Helaan nafas terdengar dari bibir Diana. Untuk pertama kalinya dia merasa kecewa kepada ibu mertuanya.
Rasanya kesal saat mama Vania kembali mengelak dan memilih untuk tidak jujur tentang keadaannya kepada Nico.
Itu artinya lagi-lagi Diana harus kembali bungkam dan entah kenapa menyembunyikan sesuatu dari suaminya itu sangatlah tidak nyaman untuknya.
Padahal jika dipikir-pikir malah justru sebaiknya Nico mengetahui hal tersebut. Setidaknya ada dukungan tambahan dari sang putra tercinta.
Bukankah mood yang baik akan mempengaruhi imunitas dan kesehatan seseorang?. Begitu pikir Diana.
"Dek kenapa kok ngelamun?" Pertanyaan dari Nico langsung membuat Diana terkesiap.
"Emm.. Nggak apa-apa kak.." Diana tersenyum sumbang. Ingin sekali jujur namun tak mungkin jika sekarang. Nico sedang menyetir juga kondisi jalan yang menanjak dan menikung membuatnya urung.
"Kalau ngantuk tidur saja, nanti kakak bangunkan kalau sudah sampai." ujar Nico.
Diana hanya mengangguk pelan, mungkin benar yang Nico katakan. Tidur sebentar akan sedikit mendinginkan otaknya.
Baru saja memejamkan mata tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi di ponselnya. Mau tak mau Diana terpaksa membuka mata kembali.
Diana mengernyit saat melihat satu pesan masuk dari Mama Vania. Akhirnya dia pun lantas membacanya.
"Diana, maafkan mama ya sayang. Bukannya mama nggak mau jujur, mama hanya belum siap nak. Mama butuh waktu." Akhirnya Diana langsung membalas pesan itu dengan cepat.
"Ma, Diana itu sayang mama.. tapi Diana juga nggak mau terus-terusan menyembunyikan ini dari Kak Nico, Diana takut dosa karena tidak jujur pada suami. Jujur saja aku kecewa sama tindakan mama ini. Maaf ma." Diana lantas mengirim pesan itu kepada ibu mertuanya. Semoga saja dengan pesan itu Mama Vania bisa lebih terbuka pemikirannya
Tak berselang lama Mama Vania membalas pesan Diana lagi. Meski enggan namun Diana masih tetap ingin membacanya. Sekesal-kesalnya dia pun juga tak tega.
"Maaf sudah buat kamu kecewa sayang, maafkan Mama. Baiklah kalau begitu Mama akan jujur sama Nico setelah kalian kembali ya nak. Jangan buat beban masalah ini, nikmati liburan kamu dan salam buat bapak ibu kamu ya Diana sayang." Diana membacanya ada sedikit kelegaan, setidaknya dengan begini dia tak terlalu terbebani lagi.
"Ngga jadi tidurnya? malah sibuk chatting an deh kayaknya." entah kenapa Nico menjadi penasaran dan sedikit kesal saat melihat istrinya yang sibuk menatap ponsel.
Diana pun langsung menoleh ke arah Nico. Wajah masam suaminya itu sangat ketara membuat Diana menahan senyum.
"Ini cuma buka-buka grup chat anak-anak, katanya mau ngajakin reuni kecil-kecilan aja kak." kebetulan disaat yang sama juga tengah ramai pesan singkat dari grup alumni sekolahnya. Mendengar kata reuni membuat Nico semakin melotot.
"Reuni? sama teman-teman SMA kamu? dimana?" pikiran Nico langsung berkelana jauh.
Dalam pikirannya reuni yang Diana lakukan adalah party-party di klub malam seperti yang dilakukan teman-teman Nico biasanya.
"Iya teman SMA, di tempat biasa nanti kakak pasti tau. Teman-temanku banyak yang penasaran tau sama kakak." ujar Diana sambil mengulas senyum manisnya.
"Apa teman-teman kamu banyak cowoknya?" tanya Nico posesif.
"Lumayan sih ada kali hampir setengah jumlah siswa di kelas, tapi nggak semuanya aku akrab. Hanya beberapa saja itupun ketemu kalau pas sekolah sama belajar kelompok." Ada sedikit kelegaan saat Diana menjabarkan ucapannya. Rasanya tidak rela saja jika diana didekati banyak pria.
