Dengan hati-yang berbunga-bunga pagi ini Diana sudah sangat bersemangat untuk melakukan aktivitasnya. Dengan cekatan gadis itu memasak menu sarapan yang spesial dari biasanya.
Namun di antara sibuknya kegiatan memasak itu Diana juga tampak senyum-senyum sendiri. Dia meraba bibirnya sendiri dengan malu-malu mengingat kejadian semalam yang membuatnya benar-benar tak akan melupakannya.
Untuk pertama kalinya dia merasakan apa itu berciuman. Awalnya Diana memang sangat tegang bahkan dia sampai meremas sprei dengan kuat. Namun perlakuan lembut Nico perlahan membuatnya relax.
Nico terus menyapukan bibir dan lidahnya dengan perlahan pada bibir kaku Diana. Sadar bahwa istrinya sedang tegang dan panik perlahan tangan Nico meraih jemari tangan Diana dan menggenggamnya lembut.
Setelah dirasa mulai relax barulah Nico mengusap tengkuk Diana perlahan. Bibir mereka saling beradu dan Diana mulai memberanikan diri untuk sedikit menggerakkan bibirnya.
Tentu saja Nico tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat dia mencari celah untuk menerobos masuk kedalam mulut mungil itu. Mengabsen setiap inci yang ada dalam rongga mulut Diana dengan lidahnya.
"Enghh.." Diana yang sudah mulai terbuai tanpa sadar mengeluarkan suara rintihan pelan.
Nico semakin bersemangat untuk menjelajah lebih jauh setelah mendengar suara istri kecilnya yang tampak mulai menikmati.
Sementara Diana sendiri yang baru pertama kali merasakan apa itu ciuman begitu senang dan penasaran.
Nico semakin memperdalam ciumannya hingga membuat Diana kehabisan nafas. Gadis itu memukul-mukul pelan dada suaminya hingga akhirnya Nico menyadari dan langsung melepas ciumannya.
Namun bukannya berhenti Nico justru mengangkat tubuh Diana hingga berada di pangkuannya menghadap dirinya. Diana yang baru saja menghirup udara dalam-dalam hanya pasrah saja saat Nico kembali mel umat bibirnya. Ciuman panas itu terus Nico lakukan tak hanya di bibirnya.
Nico mencium pipi, dagu hingga pada leher Diana. Bagai tersengat listrik dengan tegangan rendah Diana pun mulai tersengal, dia panik sendiri kenapa bisa hanya leher yang diciumnya tapi bisa berefek ke seluruh tubuh.
Tangan Nico tak mau diam dan dia mulai meraba gundukan kenyal di dada Diana dari luar kaos yanng dikenakannya. Terasa padat dan pas di genggaman.
Namanya pria pasti semakin penasaran hingga akhirnya Nico memberanikan tangannya untuk masuk ke dalam kaos tersebut dan mulai meraba punggungnya mencari pengait bra yang dikenakan Diana.
Dalam sekali tarikan saja Nico langsung berhasil melepasnya. Kini tangannya beralih ke depan mengangkat kaos yang dipakai Diana hingga sampai di bawah leher.
Pemandangan indah terpampang seketika. Jika tadi hanya bisa merasakan dan membayangkan saja kini Nico benar-benar melihatnya secara nyata.
"Gila, Kecil-kecil tapi menantang juga. Kenapa gak dari kemarin-kemarin aku melakukannya?" batin Nico saat melihat bulatan sempurna dengan ujungnya yang masih berwarna pink muda itu.
Sadar akan tatapan suaminya yang tak teralihkan dari dadanya yang tak tertutup Diana pun reflek menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.
"K-kakak.. jangan dilihatin terus aku malu." gumam Diana dengan wajah yang sudah semerah tomat.
"Jangan malu sayang, kan dilihatin suami sendiri. Nggak akan dosa." Nico mengurai lengan Diana dan mulai menyentuh benda kenyal seputih salju itu.
