Bab 5 menarik perhatian

Sepanjang perjalanan pulang Diana tak sekalipun membuka suara. Dia hanya terdiam dan menatap jalan melalui kaca mobilnya. Rasanya begitu kecewa saat suaminya sendiri tak mengakui dirinya.

Sampai di apartemen Diana juga langsung pergi ke kamarnya bahkan mengabaikan Nico yang hendak menyapanya.

"Dian-.." ucapan Nico langsung terhenti saat melihat Diana membanting pintu kamarnya.

"Apa aku salah bicara?" gumam Nico.

Di dalam kamar air mata Diana sudah tak mampu dibendung lagi, keputusannya menikah muda memang tak mudah apalagi dengan perbedaan kelas sosial antara dirinya dengan keluarga Nico memanglah jauh.

Jika bukan karena Mama Vania mungkin Diana tak sampai secepat ini mengambil keputusan. Dia merasa berhutang budi karena bantuan keluarga Mama Vania telah membuat kedua orang tuanya mampu bertahan hidup.

Dia ingat sekali saat usianya masih enam tahun keluarganya harus diusir dari kontrakan karena terlambat membayar, apalagi bapaknya yang entah kenapa setiap kali mendapat pekerjaan selalu saja dipecat, paling lama hanya satu minggu.

Pertemuan tak terduga dengan Pak Fran, ayah dari mama Vania yang hampir tertabrak mobil membuat hidup Pak Herman mulai menemui titik terang.

Pak Fran memberikan sebidang tanah yang berada di kampung untuk dikelola oleh Pak Herman, selain sebagai mata pencaharian juga agar dirinya adan keluarga aman dari gangguan seseorang.

Akhirnya baru-baru ini Diana mengerti kenapa hal itu terjadi sebab ulah dari seorang wanita yang bernama Vanya. Wanita itu selalu berusaha mengusik kehidupan bapaknya agar terus sengsara. Dia selalu menghasut semua orang yang mengerjakan bapaknya.

Ingin sekali dia membalas perbuatan wanita itu namun kenyataan baru menghampirinya bahwa wanita bernama Vanya itu adalah mantan kekasih bapaknya, lebih tepatnya anak mantan majikan bapaknya juga. Mereka pernah melakukan cinta terlarang hingga melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun Pak Herman yang hanya seorang supir tentu sangat ditentang berhubungan dengan Vanya.

Bertahun-tahun terpisah dan Pak Herman memulai hidup baru membuat Vanya tak terima, dia iri dengan kebahagiaan Pak Herman.

Sampai suatu ketika seorang pria datang menemui keluarganya. Dia memperkenalkan diri sebagai Shaka, yang tak lain anak dari Pak Herman dan Vanya.

Awalnya Diana begitu khawatir jika kehadiran Shaka akan menimbulkan masalah seperti ibunya, namun sebaliknya Shaka sangatlah baik dan menyayangi keluarganya.

lama merenung membuat Diana merasa lelah, nyatanya masa lalu di kehidupannya yang pelik membuat dirinya menjadi pribadi yang tangguh.

Mengenai sikap Nico yang enggan mengakui dirinya sebagai istri di depan teman-temannya pun membuat Diana sakit hati, mereka berdua memang menikah bukan berlandaskan cinta.

Tiba-tiba terbersit ide untuk mengetahui tujuan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu, senyum penuh arti mengembang di wajahnya.

"Oke, jika kak Nico tak mengakui aku karena tak mencintaiku maka aku akan membuatnya jatuh cinta padaku." tekadnya dalam hati.

Meski dia masih ragu karena ini untuk pertama kalinya Diana menjalin hubungan dengan lawan jenis.

****

Keesokan harinya, pagi-pagi Diana sudah mandi dan berpenampilan cantik. Dia sibuk memasak untuk sarapan dirinya dan Nico. Salah satu keunggulannya adalah memasak, dia sangat gemar memasak bahkan kedua orang tuanya dan kakaknya selalu memuji apapun yang dia masak.

Nico yang baru saja bangun tidur kini sedang mencuci muka, penampilannya masih khas bangun tidur dengan kaos oblong dan celana kolor serta rambut yang masih berantakan.

Dengan langkah santainya Nico berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, namun masih di ruang keluarga saja dia sudah mencium aroma masakan yang begitu harum dan menggugah selera. Karena penasaran dia pun segera berjalan menuju dapur.

Kedua netranya langsung terbelalak saat melihat gadis cantik yang tengah sibuk memasak.

Diana dengan kaos putih model crop top dan hotpants yang dibalut celemek serta rambutnya yang dijepit di atas menampilkan leher jenjangnya membuat Nico tak berkedip.

Kaki putih mulusnya bahkan tampak begitu sempurna dengan lekuk tubuhnya yang ramping dan pas.

