"Pa.. apa yang terjadi dengan Mama? kenapa Mama dibawa ke rumah sakit itu bukannya rumah sakit terdekat?" Nico masih bingung dengan pernyataan Papanya. Pasalnya rumah sakit yang disebutkan oleh Papanya itu adalah rumah sakit khusus.. kanker.
"Nico, kamu jangan khawatir ya. Mama cuma kecapean. Kamu teruskan dulu acara ini. Dan ya.. Diana kamu temani dulu suamimu ya." PInta Papa Nathan kepada Nico dan Diana. Diana pun mengangguk patuh. Sementara Nico masih menampakkan wajah kebingungannya.
HIngga akhirnya acara itu berangsur selesai karena memang para tamu merasa segan sebab pemilik acara sedang dilarikan ke rumah sakit.
"Bagaimana kalau ibu sama Bapak ikut ke rumah sakit? ibu khawatir dengan keadaan Mbak Vania." ujar Bu Wati.
"Bu, maaf bukannya Diana gak bolehin ibu dan Bapak, tapi sepertinya Mama hanya kelelahan. Biar sementara Diana dan Kak Nico saja ya. Mama hanya butuh istirahat." Diana sebetulnya tak ingin keduanya mengetahui tentang sakit yang diderita Mama mertuanya. Dia sudah terlanjur berjanji untuk merahasiakan hal ini. Nico saja belum tahu.
"Hmm.. baiklah kalau begitu ibu nitip salam kepada mertua kamu ya Di, semoga cepat sembuh. Kamu juga baik-baik ya." ujar Bu Wati.
Setelah berpamitan kedua orang tua Diana pun pulang bersama Shaka, rencananya mereka akan menginap di kediaman kakaknya tersebut.
Diana dan Nico kini bertolak menuju apartemen yang selama ini Nico tempati.
"Dek koper kamu sudah ada di kamar, kamu siap-siap ya kita langsung ke rumah sakit setelah ini." Nico menunjuk sebuah ruangan di depannya sementara pria itu memasuki ruangan yang lain.
Diana hanya bisa mengangguk kemudian memasuki ruangan itu. Sebuah kamar tidur yang tampak masih baru. Tak banyak barang yang ada di kamar tersebut.
Diana menghela nafas panjang. Mungkin memang Nico belum mau menerima dirinya sehingga dia memutuskan untuk berpisah kamar.
Daripada terus memikirkan hal yang tidak-tidak kini Diana mulai beranjak menuju meja rias untuk membersihkan make up yang menempel di wajahnya.
Diana mengambil remover beserta kapas yang ternyata sudah disediakan di meja rias tersebut. Cukup banyak produk perawatan wajah dan juga make up yang ada di sana. Bahkan dengan berbagai merk yang Diana tahu itu sangat mahal.
Setelah selesai membersihkan wajah dan mengurai rambutnya Diana pun hendak melepas kebaya yang dia pakai. Namun sialnya kebaya tersebut memiliki kancing yang berada di bagian belakang sehingga membuatnya sulit untuk membukanya.
Setengah jam berlalu Diana hanya bisa melepas dua kancing teratas di punggungnya itu pun dengan susah payah.
TOK.. TOK.. TOK..
"Diana kamu sudah selesai?" tanya Nico yang berada di luar kamarnya.
Cepat-cepat Diana membuka pintu kamarnya yang langsung melihat pria yang kini sah menjadi suaminya itu sudah berpakaian lebih santai. Diana sempat tertegun sejenak melihat Nico yang tampak begitu mempesona.
Sementara Nico sendiri malah mengernyit karn melihat Diana yang belum juga bersiap. Hanya wajah dan rambutnya saja yang dia bersihkan.
"Kenapa kamu belum bersiap? nggak ikut?" tanya Nico.
"E-eh.. ikut kok kak. Tapi ini.. aku sulit membuka kebayaku. Kancingnya ada di belakang." ujar Diana malu-malu. Ingin rasanya minta bantuan Nico namun dia ragu.
"Hmm.. yaudah sini." Nico langsung membawa Diana menuju ke depan meja rias dan berdiri di belakang Diana.
Dengan perlahan Nico melepas satu persatu kancing kebaya Diana. Sesekali Nico melirik wajah istrinya yang tampak tegang dan merona.
"Begini saja sudah tegang.." batin Nico remeh.
Namun saat dia kembali menatap punggung Diana. Tak sengaja dia melihat kulit putih yang begitu mulus tanpa cela. Sungguh ini pemandangan yang benar-benar membuat Nico langsung mendesir.
Tanpa sadar jemari tangan Nico mulai menyentuh kulit mulus itu. Betapa halus dan lembut terasa hangat pada jemarinya.
"Huft.." helaan nafas terdengar dari bibir pria itu. Rasanya ingin sekali Nico melihat lebih daripada punggung itu.
