Bab 2 Sebuah keputusan

Tak seperti hari-hari biasanya pagi ini langit sedikit mendung. Hembusan lembut angin yang menyapu dedaunan membuat suasana semakin syahdu.

Dengan langkahnya yang penuh hati-hati seorang gadis tengah membawa se keranjang tomat hasil kebun yang didapatkan hari ini. Hujan semalaman telah membuat semua tempat menjadi becek apalagi jalan kecil yang menghubungkan ladang dan kediamannya.

BRRUUKK...

Dan akhirnya hal itu terjadi juga. Gadis itu terjerembab di sisi ladang dan membuat tomat-tomatnya jatuh berserakan. Tak peduli dengan keadaannya gadis itu langsung memunguti tomat-tomat tersebut ke dalam keranjang.

"Astaghfirullah.. Diana.. kamu kenapa lagi nak yaampun sudah ibu bilang kalau ke ladang pakai sepatu kebun yang dibelikan kakakmu. Sendal kamu itu sudah licin alasnya jadinya jatuh kan." seorang wanita paruh baya menghampiri putrinya dan membantu untuk berdiri.

"Hehe.. Diana udah nyaman pake sendal loh bu." Bu Wati, ibu kandung Diana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol anak gadisnya.

"Yasudah, ayo cepat mandi itu wajah sama badan kamu penuh lumpur." Ujar Bu Wati.

Diana pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setiap hari gadis yang baru saja lulus SMA itu selalu membantu kedua orang tuanya mengurus ladang. Satu-satunya mata pencaharian keluarga itu demi menyambung hidup.

Sejak kecil berkecimpung dengan merawat tanaman dan sayur mayur membuat Diana terbiasa dengan semua pekerjaan itu. Kehidupan sederhana yang dijalani olehnya membuat gadis itu tak pernah menuntut banyak hal. Bahkan dia tak pernah bercita-cita melanjutkan kuliah meski nilainya cukup bagus di sekolah. dia sadar  kemampuan kedua orang tuanya yang semakin tua dan tentu tak ingin terus membebani mereka.

Namun secercah harapan datang saat seorang pria mendatangi keluarganya mengaku sebagai putra kandung ayahnya. Diana tak tahu pasti bagaimana hal itu terjadi namun yang pasti ayahnya juga mengakui hal tersebut.

Shaka, nama kakaknya itu yang perlahan telah membantu kebutuhan keluarganya. Gubuk sederhana yang hanya berdinding papan kini telah berubah menjadi rumah kokoh dan nyaman yang layak di huni. Juga tawaran untuk menempuh pendidikan kuliah yang biayanya akan ditanggung penuh oleh kakaknya.

Diana selalu bahagia ketika mengingat semua kebaikan yang diberikan oleh kakaknya. Dan yang paling membuatnya bahagia adalah kasih sayang yang didapatkan dari kakaknya. Selama ini dia cukup kesepian karena tak memiliki saudara.

TOK.. TOK.. TOK..

"Diana, sudah selesai apa belum nak mandi nya? ada tamu yang mencari kamu di depan." suara Bu Wati langsung membuyarkan lamunan Diana.

"Ya Bu, sebentar lagi selesai." cepat-cepat Diana menyelesaikan ritual mandinya kemudian bergegas berganti pakaian dan menyisir rambutnya.

Setelah rapi barulah Diana keluar menuju ruang tamu. Dia sangat senang saat melihat kakaknya sudah berada di rumah.

"Kakak." sapa Diana dengan bahagia saat melihat Shaka dan Hana, istrinya.

"Diana, salim dulu sama om dan tante." Diana menoleh ke samping dan mendapati sepasang suami istri paruh baya yang dia kenal siapa mereka.

Dengan sopan Diana langsung menyalami mereka dengan mencium tangannya.

"Diana, masih ingat kan sama om dan tante." ucap Vania.

"Iya, Tante Vania juga om Nathan." ucap Diana.

Meski hanya bertemu sekali di pernikahan kakaknya Diana tak pernah lupa dengan dua orang tersebut, apalagi satu orang yang tak pernah dia lupakan.

"Dimana Kak Nico?" gumam Diana dalam hati.

Namun lamunannya langsung terhenti saat Vania, ibu dari Nico membuka suara.

"Diana, kedatangan kami kesini sebetulnya ingin menanyakan secara langsung apakah kamu bersedia jika kami jodohkan dan menikah dengan putra tante, Nico?"

"M-Menikah?" Diana sangat terkejut saat wanita itu menawarinya menikah. Namun saat melihat kedua orang tua dan kakaknya tampak biasa saja membuatnya semakin bingung.

