Bab 16 omongan tetangga

"Kok tumben belanjanya banyak Bu Wati, kan tinggal berdua aja sama Pak Herman sekarang." ujar seorang ibu-ibu yang kebetulan juga berbelanja di kios kelontong.

"Iya Bu Marce, Diana sama suaminya lagi nginep di rumah. Mumpung disini pengen masakin macem-macem." jawab Bu Wati sambil memilih beberapa ikan.

"Enak ya sekarang, semenjak ada anak Pak Herman yang kaya raya sekarang hidup Bu Wati jadi berubah. Rumah gedong juga Diana sekarang dinikahi orang kaya. Walaupun anak Pak Herman hasil selingkuh untung saja masih baik." ucapan Bu Marce kali ini membuat Bu Wati sedikit tersinggung namun dia memilih untuk diam dan fokus belanja.

"Maksud bu Marce apa ya? Memangnya anak pak Herman yang dari kota itu hasil selingkuh?" sahut ibu lainnya.

"Denger-denger sih gitu. Kan Pak Herman belum pernah menikah sebelumnya. Nikahnya sama Bu Wati tapi udah pernah celup sana-sini." ujar Bu Marce dengan nada mengesalkan.

"Tapi biar begitu kan namanya masa lalu Bu, buktinya Bu Wati sama anak suaminya sekarang juga harmonis tuh." salah satu ibu lain membela.

"Alah.. Kan mau gimana lagi. Kadung terlanjur, makanya Diana sekarang cepet-cepet dinikahkan sama orang kaya. Biar cepet punya anak terus kalau dicerai kan anaknya dapet harta. Eh, atau jangan-jangan Diana udah isi duluan ya?" jika tadinya Bu Wati tak menggubris omongan tetangganya itu kali ini dia tak mau tinggal diam.

"Maksud Bu Marce apa ya? Mengatai putriku hamil duluan? Kalau nggak punya bukti jangan asal bicara Bu. Diana itu menikah memang karena kemauannya sendiri. Toh leboh baik menikah dari pada cuma pacaran ujung-ujungnya nambah dosa." jawab bu Wati kesal.

"Cih, sombong banget bu Wati.. Lihat aja palingan Diana di keluarga suaminya cuma dianggap Ba Bu. Secara orang kaya kok nikah sama level rendahan. Palingan juga cuma buat pajangan nggak ada cinta-cintanya." Bu Marce masih sinis.

Bu Wati yang terlanjur kesal memilih untuk cepat-cepat menyelesaikan belanjanya dan pergi dari tempat itu.

Rasanya begitu sakit mendengar putri kesayangannya dicibir demikian oleh orang lain.

"Semoga saja Putriku diterima dengan baik di keluarga Mbak Vania, juga benar-benar disayang sama suaminya." batin Bu Wati.

Sampai di rumah Bu Wati yang masih kesal tampak menekuk wajahnya sambil masak di dapur. Kebiasaannya masak pagi-pagi sekali bahkan langit saja masih belum terang sempurna.

"Ibu, pagi-pagi kok wajahnya udah di tekuk. Kayak langit mendung aja." ucap pak Herman yang menghampiri istrinya.

Sementara Nico yang terbangun karena ingin minum tak sengaja mendengar obrolan mertuanya.

"Ibu sebel sama Bu Marce Pak, kenapa ya orang itu selalu julid sama kita. Dulu kita miskin dibilang malas, sekarang sudah lebih baik dibilang sombong. Mana pake ngatain anak-anak segala." ujar Bu Wati kesal.

"Memangnya mengatai gimana?" tanya Pak Herman.

"Mengatai katanya Shaka itu anak hasil selingkuh bapak, terus Diana..." kali ini Bu Wati tak kuasa menahan air matanya.

"Diana dikatai kalau dia menikahi orang kaya karena mengejar harta, bahkan dibilang hamil duluan lagi. Yang lebih parahnya mereka bilang kalau Diana yang dari kelurga miskin hanya akan diperlakukan tidak baik dan tidak dicintai suaminya.." Bu Wati berucap sambil terisak.

