"Saya terima nikahnya Diana Elvira binti Bapak Hermanto dengan Mas Kawin tersebut, Tunai."
Tepat pada pagi ini Nico mengucapkan kalimat akad yang disaksikan oleh seluruh keluarga besarnya sukses membuat statusnya berubah.
Diana yang sudah cantik dengan kebaya putih lengkap beserta riasan tradisional adat Jawa terlihat begitu luwes dan anggun. Senyum tipis terpancar di wajahnya yang sebenarnya tengah menahan rasa gugup luar biasa.
Dengan dituntun oleh Hana, kakak iparnya kini Diana dipersilahkan duduk tepat disamping Nico, pria yang telah halal untuknya.
Sementara Nico sendiri sempat terkesima saat melihat gadis yang telah resmi menjadi istrinya itu. Begitu cantik dan anggun. Tanpa sadar dia mengulas senyum tipis.
Dengan tatapan yang terus menunduk Diana meraih tangan Nico dan menciumnya dengan takzim.
Usapan lembut pada pipi kanannya perlahan membuat Diana memberanikan diri menatap sang suami. Senyum lembut terukir pada wajah tampan itu.
Malu-malu Diana kembali menundukkan wajahnya. Rasanya tak kuat lama-lama memandang Nico. Namun kecupan yang mendarat di keningnya serta sebuah doa akad yang Nico bisikkan sukses membuat Diana semakin membeku.
Semua orang yang berada di tempat itu tampak bersorak gembira melihat kedua insan itu telah sah dimata Agama dan hukum Negara.
Tampak senyum indah serta tangis haru terpancar di wajah Vania. Akhirnya apa yang dia inginkan kini telah terkabul. Kini tak ada lagi kegelisahan dan rasa khawatirnya akan sang putra sedikit berkurang. Setidaknya dia berada ditangan wanita yang tepat.
Pernikahan yang dimajukan jadwalnya dari kesepakatan sebelumnya memang membuat beberapa orang terkejut. Harusnya masih akan terlaksana satu bulan lagi namun kini harus dimajukan menjadi dua minggu lebih cepat.
Tentu alasan sebenarnya adalah kondisi kesehatan Vania yang semakin memburuk. Namun hal itu hanya diketahui oleh Nathan dan Diana. Nico yang putranya sendiri masih belum mengetahui hal tersebut.
Baik Nico maupun Diana hanya bisa pasrah dengan keputusan orang tuanya. Menikah tanpa landasan cinta tentu bukan keinginan keduanya namun untuk menolak hal itu juga mereka tak memiliki alasan.
Selama waktu menjelang pernikahan keduanya tak banyak terlibat pembicaraan. Hanya menyampaikan hal-hal seperlunya saja karena Nico juga tengah sibuk mengurus perusahaan cabang orang tuanya.
Keakraban yang biasanya terjalin seperti layaknya seorang kakak dan adik kini entah kenapa berubah menjadi rasa canggung. Mungkin karena status baru mereka yang membuatnya masih belum terbiasa.
Setelah membaca doa setelah ijab kabul kini keduanya berjalan mendekati kedua orang tua Nico untuk meminta restu. Dengan senyum lebarnya Vania langsung menyambut putra dan menantunya itu ke dalam pelukannya.
Air mata bahagia terus mengalir. Namun tetap saja ditengah kebahagiaan itu masih berselimut haru.
"Akhirnya kalian bersatu, mama sangat bahagia anak-anakku. Semoga kalian bahagia dan pernikahan ini langgeng selamanya." Vania mencium putra dan menantunya secara bergantian.
Sementara giliran Nathan, sang Papa yang kini tengah memeluk Nico.
"Maafkan Papa dan Mama. Mungkin ini bukan keinginan kamu tapi suatu saat nanti kamu akan mengerti alasannya." Nico sedikit terkejut saat papanya menuturkan kalimat itu. Biasanya pria itu selalu kaku dan irit bicara hanya membahas hal yang tak jauh-jauh dari pekerjaan dan bisnis.
"i-iya Pa.." Nico berusaha tersenyum dan memahami penuturan Papanya.
Selanjutnya Diana dan Nico menghampiri kedua orang tua Diana. Pak Herman dan Bu Wati tampak tersenyum sambil terharu melihat anak gadisnya kini telah dipersunting pria.
