Dengkuran halus dengan kedua netranya yang tampak sedikit terbuka namun hanya tampak putihnya saja menandakan bahwa tidur Diana benar-benar pulas.
Nico sendiri sedari tadi masih terjaga. Pertama kalinya tidur dalam satu ranjang dengan Diana membuatnya ingin terus memandangnya.
Kadang-kadang Nico heran sendiri melihat bagaimana wajah Diana yang tampak terlalu imut. Jika saja postur tubuhnya yang tak tinggi dan sintal mungkin orang akan mengira bahwa dia masih gadis SMP.
PLUKK..
Diana merubah posisi dengan memeluk tubuh Nico seolah itu adalah guling. Kedua wajah mereka sekarang begitu dekat. Dan Nico semakin leluasa memandang wajah cantik gadis itu.
"Padahal hidupnya di desa, hidupnya penuh kesederhanaan, setiap hari pergi ke ladang tapi kenapa bisa dia begitu cantik. Bahkan kulitnya putih alami tanpa ada noda sedikitpun. Kamu benar-benar seperti sebuah hidden gem." gumam Nico dalam hati.
Hangat pelukan serta wangi vanilla tubuh Diana benar-benar membuat Nico merasa nyaman. Rasa kantuk akhirnya menyerangnya. Tak apa meski kali ini gagal lagi namun setidaknya dia mendapatkan rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
****
Suara gemuruh petir dan kilat saling bersahut-sahutan. Serta gemericik air hujan yang sejak semalam tiada henti rupanya masih berlanjut.
Diana mulai menggeliatkan tubuhnya. Namun ada sesuatu yang terasa berat menindih perutnya. Siapa lagi kalau bukan lengan Nico yang melingkar pada perutnya.
Kepalanya tampak mendusel pada ceruk leher Diana mencari kehangatan disana.
Dengan perlahan Diana menatap jam pada ponselnya yang masih menunjukkan pukul empat pagi. Karena masih mengantuk akhirnya dia kembali memejamkan matanya. Apalagi udara terasa semakin dingin rasanya dia ingin mencari kehangatan pada pelukan Nico saja.
Gerakan Diana yang mengusal di tubuh Nico seketika membuatnya terbangun. Suasana masih gelap dan udara yang dingin membuat mereka kembali bergelung dalam selimut.
"Kok udah bangun?" tanya Nico.
"Hmm.. hujan bikin dingin." gumam Diana.
"Mau dibikin hangat?" tanya Nico.
"Hmm.. Peluk aja sudah hangat. Biasanya kalau dingin begini suka dipeluk ibu." gumam Diana dengan kedua netranya masih terpejam.
Niatan awal Nico yang ingin melanjutkan aksinya langsung terhenti. Melihat wajah polos itu membuat Nico merasa kasihan.
Diana pasti merindukan saat-saat bersama orang tuanya. Gadis muda sepertinya yang tak pernah pergi jauh tiba-tiba harus tinggal dengan orang baru pastilah tidak mudah.
Namun Diana sendiri selama ini tak pernah mengeluh dan selalu terlihat baik-baik saja. Itulah yang membuatnya salut.
"Kamu pasti rindu ibu ya? Mau kalau nanti kita berkunjung kesana?" Nico mengusap lembut kepala istrinya lalu kembali merengkuh tubuh itu untuk memberi kehangatan.
Tak ada jawaban dari Diana sebab gadis itu kembali terlelap.
****
Hujan yang turun sejak semalam nyatanya masih betah saja membasahi bumi. Sudah jam sembilan tapi rasanya masih seperti subuh karena langit abu-abu juga guyuran tanpa henti membuat pandangan semakin menggelap saja.
Sejak tadi tak ada kegiatan berarti yang dilakukan Diana dan juga Nico. Keduanya tampak bermalas-malasan sambil menonton berita di televisi.
"Emang gini ya kalau di kota hujan dikit langsung banjir?" celetuk Diana.
"Ya begitu, kita turun aja pasti nanti banyak jalanan yang banjir. Padahal tadi kakak mau ajakin kamu pulang ke rumah Bapak." ujar Nico sambil menyandarkan kepalanya di bahu Diana.
Mendengarnya Diana langsung terkejut. Kedua netranya bahkan sudah berembun.
"M-maksudnya aku dipulangkan ke rumah bapak? Aku buat kesalahan besar ya sampai kakak mengembalikan aku ke orang tuaku?" Diana teringat nasehat orang tuanya bahwa dia harus menjaga sikap setelah menikah agar suami dan keluarganya bisa menyayangi dirinya. Jika tidak maka suaminya akan mengembalikan kepada orang tuanya.
Sadar akan salah paham Diana maka Nico langsung menegakkan badannya dan menatap Diana.