Keduanya mengobrol-ngobrol ringan hingga hampir dua jam lamanya akhirnya sampai di area perkampungan tempat tinggal kedua orang tua Diana.
Suasana asri dan sejuk karena masih banyaknya pepohonan rindang ditambah lagi dengan hamparan kebun teh di sepanjang jalan membuat susana menjadi semakin segar.
Begitu damai untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk metropolitan. Tak ada lagi kemacetan, polusi udara bahkan suara klakson yang bersahutan. Yang ada justru suara burung-burung yang berkicau.
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan Nico berbelok menuju sebuah pekarangan luas berisi kebun sayuran yang tampak subur dengan sebuah rumah berada di tengahnya. Rumah yang kini tampak kokoh dan nyaman. Jika dahulu hanya sebuah gubug reyot berdinding papan kini telah berubah menjadi rumah layak huni.
Senyum indah terus mengembang di wajah Diana apalagi saat melihat seseorang tercintanya sedang menatap dirinya dengan wajah terkejut.
"Bapaaakk.." Diana langsung berlari menghampiri Pak Herman yang sedang menyiangi tanaman.
"Diana?" ucap Pak Herman tak percaya.
"Sayang hati-hati nanti jat...uh"
BRUKK..
Belum juga Nico menyelesaikan ucapannya Diana sudah jatuh terjerembab di lumpur.
"HUUWAAA... Bajuku kena lumpuurr.."
Cepat-cepat Nico berlari dan berusaha menolong Diana, namun naas kakinya yang hanya berbalut sendal justru tergelincir dan mereka sama-sama terguling dengan posisi saling memeluk.
Mendengar suara kehebohan yang ada di luar membuat Bu Wati penasaran. Namun pandangannya langsung tertuju pada sepasang anak menantunya yang tengah belepotan terkena lumpur.
Baik Pak Herman maupun Bu Wati tak bisa membendung tawanya lagi. Keduanya tampak terpingkal-pingkal hingga memegangi perutnya.
"Itu kenapa kalian malah mesra-mesraan di lumpur? memang kalau pengantin baru harus seromantis itu?" bu Wati menyeka air matanya karena saking terkekeh nya.
"Ibu... kan niatnya Diana tadi mau kasih kejutan, malah kami yang terkejut." ucap Diana dengan wajah dan tubuhnya yang penuh lumpur.
"Nggak apa-apa, justru ini benar-benar kejutan luar biasa." ucap Pak Herman.
Sementara Nico yang sama belepotan lumpur menatap Diana dan langsung tertawa, Diana sendiri juga tak bisa menahan tawa saat melihat wajah suaminya.
"Sudah-sudah sekarang kalian bersihkan tubuh dulu itu belepotan semua." ujar Bu Wati.
Keduanya pun langsung beranjak menuju ke dalam rumah melalui pintu belakang. Saat sampai di kamar mereka hendak menuju kamar mandi. Namun saat Nico hendak memasuki kamar mandi yang ada di luar tiba-tiba Pak Herman menghentikannya.
"Nak Nico, jangan pakai kamar mandi yang itu dulu. Salurannya mampet dan baru mau dibenerin nanti sore tukangnya. Mending kalian di toilet dalam kamar saja." ujar Pak Herman.
"Ah, iya Pak.." Nico pun langsung pergi ke dalam kamar Diana.
Saat dia hendak memasuki toilet berbarengan dengan Diana yang juga hendak masuk.
"K-kakak mau mandi juga?" tanya Diana.
"Iya.. kata Bapak kamar mandi depan masih nggak bisa digunakan." jawab Nico, namun ide jahil muncul dari Nico.
"Kalau kita mandi bareng gimana? kan keburu kering lumpurnya dan susah dibersihkan" Nico sengaja beralasan hanya untuk iseng saja.
"Yaudah ayo." jawab Diana sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sementara Nico terperangah tak percaya dengan jawaban Diana. Tak disangkanya keisengan itu benar-benar terealisasi. Tentu dia langsung girang bukan main dan cepat-cepat menyusul gadisnya ke dalam.
