Bab 10 go public

Bagaikan seorang pencuri yang tertangkap basah kini Nico hanya bisa duduk terdiam. Dia sama sekali tak bisa berkutik melihat tatapan tajam kakak iparnya. Diana yang duduk di sofa seberang tempat duduk Nico hanya bisa memandangnya iba.

Apartemen Shaka yang biasanya terasa hangat kini berubah dingin dan mencekam.

"Bisa-bisanya ya lo nggak ngakuin adek gue sebagai istri. Lo pikir pernikahan ini main-main?" Shaka mulai mengomel.

"Kak.. Kak Nico nggak bermaksud.."

"Diam, Diana. Kakak tanya Nico bukan kamu." potong Shaka tanpa menatap adiknya.

"Maaf kak.. aku memang yang salah." Nico akhirnya angkat bicara.

"Tau salah kenapa dilakukan?" jawab Shaka kesal.

Nico menghela nafas berat. Jika kemarin-kemarin dirinya bisa menghadapi orang tuanya juga Diana dengan baik, kini Nico tak yakin jika dengan Shaka. Pria itu terkenal memiliki tempramen tinggi jika sudah menyangkut tentang harga dirinya.

"Diana adalah adik kesayanganku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dia termasuk kamu Nico." ujar Shaka tegas.

"Baik, aku akan menjelaskan semuanya tapi tolong kak Shaka mendengar ku dulu." Kini Nico harus mengatakan semua secara jujur. Dia tahu Shaka adalah orang yang tak mudah percaya tapi setidaknya dia tak mau lagi berbohong.

Diana yang sejak tadi duduk terpisah dengan Nico langsung beranjak dan pindah tempat duduk di samping suaminya. Dia menggenggam tangan Nico karena percaya bahwa suaminya tak akan mengecewakannya lagi.

"Jujur awalnya aku tak begitu senang menikah dengan Diana, aku terpaksa karena desakan dari Mama. Aku merasa Diana terlalu muda dan tak cocok denganku, Aku malas menghadapi gadis muda yang manja nantinya akan merepotkanku. Tapi mama terus meyakinkanku bahwa Diana berbeda, dia meskipun masih muda namun memiliki sifat yang dewasa dan mandiri. Akhirnya aku pun merasakannya sendiri. Diana memang beda, dia begitu baik dann menyenangkan sekali saat berada di dekatnya. Dia selalu memberikanku energi positif." Nico menatap Diana dengan senyuman yang terukir di wajahnya.

"Sekarang aku sadar bahwa ucapan Mama adalah benar. Diana memang gadis yang terbaik. Diantara kami mungkin memang belum tumbuh cinta sebesar cinta Kak Shaka dan Mbak Hana tapi aku yakin suatu sat nanti kami akan berhasil membangun hubungan yang luar biasa." Terlihat dari cara Nico memandang Diana kini sudah berbeda, ada percikan cinta yang mulai tumbuh dalam hatinya.

Sejenak Shaka terdiam atas ucapan Nico. Mau tak terima namun dia melihat adiknya yang sudah tampak menyukai Nico. Dia pun tak bisa berbuat banyak akhirnya.

"Tapi kan.."

"Udah-udah, berantemnya nanti dulu nih pasta nya udah matang. Kalian semua pasti lapar kan gara-gara gagal lunch." Ucapan Shaka terpotong seketika saat Hana membawa satu mangkuk besar berisi pasta.

"Sayang.. Aku masih marah loh." Shaka tak terima saat istrinya justru hadir mengacaukan suasana tegang itu.

"Nungguin kamu marah nggak selesai-selesai keburu lapar. Di pending dulu nanti lanjut lagi." Dengan entengnya Hana menyajikan pasta di piring dan memberikan kepada suaminya.

Se marah-marahnya Shaka tetap saja jika sudah berhadapan dengan Hana maka akan hilang seketika perasaan itu dan berganti dengan cinta.

"Sayang, jangan terlalu keras pada mereka. Pernikahan mereka itu beda dengan kita, mereka dijodohkan tanpa ada rasa cinta. Cuba kamu dulu yang dijodohkan mama nggak mau kan? Masih untung mereka mau menjalaninya." Hana mengusap lembut tangan Shaka. Salah satu titik lemahnya adalah perhatian dari istrinya.

"Beri mereka waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya. Mereka sudah berumah tangga dan tidak baik kita terlalu ikut campur." Hana kembali mengingatkan suaminya.

