Bab 8 jujur

Ada suasana sedikit kecanggungan saat Nico kembali memasuk ruangan sang Mama setelah dirinya menghampiri dokter Dimas tadi.

Apalagi Diana yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Dek, udah sore kita balik yuk. Mama nggak apa-apa kan kalau kami pulang dulu?" ucap Nico.

"Nggak apa-apa kan ada papa kamu yang temani mamma." Mama Vania mengulas senyum agar putranya tak khawatir.

"Ma, Pa.. Diana pulang dulu ya." pamit Diana kepada kedua mertuanya diikuti Nico.

Sepanjang perjalanan pulang keduanya tampak diam, entah kenapa Diana rasanya begitu canggung ingin bicara setelah Nico pergi menemui dokter Dimas tadi.

Dia memang senang mengetahui Nico sudah mulai menunjukkan rasa cemburunya pada dirinya namun satu sisi Diana juga merasa bersalah, apakah menjebak suaminya dengan cara seperti itu tak akan menimbulkan dosa.

Sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak sadar bahwa mereka sudah sampai pada basemen apartemen. Nico lebih dulu keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Diana.

"Nggak mau turun?" tanya NIco saat Diana masih sibuk melamun.

"O-oh.. iya.."Cepat-cepat Diana turun dari mobil.

Keduanya menaiki lift juga masih tanpa saling diam. Diana sejak tadi terus menunduk sementara Nico yang memang lebih tinggi dari Diana dengan leluasa memperhatikan istrinya itu.

Sampai di unit apartemennya Diana langsung memasuki kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya yang entah kenapa hari ini rasanya begitu melelahkan padahal tak banyak aktivitas.

Entahlah yang membuatnya lelah sebenarnya tubuhnya atau hatinya. Lelah karena kepastian hubungan pernikahan ini.

TOK..TOK.. TOK..

Diana mendengar suara pintu kamarnya tengah di ketuk.

"Dek, ini kakak boleh masuk nggak?" ucap Nico dari balik pintu.

Dengan segera Diana bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.

"Boleh kakak masuk?" tanya Nico. Sementara Diana hanya mengangguk lalu membuka pintu kamar nya lebih lebar.

Keduanya duduk bersebelahan di sisi ranjang. Nico memperhatikan seisi kamar Diana yang tampak rapi dan khas kamar gadis. Namun yang mencuri perhatiannya adalah foto pernikahan mereka yang terbingkai cantik di atas meja.

"A-ada perlu apa kak?" Diana memberanikan diri bertanya.

"Oh ya.. nggak ada apa-apa cuma pengen ngobrol aja." Nico sibuk memperhatikan kamar Diana sampai lupa akan membicarakan apa.

"Diana.."

"Ya.."

"Apa yang kamu rasakan dengan pernikahan ini?" tanya Nico akhirnya.

Diana hanya menunduk dan menggeleng. Entahlah rasanya tak ada yang ingin dia gambarkan dalam pernikahan yang terasa hambar ini.

"Kamu marah sama kakak?" tanya Nico kemudian.

Diana pun mengangkat wajahnya dan menatap Nico. Binar di kedua netranya bisa Nico lihat ada kesedihan yang tersimpan di benaknya.

"Kenapa aku harus marah sama kakak?"

"Mungkin kamu marah saat kakak mengakui kamu adikku di depan teman-temanku waktu itu." ujar Nico.

"Itu kan hak kak Nico, mau mengaku atau tidak." Diana berusaha biasa saja nyatanya hatinya terlampau sakit mengingatnya.

Namun sebuah genggaman hangat di tangannya mampu membuat kesedihan itu sejenak teralihkan. Nico menggenggam tangan Diana.

"Maafkan kakak tidak bermaksud menyembunyikan pernikahan ini, hanya saja waktu itu bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan pada mereka. Teman-teman kakak itu sedikit heboh apalagi kalau mereka merasa tak diundang pasti makin heboh.. Kakak cuma nggak mau kamu merasa terganggu." Nico akhirnya menjelaskan maksudnya.

"Jadi.. kakak tidak keberatan dengan pernikahan ini?" tanya Diana.

"Nggak lah.. kalau di pikir-pikir ucapan Mama ada benarnya, biar masih muda kamu pandai dalam segala hal." Nico tersenyum menatap Diana.

"Awalnya  aku sangat senang menikah degan kakak, tapi setelah Kak Nico mengakui ku adik di depan teman-teman kakak aku sangat sedih." Kedua netra Diana mulai berembun saat mengingatnya.

Nico langsung meraih bahu Diana dan merengkuhnya dalam pelukan. Dan ini adalah pelukan pertama yang dilakukan suaminya pada dirinya.