Diana sedikit tersentak saat merasakan tangan Nico yang menyentuh punggungnya.
"A-apa sudah selesai?" tanya Diana yang membuat Nico seketika tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat Nico menyelesaikan pekerjaannya.
"S-sudah.. kamu mandi dulu sana." ujar Nico setelahnya.
Diana hanya mengangguk patuh sementara Nico langsung menghirup nafas sebanyak banyaknya untuk menetralkan diri.
"Sial, kenapa dengan diriku? melihat begitu saja sudah membuatku.. Aaarrggh.." Nico mengusap wajahnya frustasi.
Hari ini memang dirinya sudah sah memiliki Diana seutuhnya namun untuk melakukan hal itu sepertinya belum ingin Nico lakukan. Dia tak ingin terburu-buru dan jujur saja perasaannya terhadap Diana masih seperti dulu, menganggapnya seperti seorang adik.
Tiba-tiba ingatan tentang Bianca terbersit di benaknya. Berkali-kali dirinya bahkan membayangkan akan bersatu dengan Bianca di pernikahan. Namun sayang sekali gadis pujaannya itu justru memilih jalan hidupnya yang tak mampu untuk Nico gapai.
Rindu, itulah yang Nico rasakan saat ini. Sejak Bianca pamit ke luar negeri dia sama sekali tak pernah sekalipun menghubungi Nico.
Nico merasa begitu kecewa sebab apa yang sudah dia lakukan untuknya tak ada sedikitpun yang dianggap oleh Bianca.
"Mungkin menghapus perasaan ini memang sulit, tapi setidaknya aku ingin mengikhlaskan agar aku bisa membuka lembaran hidupku yang baru." batin NIco.
SIbuk dengan pikirannya sampai tak sadar bahwa saat ini Nico masih berada di dalam kamar Diana. Karena tak ingin mengganggu wanita itu kini Nico pun beranjak untuk keluar. Namun bertepatan dengan itu Diana tampak keluar dari kamar mandi. Dia pikir tak ada orang di kamarnya sehingga Diana hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya dan menutupi setengah pahanya karena memang dia lupa tak mengambil baju ganti dulu.
Letak pintu keluar dan pintu kamar mandi memang bersebelahan sehingga keduanya sama-sama terkejut. Bahkan Diana yang kakinya masih basah langsung terpelanting. Untung saja dengan cepat Nico menangkap tubuhnya.
GLEKK..
Nico tak sengaja melihat tubuh mulus Diana yang tampak begitu sexy. pinggangnya yang ramping dengan tinggi proporsional serta gundukan di dadanya yang tampak sintal dengan ukuran yang tak terlalu besar karena memang belum pernah terjamah siapapun.
Ibarat bunga kini Diana sedang mekar-mekarnya.
Diana yang merasa ditatap tubuhnya reflek menyilangkan kedua tangannya tepat di bagian dada. Mencengkeram kuat handuk yang dipakainya agar tidak terlepas. Pun wajahnya sudah sangat memerah bak kepiting rebus.
"O-Oh.. sorry." Cepat-cepat Nico melepaskan pelukan di tubuh Diana. Ah, padahal niat hati dirinya ingin melupakan masalah punggungnya kini malah disuguhkan dengan pemandangan yang lebih menantang.
"Tidak.. tidak.. tidak sekarang." Nico menghela nafasnya kasar. Sebagai pria normal tentu dia memiliki naluri yang otomatis muncul.
Setelah beberapa saat kini Diana sudah siap. Dia memakai dress se lutut berwarna soft blue. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan poni yang membuat tampilannya semakin manis. Entah kenapa apapun yang dipakai gadis itu selalu cocok dan membuatnya tampak cantik.
"Sudah siap? ayo berangkat." ujar Nico yang berjalan duluan sementara Diana berjalan mengikuti di belakangnya.
Di sepanjang perjalanan Nico tampak fokus menyetir mobilnya sementara Diana hanya bisa terdiam. Dia takut mengganggu konsentrasi NIco apalagi pasti pria itu sedang kalut memikirkan mamanya.
"Semoga mama baik-baik saja." Diana akhirnya membuka obrolan.
"Hmm.. aku heran kenapa Papa harus bawa Mama ke rumah sakit itu, padahal kan lebih jauh." ujar Nico sedikit kesal.
"emm.. mungkin permintaan Mama." Diana mencoba meyakinkan Nico.
"Permintaan gimana orang mama aja pingsan kok." gerutu Nico.
"Maksudnya begini.. Sebelumnya mama memang sudah biasa ke rumah sakit itu. Dan Papa kan pasti tau kebiasaan mama. Kadang orang kan suka cocok-cocokan gitu untuk memilih sesuatu. Termasuk berobat juga." Diana berusaha menjelaskan agar Nico tak salah paham.