"Hmm.. Baiklah, kali ini aku akan memaafkan kalian. Tapi ingat jangan ada acara berbohong lagi didepan orang lain." Shaka akhirnya tak jadi memarahi mereka.

"Makasih kak.." Tentu saja Nico dan Diana sangat bahagia. Jika saja Hana tak membantunya berbicara dengan Shaka mungkin saat ini mereka masih mendapatkan omelan.

***

Nico dan Diana kini kembali pulang ke apartemen milik mereka. Saat Diana hendak memasuki kamar tiba-tiba Nico meraih tangan istrinya itu dan menariknya ke dalam pelukan.

"Makasih ya, tadi sudah membelaku di depan kak Shaka." Nico membelai lembut punggung Diana sambil mengecup puncak kepalanya.

"Selama kakak memiliki maksud yang baik aku akan selalu membelanya. Sabar ya kak, kak Shaka memang kadang suka over protective kalau sama aku." ujar Diana.

"Wajar lah sayang namanya sama adik perempuan pasti dia akan begitu." Nico yang gemas pada Diana pun mulai menciumi pipi gadis itu.

Sadar ciuman Nico yang lama kelamaan mulai menjalar di bibir dan semakin nakal Diana pun berusaha menjauh.

"Kaak.. Aku mau mandi dulu.. Badanku lengket semua." Diana sedikit meronta.

"Sama, kakak juga mau mandi. Gimana kalau mandi bareng." Goda Nico.

"H-Haah?" Diana membeo seketika.

Melihat ekspresi lucu istrinya, Nico pun langsung tertawa sambil mencubit ujung hidung Diana.

"Bercanda sayang, kok kayaknya takut banget gitu." Nico melihat rona wajah Diana yang tampak merah karena blushing.

"Udah-udah.. Aku mau mandi." secepatnya Diana berlari menuju kamarnya dan menutup rapat pintu itu.

Sementara Nico hanya bisa tersenyum gemas melihat tingkah istrinya. Usia yang masih muda juga polosnya membuat Nico kadang harus memaklumi. Dia harus pelan-pelan mendekati Diana.

****

Selesai mandi kini keduanya tengah bersantai menonton film sambil menikmati beberapa cemilan. Diana tampak fokus dengan film yang ditontonnya.

Keduanya sudah tak canggung untuk daling berdekatan seperti saat ini Nico meletakkan kepalanya di atas paha Diana. Sesekali dia akan menggoda Diana dengan mengusal di perut dan meraba gundukan kenyal di atas perutnya itu.

"Kaak.. Geli, aahh.. Jadi nggak fokus nih nonton filmnya." Diana dibuat kalang kabut sendiri saat tangan nakal Nico menelusup ke dalam pembungkus dadanya dan memainkan ujungnya yang nampak sudah mengeras.

"Ini sekalian belajar mengasah konsentrasi sayang. Nikmatin aja lagian itu filmnya gak seru-seru amat kok." rasanya percuma memberitahu Nico jika sudah seperti itu. Pasti ada saja jawabannya.

Bahkan kini kepala Nico sudah masuk kedalam kaos oversize istrinya dan mencari benda yang sejak tadi dia mainkan.

"Kaak.. U-udah.. Geli.." Diana semakin kalang kabut bahkan kini fokusnya hanya pada tubuhnya yang seolah sedang tersengat listrik.

Nico sengaja menggoda Diana habis-habisan agar gadis itu menyerah dan memberikan mahkotanya. Sebagai laki-laki normal tentu Nico sudah tak tahan jika disuguhkan dengan pemandangan begini setiap hari.

"Aahh.. Aahhh.. Kaakk.." Diana semakin dibuat tersengal sambil menjambak rambut Nico. Rasanya ingin menangis saja tapi kenapa lama kelamaan sangat enak? Diana jadi bingung sendiri.

Disaat Nico sedang gencar-gencarnya menggoda Diana tiba-tiba ponselnya berdering.

"K-kak.. Uhh .. HP nyaa.. Bunyii ahh.." Diana mencoba memperingati namun dengan suara yang berantakan.

Mau tak mau akhirnya Nico menghentikan aksinya dan meraih ponselnya. Dia melihat nomor kontak temannya yang menelepon.

"Halo.. Ada apa sih?" ucap Nico sedikit kesal.

"Halo, bro lo kemana sih. Ini teman-teman udah ngumpul semua. Buruan kesini cepat." ucap Danu, salah satu teman kuliahnya.

Nico benar-benar lupa karena sudah janji untuk menemui teman-temannya sekaligus mengenalkan Diana pada mereka. Gara-gara keasyikan bermain pada tubuh Diana.