"bu.. Sudah-sudah nggak usah menghiraukan omongan orang-orang yang julid sama kita. Biar saja yang penting kenyataannya tidak begitu." Pak Herman berusaha menenangkan istrinya.

"Tapi Pak, Ibu juga takut sebenarnya, apa mungkin nanti jika bosan Diana akan dilupakan? Ibu takut Pak.. Hiks.." Pak Herman pun mengusap air mata istrinya kemudian mendekapnya dalam pelukan.

"Kita doakan saja yang terbaik buat anak-anak. Maaf ya Bu, mungkin bapak pernah melakukan kesalahan tapi bapak yakin kita semua akan bahagia. Lihat saja menantu kita, sepertinya dia beneran sayang Diana kok." ucap Pak Herman.

"Semoga saja ya Pak."

Nico akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali ke dalam kamar. Dia mendekati istrinya yang masih terlelap lalu mengusap lembut pipi cantiknya.

"Padahal kalian semua begitu baik, tapi masak sih ada yang tega mengatai." Gumam Nico.

Merasakan sapuana lembut di wajahnya membuat Diana perlahan mulai terbangun. Dia mengerjabkana matanya dan mmelhat sosok Nico tepat di depannya.

"Maaf, aku membangunkan kamu ya?"  Nico kembali membelai lembut pipi istri kecilnya.

Diana yang masih setengah sabar pun tak menjawab apapun dan hanya membalasnya dengan senyuman.

Setelah beberapa saat keduanya kini tampak keluar kamar. Mereka menghampiri kedua oranag tuanya yang sedang berada di dapur menyiapkan sarapan. Nico yang berjalan sedikit tertatih menjadi  pusat perhatian kedua mertuanya.

"Nak Nico biaik-baik saja kan?" tanya Pak Herman.

"Iya Pak, aku baik-baik aja kok" jjawab Nico dengan senyuman ramah.

"Bu, maaf ya Diana telat bangun soalnya disini dingin jadi enak buat tidur, hehe. Nggak bisa bantu ibu masak deh." ujar Diana sambil menggelayut manja pada BU Wati.

"Nggak apa-apa nduk, lagian kaliana pasti capek kan." hampir saja Bu Wati keceplosan andai Pak Herman tidak mencoleknya.

Mereka pun sarapann bersama dan kini memilih teras samping rumah karena suasana pagi yang sejuk.

Urap-urap, tahu, tempe dan juga ayam goreng lengkap dengan lalapan khas menu masakan kampung menjadi menu sarapan mereka.

Nico yang pertama kalinya mencoba urap-urap buatan ibu mertuanya lagi-lagi langsung menyukainya. Apalagi Bu Wati sengaja membuat nasi jagung juga.

"Dek itu apa?" NIco menunjuk piring Diana.

"Ini ikan asin, kakak mau?" uccap Diana.

"Boleh, AAAKK.." Diana sedikit terkejut saat Nico sengaja minta disuapi di depan kedua orang tuanya. Mau tak mau Diana pun akhirnya melakukannya.

"Emang bener ya kalau disuapi langsung pakai tangan istri makin nikmat, ada tambahan bumbu cintanya." celetuk Nico yang membuat kedua mertuanya langsung terkekeh. Jangan ditanya bagaimana ekspressi Diana saat inni. Wajahnya langsung merona.

Bu Wati sendiri yang melihat bagaimmana nIco yang memeprlakukan putrinya dengan baik membuatnya lega. Setidaknya omongan Bu Marce tidak benar, Nico memang tampak mencintai Diana.

"Oh ya, Nak Nico bagaimana kabar Papa dan Mama nak Nico? Diana nggak bikin masalah sama mertuanya kan nak?" Bu Wati ingin memastikan sekali lagi.

"Papa sama mama baik kok Bu, Oh ya ada salam dari Mama buat Bapak sama Ibu. kalau Diana justru dia jadi kesayangan Papa sama Mama, semenjak ada Diana justru perhatian mereka beralih ke dia terus, aku mah jadi anak tiri sekarang." Nico melirik Diana yang kembali mencubit lengannya.

