Bagaikan seorang pencuri yang tertangkap basah kini Nico hanya bisa duduk terdiam. Dia sama sekali tak bisa berkutik melihat tatapan tajam kakak iparnya. Diana yang duduk di sofa seberang tempat duduk Nico hanya bisa memandangnya iba.
Apartemen Shaka yang biasanya terasa hangat kini berubah dingin dan mencekam.
"Bisa-bisanya ya lo nggak ngakuin adek gue sebagai istri. Lo pikir pernikahan ini main-main?" Shaka mulai mengomel.
"Kak.. Kak Nico nggak bermaksud.."
"Diam, Diana. Kakak tanya Nico bukan kamu." potong Shaka tanpa menatap adiknya.
"Maaf kak.. aku memang yang salah." Nico akhirnya angkat bicara.
"Tau salah kenapa dilakukan?" jawab Shaka kesal.
Nico menghela nafas berat. Jika kemarin-kemarin dirinya bisa menghadapi orang tuanya juga Diana dengan baik, kini Nico tak yakin jika dengan Shaka. Pria itu terkenal memiliki tempramen tinggi jika sudah menyangkut tentang harga dirinya.
"Diana adalah adik kesayanganku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dia termasuk kamu Nico." ujar Shaka tegas.
"Baik, aku akan menjelaskan semuanya tapi tolong kak Shaka mendengar ku dulu." Kini Nico harus mengatakan semua secara jujur. Dia tahu Shaka adalah orang yang tak mudah percaya tapi setidaknya dia tak mau lagi berbohong.
Diana yang sejak tadi duduk terpisah dengan Nico langsung beranjak dan pindah tempat duduk di samping suaminya. Dia menggenggam tangan Nico karena percaya bahwa suaminya tak akan mengecewakannya lagi.
"Jujur awalnya aku tak begitu senang menikah dengan Diana, aku terpaksa karena desakan dari Mama. Aku merasa Diana terlalu muda dan tak cocok denganku, Aku malas menghadapi gadis muda yang manja nantinya akan merepotkanku. Tapi mama terus meyakinkanku bahwa Diana berbeda, dia meskipun masih muda namun memiliki sifat yang dewasa dan mandiri. Akhirnya aku pun merasakannya sendiri. Diana memang beda, dia begitu baik dann menyenangkan sekali saat berada di dekatnya. Dia selalu memberikanku energi positif." Nico menatap Diana dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Sekarang aku sadar bahwa ucapan Mama adalah benar. Diana memang gadis yang terbaik. Diantara kami mungkin memang belum tumbuh cinta sebesar cinta Kak Shaka dan Mbak Hana tapi aku yakin suatu sat nanti kami akan berhasil membangun hubungan yang luar biasa." Terlihat dari cara Nico memandang Diana kini sudah berbeda, ada percikan cinta yang mulai tumbuh dalam hatinya.
Sejenak Shaka terdiam atas ucapan Nico. Mau tak terima namun dia melihat adiknya yang sudah tampak menyukai Nico. Dia pun tak bisa berbuat banyak akhirnya.
"Tapi kan.."
"Udah-udah, berantemnya nanti dulu nih pasta nya udah matang. Kalian semua pasti lapar kan gara-gara gagal lunch." Ucapan Shaka terpotong seketika saat Hana membawa satu mangkuk besar berisi pasta.
"Sayang.. Aku masih marah loh." Shaka tak terima saat istrinya justru hadir mengacaukan suasana tegang itu.
"Nungguin kamu marah nggak selesai-selesai keburu lapar. Di pending dulu nanti lanjut lagi." Dengan entengnya Hana menyajikan pasta di piring dan memberikan kepada suaminya.
Se marah-marahnya Shaka tetap saja jika sudah berhadapan dengan Hana maka akan hilang seketika perasaan itu dan berganti dengan cinta.
"Sayang, jangan terlalu keras pada mereka. Pernikahan mereka itu beda dengan kita, mereka dijodohkan tanpa ada rasa cinta. Cuba kamu dulu yang dijodohkan mama nggak mau kan? Masih untung mereka mau menjalaninya." Hana mengusap lembut tangan Shaka. Salah satu titik lemahnya adalah perhatian dari istrinya.
"Beri mereka waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya. Mereka sudah berumah tangga dan tidak baik kita terlalu ikut campur." Hana kembali mengingatkan suaminya.
"Hmm.. Baiklah, kali ini aku akan memaafkan kalian. Tapi ingat jangan ada acara berbohong lagi didepan orang lain." Shaka akhirnya tak jadi memarahi mereka.
"Makasih kak.." Tentu saja Nico dan Diana sangat bahagia. Jika saja Hana tak membantunya berbicara dengan Shaka mungkin saat ini mereka masih mendapatkan omelan.
***
Nico dan Diana kini kembali pulang ke apartemen milik mereka. Saat Diana hendak memasuki kamar tiba-tiba Nico meraih tangan istrinya itu dan menariknya ke dalam pelukan.
"Makasih ya, tadi sudah membelaku di depan kak Shaka." Nico membelai lembut punggung Diana sambil mengecup puncak kepalanya.
"Selama kakak memiliki maksud yang baik aku akan selalu membelanya. Sabar ya kak, kak Shaka memang kadang suka over protective kalau sama aku." ujar Diana.
"Wajar lah sayang namanya sama adik perempuan pasti dia akan begitu." Nico yang gemas pada Diana pun mulai menciumi pipi gadis itu.
Sadar ciuman Nico yang lama kelamaan mulai menjalar di bibir dan semakin nakal Diana pun berusaha menjauh.