"Yaudah.. Bentar gue siap-siap dulu." Nico akhirnya menutup teleponnya dan menatap Diana yang masih mengatur nafasnya sambil merapikan kaos yang tadi sempat Nico acak-acak.

"Dek, siap-siap ya habis ini ikut kakak ketemu teman-teman." ujar Nico dengan entengnya.

Sementara Diana mau tak mau harus menurutinya padahal dia masih malu setengah mati.

Setelah beberapa menit Diana dan Nico sudah siap untuk pergi. Mereka mengendarai mobil menuju tempat tujuan. Sebuah bar yang biasa menjadi tempat nongkrong para muda mudi.

Saat memasuki Bar Nico terus menggandeng tangan Diana. Dia sudah niat untuk mengungkap status mereka didepan semua orang. Nico tak ingin ada kesalahpahaman lagi.

"Nah.. Itu si empunya nongol." ujar Danu.

"Hey, lo ngajakin adek lo bro.. Boleh juga tuh kenalin ke gue." Dan benar saja rumor Nico memiliki adik cantik sudah semakin menyebar luas.

Nico melihat teman-temannya yang berkumpul cukup banyak, sepuluh orang termasuk delapan cowok dan dia cewek itu pun mereka kebetulan sedang datang ke tempat itu dan akhirnya bergabung dadakan.

Namun satu hal yang membuatnya sedikit terusik adalah dokter Dimas yang ternyata juga ikut bergabung.

"Hmm.. Gue mau jujur nih soal siapa Diana dan apa status gue sebenarnya." Nico kembali meraih pinggang Diana dan merapatkan kepada tubuhnya.

"Diana ini bukan adik gue, melainkan istri gue. Kami sudah menikah sah secara hukum." senyum indah mengembang pada bibir mereka seolah tak mempedulikan sorak heboh teman-temannya.

...****************...

