Sepanjang perjalanan pulang Diana tak sekalipun membuka suara. Dia hanya terdiam dan menatap jalan melalui kaca mobilnya. Rasanya begitu kecewa saat suaminya sendiri tak mengakui dirinya.
Sampai di apartemen Diana juga langsung pergi ke kamarnya bahkan mengabaikan Nico yang hendak menyapanya.
"Dian-.." ucapan Nico langsung terhenti saat melihat Diana membanting pintu kamarnya.
"Apa aku salah bicara?" gumam Nico.
Di dalam kamar air mata Diana sudah tak mampu dibendung lagi, keputusannya menikah muda memang tak mudah apalagi dengan perbedaan kelas sosial antara dirinya dengan keluarga Nico memanglah jauh.
Jika bukan karena Mama Vania mungkin Diana tak sampai secepat ini mengambil keputusan. Dia merasa berhutang budi karena bantuan keluarga Mama Vania telah membuat kedua orang tuanya mampu bertahan hidup.
Dia ingat sekali saat usianya masih enam tahun keluarganya harus diusir dari kontrakan karena terlambat membayar, apalagi bapaknya yang entah kenapa setiap kali mendapat pekerjaan selalu saja dipecat, paling lama hanya satu minggu.
Pertemuan tak terduga dengan Pak Fran, ayah dari mama Vania yang hampir tertabrak mobil membuat hidup Pak Herman mulai menemui titik terang.
Pak Fran memberikan sebidang tanah yang berada di kampung untuk dikelola oleh Pak Herman, selain sebagai mata pencaharian juga agar dirinya adan keluarga aman dari gangguan seseorang.
Akhirnya baru-baru ini Diana mengerti kenapa hal itu terjadi sebab ulah dari seorang wanita yang bernama Vanya. Wanita itu selalu berusaha mengusik kehidupan bapaknya agar terus sengsara. Dia selalu menghasut semua orang yang mengerjakan bapaknya.
Ingin sekali dia membalas perbuatan wanita itu namun kenyataan baru menghampirinya bahwa wanita bernama Vanya itu adalah mantan kekasih bapaknya, lebih tepatnya anak mantan majikan bapaknya juga. Mereka pernah melakukan cinta terlarang hingga melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun Pak Herman yang hanya seorang supir tentu sangat ditentang berhubungan dengan Vanya.
Bertahun-tahun terpisah dan Pak Herman memulai hidup baru membuat Vanya tak terima, dia iri dengan kebahagiaan Pak Herman.
Sampai suatu ketika seorang pria datang menemui keluarganya. Dia memperkenalkan diri sebagai Shaka, yang tak lain anak dari Pak Herman dan Vanya.
Awalnya Diana begitu khawatir jika kehadiran Shaka akan menimbulkan masalah seperti ibunya, namun sebaliknya Shaka sangatlah baik dan menyayangi keluarganya.
lama merenung membuat Diana merasa lelah, nyatanya masa lalu di kehidupannya yang pelik membuat dirinya menjadi pribadi yang tangguh.
Mengenai sikap Nico yang enggan mengakui dirinya sebagai istri di depan teman-temannya pun membuat Diana sakit hati, mereka berdua memang menikah bukan berlandaskan cinta.
Tiba-tiba terbersit ide untuk mengetahui tujuan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu, senyum penuh arti mengembang di wajahnya.
"Oke, jika kak Nico tak mengakui aku karena tak mencintaiku maka aku akan membuatnya jatuh cinta padaku." tekadnya dalam hati.
Meski dia masih ragu karena ini untuk pertama kalinya Diana menjalin hubungan dengan lawan jenis.
****
Keesokan harinya, pagi-pagi Diana sudah mandi dan berpenampilan cantik. Dia sibuk memasak untuk sarapan dirinya dan Nico. Salah satu keunggulannya adalah memasak, dia sangat gemar memasak bahkan kedua orang tuanya dan kakaknya selalu memuji apapun yang dia masak.
Nico yang baru saja bangun tidur kini sedang mencuci muka, penampilannya masih khas bangun tidur dengan kaos oblong dan celana kolor serta rambut yang masih berantakan.