"Maksudnya.. tante meminta saya untuk menikah dengan kak Nico?" Diana kembali mengulang pertanyaan tersebut karena saking terkejutnya.

"Iya Diana, sejak awal bertemu dengan kamu tante sudah merasa sangat senang dan yakin bahwa kamu adalah gadis yang baik, cocok menjadi menantu kami." ucap Vania.

"Betul apa yang dikatakan istri saya." Nathan yang terkenal dengan sikapnya yang sangat dingin dan irit bicara akhirnya buka suara.

Diana menjadi semakin bimbang kemudian dia menatap kedua orang tuanya.

"Bapak tidak pernah memaksa kamu nak, keputusan ada di tangan kamu." ucap Pak Herman.

Sementara Shaka dan Hana tampak tersenyum lembut seolah memberikan semangat untuk sang adik.

"Tidak perlu terburu-buru Diana, kamu pikirkan saja dulu tawaran tante." ucap Vania.

Diana terdiam, tapi melihat sorot mata Vania membuatnya merasa bimbang. Kelihatan sekali bahwa wanita itu sangat mengharapkan dirinya.

"Tante, maaf sebelumnya tapi ada yang ingin saya tanyakan, mohon ijin jika kita bicara berdua saja? Boleh kan Bu? setelah berbicara dengan Vania kini Diana menatap ibunya.

"Tentu sayang, ayo kita mengobrol berdua." jawab Vania antusias.

Setelah ijin ke semua orang mereka pun mengobrol berdua.

Dengan memandang hamparan berbagai macam tanaman sayur yang ada di ladang samping rumahnya kini Diana dan Viona duduk di teras. Entah keberanian dari mana yang membuat Diana ingin sekali menanyakan banyak hal.

"Diana, apa yang ingin kamu bicarakan nak?" tanya Vania.

"Emm.. tante, saya hanya ingin bertanya kenapa harus saya? kan.. masih banyak gadis lain yang lebih cantik dan lebih mapan. Saya kana hanya.."

"Karena tante tahu kamu adalah gadis yang baik." jawab Vania cepat.

"B-Baik.. maksudnya dalam hal apa tante?" Diana masih ingin tahu alasan sebenarnya.

"Begini, tante melihat kamu begitu dewasa meski usia masih muda, kamu cantik, tulus dan rajin. Tante yakin kamu nggak pernah neko-neko. Untuk kata kamu tadi tentang mapan, tante tidak butuh itu, tapi tante butuh seorang yang tepat. Sejak awal tante sudah merasa cocok sama kamu." Vania tampak menggigit bibir setelah mengucapkan hal itu.

Diana memang bisa dibilang gadis polos, namun siapa sangka bahwa dirinya memiliki kepekaan yang luar biasa. Dia tahu bahwa semua yang diucapkan Vania masih belum sepenuhnya jujur.

"Hanya itu saja tante? tapi saya rasa ada hal lain yang membuat tante ingin menikahkan Kak Nico dengan saya. Apa karena alasan balas budi telah memberikan rumah dan ladang ini?" KIni Diana tak lagi basa basi.

Dia tahu jika kakek dari Nico yang telah memberikan tanah ini untuk ditempati dan dijadikan ladang Pak Herman untuk menyambung hidup. Kisah kelam di masa lalu Pak Herman yang membuatnya kesulitan dalam mencari pekerjaan membuatnya harus menerima pemberian ini sebagai imbalan karena telah menyelamatkan nyawa Kakek Nico dari kecelakaan.

"Bukan.. bukan itu, sebenarnya tante..." ucapan Vania terjeda. Dia tampak menundukkan kepala.

"Kenapa tante?" Diana kembali menuntut jawaban.

"Tante sakit, hidup tante mungkin nggak akan lama lagi. Dokter mendiagnosa bahwa tante mengidap kanker otak stadium tiga. Oleh sebab itu tante ingin memberikan seseorang yang bisa menemani Nico. Tante tidak ingin dia mendapatkan pasangan yang salah." Air mata keluar dari kedua netra wanita cantik yang telah berusia tak muda lagi itu.

Diana tergugu dengan pernyataan Vania. Rasa terkejutnya akan tawaran menikah itu saja belum mereda kini lagi-lagi dia harus mendengar fakta lain yang tak kalah mengejutkan.

Rasanya Diana bingung harus bersikap bagaimana. Meski dia tak terlalu dekat sebelumnya dengan Vania namun melihat tangis pilunya tentu membuatnya tak tega.