Terpopuler

Comments

Zahbid Inonk

Zahbid Inonk

nah gtu dong d publikasi kn

2023-12-07

0

Esther Lestari

Esther Lestari

gitu dong Nico👍

2023-12-07

0

𝘛𝘳𝘪𝘚

𝘛𝘳𝘪𝘚

mantaffff,, gitu donk nic yg gentle

2023-12-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bimbang
2 Bab 2 Sebuah keputusan
3 Bab 3 Hari pernikahan
4 Bab 4 tak diakui
5 Bab 5 menarik perhatian
6 Bab 6 sebuah rencana
7 Bab 7 cemburu
8 Bab 8 jujur
9 Bab 9 belum siap
10 Bab 10 go public
11 Bab 11 teman toxic
12 Bab 12 teori vs praktek
13 Bab 13 alasan apa
14 Bab 14 gara-gara lumpur l
15 Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16 Bab 16 omongan tetangga
17 Bab 17 posesif
18 Bab 18 Gara-gara jamu
19 Bab 19 mirip tikus kejepit
20 Bab 20 Akhirnya terungkap
21 Bab 21 memutuskan pergi
22 Bab 22 menyesal
23 bab 23 situasi sulit
24 Bab 24 rindu tapi gengsi
25 Bab25 kabar duka
26 Bab 26 Surat perpisahan
27 Bab 27 Takut kehilangan
28 Bab 28 ada yang ketahuan
29 Bab 29 musuh dalam selimut
30 Bab 30 Demam tinggi
31 Bab 31 diusir seketika
32 Bab 32 kecil cabe rawit
33 Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34 Bab 34 Diana ngambek.
35 Bab 35 menanggung akibatnya
36 Bab 36 kembali bermanja
37 Bab 37 obrolan dua sahabat
38 Bab 38 sebuah wejangan
39 Bab 39 Menarik perhatian
40 Bab 40 Yang jadi Prioritas
41 Bab 41
42 Bab 42 pusat perhatian
43 Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44 Bab 44 sebuah hadiah
45 Bab 45 berangkat
46 Bab 46 ternyata...
47 Bab 47 kejutan
48 Bab 48 fakta yang sebenarnya
49 Bab 49 tempat damai
50 Bab 50 biang masalah
51 Bab 51 orang dari masa lalu
52 Bab 52 melampiaskan kekesalan
53 Bab 53 sedih dan senang
54 Bab 54 belum siap memaafkan
55 Bab 55 Hamil?
56 Bab 56 kembali mesra
57 Bab 57 kecurigaan Evan
58 Bab 58 penangkal mual
59 Bab 59 Dimabuk cinta
60 Bab 60 pengganggu
61 Bab 61 Musibah dan kehilangan
62 Bab 62 Keputusan Diana
63 Bab 63 sama-sama terpuruk
64 Bab 64 dukungan dari sahabat
65 Bab 65 Memperbaiki diri
66 Bab 66 masih saling cinta
67 Bab 67 tawaraan pekerjaan
68 Bab 68 Saling merindukan
69 Bab 69 aku merindukanmu
70 Bab 70 fakta yang sebenarnya
71 Bab 71 Aku temani tidur
72 Bab 72 aku ingin pacaran
73 Bab 73 rumah impian
74 Bab 74 menunggu jawaban
75 Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76 Bab 76 masih dirahasiakan
77 Bab 77 Luka di masa lalu
78 Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79 Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80 Bab 80 Akhirnya direstui
81 Bab 81 Semuanya untukmu
82 Bab 82 pulang kampung
83 Bab 83 Kehangatan keluarga
84 Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85 Bab 85 Ya, aku menerimanya
86 Bab 86 mengikhlaskan
87 Bab 87 akhir bahagia
88 karya baru
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1 Bimbang
2
Bab 2 Sebuah keputusan
3
Bab 3 Hari pernikahan
4
Bab 4 tak diakui
5
Bab 5 menarik perhatian
6
Bab 6 sebuah rencana
7
Bab 7 cemburu
8
Bab 8 jujur
9
Bab 9 belum siap
10
Bab 10 go public
11
Bab 11 teman toxic
12
Bab 12 teori vs praktek
13
Bab 13 alasan apa
14
Bab 14 gara-gara lumpur l
15
Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16
Bab 16 omongan tetangga
17
Bab 17 posesif
18
Bab 18 Gara-gara jamu
19
Bab 19 mirip tikus kejepit
20
Bab 20 Akhirnya terungkap
21
Bab 21 memutuskan pergi
22
Bab 22 menyesal
23
bab 23 situasi sulit
24
Bab 24 rindu tapi gengsi
25
Bab25 kabar duka
26
Bab 26 Surat perpisahan
27
Bab 27 Takut kehilangan
28
Bab 28 ada yang ketahuan
29
Bab 29 musuh dalam selimut
30
Bab 30 Demam tinggi
31
Bab 31 diusir seketika
32
Bab 32 kecil cabe rawit
33
Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34
Bab 34 Diana ngambek.
35
Bab 35 menanggung akibatnya
36
Bab 36 kembali bermanja
37
Bab 37 obrolan dua sahabat
38
Bab 38 sebuah wejangan
39
Bab 39 Menarik perhatian
40
Bab 40 Yang jadi Prioritas
41
Bab 41
42
Bab 42 pusat perhatian
43
Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44
Bab 44 sebuah hadiah
45
Bab 45 berangkat
46
Bab 46 ternyata...
47
Bab 47 kejutan
48
Bab 48 fakta yang sebenarnya
49
Bab 49 tempat damai
50
Bab 50 biang masalah
51
Bab 51 orang dari masa lalu
52
Bab 52 melampiaskan kekesalan
53
Bab 53 sedih dan senang
54
Bab 54 belum siap memaafkan
55
Bab 55 Hamil?
56
Bab 56 kembali mesra
57
Bab 57 kecurigaan Evan
58
Bab 58 penangkal mual
59
Bab 59 Dimabuk cinta
60
Bab 60 pengganggu
61
Bab 61 Musibah dan kehilangan
62
Bab 62 Keputusan Diana
63
Bab 63 sama-sama terpuruk
64
Bab 64 dukungan dari sahabat
65
Bab 65 Memperbaiki diri
66
Bab 66 masih saling cinta
67
Bab 67 tawaraan pekerjaan
68
Bab 68 Saling merindukan
69
Bab 69 aku merindukanmu
70
Bab 70 fakta yang sebenarnya
71
Bab 71 Aku temani tidur
72
Bab 72 aku ingin pacaran
73
Bab 73 rumah impian
74
Bab 74 menunggu jawaban
75
Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76
Bab 76 masih dirahasiakan
77
Bab 77 Luka di masa lalu
78
Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79
Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80
Bab 80 Akhirnya direstui
81
Bab 81 Semuanya untukmu
82
Bab 82 pulang kampung
83
Bab 83 Kehangatan keluarga
84
Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85
Bab 85 Ya, aku menerimanya
86
Bab 86 mengikhlaskan
87
Bab 87 akhir bahagia
88
karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!