Nico pun mengangguk mencerna ucapan Diana.
"Hmm.. bener juga, mama kan orangnya suka pilih-pilih." terlihat dari nada bicaranya sepertinya Nico sudah mulai sedikit tenang.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit tersebut. Mereka langsung menuju ruang dimana Mama Vania dirawat. Sebetulnya Diana sempat khawatir jika Nico mengetahui bahwa mamanya mengidap kanker, namun diluar kewenangannya jika memang Nico tahu semua itu mungkin akan lebih melegakan. Sejujurnya Diana tak tega membohongi suaminya.
"Mama.." Nico langsung berlari dan memeluk mama Vania yang tengah berbaring di atas brankar.
"Loh.. kalian kok kesini? Yaampun Nico ini kan malam pengantin kalian malah istrinya diajak keluyuran." protes Mama Vania.
"Maa.. aku khawatir sama mama, tiba-tiba mama pingsan dan.." Nico tak meneruskan ucapannya karena dia masih merasa syok.
"Mama nggak apa-apa cuma kelelahan aja." ucap Mama Vania.
"Terus kenapa harus di rumah sakit ini? kan ada yang lebih dekat." tanya Nico lagi.
"Ya mama kan nyaman di sini. Udah cocok aja berobat kesini." ujar Mama Vania beralasan.
"hmm.. aku udah mikir macem-macem takut mama sakit parah tau, disini kan soalnya terkenal dengan spesialis penanganan kanker." ujar Nico. Mama Vania pun tampak serba salah begitu pula dengan Papa Nathan yang sejak tadi berada tak jauh dari mereka.
"Mama belum makan ya? mau Diana suapi?" Diana berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh, iya sayang tadi mama baru bangun tidur jadi belum sempat makan. Kamu sendiri sudah makan?" ucap Mama Vania.
"Diana mah nanti-nanti bisa, sekarang mama makan dulu ya." Diana mengambil piring berisi makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Dengan telaten Diana menyuapi ibu mertuanya. Bahkan sesekali mereka saling mengobrol, segala bentuk perlakuan Diana terhadap Mama Vania tampak begitu natural dan tulus.
"Lihatlah istrimu, dia begitu telaten mengurus mamamu, padahal tahu sendiri mamamu kalau sakit susah sekali dibujuk untuk makan. Tapi sekali ucapan menantunya langsung dituruti." ujar Papa Nathan kepada Nico.
"Nico, habis ini kalian pulang saja ya, biar Mama sama papa. Tapi kamu ajak Diana makan malam dulu." ujar Mama Vania yang sudah selesai makan.
"Iya ma.." jawab Nico.
"Mama jangan capek-capek ya, semoga cepat sembuh. Diana gak mau lihat mama sakit." Rasanya begitu sedih melihat sang mertua yang terbaring lemah begini, apalagi dengan perjuangannya yang melawan penyakit kanker dalam tubuhnya pasti sangatlah berat. Keduanya kini telah berpamitan untuk pulang karena Mama Vania terus mendesak mereka untuk segera pulang. Sebelum itu Nico mengajak Diana untuk makan malam di salah satu restoran karena memang mereka belum sempat makan sejak setelah acara pernikahan tadi.
Nico dan Diana duduk sambil mengobrol ringan sambil menunggu makanan datang. Namun tak lama kemudian datanglah tiga orang pria yang menghampiri mereka.
"Wih.. Nico, dinner disini lo.. bawa gandengan lagi. Udah move on berarti." celetuk salah satu pria.
"E-eh.. kalian, makan disini juga?" Nico sedikit terkejut bertemu dengan teman-temannya semasa kuliah.
"Kita baru aja selesai makan, ngomong-ngomong ini siapa? cewek lo? tapi kok keliatan masih muda banget?" tanya yang lainnya.
"Ini adek lo?" tanya teman lainnya.
Nico sedikit bingung menjawab pasalnya jika dia akan mendapat banyak protes jika menikah tanpa mengundang mereka.
"Emm.. iya, a-adek gue.." celetuk Nico.
Sementara Diana hanya bisa membulatkan kedua netranya, entah kenapa saat mendengar Nico tak mengakui dirinya sebagai istri rasanya begitu menyesakkan.
"Tetap saja, selama ini posisiku hanya dianggap adiknya. Sebegitu memalukan kah jika menikah denganku?." batin Diana menahan sesak dalam hatinya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Dia Amalia
widihhh minta ditabok tu mulut bg nico😏😏
2024-01-13
0
Novi Sri
wis terima aja Di,trus klo suatu hari omongan nya nico di balikin kira²nico sakit ht g ya ?
2023-12-01
0
𝘛𝘳𝘪𝘚
adek ketemu gede y nic/Facepalm/
2023-11-30
0