Bab 14 gara-gara lumpur l

Helaan nafas terdengar dari bibir Diana. Untuk pertama kalinya dia merasa kecewa kepada ibu mertuanya.

Rasanya kesal saat mama Vania kembali mengelak dan memilih untuk tidak jujur tentang keadaannya kepada Nico.

Itu artinya lagi-lagi Diana harus kembali bungkam dan entah kenapa menyembunyikan sesuatu dari suaminya itu sangatlah tidak nyaman untuknya.

Padahal jika dipikir-pikir malah justru sebaiknya Nico mengetahui hal tersebut. Setidaknya ada dukungan tambahan dari sang putra tercinta.

Bukankah mood yang baik akan mempengaruhi imunitas dan kesehatan seseorang?. Begitu pikir Diana.

"Dek kenapa kok ngelamun?" Pertanyaan dari Nico langsung membuat Diana terkesiap.

"Emm.. Nggak apa-apa kak.." Diana tersenyum sumbang. Ingin sekali jujur namun tak mungkin jika sekarang. Nico sedang menyetir juga kondisi jalan yang menanjak dan menikung membuatnya urung.

"Kalau ngantuk tidur saja, nanti kakak bangunkan kalau sudah sampai." ujar Nico.

Diana hanya mengangguk pelan, mungkin benar yang Nico katakan. Tidur sebentar akan sedikit mendinginkan otaknya.

Baru saja memejamkan mata tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi di ponselnya. Mau tak mau Diana terpaksa membuka mata kembali.

Diana mengernyit saat melihat satu pesan masuk dari Mama Vania. Akhirnya dia pun lantas membacanya.

"Diana, maafkan mama ya sayang. Bukannya mama nggak mau jujur, mama hanya belum siap nak. Mama butuh waktu." Akhirnya Diana langsung membalas pesan itu dengan cepat.

"Ma, Diana itu sayang mama.. tapi Diana juga nggak mau terus-terusan menyembunyikan ini dari Kak Nico, Diana takut dosa karena tidak jujur pada suami. Jujur saja aku kecewa sama tindakan mama ini. Maaf ma." Diana lantas mengirim pesan itu kepada ibu mertuanya. Semoga saja dengan pesan itu Mama Vania bisa lebih terbuka pemikirannya

Tak berselang lama Mama Vania membalas pesan Diana lagi. Meski enggan namun Diana masih tetap ingin membacanya. Sekesal-kesalnya dia pun juga tak tega.

"Maaf sudah buat kamu kecewa sayang, maafkan Mama. Baiklah kalau begitu Mama akan jujur sama Nico setelah kalian kembali ya nak. Jangan buat beban masalah ini, nikmati liburan kamu dan salam buat bapak ibu kamu ya Diana sayang." Diana membacanya ada sedikit kelegaan, setidaknya dengan begini dia tak terlalu terbebani lagi.

"Ngga jadi tidurnya? malah sibuk chatting an deh kayaknya." entah kenapa Nico menjadi penasaran dan sedikit kesal saat melihat istrinya yang sibuk menatap ponsel.

Diana pun langsung menoleh ke arah Nico. Wajah masam suaminya itu sangat ketara membuat Diana menahan senyum.

"Ini cuma buka-buka grup chat anak-anak, katanya mau ngajakin reuni kecil-kecilan aja kak." kebetulan disaat yang sama juga tengah ramai pesan singkat dari grup alumni sekolahnya. Mendengar kata reuni membuat Nico semakin melotot.

"Reuni? sama teman-teman SMA kamu? dimana?" pikiran Nico langsung berkelana jauh.

Dalam pikirannya reuni yang Diana lakukan adalah party-party di klub malam seperti yang dilakukan teman-teman Nico biasanya.

"Iya teman SMA, di tempat biasa nanti kakak pasti tau. Teman-temanku banyak yang penasaran tau sama kakak." ujar Diana sambil mengulas senyum manisnya.