Dengan langkah santainya Nico berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, namun masih di ruang keluarga saja dia sudah mencium aroma masakan yang begitu harum dan menggugah selera. Karena penasaran dia pun segera berjalan menuju dapur.
Kedua netranya langsung terbelalak saat melihat gadis cantik yang tengah sibuk memasak.
Diana dengan kaos putih model crop top dan hotpants yang dibalut celemek serta rambutnya yang dijepit di atas menampilkan leher jenjangnya membuat Nico tak berkedip.
Kaki putih mulusnya bahkan tampak begitu sempurna dengan lekuk tubuhnya yang ramping dan pas.
Ditengah keterkejutan itu Diana menoleh kepada Nico dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya.
"Selamat Pagi Kak, kebetulan masakannya sudah matang. Sarapan yuk." sapa Diana.
"K-kamu yang masak?" tiba-tiba Nico menjadi tergagap.
"Iya lah, mau siapa lagi?" jawab Diana sembari menyajikan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan acar mentimun.
Dilihat dari aroma dan tampilannya saja Nico sudah bisa menebak bahwa nasi goreng buatan Diana pasti sangatlah enak.
Keduanya kini duduk berhadapan dengan piring masing-masing di depannya. Nico yang kebetulan sangat lapar langsung mengambil sendok dan menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
Dan alangkah terkejutnya saat dia merasakan masakan tersebut yang.. benar-benar sangat enak.
Akhirnya dengan semangat Nico makan dengan lahap. Namun saat tak sengaja menatap depan dia melihat Diana yang juga makan, entah kenapa dengan segala ekspresinya Diana terlihat sangat cantik dan menawan.
"Gimana kak? masakanku nggak enak ya?" celetukan Diana langsung membuyarkan lamunan Nico.
"Eh, enggak kok.. enak, enak banget malahan." jawab Nico jujur.
Mendengar jawaban dari Nico tentu membuat Diana begitu senang. Dia langsung tersenyum manis kepada Nico.
"Kakak mau nambah lagi?" tawar Diana.
"Boleh.." Nico menyodorkan piringnya untuk diisi lagi dengan nasi goreng yang masih tersisa.
Dengan cekatan Diana melayani Nico, mengambilkan air minum untuknya.
Nico benar- benar merasa dimanjakan oleh istrinya tersebut. Untuk sesaat dia teringat akan ucapan mamanya bahwa Diana adalah gadis yang terbaik untuk menjadi istrinya.
Namun entah kenapa untuk saat ini dirinya masih sulit untuk membuka hati. Mungin dia harus lebih terbiasa dengan keadaan ini. Meski di juga berharap bisa melupakan masa lalunya sesegera mungkin.
"Kak, setelah ini aku mau ke rumah sakit ya, temani Mama." ujar Diana yanag baru selesai membereskan piring bekas makan.
"Ya nanti aku antar, sekalian juga mau lihat kondisi mama." jawab Nico sambil berlalu untuk mandi.
Setelah selesai bersiap keduanya berangkat menuju rumah sakit.
"Kak, biasanya Mama suka makan apa ya?" tanya Diana pada Nico yang sedang menyetir mobil.
"Mama sih sukanya cheese cake yang di X bakery, mau sekalian dibawakan?" ucap Nico.
"Boleh, pasti mama jenuh kalau harus makan makanan rumah sakit terus." ujar Diana.
Mereka pun mampir ke salah satu toko kue langganan mamanya. Disana Nico langsung mengambil kue kesukaan mama Vania. Sementara Diana sibuk mengamati berbagai macam kue yang terdisplay di etalase kaca. Nico pun tersenyum saat melihat istri polosnya itu tampak menginginkan salah satu kue.
"Ambil aja kalau mau." ucap Nico.
"Boleh? tapi kan mahal?" bisik Diana, dia memang terbiasa berhemat.
"Mbak saya minta kue ini all variant ya." ujar Nico kepada karyawan kue tersebut.