"Bapak harap kalian selalu rukun, jalani pernikahan ini dengan hati yang lapang nak. Bapak tidak bisa memberikan apa-apa. Hanya doa semoga kalian langgeng selamanya." ucap Pak Herman kepada Diana. Dia tak kuasa menahan air mata harunya karena harus berpisah dengan putri kesayangannya.
Kini bergantian Nico menghampiri pria paruh baya itu yang statusnya telah menjadi mertuanya.
"Pak.. Mohon doa restunya ya.." ucap Nico segan.
"Iya nak Nico, Bapak pasti merestui kalian. Bapak percaya kamu adalah kepala rumah tangga yang baik untuk Diana. Nak, kalau boleh bapak minta tolong jaga Diana ya, mungkin dia masih muda dan kadang kekanakan sifatnya, tegur dia jika salah. Ajari dia jika belum bisa. Dan.. jika kamu bosan tolong kembalikan kepada Bapak.. jangan pernah sakiti hatinya ataupun mengkhianatinya. Bapak membesarkannya bukan untuk itu." tampak kedua netra Pak Herman sudah berembun.
Nico tertegun dengan perkataan bapak mertuanya. Dia tahu pasti berat sebagai seorang ayah melepaskan anak gadisnya. Tapi jujur saja saat ini tak ada perasaan yang bagaimana-bagaimana. Hatinya masih terlalu datar untuk Diana. Terlebih Nico sendiri masih sibuk menata hatinya yang sempat berantakan karena patah hati dengan hubungannya terdahulu.
"i-iya Pak.." jawab Nico sedikit terbata.
Tampak Bu Wati menciumi Diana bertubi-tubi. Rasa sayang yang diberikan kedua orang tuanya memang tampak begitu tulus. Meski dengan kesederhanaannya Diana mampu tumbuh menjadi gadis yang baik.
Tanpa sadar Nico tampak tersenyum melihat pemandangan itu. Pasti akan menyenangkan mendapatkan kasih sayang setiap hari seperti itu. Sementara dirinya lebih sering ditinggal sendiri karena kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya.
"Jagain adek gue, mungkin kalian belum saling cinta tapi setidaknya cobalah untuk membuka diri. Diana gadis penurut dan gak kekanakan amat kok." Nico terkejut saat tiba-tiba Shaka, kakak dari Diana menepuk bahunya. Sebelumnya mereka memang sudah akrab terlebih sejak kecil Nico sudah bersahabat dengan Dion, adik angkat Shaka.
"Eh, Kak Shaka.. iya-iya gue jagain. Gimana keadaan Dion? sedih banget harusnya dia saat ini ada disini nyaksiin pernikahan gue, huft.." Nico kembali bersedih kala mengingat sahabatnya yang beberapa minggu yang lalu mengalami insiden kurang menyenangkan.
Dion diserang seseorang dan mengalami pendarahan hebat hingga membuatnya koma, sementara Shaka yang merupakan kakak angkat dari Dion tentu juga ikut merawatnya.
"Dion masih belum ada perubahan. Tpi gue akan terus cari tahu siapa dalang dibalik kejahatan itu. Udah lo jangan sedih, hari ini hari bahagia lo." Shaka berusaha tersenyum menguatkan meski dia sendiri juga tengah bersedih karena keadaan adik angkatnya itu.
Baik Nico maupun Diana kini disibukkan dengan acara ramah tamah dengan para kerabatnya. Acara ijab kabul yang ternyata dihadiri banyak kerabat dekatnya membuat mereka harus menyapa satu persatu.
Bahkan beberapa teman arisan Vania juga hadir. Vania tak bisa menolak hal tersebut karena beberapa temannya yang mengetahui rencana pernikahan Nico tersebut.
"Wah.. ternyata secantik ini ya Van mantunya, pantesan kebelet banget nikahin dia." ujar salah satu teman Vania.
"Selain cantik Diana ini punya attitude yang bagus, anaknya sopan dan gak neko-neko. Aku yakin Nico akan bahagia bersamanya." ucap Vania penuh bangga.
"AMin, aku doakan yang terbaik untuk mereka. Kapan-kapan nanti ajakin menantumu itu untuk ketemu teman-teman yang lain, mereka semua pada penasaran tau." ujar Nia, sahabat Vania.
"Iya-iya nanti deh.. jangan digangguin dulu pengantin baru biar nikmati waktu mereka berdua." ujar Vania.
"Iya.. eh tapi aku lihat kamu makin kurusan deh.. diet atau gimana? jangan-jangan kamu sakit?" tanya Nia.