"Maaf ya.. maafkan kakak, janji nggak begini lagi." ucap Nico samil mengusap lembut puncak kepala Diana. Setelah dirasa Diana mulai tenang barulah dia mengurai pelukannya.

"Maaf kakak belum memperlakukan kamu seperti istri selayaknya. Kemarin kakak masih berusaha meyakinkan hati, kakak pernah kecewa karena cinta dan menyembuhkan hal itu butuh waktu. Tapi sekarang aku sadar bahwa ada masa depan yang harus aku lanjutkan." Nico menatap Diana dengan senyuman.

"Apa itu berhubungan dengan ucapan teman kakak yang saat itu, kakak belum move on?" Diana memberanikan diri bertanya. Dia ingin mendengar cerita secara langsung dari suaminya.

Nico pun mengangguk. Dia ingin jujur pada Diana. Meski istrinya masih sangat muda namun dia tahu bahwa Diana memiliki kedewasaan yang cukup untuk mencerna cerita tentang kisahnya.

"Kakak pernah menyukai seseorang yang cukup lama. Diantara kami tak pernah ada hubungan, bisa dibilang itu hanya cinta sepihak. Kakak memang menyukainya namun bodohnya kakak selalu buta bahwa dia tak akan pernah mencintai kakak. Bahkan sampai kakak mengorbankan harga diri demi dia. Marah dan kecewa tapi tetap saja kakak kalah dengan perasaan cinta itu sendiri. Sampai akhirnya ada insiden yang membuat gadis itu mengakui sebuah hal yang bisa dikatakan aib kepada semua orang. Dia terang-terangan tak bisa mencintai seorang laki-laki." Nico tersenyum getir.

"Dari hal itu semua orang langsung menyoroti kakak karena selama ini hanya kakak yang setia mengejar gadis itu. Papa dan Mama yang mengetahuinya merasa kecewa. Sejak saat itu mereka terus sibuk mencarikan pasangan untuk kakak. Sampai akhirnya mereka menikahkan kakak sama kamu." Diana dengan setia mendengar cerita dari Nico tanpa menyela sama sekali.

"Lalu bagaimana perasaan kakak kepada wanita itu? jujur saja aku tak akan marah." Untung saja sebelum itu mertuanya sudah memberitahu dirinya jadi tak terlalu kaget.

"Kakak sudah melupakannya. Lagi pula sejak kejadian itu kakak dan dia sama sekali tak pernah berhubungan lagi. Dia sudah pindah ke luar negeri." ujar Nico.

Diana begitu lega mendengarnya, meski tak mengutarakan langsung namun terdengar dari helaan nafasnya.

"Dek.."

"Iya kak.."

"Soal dokter Dimas, gimana menurut kamu?" kini gantian Nico ingin tahu bagaimana perasaan Diana.

"Nggak gimana-gimana? dia baik orangnya." jawab Diana sambil tersenyum tipis.

"Ehhem.. kamu suka dia?" Nico berdehem untuk menetralkan perasaannya.

"Suka.. kak Dimas orangnya menyenangkan." ujar Diana lagi.

"Jadi.. kamu lebih suka dia daripada kakak?" Kedua netra Nico langsung membola menatap Diana.

"Maksud aku suka Kak Dimas sebagai teman. Kalau kak Nico kan suami aku, jadi beda dong." Malu-malu Diana menyebut Nico sebagai suaminya.

Mendengar dirinya disebut suami membuat Nico salah tingkah sendiri. Ah, ternyata begini rasanya dipanggil suami.

"Bedanya gimana?" goda Nico.

"Ya beda aja." Diana berusaha menghindari pertanyaan.

"Kakak bukan suami yang baik ya, kakak banyak kecewakan kamu kan?" ucap Nico.

"Sejauh ini memang belum, tapi nggak tau nanti." Diana mengendikkan bahunya.

Nico kembali meraih kedua tangan Diana dan menggenggamnya.

"Dek, mungkin kakak banyak ngecewain kamu, kakak suka bikin kamu kesel. Tapi kakak ingin memulai hubungan ini selayaknya. Memang kita menikah bukan karena rasa cinta tapi ijinkan kakak membiasakan diri. KIta jalani pelan-pelan ya." Nico menatap Diana dengan lekat.

"Cinta tumbuh karena terbiasa, dan kakak yakin dengan begini cinta diantara kita pasti akan tumbuh. Kakak akan memperlakukan kamu selayaknya seorang istri dan mengakui hubungan kita yang sebenarnya di depan semua orang." Nico menangkup salah satu pipi Diana dan mengusapnya lembut.