"Kaak.. Aku mau mandi dulu.. Badanku lengket semua." Diana sedikit meronta.
"Sama, kakak juga mau mandi. Gimana kalau mandi bareng." Goda Nico.
"H-Haah?" Diana membeo seketika.
Melihat ekspresi lucu istrinya, Nico pun langsung tertawa sambil mencubit ujung hidung Diana.
"Bercanda sayang, kok kayaknya takut banget gitu." Nico melihat rona wajah Diana yang tampak merah karena blushing.
"Udah-udah.. Aku mau mandi." secepatnya Diana berlari menuju kamarnya dan menutup rapat pintu itu.
Sementara Nico hanya bisa tersenyum gemas melihat tingkah istrinya. Usia yang masih muda juga polosnya membuat Nico kadang harus memaklumi. Dia harus pelan-pelan mendekati Diana.
****
Selesai mandi kini keduanya tengah bersantai menonton film sambil menikmati beberapa cemilan. Diana tampak fokus dengan film yang ditontonnya.
Keduanya sudah tak canggung untuk daling berdekatan seperti saat ini Nico meletakkan kepalanya di atas paha Diana. Sesekali dia akan menggoda Diana dengan mengusal di perut dan meraba gundukan kenyal di atas perutnya itu.
"Kaak.. Geli, aahh.. Jadi nggak fokus nih nonton filmnya." Diana dibuat kalang kabut sendiri saat tangan nakal Nico menelusup ke dalam pembungkus dadanya dan memainkan ujungnya yang nampak sudah mengeras.
"Ini sekalian belajar mengasah konsentrasi sayang. Nikmatin aja lagian itu filmnya gak seru-seru amat kok." rasanya percuma memberitahu Nico jika sudah seperti itu. Pasti ada saja jawabannya.
Bahkan kini kepala Nico sudah masuk kedalam kaos oversize istrinya dan mencari benda yang sejak tadi dia mainkan.
"Kaak.. U-udah.. Geli.." Diana semakin kalang kabut bahkan kini fokusnya hanya pada tubuhnya yang seolah sedang tersengat listrik.
Nico sengaja menggoda Diana habis-habisan agar gadis itu menyerah dan memberikan mahkotanya. Sebagai laki-laki normal tentu Nico sudah tak tahan jika disuguhkan dengan pemandangan begini setiap hari.
"Aahh.. Aahhh.. Kaakk.." Diana semakin dibuat tersengal sambil menjambak rambut Nico. Rasanya ingin menangis saja tapi kenapa lama kelamaan sangat enak? Diana jadi bingung sendiri.
Disaat Nico sedang gencar-gencarnya menggoda Diana tiba-tiba ponselnya berdering.
"K-kak.. Uhh .. HP nyaa.. Bunyii ahh.." Diana mencoba memperingati namun dengan suara yang berantakan.
Mau tak mau akhirnya Nico menghentikan aksinya dan meraih ponselnya. Dia melihat nomor kontak temannya yang menelepon.
"Halo.. Ada apa sih?" ucap Nico sedikit kesal.
"Halo, bro lo kemana sih. Ini teman-teman udah ngumpul semua. Buruan kesini cepat." ucap Danu, salah satu teman kuliahnya.
Nico benar-benar lupa karena sudah janji untuk menemui teman-temannya sekaligus mengenalkan Diana pada mereka. Gara-gara keasyikan bermain pada tubuh Diana.
"Yaudah.. Bentar gue siap-siap dulu." Nico akhirnya menutup teleponnya dan menatap Diana yang masih mengatur nafasnya sambil merapikan kaos yang tadi sempat Nico acak-acak.
"Dek, siap-siap ya habis ini ikut kakak ketemu teman-teman." ujar Nico dengan entengnya.
Sementara Diana mau tak mau harus menurutinya padahal dia masih malu setengah mati.
Setelah beberapa menit Diana dan Nico sudah siap untuk pergi. Mereka mengendarai mobil menuju tempat tujuan. Sebuah bar yang biasa menjadi tempat nongkrong para muda mudi.
Saat memasuki Bar Nico terus menggandeng tangan Diana. Dia sudah niat untuk mengungkap status mereka didepan semua orang. Nico tak ingin ada kesalahpahaman lagi.
"Nah.. Itu si empunya nongol." ujar Danu.
"Hey, lo ngajakin adek lo bro.. Boleh juga tuh kenalin ke gue." Dan benar saja rumor Nico memiliki adik cantik sudah semakin menyebar luas.
Nico melihat teman-temannya yang berkumpul cukup banyak, sepuluh orang termasuk delapan cowok dan dia cewek itu pun mereka kebetulan sedang datang ke tempat itu dan akhirnya bergabung dadakan.
Namun satu hal yang membuatnya sedikit terusik adalah dokter Dimas yang ternyata juga ikut bergabung.
"Hmm.. Gue mau jujur nih soal siapa Diana dan apa status gue sebenarnya." Nico kembali meraih pinggang Diana dan merapatkan kepada tubuhnya.
"Diana ini bukan adik gue, melainkan istri gue. Kami sudah menikah sah secara hukum." senyum indah mengembang pada bibir mereka seolah tak mempedulikan sorak heboh teman-temannya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Zahbid Inonk
nah gtu dong d publikasi kn
2023-12-07
0
Esther Lestari
gitu dong Nico👍
2023-12-07
0
𝘛𝘳𝘪𝘚
mantaffff,, gitu donk nic yg gentle
2023-12-07
0