"Aahhh..." Diana reflek mend esah saat Nico memainkan ujung dadanya dengan mulutnya.
"Apa-apaan ini kenapa aku semakin tersetrum? tapi kenapa rasanya geli-geli enak?" Diana semakin panik sendiri apalagi dia merasakan sesuatu mengganjal di bawah. Diantara paha Nico.
"K-Kak.. hentikan.." ucap Diana sambil menjambak rambut suaminya.
Nico terpaksa menghentikan kegiatannya padahal luar biasa nikmat untuknya. Namun saat melihat air mata di sudut netra Diana dia langsung tersadar.
"M-maaf, kakak kebablasan ya?" ucap Nico sambil menyeka air mata yang sudah mulai merembes.
Nico langsung membenahi pakaian Diana dan membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Meraih selimut untuk menutup tubuh Diana.
Diana hanya bisa menatap Nico dengan perasaan bersalah. Sejujurnya dia masih takut untuk melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya.
"Istirahat ya dek, good night." Nico mengusap lembut puncak kepala Diana dan mengecup keningnya.
Pria itu pun akhirnya beranjak pergi meninggalkan kamar Diana. Sebenarnya ingin sekali dia tidur bersama Diana tapi Nico takut tidak bisa mengontrol dirinya apalagi saat ini dia sudah terlanjur turn on.
Setelah pintu tertutup Diana langsung berlari ke dalam kamar mandi. Melepas pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap getaran di dadanya bisa mereda.
"Maafkan aku kak.. bukannya aku tak mau melayanimu, aku belum siap.. aku masih takut." Diana takut, jika saja dia sudah menyerahkan segalanya namun Nico belum sepenuhnya mencintai dirinya. Dia takut dikecewakan.
***
Lamunan itu buyar seketika saat sebuah tangan tiba-tiba memeluk pinggangnya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Nico, suaminya.
"Kalau masak nggak boleh melamun sayang, tuh udah mendidih sayurnya." ucap Nico sambil tangan kanannya terulur mematikan kompor.
"K-Kak Nico sudah bangun?" Diana gelagapan. Rasanya masih belum terbiasa mendapat perlakuan romantis suaminya.
"Sudah.. gimana semalam tidurnya nyenyak nggak?" Nico hanya khawatir jika Diana merasa terganggu atas ulahnya semalam.
"Baru bisa tidur jam dua belas malam." ujar Diana jujur.
"Berarti begadang dong? pasti gara-gara ulah kakak kan? maaf ya. Kalau masih ngantuk tidur lagi aja." Bagaimana tidak semakin berbunga-bunga jika masih sepagi ini sudah mendapatkan perlakuan yang begitu manis.
"Kak.. maafkan aku ya, aku belum bisa jadi istri yang baik." Diana memutar tubuhnya dan mendongak menatap wajah suaminya.
"Nggak apa-apa, kakak akan tunggu kamu sampai siap." ujar Nico sambil mengacak poni Diana.
"Makan yuk, terus kamu tidur lagi kalau ngantuk. Itu mata nya udah kayak panda" imbuh Nico.
Diana pun hanya mengangguk kemudian menyiapkan sarapan untuk Nico. Hal yang menjadi favoritnya saat ini adalah melihat bagaimana cekatannya Diana dalam melayani dirinya. Bahkan setiap masakan yang dibuat oleh istrinya itu selalu memanjakan lidahnya.
"Masaknya jago banget sih dek, siapa yang ngajarin?" meski hanya menu sederhana sayur sop, perkedel kentang juga ayam goreng lengkap dengan sambalnya namun sudah membuat Nico sampai menambah dua kali.
"Ibu, setiap hari bantuin ibu masak, cuma yang bikin beda sebagian besar bahan masakannya metik sendiri di kebun. Bapak suka nanam macam-macam sayur dan yang buat makan sendiri khusus yang organik." Rasanya Diana begitu senang jika menceritakan kegiatannya di kampung.