Mendapatkan perlakuan seperti ini memuat jantung Diana kembali berdisko ria. Ini adalah pertama kalinya mendapatkan sentuhan manis dari seorang laki-laki. Dan senangnya itu adalah suaminya sendiri.

"Bagaimana? mau kan?" tanya Nico lagi.

"Iya kak, aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kakak, katakan saja apa yang kakak mau, dan tegur aku kalau memang salah. Tapi jangan di bentak soalnya aku takut suara keras." ujar Diana jujur.

Nico langsung tersenyum lebar hingga menunjukkan deret gigi putihnya. Sungguh jika begini membuatnya semakin tampan saja.

"Iya dong mana mungkin aku membentak istri kecilku yang cantik ini." Nico mencubit kedua pipi Diana dengan gemas.

"aww.. jangan dicubit dong nanti makin dowerr." protes Diana.

"Hehehe.. maaf ya cantik. Habisnya gemesin sih." Nico mengusap-usap pipi Diana.

"Tapi ada yang ingin kakak minta satu hal sama kamu." ujar Nico.

"Apa kak?"

"Jangan terlalu dekat sama dokter Dimas, meskipun dia teman kakak tapi nggak suka aja kamu dekat dia." ujar Nico sambil memicingkan matanya.

"Dan jangan panggil dia  Kak Dimas, cukup nama aja atau dokter dimas begitu." imbuhnya.

"Kak Nico cemburu?" celetuk Diana.

Nico terdiam, tapi apa yang dikatakan istrinya bisa jadi benar.

"Bisa jadi, soalnya kakak sebel lihat dia modusin kamu terus, nggak tau diri." gerutu Nico sebal.

Diana pun terkekeh melihat suaminya uring-uringan.

"Jangan ketawa ngeledek gitu aku cium nanti kamu." protes Nico.

"Emang berani?" Diana masih meledek.

CUPP..

Kedua netra Diana otomatis melotot saat benda kenyal itu menabrak bibirnya.

visual Diana

Visual Nico

...****************...

