BRRAKK...
Nico yang tiba-tiba menggebrak meja tentu membuat Diana dan Dimas reflek berjingkat. Saat keduanya menatap Nico barulah pria itu salah tingkah.
"Kak Nico kenapa?" tanya Diana dengan wajah penasaran.
"Eh.. Anu.. Nggak kok tadi ada lalat." ucap Nico berbohong. Tentu saja dia sengaja berbohong karena tidak mungkin terang-terangan mengatakan tidak suka dengan ucapan Dimas.
"Diana cepat habiskan makanan kamu, setelah ini ayo cepat kembali pasti mama menunggu." ujar Nico lagi.
"Iya kak.." jawab Diana santai.
"Oh ya Diana kesibukan kamu apa?" Dimas kembali melanjutkan obrolannya.
"Sementara ini masih menunggu persiapan masuk kampus kak, kan aku baru lulus SMA." jawab Diana.
"Aduh imut banget sih, hati-hati nanti di kampus pasti jadi rebutan banyak cowok. Pacarnya banyak ini nanti pasti." Dimas sengaja menggoda Diana.
"Hmm.. Rebutan gimana? Aku aja pacaran belum pernah." jawab Diana dengan polosnya.
"Ha? belum pernah pacaran? Boleh dong kalau misalnya kakak daftar. Siapa tau bisa jadi yang pertama." mendengar ucapan Dimas tentu saja Nico langsung meradang.
"Diana ayo kita kembali. Mama sudah menunggu." Nico langsung berdiri dan meraih tangan Diana dengan posesif.
"Tapi kak.. makananku belum habis." Diana hendak menolak tapi tatapan Nico yang tajam membuatnya urung.
"Aku permisi dulu Dimas." dengan rahang yang mengeras Nico langsung mencengkeram tangan Diana sedikit kuat dan membawanya pergi.
"Aww.. Sakit kak." Diana mencoba melepas cengkraman Nico saat mereka sedang berjalan di koridor. Untung saja tempat itu cukup sepi.
Dengan sekuat tenaga Diana akhirnya berhasil melepaskan tangan Nico. Dia tampak meringis memegangi pergelangan tangannya. Nico yang tak sengaja melihat tangan itu tampak bekas merah.
"Sorry, kekencengan ya?" Nico berusaha meraih tangan Diana lagi namun gadis itu langsung menepisnya.
Tak ada ucapan apapun dengan kedua netranya yang sudah berembun Diana berjalan mendahului Nico.
"Diana.. Diana kakak minta maaf.. "Nico berusaha mendekati gadis itu namun Diana tetap berjalan tanpa menghiraukannya sama sekali.
"Ingat Diana.. Tetap mode ngambek biar kak Nico semakin penasaran." Gumam Diana dalam hati ketika mengingat tips yang diberikan papa mertuanya.
Sampai di dalam ruangan mama Vania kini Diana langsung duduk di dekat brankar ibu mertuanya.
"Loh, kok cepet sayang. Udah selesai makannya?" tanya Mama Vania yang barengan dengan Nico memasuki ruangannya.
"Belum selesai tapi ada yang ngajak balik. Katanya mama udah nungguin." Jawab Diana dengan wajah kesalnya.
"Loh, siapa yang nungguin sayang. Kalau kalian masih mau santai di luar nggak apa-apa. Pasti jenuh kan disini terus?" ucap Mama Vania.
Diana hanya menggeleng lalu menjatuhkan kepalanya di brankar Mama Vania. Melihat menantu kecilnya yang tampak kesal Mama Vania pun langsung mengusap lembut kepala Diana.
"Kamu apain Diana?" tanya Papa Nathan kepada Nico.
"Emm. Nggak kok pa, cuma tadi khawatir sama Mama aja. Mama gimana keadaannya?" Nico beralibi.
"Mama baik-baik saja kan dari tadi ditemani papa kamu. Nico mama pengen minum sari kedelai yang ada di depan rumah sakit deh.. Boleh nggak kalau mama minta dibelikan?" Mama Vania sengaja untuk membuat Nico pergi dulu karena penasaran dengan yang terjadi antara Diana dan putranya.
"Iya Ma.. Diana disini saja ya temani Mama." Nico sengaja tak mengajak Diana keluar karena khawatir akan ada Dimas yang menggoda istrinya lagi.
Sementara di dalam ruangan Mama Vania mereka bertiga terkikik semua. Lagi-lagi semua itu karena rencana Papa Nathan.
Tak berselang lama Dokter Dimas datang untuk mengecek kondisi Mama Vania. Dia tampak biasa saja bahkan sama sekali tak menggoda Diana.
"Diana maaf jika tadi ucapanku sedikit kelewat batas. Om Nathan dan Tante Vania maafkan saya." ucap Dimas sungkan.
"Tidak apa-apa dokter Dimas. Maaf juga saya sudah melibatkan anda untuk masalah ini." ujar Papa Nathan.
"Jika itu bertujuan baik maka saya akan melakukannya dengan senang hati. Saya harap hubungan Diana dan juga Nico segera membaik." ucap Dimas.