"Kamu nggak buat kesalahan dek, kamu itu baik dan kakak suka sama kamu. Maksudnya kakak mau ajak kamu berkunjung ke rumah bapak sama ibu. Kita sama-sama menginap di sana." Nico menggenggam tangan Diana. Dan barulah istrinya itu sadar.
" Tapi sekarang hujan pasti jalanan juga banyak yang banjir. Dekat rumah bapak juga rawan longsor kalau begini." ucap Diana.
"Makanya itu kita sementara disini dulu. Kalau hujannya reda baru berangkat. Atau nggak besok aja." ujar Nico. Diana pun mengangguk paham.
Karena keduanya yang sejak tadi tak ada kegiatan yang berarti maka Nico pun memiliki ide. Dia ingin mencari tahu lebih banyak tentang istrinya tersebut.
"Diana, kamu pernah pacaran nggak?" tanya Nico.
"Nggak, kata Bapak nggak boleh pacaran. Bisa bahaya dan bikin konsentrasi belajar terganggu." ujar Diana apa adanya.
"Terus, kalau ciuman. Pelukan, gitu-gitu pernah nggak?" tanya Nico lagi. Meski di yakin Diana belum pernah melakukannya.
"Pernah." jawab Diana sambil mengunyah kentang goreng.
"Hah? Ciuman? Pelukan pernah?" Nico yang terkejut kembali menanyai Diana dengan pertanyaan yang sama.
"Pernah.. Kan kak Nico yang sering cium sama peluk-peluk aku. Jadi pernah dong jawabnya." Nico langsung menghela nafas lega.
"Selain sama Kakak ada nggak?" tanya Nico lagi
Diana pun menggeleng sambil melanjutkan acara mengemilnya.
"Jadi kakak yang pertama dong?" tanya Nico.
"Hu'um.. kak kalau digigit nyamuk bisa hamil ya?" pertanyaan random Diana itu langsung membuat Nico yang sedang minum tersedak seketika.
"Hah? Teori dari mana itu?" Nico mengernyit.
"Gini kak, jadi temanku dulu ada waktu sekolah lehernya selalu merah-merah agak keunguan sih, katanya digigit nyamuk. Tapi nggak lama dia putus sekolah katanya hamil." ujar Diana.
"Maksud kamu begini?" Nico melesakkan wajahnya pada ceruk leher Diana lalu menghisap kulit mulusnya hingga Diana berjengit.
"Awww.. Sakit kak." protes Diana.
"Lihat deh, kayak gitu nggak?" Nico memotret leher Diana kemudian menunjukkannya.
"Iya.. Kok mirip? Berarti bukan digigit nyamuk dong?" ucap Diana dengan kepolosannya.
"Ya itu akibatnya kalau pacaran nggak halal. Beda lagi kalau pacaran halal seperti kita. Bebas mau apa aja nggak dosa." ujar Nico.
"Pantesan, aku kan juga agak heran, nggak percaya juga. Masak cuma gigitan bisa jadi anak. Bukankah kalau di pelajaran biologi itu kehamilan bisa terjadi kalau sel telur berhasil dibuahi oleh sel jantan?." ucap Diana.
"Nah, itu udah pinter teorinya tinggal prakteknya aja kan?" Nico pun menjadi semakin semangat membahas pembicaraan ini.
"Nggak ada praktek kak kalau di sekolah kak. Nggak boleh katanya." ucap Diana dengan polosnya.
"Yaa... Yaa jelas lah dek.. Masak mau praktek. Yang boleh praktek itu cuma kita.." Nico harus benar-benar ekstra sabar.
"Hmmm.. Maksudnya kakak.. Kita praktek bikin anak?" Diana berucap antusias.
"Kamu mau?" Nico juga nampak antusias.
Diana terdiam untuk sebentar. Namun dari raut wajahnya tampak seperti memikirkan sesuatu.
"Nggak kak.." jawaban itu tentunya membuat Nico terkejut.
"Kenapa?"
"Aku.. Belum siap punya anak. Maaf kak." Diana berlari menuju ke dalam kamar. Dia mengunci pintu lalu menangis sesenggukan.
Nico yang sejak tadi melihat perubahan ekspresi Diana menjadi semakin merasa bersalah.
"Apa aku terlalu menuntutnya? Astaga.. Kenapa sulit sekali memahaminya?"
Nico mendengus pelan, ternyata membina hubungan dengan seorang gadis muda yang begitu polos tak semudah yang dibayangkan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Muztafa Aly
sabar nico pelan2 nanti diana akan mau nyerah sdri...
2023-12-10
0
Lusi Hariyani
ha..ha...sabar nico nikah sm bocah kudu sabarrrrr bnyk
2023-12-09
0
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sabar Nico sabar.. resiko kalo punya istri masih muda dan polos apalagi belum pernah pacaran..pelan pelan aja Nico nani juga diana bakalan faham..
2023-12-09
2