"Apa teman-teman kamu banyak cowoknya?" tanya Nico posesif.

"Lumayan sih ada kali hampir setengah jumlah siswa di kelas, tapi nggak semuanya aku akrab. Hanya beberapa saja itupun ketemu kalau pas sekolah sama belajar kelompok." Ada sedikit kelegaan saat Diana menjabarkan ucapannya. Rasanya tidak rela saja jika diana didekati banyak pria.

Keduanya mengobrol-ngobrol ringan hingga hampir dua jam lamanya akhirnya sampai di area perkampungan tempat tinggal kedua orang tua Diana.

Suasana asri dan sejuk karena masih banyaknya pepohonan rindang ditambah lagi dengan hamparan kebun teh di sepanjang jalan membuat susana menjadi semakin segar.

Begitu damai untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk metropolitan. Tak ada lagi kemacetan, polusi udara bahkan suara klakson yang bersahutan. Yang ada justru suara burung-burung yang berkicau.

Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan Nico berbelok menuju sebuah pekarangan luas berisi kebun sayuran yang tampak subur dengan sebuah rumah berada di tengahnya. Rumah yang kini tampak kokoh dan nyaman. Jika dahulu hanya sebuah gubug reyot berdinding papan kini telah berubah menjadi rumah layak huni.

Senyum indah terus mengembang di wajah Diana apalagi saat melihat seseorang tercintanya sedang menatap dirinya dengan wajah terkejut.

"Bapaaakk.." Diana langsung berlari menghampiri Pak Herman yang sedang menyiangi tanaman.

"Diana?" ucap Pak Herman tak percaya.

"Sayang hati-hati nanti jat...uh"

BRUKK..

Belum juga Nico menyelesaikan ucapannya Diana sudah jatuh terjerembab di lumpur.

"HUUWAAA... Bajuku kena lumpuurr.."

Cepat-cepat Nico berlari dan berusaha menolong Diana, namun naas kakinya yang hanya berbalut sendal justru tergelincir dan mereka sama-sama terguling dengan posisi saling memeluk.

Mendengar suara kehebohan yang ada di luar membuat Bu Wati penasaran. Namun pandangannya langsung tertuju pada sepasang anak menantunya yang tengah belepotan terkena lumpur.

Baik Pak Herman maupun Bu Wati tak bisa membendung tawanya lagi. Keduanya tampak terpingkal-pingkal hingga memegangi perutnya.

"Itu kenapa kalian malah mesra-mesraan di lumpur? memang kalau pengantin baru harus seromantis itu?" bu Wati menyeka air matanya karena saking terkekeh nya.

"Ibu... kan niatnya Diana tadi mau kasih kejutan, malah kami yang terkejut." ucap Diana dengan wajah dan tubuhnya yang penuh lumpur.

"Nggak apa-apa, justru ini benar-benar kejutan luar biasa." ucap Pak Herman.

Sementara Nico yang sama belepotan lumpur menatap Diana dan langsung tertawa, Diana sendiri juga tak bisa menahan tawa saat melihat wajah suaminya.

"Sudah-sudah sekarang kalian bersihkan tubuh dulu itu belepotan semua." ujar Bu Wati.

Keduanya pun langsung beranjak menuju ke dalam rumah melalui pintu belakang. Saat sampai di kamar mereka hendak menuju kamar mandi. Namun saat Nico hendak memasuki kamar mandi yang ada di luar tiba-tiba Pak Herman menghentikannya.

"Nak Nico, jangan pakai kamar mandi yang itu dulu. Salurannya mampet dan baru mau dibenerin nanti sore tukangnya. Mending kalian di toilet dalam kamar saja." ujar Pak Herman.

"Ah, iya Pak.." Nico pun langsung pergi ke dalam kamar Diana.

Saat dia hendak memasuki toilet berbarengan dengan Diana yang juga hendak masuk.