"Seharusnya tante tak mengatakan hal ini tapi kamu terus meminta tante untuk jujur, dan kini tante sudah jujur. Nico adalah putra tante satu-satunya dan tentu tante ingin dia selalu bahagia. Dan kemarin Nico sempat alah pilih pasangan. Tante takut hal itu kembali terjadi." ujar Vania samil menyeka air matanya.

"Apa Kak Nico tahu alasan perjodohan ini?" tanya Diana kemudian.

Vania menggeleng kemudian meraih tangan Diana dan meremasnya.

"Semua orang tidak ada yang tahu penyakit yang tante idap. Hanya suami dan dokter yang menangani tante. Kini kamu yang akhirnya juga tahu." Vania tersenyum kecut.

"Tapi kenapa tante tidak jujur saja pada Kak Nico?" tanya Diana lirih.

"Tidak sayang, sebelum Nico menemukan jodohnya Tante tidak mau membuatnya merasa terbebani dengan kondisi tante." ujar Vania.

Melihat tubuh ringkih wanita di sampingnya membuat Diana tersentuh. Benar-benar luar biasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Meski telah bertaruh nyawa melahirkan namun tugasnya tak sampai di situ saja, seorang ibu masih harus berjuang membesarkan, mendidik, dan memastikan kebahagiaan sang anak seumur hidupnya.

Diana tanpa ragu langsung memeluk Vania. Berharap dengan pelukan itu sedikit memberikan semangat untuknya.

Hingga setelah tangis Vania mereda dan lebih tenang kini Diana dan Vania kembali bergabung dengan semua keluarga. Vania sendiri pasrah dengan keputusan Diana.

"Baiklah, aku memutuskan untuk menerima perjodohan ini." ucap Diana kepada semua orang.

Tentu saja semua terkejut dan tak menyangka dengan keputusan Diana. Senyum bahagia langsung terpancar di wajah Vania.

...****************...

Terpopuler

Comments

Esther Lestari

Esther Lestari

ternyata orang tua Nico dan Diana sdh saling kenal.

2023-11-30

2

🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ

🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ

semoga saja niat tulus diana yang bersedia menikah dengan Nico gayung bersambut dengan Nico.

2023-11-29

0

Novi Sri

Novi Sri

waduh br jg Bab 2 udh iris bawang aja nih,sehat selalu ya tante vania,biapun diana usianya msh kcl tp bs bt nico klepek²

