Ada suasana sedikit kecanggungan saat Nico kembali memasuk ruangan sang Mama setelah dirinya menghampiri dokter Dimas tadi.
Apalagi Diana yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dek, udah sore kita balik yuk. Mama nggak apa-apa kan kalau kami pulang dulu?" ucap Nico.
"Nggak apa-apa kan ada papa kamu yang temani mamma." Mama Vania mengulas senyum agar putranya tak khawatir.
"Ma, Pa.. Diana pulang dulu ya." pamit Diana kepada kedua mertuanya diikuti Nico.
Sepanjang perjalanan pulang keduanya tampak diam, entah kenapa Diana rasanya begitu canggung ingin bicara setelah Nico pergi menemui dokter Dimas tadi.
Dia memang senang mengetahui Nico sudah mulai menunjukkan rasa cemburunya pada dirinya namun satu sisi Diana juga merasa bersalah, apakah menjebak suaminya dengan cara seperti itu tak akan menimbulkan dosa.
Sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak sadar bahwa mereka sudah sampai pada basemen apartemen. Nico lebih dulu keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Diana.
"Nggak mau turun?" tanya NIco saat Diana masih sibuk melamun.
"O-oh.. iya.."Cepat-cepat Diana turun dari mobil.
Keduanya menaiki lift juga masih tanpa saling diam. Diana sejak tadi terus menunduk sementara Nico yang memang lebih tinggi dari Diana dengan leluasa memperhatikan istrinya itu.
Sampai di unit apartemennya Diana langsung memasuki kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya yang entah kenapa hari ini rasanya begitu melelahkan padahal tak banyak aktivitas.
Entahlah yang membuatnya lelah sebenarnya tubuhnya atau hatinya. Lelah karena kepastian hubungan pernikahan ini.
TOK..TOK.. TOK..
Diana mendengar suara pintu kamarnya tengah di ketuk.
"Dek, ini kakak boleh masuk nggak?" ucap Nico dari balik pintu.
Dengan segera Diana bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.
"Boleh kakak masuk?" tanya Nico. Sementara Diana hanya mengangguk lalu membuka pintu kamar nya lebih lebar.
Keduanya duduk bersebelahan di sisi ranjang. Nico memperhatikan seisi kamar Diana yang tampak rapi dan khas kamar gadis. Namun yang mencuri perhatiannya adalah foto pernikahan mereka yang terbingkai cantik di atas meja.
"A-ada perlu apa kak?" Diana memberanikan diri bertanya.
"Oh ya.. nggak ada apa-apa cuma pengen ngobrol aja." Nico sibuk memperhatikan kamar Diana sampai lupa akan membicarakan apa.
"Diana.."
"Ya.."
"Apa yang kamu rasakan dengan pernikahan ini?" tanya Nico akhirnya.
Diana hanya menunduk dan menggeleng. Entahlah rasanya tak ada yang ingin dia gambarkan dalam pernikahan yang terasa hambar ini.
"Kamu marah sama kakak?" tanya Nico kemudian.
Diana pun mengangkat wajahnya dan menatap Nico. Binar di kedua netranya bisa Nico lihat ada kesedihan yang tersimpan di benaknya.
"Kenapa aku harus marah sama kakak?"
"Mungkin kamu marah saat kakak mengakui kamu adikku di depan teman-temanku waktu itu." ujar Nico.
"Itu kan hak kak Nico, mau mengaku atau tidak." Diana berusaha biasa saja nyatanya hatinya terlampau sakit mengingatnya.
Namun sebuah genggaman hangat di tangannya mampu membuat kesedihan itu sejenak teralihkan. Nico menggenggam tangan Diana.
"Maafkan kakak tidak bermaksud menyembunyikan pernikahan ini, hanya saja waktu itu bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan pada mereka. Teman-teman kakak itu sedikit heboh apalagi kalau mereka merasa tak diundang pasti makin heboh.. Kakak cuma nggak mau kamu merasa terganggu." Nico akhirnya menjelaskan maksudnya.
"Jadi.. kakak tidak keberatan dengan pernikahan ini?" tanya Diana.
"Nggak lah.. kalau di pikir-pikir ucapan Mama ada benarnya, biar masih muda kamu pandai dalam segala hal." Nico tersenyum menatap Diana.
"Awalnya aku sangat senang menikah degan kakak, tapi setelah Kak Nico mengakui ku adik di depan teman-teman kakak aku sangat sedih." Kedua netra Diana mulai berembun saat mengingatnya.
Nico langsung meraih bahu Diana dan merengkuhnya dalam pelukan. Dan ini adalah pelukan pertama yang dilakukan suaminya pada dirinya.
"Maaf ya.. maafkan kakak, janji nggak begini lagi." ucap Nico samil mengusap lembut puncak kepala Diana. Setelah dirasa Diana mulai tenang barulah dia mengurai pelukannya.
"Maaf kakak belum memperlakukan kamu seperti istri selayaknya. Kemarin kakak masih berusaha meyakinkan hati, kakak pernah kecewa karena cinta dan menyembuhkan hal itu butuh waktu. Tapi sekarang aku sadar bahwa ada masa depan yang harus aku lanjutkan." Nico menatap Diana dengan senyuman.
"Apa itu berhubungan dengan ucapan teman kakak yang saat itu, kakak belum move on?" Diana memberanikan diri bertanya. Dia ingin mendengar cerita secara langsung dari suaminya.
Nico pun mengangguk. Dia ingin jujur pada Diana. Meski istrinya masih sangat muda namun dia tahu bahwa Diana memiliki kedewasaan yang cukup untuk mencerna cerita tentang kisahnya.