"K-kakak mau mandi juga?" tanya Diana.

"Iya.. kata Bapak kamar mandi depan masih nggak bisa digunakan." jawab Nico, namun ide jahil muncul dari Nico.

"Kalau kita mandi bareng gimana? kan keburu kering lumpurnya dan susah dibersihkan" Nico sengaja beralasan hanya untuk iseng saja.

"Yaudah ayo." jawab Diana sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sementara Nico terperangah tak percaya dengan jawaban Diana. Tak disangkanya keisengan itu benar-benar terealisasi. Tentu dia langsung girang bukan main dan cepat-cepat menyusul gadisnya ke dalam.

"K-Kak Nico hadap sana, nggak boleh noleh ke aku. Aku juga mau hadap sini." Diana menunjuk arah berlawanan.

"oke.." Nico tak keberatan.

Keduanya kini telah melepas pakaian masing-masing. Mereka mulai membasahi tubuh dan membersihkannya. Namun ada hal yang berbeda yakni sama-sama canggung dan deg-degan.

Sebagai seorang pria sejati tentu jiwa kelaki-lakiannya terus meronta apalagi ada seorang wanita cantik yang tengah polos tanpa sehelai pakaian pun di belakangnya.

Dengan perlahan Nico sedikit demi sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang hingga menabrak punggung Diana.

"Akh.." secara reflek Diana memekik, padahal saat ini dirinya tengah berusaha meredam jantungnya yang terasa lompat-lompatan.

"Maaf-maaf.. nggak sengaja, aku agak kesusahan menggosok punggungku soalnya." Nico berkilah.

Diana lalu berfikir sesaat untuk membantunya, tapi dia malu untuk berbalik meski Nico sudah beberapa kali melihat tubuh atasnya. Namun Diana belum siap untuk melihat tubuh Nico. Namun jika punggung saja mungkin dia tak terlalu melihat tubuh Nico.

"Ehmm.. M-mau dibantu?" tanya Diana hati-hati.

"Boleh.." Nico tersenyum bahagia.

Diana pun berbalik dan mulai menggosok punggung Nico. Diana sempat menahan nafas saat menatap punggung kokoh itu. Meski tubuh Nico tak terlalu gempal namun menurut Diana postur itu cukup pas.

Diana yang sejak tadi fokus menatap lurus dan agak ke atas menggosok punggung suaminya tiba-tiba penasaran dan mulai menatap ke bawah. Dia sedikit tersentak saat melihat b*k*ng suaminya yang pertama kalinya dia lihat milik orang dewasa secara langsung. Susah payah dia menelan ludahnya sendiri.

Namun tiba-tiba Nico justru membalikkan tubuhnya dan keduanya kini sedang berhadap-hadapan. Diana yang terkejut secara reflek mundur ke belakang. Namun di malah hilang keseimbangan dan hampir terjatuh.

Untung saja Nico dengan cepat meraih tubuhnya dan menariknya ke dalam pelukan pria itu. Kulit mereka saling bertemu dan rasa hangat menjalar diikuti dengan gelenyar aneh yang mereka rasakan.

Untuk sesaat tatapan keduanya saling beradu, Nico tak ingin melewatkan kesempatan itu. didekatkannya wajah sang istri dan dengan gerakan tak terduga dia langsung mel umat bibir mungil Diana.

Awalnya Diana sangat terkejut namun usapan lembut yang Nico lakukan pada punggung mulus istrinya lama kelamaan membuatnya mulai merasa nyaman.

Ciuman itu terasa hangat dan lama kelamaan menjadi semakin dalam. Keduanya yang sudah terbakar gairah menjadi semakin menggebu. Tangan Nico tak tinggal diam, dia mulai meremas bukit kenyal di dada Diana juga bongkahan pan tat miliknya dengan gemas. Diana sendiri merasakan sesuatu benda keras yang terasa menusuk bawah perutnya.