"Pantesan cantik banget kamu dek." puji Nico lagai.
"Kok cantik? apa hubungannya sama nanam sayur?" Diana mengernyit.
"Ya kan makan sayur itu bikin sehat, rambut jadi bagus, kulit juga mulus." saat mengatakan itu entah kenapa pandangan Nico terarah pada dada Diana.
"Hmmm.. nggak juga aku baru-baru ini aja pakai skincare, kan sayang sudah disiapkan di kamar nggak di pakai." Diana mengelak.
Tak berselang lama ponsel Nico berbunyi, teryata panggilan dari papanya.
"Halo, Pa.."
"Halo, Nico kamu sibuk tidak? tolong kalau tidak sibuk Papa minta kamu gantikan rapat di kantor ya, Papa masih mengurus administrasi mama kamu mau pulang ke rumah." ujar Papa Nathan tampak terburu-buru.
"Iya Pa.." mau tak mau Nico harus ke kantor padahal hari ini seharusnya dia masih dalam rangka cuti pernikahan.
"Kenapa kak?" tanya Diana saat mendapati wajah lesu suaminya.
"Papa minta digantikan meeting, kamu nggak apa-apa dek kalau kakak tinggal sendirian?" tanya Nico.
"Nggak apa-apa, barusan Mbak Hana juga ngirim pesan ini ngajakin buat jalan, boleh kan kak kalau aku keluar sebentar sama mbak Hana, tapi kalau nggak boleh nggak apa-apa." Diana ingat betul nasehat orang tuanya bahwa melakukan apapun harus atas seizin suami.
"Boleh dong sayang, nanti kakak antar ke apartemennya mbak Hana, kebetulan nanti meeting juga sama Kak Shaka kok." Nico mengecup kening Diana.
Akhirnya setelah keduanya bersiap kini Diana diantar ke apartemen kakak iparnya.
"Kak, nitip istriku ya. Jangan boleh ada yang godain dia." ujar Nico sebelum berpamitan pergi.
Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bagaimana posesifnya Nico. Namun dia senang artinya suaminya itu sudah mulai peduli dan menunjukkan keseriusannya.
Sementara Diana dan Hana sibuk berbelanja di mall kini Nico dan Shaka sibuk meeting. Dua jam berlalu akhirnya selesai juga.
Mereka sudah janjian untuk makan bersama di restoran yang kebetulan satu kawasan di mall tersebut.
"Maaf nunggu lama ya?" Nico langsung menghampiri Diana sementara Shaka menyambut Hana.
Saat asyik mengobrol berempat tak sengaja salah satu teman Nico yang bertemu dengannya menghampiri mereka.
"Nico, lo di sini juga? Eh ada Diana adek lo." sapa teman Nico.
"Adek?" Shaka mengernyit saat mendengar ucapan teman Nico.
"Iya kan, Diana kan adiknya Nico. Dia sendiri kemarin yang bilang." ujar pria itu.
Shaka langsung menatap tajam Nico, bisa-bisanya dia mengakui Diana sebagai adiknya bukan istrinya.
Sadar tatapan Shaka yang tajam membuat Nico maupun Diana merasa bersalah.
"A-aku bisa jelaskan kak, semua salah paham." Baru saja menjelaskan kesalahpahaman ini pada Diana kini Nico harus berurusan dengan Shaka.
"Kapok deh mau bohong-bohong lagai, urusannya bisa panjang."
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Rizky Tria
hayoh loh nico urusannya panjang sama shaka 🤭
2023-12-06
0
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
Pelan pelan aja Nico. nyentuh diana nya dia kan masih polos belum faham soal hubungan suami istri
2023-12-06
0
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
hati² niko kalo berurusan sama shaka bisa habis kamu nanti 😁
2023-12-06
0