2023-11-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bimbang
2 Bab 2 Sebuah keputusan
3 Bab 3 Hari pernikahan
4 Bab 4 tak diakui
5 Bab 5 menarik perhatian
6 Bab 6 sebuah rencana
7 Bab 7 cemburu
8 Bab 8 jujur
9 Bab 9 belum siap
10 Bab 10 go public
11 Bab 11 teman toxic
12 Bab 12 teori vs praktek
13 Bab 13 alasan apa
14 Bab 14 gara-gara lumpur l
15 Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16 Bab 16 omongan tetangga
17 Bab 17 posesif
18 Bab 18 Gara-gara jamu
19 Bab 19 mirip tikus kejepit
20 Bab 20 Akhirnya terungkap
21 Bab 21 memutuskan pergi
22 Bab 22 menyesal
23 bab 23 situasi sulit
24 Bab 24 rindu tapi gengsi
25 Bab25 kabar duka
26 Bab 26 Surat perpisahan
27 Bab 27 Takut kehilangan
28 Bab 28 ada yang ketahuan
29 Bab 29 musuh dalam selimut
30 Bab 30 Demam tinggi
31 Bab 31 diusir seketika
32 Bab 32 kecil cabe rawit
33 Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34 Bab 34 Diana ngambek.
35 Bab 35 menanggung akibatnya
36 Bab 36 kembali bermanja
37 Bab 37 obrolan dua sahabat
38 Bab 38 sebuah wejangan
39 Bab 39 Menarik perhatian
40 Bab 40 Yang jadi Prioritas
41 Bab 41
42 Bab 42 pusat perhatian
43 Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44 Bab 44 sebuah hadiah
45 Bab 45 berangkat
46 Bab 46 ternyata...
47 Bab 47 kejutan
48 Bab 48 fakta yang sebenarnya
49 Bab 49 tempat damai
50 Bab 50 biang masalah
51 Bab 51 orang dari masa lalu
52 Bab 52 melampiaskan kekesalan
53 Bab 53 sedih dan senang
54 Bab 54 belum siap memaafkan
55 Bab 55 Hamil?
56 Bab 56 kembali mesra
57 Bab 57 kecurigaan Evan
58 Bab 58 penangkal mual
59 Bab 59 Dimabuk cinta
60 Bab 60 pengganggu
61 Bab 61 Musibah dan kehilangan
62 Bab 62 Keputusan Diana
63 Bab 63 sama-sama terpuruk
64 Bab 64 dukungan dari sahabat
65 Bab 65 Memperbaiki diri
66 Bab 66 masih saling cinta
67 Bab 67 tawaraan pekerjaan
68 Bab 68 Saling merindukan
69 Bab 69 aku merindukanmu
70 Bab 70 fakta yang sebenarnya
71 Bab 71 Aku temani tidur
72 Bab 72 aku ingin pacaran
73 Bab 73 rumah impian
74 Bab 74 menunggu jawaban
75 Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76 Bab 76 masih dirahasiakan
77 Bab 77 Luka di masa lalu
78 Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79 Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80 Bab 80 Akhirnya direstui
81 Bab 81 Semuanya untukmu
82 Bab 82 pulang kampung
83 Bab 83 Kehangatan keluarga
84 Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85 Bab 85 Ya, aku menerimanya
86 Bab 86 mengikhlaskan
87 Bab 87 akhir bahagia
88 karya baru
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1 Bimbang
2
Bab 2 Sebuah keputusan
3
Bab 3 Hari pernikahan
4
Bab 4 tak diakui
5
Bab 5 menarik perhatian
6
Bab 6 sebuah rencana
7
Bab 7 cemburu
8
Bab 8 jujur
9
Bab 9 belum siap
10
Bab 10 go public
11
Bab 11 teman toxic
12
Bab 12 teori vs praktek
13
Bab 13 alasan apa
14
Bab 14 gara-gara lumpur l
15
Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16
Bab 16 omongan tetangga
17
Bab 17 posesif
18
Bab 18 Gara-gara jamu
19
Bab 19 mirip tikus kejepit
20
Bab 20 Akhirnya terungkap
21
Bab 21 memutuskan pergi
22
Bab 22 menyesal
23
bab 23 situasi sulit
24
Bab 24 rindu tapi gengsi
25
Bab25 kabar duka
26
Bab 26 Surat perpisahan
27
Bab 27 Takut kehilangan
28
Bab 28 ada yang ketahuan
29
Bab 29 musuh dalam selimut
30
Bab 30 Demam tinggi
31
Bab 31 diusir seketika
32
Bab 32 kecil cabe rawit
33
Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34
Bab 34 Diana ngambek.
35
Bab 35 menanggung akibatnya
36
Bab 36 kembali bermanja
37
Bab 37 obrolan dua sahabat
38
Bab 38 sebuah wejangan
39
Bab 39 Menarik perhatian
40
Bab 40 Yang jadi Prioritas
41
Bab 41
42
Bab 42 pusat perhatian
43
Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44
Bab 44 sebuah hadiah
45
Bab 45 berangkat
46
Bab 46 ternyata...
47
Bab 47 kejutan
48
Bab 48 fakta yang sebenarnya
49
Bab 49 tempat damai
50
Bab 50 biang masalah
51
Bab 51 orang dari masa lalu
52
Bab 52 melampiaskan kekesalan
53
Bab 53 sedih dan senang
54
Bab 54 belum siap memaafkan
55
Bab 55 Hamil?
56
Bab 56 kembali mesra
57
Bab 57 kecurigaan Evan
58
Bab 58 penangkal mual
59
Bab 59 Dimabuk cinta
60
Bab 60 pengganggu
61
Bab 61 Musibah dan kehilangan
62
Bab 62 Keputusan Diana
63
Bab 63 sama-sama terpuruk
64
Bab 64 dukungan dari sahabat
65
Bab 65 Memperbaiki diri
66
Bab 66 masih saling cinta
67
Bab 67 tawaraan pekerjaan
68
Bab 68 Saling merindukan
69
Bab 69 aku merindukanmu
70
Bab 70 fakta yang sebenarnya
71
Bab 71 Aku temani tidur
72
Bab 72 aku ingin pacaran
73
Bab 73 rumah impian
74
Bab 74 menunggu jawaban
75
Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76
Bab 76 masih dirahasiakan
77
Bab 77 Luka di masa lalu
78
Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79
Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80
Bab 80 Akhirnya direstui
81
Bab 81 Semuanya untukmu
82
Bab 82 pulang kampung
83
Bab 83 Kehangatan keluarga
84
Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85
Bab 85 Ya, aku menerimanya
86
Bab 86 mengikhlaskan
87
Bab 87 akhir bahagia
88
karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!