Diana yang ingin memundurkan tubuhnya semakin dihimpit oleh Nico. Bahkan dengan nakalnya Nico meraih tangan Diana dan mengarahkannya pada pusaka miliknya yang mulai menegang.

Awalnya Diana masih terbuai dengan permainan itu namun lama kelamaan dia sadar akan satu hal. Ini tidak bisa diteruskan.

Secara reflek Diana langsung menjauhkan tubuhnya dari dekapan Nico. Cepat-cepat dia meraih handuk dan melilitkan ke tubuhnya dan berjalan keluara..

Nico yang masih berada di tempatnya hanya bisa membeo. Sudah kurang sedikit lagi namun nyatanya hal itu belum berhasil juga. Dia hanya bisa menatap kepemilikannya yang hanya bisa menegak tanpa perantara.

"Gagal lagi.. gagal lagi.." gumam Nico.

...****************...

Terpopuler

Comments

Aisyah farhana

Aisyah farhana

sabar mas sabar menghadapi isteri kecilmu

2023-12-13

1

Esther Lestari

Esther Lestari

sabar Nico😂😂

2023-12-13

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bimbang
2 Bab 2 Sebuah keputusan
3 Bab 3 Hari pernikahan
4 Bab 4 tak diakui
5 Bab 5 menarik perhatian
6 Bab 6 sebuah rencana
7 Bab 7 cemburu
8 Bab 8 jujur
9 Bab 9 belum siap
10 Bab 10 go public
11 Bab 11 teman toxic
12 Bab 12 teori vs praktek
13 Bab 13 alasan apa
14 Bab 14 gara-gara lumpur l
15 Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16 Bab 16 omongan tetangga
17 Bab 17 posesif
18 Bab 18 Gara-gara jamu
19 Bab 19 mirip tikus kejepit
20 Bab 20 Akhirnya terungkap
21 Bab 21 memutuskan pergi
22 Bab 22 menyesal
23 bab 23 situasi sulit
24 Bab 24 rindu tapi gengsi
25 Bab25 kabar duka
26 Bab 26 Surat perpisahan
27 Bab 27 Takut kehilangan
28 Bab 28 ada yang ketahuan
29 Bab 29 musuh dalam selimut
30 Bab 30 Demam tinggi
31 Bab 31 diusir seketika
32 Bab 32 kecil cabe rawit
33 Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34 Bab 34 Diana ngambek.
35 Bab 35 menanggung akibatnya
36 Bab 36 kembali bermanja
37 Bab 37 obrolan dua sahabat
38 Bab 38 sebuah wejangan
39 Bab 39 Menarik perhatian
40 Bab 40 Yang jadi Prioritas
41 Bab 41
42 Bab 42 pusat perhatian
43 Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44 Bab 44 sebuah hadiah
45 Bab 45 berangkat
46 Bab 46 ternyata...
47 Bab 47 kejutan
48 Bab 48 fakta yang sebenarnya
49 Bab 49 tempat damai
50 Bab 50 biang masalah
51 Bab 51 orang dari masa lalu
52 Bab 52 melampiaskan kekesalan
53 Bab 53 sedih dan senang
54 Bab 54 belum siap memaafkan
55 Bab 55 Hamil?
56 Bab 56 kembali mesra
57 Bab 57 kecurigaan Evan
58 Bab 58 penangkal mual
59 Bab 59 Dimabuk cinta
60 Bab 60 pengganggu
61 Bab 61 Musibah dan kehilangan
62 Bab 62 Keputusan Diana
63 Bab 63 sama-sama terpuruk
64 Bab 64 dukungan dari sahabat
65 Bab 65 Memperbaiki diri
66 Bab 66 masih saling cinta
67 Bab 67 tawaraan pekerjaan
68 Bab 68 Saling merindukan
69 Bab 69 aku merindukanmu
70 Bab 70 fakta yang sebenarnya
71 Bab 71 Aku temani tidur
72 Bab 72 aku ingin pacaran
73 Bab 73 rumah impian
74 Bab 74 menunggu jawaban
75 Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76 Bab 76 masih dirahasiakan
