"Loh kenapa Diana digendong begitu? sakit nak?" Bu Wati dan Pak Herman yang sedari tadi sibuk menyiangi rumput di ladangnya langsung terkejut saat putrinya kembali dengan digendong oleh suaminya.
Bahkan keduanya tampak panik dan menyelidiki tubuh Diana dari atas sampai bawah.
"Nggak apa-apa kok Bu, Pak. Nico cuma pengen gendong diana saja biar tidak capek jalannya." Nico hanya menyengir sambil menurunkan Diana.
"Yaampun nak? apa Diana yang memintanya? dia itu berat nak Nico, pasti capek gendong dari tadi. Sudah-sudah ayo istirahat biar ibu ambilkan minum." Bu Wati langsung menuntun menantunya untuk duduk di teras samping rumah. Sementara Diana ditinggalkan begitu saja tanpa dihiraukan sama sekali.
"Aku kan anaknya? tapi Ibu malah heboh sendiri sama Kak Nico." gerutu Diana yang turut berjalan mengekori mereka.
Ibu Wati langsung mengambilkan minum untuk Nico bahkan mengelap keringatnya dengan tissue. Nico saja sampai sungkan sendiri dengan perlakuan Ibu mertuanya.
"Mau dipijitin kakinya nak? pasti pegal sekali ya.?" tentu saja baik Nico maupun Diana langsung membulatkan matanya.
"T-tidak perlu Bu, sungguh aku baik-baik saja, lagi pula tadi memang aku yang berinisiatif menggendong Diana." ucap Nico buru-buru.
"Iya tuh Bu, aku nggak salah, beneran Kak Nico yang inisiatif gendong sendiri mana pas didepan banyak orang lagi, jadi viral kan sekampung." Diana tampak cemberut sementara Nico hanya cekikikan saja.
"Sengaja ngerjain kamu emang. Maaf ya sayang." Nico mentoel pipi Diana membuat gadis itu bersemu merah.
Sementara Bu Wati hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sepasang pengantin baru itu.
"Ya sudah, ibu mau bantu Bapak dulu. Kalian istirahat saja kalau butuh apa-apa panggil ibu ya." ujar Bu Wati.
Saat mereka baru saja masuk rumah ponsel Diana terus berdering. Rupanya panggilan dari teman-temannya.
"Siapa dek?" tanya Nico.
"Teman-teman ngajakin ketemuan." ucap Diana.
"Yaudah ayo kakak antar." Nico tak mau mengekang Diana. Bertemu teman-temannya sesekali tidak masalah lagi pula mumpung dia juga ada di rumahnya.
"Tapi jangan di gendong lagi." Diana menatap Nico dengan serius.
Bagaimana Nico tak tertawa mendengar polosnya istrinya itu. Benar-benar menggemaskan.
"Bukannya enak kalau di gendong? Kan nggak capek sayangku." Nico mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Diana singkat.
Diana merasa Nico sejak pagi bertingkah aneh. Biasanya dia tak senempel ini padanya. Namun begitu dia cukup senang setidaknya suaminya itu menjadi lebih perhatian padanya.
Setelah bersiap-siap keduanya berpamitan pada orang tua Diana. Namun begitu Diana masih belum memberitahu kemana tujuan teman-temannya berkumpul.
"Memangnya dimana sih dek acaranya?" tanya Nico yang sejak tadi menyetir mobilnya mengikuti arahan Diana.
"Ada nanti juga nyampek kakak tau dimana itu." ucap Diana santai.
Tak berselang lama dia meminta Nico berhenti di sebuah rumah. Tampak seorang gadis seumuran dengan Diana melambaikan tangan.
"Diana.." panggil gadis itu.
Diana yang baru turun dari mobil langsung menghampiri temannya dengan begitu bahagia.
"Desi, apa kabar? Kangen banget tau." Ucap Diana.
Nico pun menyusul Diana. Tatapan temannya itu langsung takjub saat melihat Nico. Seketika Desi langsung berbisik kepada Diana.
"Seriusan itu suami kamu? Ganteng poll Diana. Mau dong dikenalin yang model begitu " bisik Desi.
"Eh, suamiku nggak ada duanya ya, jadi yang modelan begitu lainnya nggak asa lagi. Limited edition." Diana sengaja menggoda Desi.
Setelah berkenalan dengan Desi kini Nico membantu memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Ada pakaian anak-anak serta buku bacaan untuk anak-anak juga.
Nico semakin heran bagaimana dengan acara reuni dengan teman-temannya itu sementara yang dibawa barang-barang seperti ini.