"emm.. a-aku.. " Vania bingung harus menjawab apa, tidak mungkin dia mengumbar apa yang dia derita.
"Ya akhir-akhir ini dia sedikit berantakan pola makannya, terlalu sibuk membuatnya sedikit kelelahan." Dengan cepat Nathan membantu Vania memberi alasan.
Bersyukur sekali Vania memiliki suami yang selalu siaga kepadanya. Meski Nathan begitu kaku dan dingin kepada setiap orang namun pria itu selalu menyayangi Vania istrinya. Pernikahan yang berawal dari perjodohan membuat mereka tumbuh dan saling cinta, sebab itu keduanya tak ragu untuk menjodohkan Nico pula.
"Jadi ini ya namanya Diana, cantik sih masih muda lagi. Tapi memangnya sudah siap berumah tangga? menikah itu bukan hal mudah lo nak, kamu harus siap layani suami kamu, jangan karena suamimu kaya raya dan kamu cuma mau enak-enak aja." seorang wanita paruh baya menyeletuk di depan Diana.
Wajahnya mirip dengan Nathan, ayah mertuanya dan mungkin saja dia adalah saudaranya, Diana belum hafal siapa-siapa kerabat dari keluarga Nico.
"Iya nih, Memang budhe kelihatan suka banget sama kamu tapi jangan harap kamu bisa memanfaatkan situasi ya, aku tau kamu cuma anak petani dan mendapatkan kak Nico sepertinya rejeki nomplok banget nih. Awas saja sampai kamu semena-mena nantinya, ingat asal usul ya." Seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Nico berbicara sedikit berbisik, namun terlihat dari sorot keduanya menunjukkan rasa tidak suka.
"Ada apa ini? kok istriku kelihatan tegang begitu. Kalian ngomongin apa?" Nico menghampiri Diana yang tampak tertekan ditatap tante dan sepupunya.
"Nggak kok, tante cuma tanya ke istri kamu aja, dia kan masih muda banget nih.. emang udah bener-bener siap buat menikah? kan nantinya harus layani kamu, menyiapkan semua kebutuhanmu, dan nggak mudah lo berumah tangga. Jangan mentang-mentang menikah dengan orang kaya jadi seenaknya." ucap wanita itu nyinyir.
"Tante Mila ini gimana sih? baru juga kami menikah udah ditakut-takuti begitu, udah sayang nggak usah hiraukan omongan tante Mila. Kamu itu istriku tugas kamu hanyalah menemaniku dan urusan menyiapkan kebutuhanku itu sudah ada asisten. Manfaatin aja sayang punya suami kaya kayak aku, mau apapun kamu bilang ya." Nico merengkuh pinggang Diana dengan senyum mengembang.
Sementara Diana hanya bisa tersenyum canggung. Awalnya dia memang merasa begitu minder saat tante Mila menggunjingnya. Namun kedatangan Nico telah membuatnya merasa begitu lega.
"Yaudah ayo sayang temani suamimu ini makan, udah laper tau. Tante permisi ya." Nico pun membawa pergi Diana dari hadapan Tante julidnya. Membuat dua orang itu kesal.
"Kamu nggak perlu ambil perasaan omongan tante Milla, dia memang begitu suka julid sama semua orang. jangan sampai kamu merendah di hadapan mereka." bisik Nico.
Diana menoleh menatap suaminya yang tampak santai. Wajah tampan Nico sukses membuat Diana terkesima untuk sejenak. Dia sedikit lega setidaknya Nico masih tetap sama seperti dulu, pria itu tetap memperlakukannya dengan baik.
Namun rasa sukacita dan bahagia itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan ketika Vania tiba-tiba pingsan. Tentu saja semua orang langsung berhambur menghampiri sang tuan rumah pemilik acara tersebut.
"Mama.. mama kenapa?" Nico yang panik langsung menghampiri mamanya begitu pula dengan Diana.
"Cepat siapkan mobil bawa ke rumah sakit X." Pinta Nathan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Esther Lestari
selalu saja ada yg julid....tante Maya salah satu nya, yang kuat Diana menghadapi tante julid ya.
semoga tdk terjadi apa2 dgn mama Vania
2023-11-30
2
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
semoga saja mama vania bisa sehat kembali, agar bisa merasakan gelar baru sebagai oma suatu saat nanti.
2023-11-29
0
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
duuhh pasti aja ada keluarga yang julid dan membahas asal usul dan strata sosial.. 😒
2023-11-29
0