Papa Nathan memang sengaja meminta bantuan Dimas untuk mengetes bagaimana reaksi Nico jika Diana didekati oleh pria lain.
Diana juga sudah mengakui tentang hubungan dengan Nico yang sebenarnya. Dia bukanlah adik Nico melainkan istri sah dari Nico.
"Melihat bagaimana reaksi Nico sepertinya dia memang sudah cemburu tapi belum mau mengakuinya." Dimas berujar sambil tersenyum.
Setelah berbincang-bincang tak lama kemudian Nico kembali membawa minuman yang diinginkan Mama Vania.
Namun pandangannya langsung tertuju pada Dimas. Sungguh kesal sekali melihat pria itu. Niat hati ingin menghindarkan Diana dari pria itu justru malah bersama di ruangan mamanya.
"Dimas ngapain kesini?" tanya Nico sinis.
"Aku sedang memeriksa tante Vania." jawab Dimas sambil mengulas senyum.
"Kak Dimas terimakasih ya sudah memeriksa Mama." ucap Diana sebelum Dimas berpamitan pulang.
Kedua netra Nico seketika membola saat mendengar Diana yang terang-terangan berucap manis kepada Dimas.
Dimas pun hanya menanggapi dengan senyuman namun kedua netranya seolah terus menatap Diana dengan penuh arti.
Karena tak terima Nico pun menyusul Dimas yang sudah keluar ruangan.
"Dimas bisa kita bicara." Nico menghentikan langkah Dimas.
Sejenak Dimas melihat jam di tangannya lalu mengangguk.
"baiklah, silahkan Nico." jawab Dimas santai.
"Jangan disini. Ayo ikut aku." ucap Nico ketus kemudian mereka berjalan menjauh dari tempat itu.
Sementara di dalam ruangan Diana tampak gelisah. Dia takut jika Nico membuat masalah dengan Dimas.
"Pa, bagaimana kalau nanti kak Nico dan Kak Dimas bertengkar?" Diana khawatir.
"Tidak akan, Nico tak pernah bertengkar. Kamu tenang saja ya." Papa Nathan mencoba menenangkan Diana.
Dia pun beranjak membantu Mama Vania membersihkan diri. Menyeka tubuh ibu mertuanya juga menyisir rambutnya.
"Ma, rambutnya rontok makin parah." ucap Diana lirih.
"Ya nggak apa-apa sayang itu efek kemo." jawab Mama Vania yang seolah tegar meski dalam hati dia juga merasa sedih.
Diana pun langsung memeluk Mama Vania dari belakang sambil menitikkan air mata.
"Mama harus kuat, mama harus sembuh biar bisa temani Diana sampai lama." mendengar ucapan Diana hati Mama Vania pun rasanya semakin teriris.
Harusnya dia bahagia mendapatkan menantu cantik dan baik seperti Diana. Harusnya dia bisa menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan atau liburan bersama bukannya menjadi rawatan di rumah sakit begini.
"Mama mu wanita kuat Diana, mama pasti sembuh." Ucap Papa Nathan berusaha menguatkan keduanya.
Sementara di taman rumah sakit kini Nico sedang menatap Dimas dengan tajam.
"Apa maksud perkataanmu tadi Dimas? Kamu mau mendekati Diana?" tanya Nico dengan kesal.
"Memang apa salahnya? Bukannya dia adikmu?" Dimas masih terlihat santai.
"Bukan.. Dia bukan adikku, tapi istriku asal kau tahu." Nico mengeratkan rahangnya.
Dimas tampak tersenyum sambil memutar kedua bola matanya.
"Tapi melihat kalian sama sekali tidak seperti suami istri. Diana gadis yang cantik. Dia juga sangat baik. Atau jangan-jangan kalian memang menikah karena terpaksa?" kini Dimas bergantian bicara.
"Bukan urusanmu tentang pernikahanku." jawab Nico sinis.
"Nico, begini saja. Jika kamu tidak mencintai dan tak bisa membahagiakan Diana lebih baik relakan saja dia padaku. Aku bisa kok membahagiakannya." Dimas berdecih.
"Kau.. Jangan harap bisa menyentuh istriku atau mau aku buat perhitungan padamu." Nico yang tersulut emosi langsung meraih kerah baju Dimas.
"Hahahahaha... Kau sangat lucu. Mengungkapkan perasaanmu saja tak berani tapi kau tak terima orang lain mendekati Diana. Jangan egois Nico, jika kamu ingin mempertahankannya maka beri dia cinta dan kasih sayangmu. Karena wanita jika sudah memutuskan untuk menikah maka dunianya hanya terpusat untuk suaminya" Dimas tertawa sinis.
Nico seketika melepaskan kerah baju Dimas. Ucapannya memang benar. Selama ini dia tak pernah serius menganggap Diana tapi saat gadis itu didekati pria lain hatinya terasa marah.
"Apa aku mulai jatuh cinta padanya.?"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
kan kan.... giliran Diana didekati pria lain langsung deh emosi tapi selama menikah kamu tidak pernah bersikap sebagai seorang suami bahkan tega menganggap diana adik di depan teman²mu
2023-12-03
2