"Yaudah, kalau di rumah sana kasih sayang diambil Diana biar disini Bapak sama Ibu yang gantian sayangi kamu." jawab Pak herman sambil terkekeh.

Suasana pagi ini terasa begitu hangat dan menyenangkan. Keluarga meski dengan kesederhanaannya tapi tetap harmonis.

"Dek, habis ini jalan-jalan yuk, kakak pengen tau lingkungan sini." ucap Nico.

"Yaudah tapi aku bantu ibu beresin ini dulu sebentar." Diana membereskan piring-piring bekas sarapan.

Setelah selesai mereka pun mulai jalan-jalan berdua menyusuri perkampungan tempat tinggal Diana.

"Kak, beneran kakinya udah nggak sakit?" tanya Diana khawatir.

"Nggak apa-apa kok. Ini udah baikan. Kan udah diobati semalam sama bidadari cantik." Nico menunjukkan kakinya yang memang tidak bengkak.

"Lain kali hati-hati ya, biar nggak keteusuk duri lagi." Diana tersenyum malu-malu pada Nico.

"Ibu biasanya kalau belanja dimana?" tanya Nico.

"Ada di toko kelontong sana. Agak lengkap daripada jauh-jauh ke pasar." ucap Diana.

Saat mereka berjalan beberapa ibu-ibu tampak menyapa Diana.

"Mau kemana Diana? wah ini suaminya ya? Kalian tampak serasi." ucap salah seorang ibu-ibu.

"Mau jalan-jalan saja bu, Iya ini suami saya. Makasih ya Bu Laila." Nico sejak tadi tak sekalipun melepaskan genggaman tangan Diana.

Karena penasaran beberapa ibu-ibu pun tampak berkumpul saling mengobrol dengan Diana dan sekedar ingin mengenal Nico.

"Eh, ini ada apa kok pada kummpul-kumpul semua?" ucap seorang ibu-ibu bertubuh gemuk dengan riasan menor, kalung emas dan gelangnya yang tebal begitu menyilaukan mata.

"Ini loh Bu Marce, lagi kenalan sama suami Diana, ganteng banget ternyata. Ramah lagi." ucap ibu-ibu.

"Oh, ini tersangkanya yang bernama Bu Marce." Batin Nico.

Sementara wanita itu menatap Nico dari atas ke bawah Nico langsung meraih pinggang Diana dengan mesra.

"Sayang, haus nggak? aku belikan minum ya." Ucap Nico dengan begitu manis.

"E-e.. aku.." Belum sempat Diana menjawab Nico sudah berjalan membeli minum di kios yang tepat berada di depannya.

"Ini minum dulu sayang.". Nico membukakan botol air mineral dan meminumkan pada istrinya. Tak lupa dia mengusap lembut puncak kepalanya.

"Yaampun, kalau pengantin baru memang seromantis ini ya." celetuk ibu-ibu.

"Ya kalau bisa jangan pas pengantin baru saja Bu, selamanya saya akan romantis sama si cantik dan baik ini." Nico terang-terangan memuji istrinya di depan banyak orang.

Karena obrolan yang cukup lama akhirnya keduanya berpamitan untuk pulang.

"Ibu-ibu saya pamit pulang dulu ya." ucap Diana yang langsung dibalas baik oleh ibu-ibu.

Tiba-tiba Nico berjongkok di depan Diana. Tentu saja gadis itu bingung dengan tingkah suaminya yang sejak tadi terlihat aneh.

"Sini dek, naik punggung kakak. Kamu pasti capek jalan terus dari tadi." ucap Nico.

"T-tapi kak.." Diana terkejut saat NIco menawari gendong.

"Udah Diana mau aja, tumpangan gratis dari suami tersayang loh." celetuk ibu-ibu. Diana hendak menolak namun Nico tetap memaksa akhirnya mau tak mau dia menaiki punggung Nico. Mereka berjalan dengan Diana yang digendong Nico.

"Yaampun.. ternyata suami Diana sangat ramah dan memperlakukan Diana dengan baik. Kelihatan kalau dia sangat mencintai istrinya. Beruntung Bu Wati, tak sia-sia mendidik anak gadisnya dengan baik." ujar ibu-ibu.