"Kakak pernah menyukai seseorang yang cukup lama. Diantara kami tak pernah ada hubungan, bisa dibilang itu hanya cinta sepihak. Kakak memang menyukainya namun bodohnya kakak selalu buta bahwa dia tak akan pernah mencintai kakak. Bahkan sampai kakak mengorbankan harga diri demi dia. Marah dan kecewa tapi tetap saja kakak kalah dengan perasaan cinta itu sendiri. Sampai akhirnya ada insiden yang membuat gadis itu mengakui sebuah hal yang bisa dikatakan aib kepada semua orang. Dia terang-terangan tak bisa mencintai seorang laki-laki." Nico tersenyum getir.
"Dari hal itu semua orang langsung menyoroti kakak karena selama ini hanya kakak yang setia mengejar gadis itu. Papa dan Mama yang mengetahuinya merasa kecewa. Sejak saat itu mereka terus sibuk mencarikan pasangan untuk kakak. Sampai akhirnya mereka menikahkan kakak sama kamu." Diana dengan setia mendengar cerita dari Nico tanpa menyela sama sekali.
"Lalu bagaimana perasaan kakak kepada wanita itu? jujur saja aku tak akan marah." Untung saja sebelum itu mertuanya sudah memberitahu dirinya jadi tak terlalu kaget.
"Kakak sudah melupakannya. Lagi pula sejak kejadian itu kakak dan dia sama sekali tak pernah berhubungan lagi. Dia sudah pindah ke luar negeri." ujar Nico.
Diana begitu lega mendengarnya, meski tak mengutarakan langsung namun terdengar dari helaan nafasnya.
"Dek.."
"Iya kak.."
"Soal dokter Dimas, gimana menurut kamu?" kini gantian Nico ingin tahu bagaimana perasaan Diana.
"Nggak gimana-gimana? dia baik orangnya." jawab Diana sambil tersenyum tipis.
"Ehhem.. kamu suka dia?" Nico berdehem untuk menetralkan perasaannya.
"Suka.. kak Dimas orangnya menyenangkan." ujar Diana lagi.
"Jadi.. kamu lebih suka dia daripada kakak?" Kedua netra Nico langsung membola menatap Diana.
"Maksud aku suka Kak Dimas sebagai teman. Kalau kak Nico kan suami aku, jadi beda dong." Malu-malu Diana menyebut Nico sebagai suaminya.
Mendengar dirinya disebut suami membuat Nico salah tingkah sendiri. Ah, ternyata begini rasanya dipanggil suami.
"Bedanya gimana?" goda Nico.
"Ya beda aja." Diana berusaha menghindari pertanyaan.
"Kakak bukan suami yang baik ya, kakak banyak kecewakan kamu kan?" ucap Nico.
"Sejauh ini memang belum, tapi nggak tau nanti." Diana mengendikkan bahunya.
Nico kembali meraih kedua tangan Diana dan menggenggamnya.
"Dek, mungkin kakak banyak ngecewain kamu, kakak suka bikin kamu kesel. Tapi kakak ingin memulai hubungan ini selayaknya. Memang kita menikah bukan karena rasa cinta tapi ijinkan kakak membiasakan diri. KIta jalani pelan-pelan ya." Nico menatap Diana dengan lekat.
"Cinta tumbuh karena terbiasa, dan kakak yakin dengan begini cinta diantara kita pasti akan tumbuh. Kakak akan memperlakukan kamu selayaknya seorang istri dan mengakui hubungan kita yang sebenarnya di depan semua orang." Nico menangkup salah satu pipi Diana dan mengusapnya lembut.
Mendapatkan perlakuan seperti ini memuat jantung Diana kembali berdisko ria. Ini adalah pertama kalinya mendapatkan sentuhan manis dari seorang laki-laki. Dan senangnya itu adalah suaminya sendiri.
"Bagaimana? mau kan?" tanya Nico lagi.
"Iya kak, aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kakak, katakan saja apa yang kakak mau, dan tegur aku kalau memang salah. Tapi jangan di bentak soalnya aku takut suara keras." ujar Diana jujur.
Nico langsung tersenyum lebar hingga menunjukkan deret gigi putihnya. Sungguh jika begini membuatnya semakin tampan saja.
"Iya dong mana mungkin aku membentak istri kecilku yang cantik ini." Nico mencubit kedua pipi Diana dengan gemas.
"aww.. jangan dicubit dong nanti makin dowerr." protes Diana.
"Hehehe.. maaf ya cantik. Habisnya gemesin sih." Nico mengusap-usap pipi Diana.
"Tapi ada yang ingin kakak minta satu hal sama kamu." ujar Nico.
"Apa kak?"
"Jangan terlalu dekat sama dokter Dimas, meskipun dia teman kakak tapi nggak suka aja kamu dekat dia." ujar Nico sambil memicingkan matanya.
"Dan jangan panggil dia Kak Dimas, cukup nama aja atau dokter dimas begitu." imbuhnya.
"Kak Nico cemburu?" celetuk Diana.
Nico terdiam, tapi apa yang dikatakan istrinya bisa jadi benar.
"Bisa jadi, soalnya kakak sebel lihat dia modusin kamu terus, nggak tau diri." gerutu Nico sebal.
Diana pun terkekeh melihat suaminya uring-uringan.
"Jangan ketawa ngeledek gitu aku cium nanti kamu." protes Nico.
"Emang berani?" Diana masih meledek.
CUPP..
Kedua netra Diana otomatis melotot saat benda kenyal itu menabrak bibirnya.
visual Diana
Visual Nico
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Dia Amalia
gk nyesel thor visual nya 😂🤣😂
2024-01-13
0
Marlita Indriana
visual nya keren thorrr,aku suka😍😍😍,dunia halu mak2 ya gini😁😁😁
2023-12-27
1
𝘛𝘳𝘪𝘚
cakep bener bang Nico
2023-12-05
0