Desi memilih duduk di Jok belakang dengan setumpuk barang disampingnya sebab bagasi mobil Nico sudah tidak muat. Namun begitu Diana masih senang mengobrol dengan temannya.
"Pas kebetulan banget ya aku pulang kalian adakan acara ini. Aku udah kangen sama teman-teman semuanya." ucap Diana.
"Iya nih, berita pernikahan kamu heboh apalagi kami semua nggak ada yang diundang dan diberi tahu sama sekali." Ucap Desi sedikit menyindir.
"Maaf ya, soalnya acaranya di Jakarta terus undangan cuma buat keluarga dekat aja." ucap Diana sedikit menyesal.
"Iya-iya aku maafin tapi nanti jangan ngeluh kalau anak-anak lain banyak yang protes." ujar Desi.
Tak berselang lama mereka sampai di sebuah panti asuhan. Tampak beberapa anak gadis tengah berdiri di halaman panti asuhan tersebut seolah menunggu kedatangan Diana dan Desi.
"Nah.. Ini yang ditungguin akhirnya datang juga." ucap seorang gadis yang tak lain adalah teman sekelas Diana.
Nico langsung turun membuka pintu bagasi dan mengeluarkan semua barang-barang yang ada.
Tentu saja pandangan teman-teman Diana langsung tertuju pada wajah tampan Nico. Hal utu membuat Diana sedikit risih.
Setelah selesai mengeluarkan barang-barang langsung Diana meraih tangan Nico dan menggenggamnya.
"wah, Diana makin cantik aja. Sudah jadi nyonya sekarang ya. Kenalin dong suaminya masak dicengkeram terus gitu." ujar salah satu teman Diana yang sengaja melirik-lirik ke arah Nico.
"Yaudah, kenalin ini suamiku namanya Kak Nico." Ucap Diana. Nico hendak menyalami teman-teman Diana namun tangan kanannya terus digenggam erat oleh istrinya.
Saat menoleh kearah Diana gadis itu tampak menatapnya tajam. Sudah pasti dia tak mengijinkan Nico dekat dengan teman-temannya yang sejak tadi genit.
Setelah selesai berbincang dengan ibu pengurus panti kini mereka mulai membagikan beberapa buku, alat tulis dan pakaian untuk anak-anak panti asuhan.
Diana yang sejak tadi sibuk bermain dengan anak-anak kecil membuat Nico begitu gemas. Istri kecilnya itu tampak sangat menyukai anak-anak. Bahkan sejak tadi bergantian anak-anak itu berebut gendong Diana.
Senyuman terus terukir saat Nico memandangi Diana dari kejauhan. Entah kenapa tiba-tiba Nico membayangkan bahwa Diana sibuk menemani anak-anaknya. Sudah bisa dipastikan bahwa Diana kelak akan menjadi ibu yang penyayang.
Namun bayangan itu buyar seketika saat Nico melihat seorang pemuda sejak tadi memperhatikan istrinya. Bahkan pemuda itu sekarang semakin mendekati Diana.
"Diana.." sapa pemuda itu.
"Kak Ridho.." jawab Diana.
"Kamu apa kabar? Lama nggak ketemu ya? Jadi kuliah di Jakarta?" tanya pemuda itu.
"Kabarku baik kak, aku jadi kok kuliah di Jakarta. Mulai minggu depan udah mulai aktif masuk. Kak Ridho sendiri apa kabar?" tanya Diana.
"Kabarku baik, tapi ya gini-gini aja, masih jomblo. Padahal udah pengen deketin anak orang tapi sekarang malah jauh. Hehehe." jawab Ridho sedikit mengkode Diana. Ridho memang menyimpan rasa seka sejak dulu kepada Diana.
Sementara Nico yang merasa risih istrinya didekati pria lain langsung dia menghampirinya. Apalagi pria tersebut sepertinya memiliki perasaan khusus terhadap Diana.
"eehhhmm.. Sayang sudah sore nih, pulang yuk." Nico langsung memeluk Diana dari belakang sambil kepalanya diletakkan di sisi pundak istrinya itu.
Tentu saja Diana terkejut dengan tingkah manja Nico yang tiba-tiba begitu.
"Diana.. S-siapa?" Ridho tentu saja tak kalah terkejutnya. Pria itu bahkan menatap Nico dengan bingung.
"Oh, ini suami aku kak. Kak Nico." jawab Diana.
Nico langsung menjabat tangan Ridho dengan tatapan tajamnya. Bahkan sedikit mencengkeram tangan Ridho seolah memperingati agar tak dekat dengan istrinya itu.
Ridho melihat Nico dari atas sampai bawah. Bahkan dia sempat melirik jam tangan yang dikenakan Nico.