Terpopuler

Comments

Dia Amalia

Dia Amalia

gk nyesel thor visual nya 😂🤣😂

2024-01-13

0

Marlita Indriana

Marlita Indriana

visual nya keren thorrr,aku suka😍😍😍,dunia halu mak2 ya gini😁😁😁

2023-12-27

1

𝘛𝘳𝘪𝘚

𝘛𝘳𝘪𝘚

cakep bener bang Nico

2023-12-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bimbang
2 Bab 2 Sebuah keputusan
3 Bab 3 Hari pernikahan
4 Bab 4 tak diakui
5 Bab 5 menarik perhatian
6 Bab 6 sebuah rencana
7 Bab 7 cemburu
8 Bab 8 jujur
9 Bab 9 belum siap
10 Bab 10 go public
11 Bab 11 teman toxic
12 Bab 12 teori vs praktek
13 Bab 13 alasan apa
14 Bab 14 gara-gara lumpur l
15 Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16 Bab 16 omongan tetangga
17 Bab 17 posesif
18 Bab 18 Gara-gara jamu
19 Bab 19 mirip tikus kejepit
20 Bab 20 Akhirnya terungkap
21 Bab 21 memutuskan pergi
22 Bab 22 menyesal
23 bab 23 situasi sulit
24 Bab 24 rindu tapi gengsi
25 Bab25 kabar duka
26 Bab 26 Surat perpisahan
27 Bab 27 Takut kehilangan
28 Bab 28 ada yang ketahuan
29 Bab 29 musuh dalam selimut
30 Bab 30 Demam tinggi
31 Bab 31 diusir seketika
32 Bab 32 kecil cabe rawit
33 Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34 Bab 34 Diana ngambek.
35 Bab 35 menanggung akibatnya
36 Bab 36 kembali bermanja
37 Bab 37 obrolan dua sahabat
38 Bab 38 sebuah wejangan
39 Bab 39 Menarik perhatian
40 Bab 40 Yang jadi Prioritas
41 Bab 41
42 Bab 42 pusat perhatian
43 Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44 Bab 44 sebuah hadiah
45 Bab 45 berangkat
46 Bab 46 ternyata...
47 Bab 47 kejutan
48 Bab 48 fakta yang sebenarnya
49 Bab 49 tempat damai
50 Bab 50 biang masalah
51 Bab 51 orang dari masa lalu
52 Bab 52 melampiaskan kekesalan
53 Bab 53 sedih dan senang
54 Bab 54 belum siap memaafkan
55 Bab 55 Hamil?
56 Bab 56 kembali mesra
57 Bab 57 kecurigaan Evan
58 Bab 58 penangkal mual
59 Bab 59 Dimabuk cinta
60 Bab 60 pengganggu
61 Bab 61 Musibah dan kehilangan
62 Bab 62 Keputusan Diana
63 Bab 63 sama-sama terpuruk
64 Bab 64 dukungan dari sahabat
65 Bab 65 Memperbaiki diri
66 Bab 66 masih saling cinta
67 Bab 67 tawaraan pekerjaan
68 Bab 68 Saling merindukan
69 Bab 69 aku merindukanmu
70 Bab 70 fakta yang sebenarnya
71 Bab 71 Aku temani tidur
72 Bab 72 aku ingin pacaran
73 Bab 73 rumah impian
74 Bab 74 menunggu jawaban
75 Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76 Bab 76 masih dirahasiakan
77 Bab 77 Luka di masa lalu
78 Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79 Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80 Bab 80 Akhirnya direstui
81 Bab 81 Semuanya untukmu
82 Bab 82 pulang kampung
83 Bab 83 Kehangatan keluarga
84 Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85 Bab 85 Ya, aku menerimanya
86 Bab 86 mengikhlaskan
87 Bab 87 akhir bahagia
88 karya baru
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1 Bimbang
2
Bab 2 Sebuah keputusan
3
Bab 3 Hari pernikahan
4
Bab 4 tak diakui
5
Bab 5 menarik perhatian
6
Bab 6 sebuah rencana
7
Bab 7 cemburu
8
Bab 8 jujur
9
Bab 9 belum siap
10
Bab 10 go public
11
Bab 11 teman toxic
12
Bab 12 teori vs praktek
13
Bab 13 alasan apa
14
Bab 14 gara-gara lumpur l
15
Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16
Bab 16 omongan tetangga
17
Bab 17 posesif
18
Bab 18 Gara-gara jamu
19
Bab 19 mirip tikus kejepit
20
Bab 20 Akhirnya terungkap
21
Bab 21 memutuskan pergi
22
Bab 22 menyesal
23
bab 23 situasi sulit
24
Bab 24 rindu tapi gengsi
25
Bab25 kabar duka
26
Bab 26 Surat perpisahan
27
Bab 27 Takut kehilangan
28
Bab 28 ada yang ketahuan
29
Bab 29 musuh dalam selimut
30
Bab 30 Demam tinggi
31
Bab 31 diusir seketika
32
Bab 32 kecil cabe rawit
33
Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34
Bab 34 Diana ngambek.
35
Bab 35 menanggung akibatnya
36
Bab 36 kembali bermanja
37
Bab 37 obrolan dua sahabat
38
Bab 38 sebuah wejangan
39
Bab 39 Menarik perhatian
40
Bab 40 Yang jadi Prioritas
41
Bab 41
42
Bab 42 pusat perhatian
43
Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44
Bab 44 sebuah hadiah
45
Bab 45 berangkat
46
Bab 46 ternyata...
47
Bab 47 kejutan
48
Bab 48 fakta yang sebenarnya
49
Bab 49 tempat damai
50
Bab 50 biang masalah
51
Bab 51 orang dari masa lalu
52
Bab 52 melampiaskan kekesalan
53
Bab 53 sedih dan senang
54
Bab 54 belum siap memaafkan
55
Bab 55 Hamil?
56
Bab 56 kembali mesra
57
Bab 57 kecurigaan Evan
58
Bab 58 penangkal mual
59
Bab 59 Dimabuk cinta
60
Bab 60 pengganggu
61
Bab 61 Musibah dan kehilangan
62
Bab 62 Keputusan Diana
63
Bab 63 sama-sama terpuruk
64
Bab 64 dukungan dari sahabat
65
Bab 65 Memperbaiki diri
66
Bab 66 masih saling cinta
67
Bab 67 tawaraan pekerjaan
68
Bab 68 Saling merindukan
69
Bab 69 aku merindukanmu
70
Bab 70 fakta yang sebenarnya
71
Bab 71 Aku temani tidur
72
Bab 72 aku ingin pacaran
73
Bab 73 rumah impian
74
Bab 74 menunggu jawaban
75
Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76
Bab 76 masih dirahasiakan
77
Bab 77 Luka di masa lalu
78
Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79
Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80
Bab 80 Akhirnya direstui
81
Bab 81 Semuanya untukmu
82
Bab 82 pulang kampung
83
Bab 83 Kehangatan keluarga
84
Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85
Bab 85 Ya, aku menerimanya
86
Bab 86 mengikhlaskan
87
Bab 87 akhir bahagia
88
karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!