Ditengah keterkejutan itu Diana menoleh kepada Nico dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya.

"Selamat Pagi Kak, kebetulan masakannya sudah matang. Sarapan yuk." sapa Diana.

"K-kamu yang masak?" tiba-tiba Nico menjadi tergagap.

"Iya lah, mau siapa lagi?" jawab Diana sembari menyajikan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan acar mentimun.

Dilihat dari aroma dan tampilannya saja Nico sudah bisa menebak bahwa nasi goreng buatan Diana pasti sangatlah enak.

Keduanya kini duduk berhadapan dengan piring masing-masing di depannya. Nico yang kebetulan sangat lapar langsung mengambil sendok dan menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.

Dan alangkah terkejutnya saat dia merasakan masakan tersebut yang.. benar-benar sangat enak.

Akhirnya dengan semangat Nico makan dengan lahap. Namun saat tak sengaja menatap depan dia melihat Diana yang juga makan, entah kenapa dengan segala ekspresinya Diana terlihat sangat cantik dan menawan.

"Gimana kak? masakanku nggak enak ya?" celetukan Diana langsung membuyarkan lamunan Nico.

"Eh, enggak kok.. enak, enak banget malahan." jawab Nico jujur.

Mendengar jawaban dari Nico tentu membuat Diana begitu senang. Dia langsung tersenyum manis kepada Nico.

"Kakak mau nambah lagi?" tawar Diana.

"Boleh.." Nico menyodorkan piringnya untuk diisi lagi dengan nasi goreng yang masih tersisa.

Dengan cekatan Diana melayani Nico, mengambilkan air minum untuknya.

Nico benar- benar merasa dimanjakan oleh istrinya tersebut. Untuk sesaat dia teringat akan ucapan mamanya bahwa Diana adalah gadis yang terbaik untuk menjadi istrinya.

Namun entah kenapa untuk saat ini dirinya masih sulit untuk membuka hati. Mungin dia harus lebih terbiasa dengan keadaan ini. Meski di juga berharap bisa melupakan masa lalunya sesegera mungkin.

"Kak, setelah ini aku mau ke rumah sakit ya, temani Mama." ujar Diana yanag baru selesai membereskan piring bekas makan.

"Ya nanti aku antar, sekalian juga mau lihat kondisi mama." jawab Nico sambil berlalu untuk mandi.

Setelah selesai bersiap keduanya berangkat menuju rumah sakit.

"Kak, biasanya Mama suka makan apa ya?" tanya Diana pada Nico yang sedang menyetir mobil.

"Mama sih sukanya cheese cake yang di X bakery, mau sekalian dibawakan?" ucap Nico.

"Boleh, pasti mama jenuh kalau harus makan makanan rumah sakit terus." ujar Diana.

Mereka pun mampir ke salah satu toko kue langganan mamanya. Disana Nico langsung mengambil kue kesukaan mama Vania. Sementara Diana sibuk mengamati berbagai macam kue yang terdisplay di etalase kaca. Nico pun tersenyum saat melihat istri polosnya itu tampak menginginkan salah satu kue.

"Ambil aja kalau mau." ucap Nico.

"Boleh? tapi kan mahal?" bisik Diana, dia memang terbiasa berhemat.

"Mbak saya minta kue ini all variant ya." ujar Nico kepada karyawan kue tersebut.

Akhirnya setelah kue yang diinginkan Mama Vania juga Diana sudah ditangan kini keduanya berlanjut menuju rumah sakit. Bahkan Diana yang sudah penasaran dengan kue tersebut langsung mencicipinya.

"Enak banget ternyata, pantes mahal." ujar Diana. Sementara Nico hanya menanggapinya dengan senyuman.

"Kak Nico mau?"tanya Diana yang masih sibuk mengunyah kue.

"Nggak, kamu aja. Aku masih kenyang tadi kan habis nasi goreng dua piring." Nico menghentikan mobilnya setelah sampai di basemen rumah sakit.

Saat hendak turun dia melihat bibir Diana yang belepotan coklat. Reflek Nico langsung mengambil tissue di dasbor mobilnya dan mengusapkan ke bibir Diana.

Diana yang terkejut pun hanya bisa diam terpaku sementara wajah keduanya yang tampak begitu dekat. Nico yang awalnya bersikap biasa saja mengelap itu tiba-tiba fokusnya tertuju pada bibir plumpy diana, tampak mungil namun terlihat penuh, apalagi dengan polesan lipgloss berwarna pink semakin membuat Nico semakin ingin melahapnya.

Tanpa sadar Nico kini sudah mendekatkan bibirnya hingga berjarak beberapa centi saja. Namun tiba-tiba dia sangat terkejut saat Diana mendorongnya. Gadis itu langsung melepaskan diri dan keluar mobil terlebih dahulu.