"K-Kak Nico hadap sana, nggak boleh noleh ke aku. Aku juga mau hadap sini." Diana menunjuk arah berlawanan.
"oke.." Nico tak keberatan.
Keduanya kini telah melepas pakaian masing-masing. Mereka mulai membasahi tubuh dan membersihkannya. Namun ada hal yang berbeda yakni sama-sama canggung dan deg-degan.
Sebagai seorang pria sejati tentu jiwa kelaki-lakiannya terus meronta apalagi ada seorang wanita cantik yang tengah polos tanpa sehelai pakaian pun di belakangnya.
Dengan perlahan Nico sedikit demi sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang hingga menabrak punggung Diana.
"Akh.." secara reflek Diana memekik, padahal saat ini dirinya tengah berusaha meredam jantungnya yang terasa lompat-lompatan.
"Maaf-maaf.. nggak sengaja, aku agak kesusahan menggosok punggungku soalnya." Nico berkilah.
Diana lalu berfikir sesaat untuk membantunya, tapi dia malu untuk berbalik meski Nico sudah beberapa kali melihat tubuh atasnya. Namun Diana belum siap untuk melihat tubuh Nico. Namun jika punggung saja mungkin dia tak terlalu melihat tubuh Nico.
"Ehmm.. M-mau dibantu?" tanya Diana hati-hati.
"Boleh.." Nico tersenyum bahagia.
Diana pun berbalik dan mulai menggosok punggung Nico. Diana sempat menahan nafas saat menatap punggung kokoh itu. Meski tubuh Nico tak terlalu gempal namun menurut Diana postur itu cukup pas.
Diana yang sejak tadi fokus menatap lurus dan agak ke atas menggosok punggung suaminya tiba-tiba penasaran dan mulai menatap ke bawah. Dia sedikit tersentak saat melihat b*k*ng suaminya yang pertama kalinya dia lihat milik orang dewasa secara langsung. Susah payah dia menelan ludahnya sendiri.
Namun tiba-tiba Nico justru membalikkan tubuhnya dan keduanya kini sedang berhadap-hadapan. Diana yang terkejut secara reflek mundur ke belakang. Namun di malah hilang keseimbangan dan hampir terjatuh.
Untung saja Nico dengan cepat meraih tubuhnya dan menariknya ke dalam pelukan pria itu. Kulit mereka saling bertemu dan rasa hangat menjalar diikuti dengan gelenyar aneh yang mereka rasakan.
Untuk sesaat tatapan keduanya saling beradu, Nico tak ingin melewatkan kesempatan itu. didekatkannya wajah sang istri dan dengan gerakan tak terduga dia langsung mel umat bibir mungil Diana.
Awalnya Diana sangat terkejut namun usapan lembut yang Nico lakukan pada punggung mulus istrinya lama kelamaan membuatnya mulai merasa nyaman.
Ciuman itu terasa hangat dan lama kelamaan menjadi semakin dalam. Keduanya yang sudah terbakar gairah menjadi semakin menggebu. Tangan Nico tak tinggal diam, dia mulai meremas bukit kenyal di dada Diana juga bongkahan pan tat miliknya dengan gemas. Diana sendiri merasakan sesuatu benda keras yang terasa menusuk bawah perutnya.
Diana yang ingin memundurkan tubuhnya semakin dihimpit oleh Nico. Bahkan dengan nakalnya Nico meraih tangan Diana dan mengarahkannya pada pusaka miliknya yang mulai menegang.
Awalnya Diana masih terbuai dengan permainan itu namun lama kelamaan dia sadar akan satu hal. Ini tidak bisa diteruskan.
Secara reflek Diana langsung menjauhkan tubuhnya dari dekapan Nico. Cepat-cepat dia meraih handuk dan melilitkan ke tubuhnya dan berjalan keluara..
Nico yang masih berada di tempatnya hanya bisa membeo. Sudah kurang sedikit lagi namun nyatanya hal itu belum berhasil juga. Dia hanya bisa menatap kepemilikannya yang hanya bisa menegak tanpa perantara.
"Gagal lagi.. gagal lagi.." gumam Nico.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Aisyah farhana
sabar mas sabar menghadapi isteri kecilmu
2023-12-13
1
Esther Lestari
sabar Nico😂😂
2023-12-13
0