga. Vania sendiri pasrah dengan keputusan Diana.
"Baiklah, aku memutuskan untuk menerima perjodohan ini." ucap Diana kepada semua orang.
Tentu saja semua terkejut dan tak menyangka dengan keputusan Diana. Senyum bahagia langsung terpancar di wajah Vania.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Esther Lestari
ternyata orang tua Nico dan Diana sdh saling kenal.
2023-11-30
2
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
semoga saja niat tulus diana yang bersedia menikah dengan Nico gayung bersambut dengan Nico.
2023-11-29
0
Novi Sri
waduh br jg Bab 2 udh iris bawang aja nih,sehat selalu ya tante vania,biapun diana usianya msh kcl tp bs bt nico klepek²
2023-11-27
1