Nico yang mendapat penolakan itu hanya bisa membeo sementara saat ini Diana tengah memegang dadanya sendiri. Jantungnya seperti sedang berdisko ria.

"Astaga.. Bisa copot jantungku lama-lama." Gumam Diana dengan wajahnya yang sudah merah bak kepiting rebus.

Akibat ulah Nico itu akhirnya membuat Diana menjadi canggung. Nico yang menyadari hal itu cepat-cepat meminta maaf pada Diana.

"Maaf.. Aku tadi hanya bermaksud membersihkan coklat di bibir kamu." ujar Nico.

"hmm.. Iya." Jawab Diana singkat. Keduanya melanjutkan berjalan menyusuri koridor menuju ruang perawatan Mama Vania.

"Nico, mau kemana kamu?" sapa seorang pria seumuran Nico. Pria itu tampak mengenakan Jas putih khas seorang dokter.

"Dimas, ini gue mau ke ruangan mama. Kebetulan dirawat di sini." ujar Nico.

"loh, mama kamu dirawat disini? Di ruang mana?" tanya pria bernama Dimas itu.

"Di ruang VIP 1." jawab Nico.

"Pasien atas nama Ibu Vania itu mama kamu?" ucap Dimas kemudian.

"Yap, betul. Kamu tau rupanya." ujar Nico.

"Terus ini siapa?" Dimas mengalihkan pandangannya pada Diana.

"Oh ini.."

"Kenalin, aku adiknya Kak Nico, Diana." Diana tampak tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

"Wah, ternyata adik kamu. Baru tau kamu punya adik secantik ini." tampak tatapan Dimas yang berbinar saat menatap Diana.

Nico hendak meralat ucapannya namun lagi-lagi Dimas mendahului ucapannya.

"Oh ya Diana, aku Dimas. Kebetulan aku juga kerja jadi dokter muda di sini. Aku sama Nico teman satu kelas saat SMA." Dimas memperkenalkan dirinya dengan lebih mendetail.

Nico hanya bisa berdecak malas melihat pria lain menatap Diana dengan begitu berbinar dan tampak menyukainya.

Sementara itu rupanya Papa Nathan sedang memperhatikan mereka. Dia sangat terkejut saat Diana mengaku adik didepan teman Nico.

...****************...

Terpopuler

Comments

𝘛𝘳𝘪𝘚

𝘛𝘳𝘪𝘚

mulai nich ada bau,, bau gosong /Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2023-12-02

0

🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ

🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ

jangan kaget papa.. karena itu jga yg Nico lakukan saat ada yang bertanya siapa Diana.. dan dijawab Nico kalau diana adalah adiknya

2023-12-02

0

Esther Lestari

Esther Lestari

1-1 kan kamu duluan Nico yg bilang kalo Diana adikmu, nah skrg gantian Diana yg ngomong gitu gk boleh marah dong kamu 😁