77 Bab 77 Luka di masa lalu
78 Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79 Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80 Bab 80 Akhirnya direstui
81 Bab 81 Semuanya untukmu
82 Bab 82 pulang kampung
83 Bab 83 Kehangatan keluarga
84 Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85 Bab 85 Ya, aku menerimanya
86 Bab 86 mengikhlaskan
87 Bab 87 akhir bahagia
88 karya baru
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1 Bimbang
2
Bab 2 Sebuah keputusan
3
Bab 3 Hari pernikahan
4
Bab 4 tak diakui
5
Bab 5 menarik perhatian
6
Bab 6 sebuah rencana
7
Bab 7 cemburu
8
Bab 8 jujur
9
Bab 9 belum siap
10
Bab 10 go public
11
Bab 11 teman toxic
12
Bab 12 teori vs praktek
13
Bab 13 alasan apa
14
Bab 14 gara-gara lumpur l
15
Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16
Bab 16 omongan tetangga
17
Bab 17 posesif
18
Bab 18 Gara-gara jamu
19
Bab 19 mirip tikus kejepit
20
Bab 20 Akhirnya terungkap
21
Bab 21 memutuskan pergi
22
Bab 22 menyesal
23
bab 23 situasi sulit
24
Bab 24 rindu tapi gengsi
25
Bab25 kabar duka
26
Bab 26 Surat perpisahan
27
Bab 27 Takut kehilangan
28
Bab 28 ada yang ketahuan
29
Bab 29 musuh dalam selimut
30
Bab 30 Demam tinggi
31
Bab 31 diusir seketika
32
Bab 32 kecil cabe rawit
33
Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34
Bab 34 Diana ngambek.
35
Bab 35 menanggung akibatnya
36
Bab 36 kembali bermanja
37
Bab 37 obrolan dua sahabat
38
Bab 38 sebuah wejangan
39
Bab 39 Menarik perhatian
40
Bab 40 Yang jadi Prioritas
41
Bab 41
42
Bab 42 pusat perhatian
43
Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44
Bab 44 sebuah hadiah
45
Bab 45 berangkat
46
Bab 46 ternyata...
47
Bab 47 kejutan
48
Bab 48 fakta yang sebenarnya
49
Bab 49 tempat damai
50
Bab 50 biang masalah
51
Bab 51 orang dari masa lalu
52
Bab 52 melampiaskan kekesalan
53
Bab 53 sedih dan senang
54
Bab 54 belum siap memaafkan
55
Bab 55 Hamil?
56
Bab 56 kembali mesra
57
Bab 57 kecurigaan Evan
58
Bab 58 penangkal mual
59
Bab 59 Dimabuk cinta
60
Bab 60 pengganggu
61
Bab 61 Musibah dan kehilangan
62
Bab 62 Keputusan Diana
63
Bab 63 sama-sama terpuruk
64
Bab 64 dukungan dari sahabat
65
Bab 65 Memperbaiki diri
66
Bab 66 masih saling cinta
67
Bab 67 tawaraan pekerjaan
68
Bab 68 Saling merindukan
69
Bab 69 aku merindukanmu
70
Bab 70 fakta yang sebenarnya
71
Bab 71 Aku temani tidur
72
Bab 72 aku ingin pacaran
73
Bab 73 rumah impian
74
Bab 74 menunggu jawaban
75
Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76
Bab 76 masih dirahasiakan
77
Bab 77 Luka di masa lalu
78
Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79
Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80
Bab 80 Akhirnya direstui
81
Bab 81 Semuanya untukmu
82
Bab 82 pulang kampung
83
Bab 83 Kehangatan keluarga
84
Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85
Bab 85 Ya, aku menerimanya
86
Bab 86 mengikhlaskan
87
Bab 87 akhir bahagia
88
karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!