Akhirnya setelah kue yang diinginkan Mama Vania juga Diana sudah ditangan kini keduanya berlanjut menuju rumah sakit. Bahkan Diana yang sudah penasaran dengan kue tersebut langsung mencicipinya.
"Enak banget ternyata, pantes mahal." ujar Diana. Sementara Nico hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Kak Nico mau?"tanya Diana yang masih sibuk mengunyah kue.
"Nggak, kamu aja. Aku masih kenyang tadi kan habis nasi goreng dua piring." Nico menghentikan mobilnya setelah sampai di basemen rumah sakit.
Saat hendak turun dia melihat bibir Diana yang belepotan coklat. Reflek Nico langsung mengambil tissue di dasbor mobilnya dan mengusapkan ke bibir Diana.
Diana yang terkejut pun hanya bisa diam terpaku sementara wajah keduanya yang tampak begitu dekat. Nico yang awalnya bersikap biasa saja mengelap itu tiba-tiba fokusnya tertuju pada bibir plumpy diana, tampak mungil namun terlihat penuh, apalagi dengan polesan lipgloss berwarna pink semakin membuat Nico semakin ingin melahapnya.
Tanpa sadar Nico kini sudah mendekatkan bibirnya hingga berjarak beberapa centi saja. Namun tiba-tiba dia sangat terkejut saat Diana mendorongnya. Gadis itu langsung melepaskan diri dan keluar mobil terlebih dahulu.
Nico yang mendapat penolakan itu hanya bisa membeo sementara saat ini Diana tengah memegang dadanya sendiri. Jantungnya seperti sedang berdisko ria.
"Astaga.. Bisa copot jantungku lama-lama." Gumam Diana dengan wajahnya yang sudah merah bak kepiting rebus.
Akibat ulah Nico itu akhirnya membuat Diana menjadi canggung. Nico yang menyadari hal itu cepat-cepat meminta maaf pada Diana.
"Maaf.. Aku tadi hanya bermaksud membersihkan coklat di bibir kamu." ujar Nico.
"hmm.. Iya." Jawab Diana singkat. Keduanya melanjutkan berjalan menyusuri koridor menuju ruang perawatan Mama Vania.
"Nico, mau kemana kamu?" sapa seorang pria seumuran Nico. Pria itu tampak mengenakan Jas putih khas seorang dokter.
"Dimas, ini gue mau ke ruangan mama. Kebetulan dirawat di sini." ujar Nico.
"loh, mama kamu dirawat disini? Di ruang mana?" tanya pria bernama Dimas itu.
"Di ruang VIP 1." jawab Nico.
"Pasien atas nama Ibu Vania itu mama kamu?" ucap Dimas kemudian.
"Yap, betul. Kamu tau rupanya." ujar Nico.
"Terus ini siapa?" Dimas mengalihkan pandangannya pada Diana.
"Oh ini.."
"Kenalin, aku adiknya Kak Nico, Diana." Diana tampak tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Wah, ternyata adik kamu. Baru tau kamu punya adik secantik ini." tampak tatapan Dimas yang berbinar saat menatap Diana.
Nico hendak meralat ucapannya namun lagi-lagi Dimas mendahului ucapannya.
"Oh ya Diana, aku Dimas. Kebetulan aku juga kerja jadi dokter muda di sini. Aku sama Nico teman satu kelas saat SMA." Dimas memperkenalkan dirinya dengan lebih mendetail.
Nico hanya bisa berdecak malas melihat pria lain menatap Diana dengan begitu berbinar dan tampak menyukainya.
Sementara itu rupanya Papa Nathan sedang memperhatikan mereka. Dia sangat terkejut saat Diana mengaku adik didepan teman Nico.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
𝘛𝘳𝘪𝘚
mulai nich ada bau,, bau gosong /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2023-12-02
0
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
jangan kaget papa.. karena itu jga yg Nico lakukan saat ada yang bertanya siapa Diana.. dan dijawab Nico kalau diana adalah adiknya
2023-12-02
0
Esther Lestari
1-1 kan kamu duluan Nico yg bilang kalo Diana adikmu, nah skrg gantian Diana yg ngomong gitu gk boleh marah dong kamu 😁
2023-12-02
1