2023-12-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bimbang
2 Bab 2 Sebuah keputusan
3 Bab 3 Hari pernikahan
4 Bab 4 tak diakui
5 Bab 5 menarik perhatian
6 Bab 6 sebuah rencana
7 Bab 7 cemburu
8 Bab 8 jujur
9 Bab 9 belum siap
10 Bab 10 go public
11 Bab 11 teman toxic
12 Bab 12 teori vs praktek
13 Bab 13 alasan apa
14 Bab 14 gara-gara lumpur l
15 Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16 Bab 16 omongan tetangga
17 Bab 17 posesif
18 Bab 18 Gara-gara jamu
19 Bab 19 mirip tikus kejepit
20 Bab 20 Akhirnya terungkap
21 Bab 21 memutuskan pergi
22 Bab 22 menyesal
23 bab 23 situasi sulit
24 Bab 24 rindu tapi gengsi
25 Bab25 kabar duka
26 Bab 26 Surat perpisahan
27 Bab 27 Takut kehilangan
28 Bab 28 ada yang ketahuan
29 Bab 29 musuh dalam selimut
30 Bab 30 Demam tinggi
31 Bab 31 diusir seketika
32 Bab 32 kecil cabe rawit
33 Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34 Bab 34 Diana ngambek.
35 Bab 35 menanggung akibatnya
36 Bab 36 kembali bermanja
37 Bab 37 obrolan dua sahabat
38 Bab 38 sebuah wejangan
39 Bab 39 Menarik perhatian
40 Bab 40 Yang jadi Prioritas
41 Bab 41
42 Bab 42 pusat perhatian
43 Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44 Bab 44 sebuah hadiah
45 Bab 45 berangkat
46 Bab 46 ternyata...
47 Bab 47 kejutan
48 Bab 48 fakta yang sebenarnya
49 Bab 49 tempat damai
50 Bab 50 biang masalah
51 Bab 51 orang dari masa lalu
52 Bab 52 melampiaskan kekesalan
53 Bab 53 sedih dan senang
54 Bab 54 belum siap memaafkan
55 Bab 55 Hamil?
56 Bab 56 kembali mesra
57 Bab 57 kecurigaan Evan
58 Bab 58 penangkal mual
59 Bab 59 Dimabuk cinta
60 Bab 60 pengganggu
61 Bab 61 Musibah dan kehilangan
62 Bab 62 Keputusan Diana
63 Bab 63 sama-sama terpuruk
64 Bab 64 dukungan dari sahabat
65 Bab 65 Memperbaiki diri
66 Bab 66 masih saling cinta
67 Bab 67 tawaraan pekerjaan
68 Bab 68 Saling merindukan
69 Bab 69 aku merindukanmu
70 Bab 70 fakta yang sebenarnya
71 Bab 71 Aku temani tidur
72 Bab 72 aku ingin pacaran
73 Bab 73 rumah impian
74 Bab 74 menunggu jawaban
75 Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76 Bab 76 masih dirahasiakan
77 Bab 77 Luka di masa lalu
78 Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79 Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80 Bab 80 Akhirnya direstui
81 Bab 81 Semuanya untukmu
82 Bab 82 pulang kampung
83 Bab 83 Kehangatan keluarga
84 Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85 Bab 85 Ya, aku menerimanya
86 Bab 86 mengikhlaskan
87 Bab 87 akhir bahagia
88 karya baru
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1 Bimbang
2
Bab 2 Sebuah keputusan
3
Bab 3 Hari pernikahan
4
Bab 4 tak diakui
5
Bab 5 menarik perhatian
6
Bab 6 sebuah rencana
7
Bab 7 cemburu
8
Bab 8 jujur
9
Bab 9 belum siap
10
Bab 10 go public
11
Bab 11 teman toxic
12
Bab 12 teori vs praktek
13
Bab 13 alasan apa
14
Bab 14 gara-gara lumpur l
15
Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16
Bab 16 omongan tetangga
17
Bab 17 posesif
18
Bab 18 Gara-gara jamu
19
Bab 19 mirip tikus kejepit
20
Bab 20 Akhirnya terungkap
21
Bab 21 memutuskan pergi
22
Bab 22 menyesal
23
bab 23 situasi sulit
24
Bab 24 rindu tapi gengsi
25
Bab25 kabar duka
26
Bab 26 Surat perpisahan
27
Bab 27 Takut kehilangan
28
Bab 28 ada yang ketahuan
29
Bab 29 musuh dalam selimut
30
Bab 30 Demam tinggi
31
Bab 31 diusir seketika
32
Bab 32 kecil cabe rawit
33
Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34
Bab 34 Diana ngambek.
35
Bab 35 menanggung akibatnya
36
Bab 36 kembali bermanja
37
Bab 37 obrolan dua sahabat
38
Bab 38 sebuah wejangan
39
Bab 39 Menarik perhatian
40
Bab 40 Yang jadi Prioritas
41
Bab 41
42
Bab 42 pusat perhatian
43
Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44
Bab 44 sebuah hadiah
45
Bab 45 berangkat
46
Bab 46 ternyata...
47
Bab 47 kejutan
48
Bab 48 fakta yang sebenarnya
49
Bab 49 tempat damai
50
Bab 50 biang masalah
51
Bab 51 orang dari masa lalu
52
Bab 52 melampiaskan kekesalan
53
Bab 53 sedih dan senang
54
Bab 54 belum siap memaafkan
55
Bab 55 Hamil?
56
Bab 56 kembali mesra
57
Bab 57 kecurigaan Evan
58
Bab 58 penangkal mual
59
Bab 59 Dimabuk cinta
60
Bab 60 pengganggu
61
Bab 61 Musibah dan kehilangan
62
Bab 62 Keputusan Diana
63
Bab 63 sama-sama terpuruk
64
Bab 64 dukungan dari sahabat
65
Bab 65 Memperbaiki diri
66
Bab 66 masih saling cinta
67
Bab 67 tawaraan pekerjaan
68
Bab 68 Saling merindukan
69
Bab 69 aku merindukanmu
70
Bab 70 fakta yang sebenarnya
71
Bab 71 Aku temani tidur
72
Bab 72 aku ingin pacaran
73
Bab 73 rumah impian
74
Bab 74 menunggu jawaban
75
Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76
Bab 76 masih dirahasiakan
77
Bab 77 Luka di masa lalu
78
Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79
Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80
Bab 80 Akhirnya direstui
81
Bab 81 Semuanya untukmu
82
Bab 82 pulang kampung
83
Bab 83 Kehangatan keluarga
84
Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85
Bab 85 Ya, aku menerimanya
86
Bab 86 mengikhlaskan
87
Bab 87 akhir bahagia
88
karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!