"Dilihat dari penampilannya sepertinya suami Diana orang kaya. Jam tangannya saja harganya bisa buat beli tanah sehektar. Jangan-jangan mobil mewah di depan itu juga mobil suami Diana." batin Ridho minder.
"J-jadi berita tentang kamu yang menikah itu beneran ya? Aku kira cuma gosip aja." ujar Ridho.
"Beneran kok, dan sekarang kita lagi fase pacaran, pacaran halal setelah menikah." jawab Nico jumawa.
Setelah berbasa-basi dengan Ridho kini Nico mengajak pulang Diana. Di sepanjang perjalanan Nico tampak menekuk wajahnya mengingat tentang pria yang mendekati istrinya tadi.
"Ridho itu kayaknya suka deh sama kamu." ucap Nico.
"Gimana kakak tau? Emang dia ngomong ke kakak?" Diana yang polos memang tak memperhatikan tentang Ridho.
"Tau lah, dari tatapan dia aja sudah jelas kalau dia suka kamu. Kakak jari nggak suka kamu dekat sama pria lain selain kakak." kini Nico mulai menunjukkan sisi posesifnya.
"Iya-iya, lagian bukan aku yang nyamperin duluan kan, kok aku yang disalahin." Diana mulai jengah.
"Aku nggak nyalahin kamu dek, cuma memperingati aja lain kali kalau ada cowok coba deketin kamu nggak usah direspon." Nico yang tak mau kalah.
"Iya-iya maaf..." Diana tak mau memperpanjang masalah. Biar saja dia tak merasa bersalah namun tetap minta maaf.
Hingga menjelang petang akhirnya mereka sampai juga di rumah. Baik Nico maupun Diana masih kesal karena perdebatan di mobil tadi. Kini mereka pun tampak cuek.
Saat makan malam keduanya juga tampak lebih banyak diam tak secerewet biasanya. Pak Herman dan Bu Wati pun menyadari mungkin keduanya sedang lelah karena aktivitas seharian.
"Buk, jangan lupa jamunya buat nak Nico. Bapak takut seperti kemarin kasian dia." bisik Pak Herman.
"Iya, sudah ibu siapkan kok." jawab Bu Wati.
Tepat setelah selesai makan malam Diana langsung ke toilet. Hal itu dimanfaatkan Bu Wati dan Pak Herman untuk memberikan jamu kepada Nico.
"Nak Nico, tunggu ini ibu buatkan jamu spesial buat nak Nico. Buat nambah stamina." ucap Bu Wati.
"Jamu?" Nico seumur-umur belum pernah yang namanya meminum jamu. Namun Melihat segelas minuman berwarna kuning itu sepertinya terlihat menyegarkan akhirnya Nico menerimanya.
"Dihabiskan ya nak." ucap Pak Herman sambil menyengir.
Akhirnya Nico pun masuk ke dalam kamar sambil membawa jamu itu. Dia mulai meneguk minuman itu hingga setengah gelas. Ternyata rasanya benar enak dan segar. Seperti jamu kunyit asam.
"Minum apa kak?" tanya Diana yang baru keluar dari toilet.
"Jamu, dibuatin ibu." jawab Nico.
"Tumben, ibu aja jarang bikinin aku jamu." gerutu Diana yang tak terima ibunya selalu memperhatikan Nico lebih spesial.
"kamu mau? Ini masih." Nico menyodorkan Setengah gelas jamu itu dan langsung ditenggak Diana sampai tandas.
Lima belas menit kemudian...
"Aduh kok gerah banget ya. Padahal kemarin jam segini udah dingin." gumam Nico.
"Huft.. Kenapa aku jadi keringetan begini? Badan aku juga gerah.." Diana tampak mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya.
"Dek.. Kok gerah ya?" ucap Nico yang mulai melepas kaos oblongnya.
"Sama aku juga." Jawab Diana.
Namun saat keduanya saling menatap entah kenapa ada gelenyar aneh yang timbul didalam dirinya. Bahkan Nico mulai merasakan gairahnya yang meningkat. Melihat leher jenjang Diana yang piyamanya dia buka dia kancingnya bagian atas.
Diana sendiri kini begitu bernafsu saat melihat dada bidang Nico. Rasanya dia ingin menyentuh dan mer aba nya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Deuis Lina
jebakan Batman bereaksi,,
2023-12-18
0
Aisyah farhana
judulnya dikerjain mertua yah kak Nico nikmati aja lahhh syudah d label halal kan
2023-12-18
0
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
astaga.. bapak sama ibu ngerjain pasangan posesif nih... ciieee yang pada kegerahan.. hayoooo... 🚴🚴
2023-12-18
0