"Iya tuh, Mana ini Bu Marce yang bilang katanya Diana cuma dimanfaatkan keluarga suaminya. Itu buktinnya dia diratukan sama suaminya." karena mendapat tekanan dari para ibu-ibu, akhirya wanita paruh baya itu langsung melenggang pergi sambil ibirnya komat-kamit sendiri.

...****************...

Terpopuler

Comments

🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ

🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ

wkwkwk... malu aku malu... bu marce malu nih yeee.. makanya bu kalo gak ada bukti jangan sok asbun dalam berucap

2023-12-18

1

Aisyah farhana

Aisyah farhana

bukan emak emak namanya kalo ga julid sama orang yahhh mak

2023-12-15

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bimbang
2 Bab 2 Sebuah keputusan
3 Bab 3 Hari pernikahan
4 Bab 4 tak diakui
5 Bab 5 menarik perhatian
6 Bab 6 sebuah rencana
7 Bab 7 cemburu
8 Bab 8 jujur
9 Bab 9 belum siap
10 Bab 10 go public
11 Bab 11 teman toxic
12 Bab 12 teori vs praktek
13 Bab 13 alasan apa
14 Bab 14 gara-gara lumpur l
15 Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16 Bab 16 omongan tetangga
17 Bab 17 posesif
18 Bab 18 Gara-gara jamu
19 Bab 19 mirip tikus kejepit
20 Bab 20 Akhirnya terungkap
21 Bab 21 memutuskan pergi
22 Bab 22 menyesal
23 bab 23 situasi sulit
24 Bab 24 rindu tapi gengsi
25 Bab25 kabar duka
26 Bab 26 Surat perpisahan
27 Bab 27 Takut kehilangan
28 Bab 28 ada yang ketahuan
29 Bab 29 musuh dalam selimut
30 Bab 30 Demam tinggi
31 Bab 31 diusir seketika
32 Bab 32 kecil cabe rawit
33 Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34 Bab 34 Diana ngambek.
35 Bab 35 menanggung akibatnya
36 Bab 36 kembali bermanja
37 Bab 37 obrolan dua sahabat
38 Bab 38 sebuah wejangan
39 Bab 39 Menarik perhatian
40 Bab 40 Yang jadi Prioritas
41 Bab 41
42 Bab 42 pusat perhatian
43 Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44 Bab 44 sebuah hadiah
45 Bab 45 berangkat
46 Bab 46 ternyata...
47 Bab 47 kejutan
48 Bab 48 fakta yang sebenarnya
49 Bab 49 tempat damai
50 Bab 50 biang masalah
51 Bab 51 orang dari masa lalu
52 Bab 52 melampiaskan kekesalan
53 Bab 53 sedih dan senang
54 Bab 54 belum siap memaafkan
55 Bab 55 Hamil?
56 Bab 56 kembali mesra
57 Bab 57 kecurigaan Evan
58 Bab 58 penangkal mual
59 Bab 59 Dimabuk cinta
60 Bab 60 pengganggu
61 Bab 61 Musibah dan kehilangan
62 Bab 62 Keputusan Diana
63 Bab 63 sama-sama terpuruk
64 Bab 64 dukungan dari sahabat
65 Bab 65 Memperbaiki diri
66 Bab 66 masih saling cinta
67 Bab 67 tawaraan pekerjaan
68 Bab 68 Saling merindukan
69 Bab 69 aku merindukanmu
70 Bab 70 fakta yang sebenarnya
71 Bab 71 Aku temani tidur
72 Bab 72 aku ingin pacaran
73 Bab 73 rumah impian
74 Bab 74 menunggu jawaban
75 Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76 Bab 76 masih dirahasiakan
77 Bab 77 Luka di masa lalu
78 Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79 Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80 Bab 80 Akhirnya direstui
81 Bab 81 Semuanya untukmu
82 Bab 82 pulang kampung
83 Bab 83 Kehangatan keluarga
84 Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85 Bab 85 Ya, aku menerimanya
86 Bab 86 mengikhlaskan
87 Bab 87 akhir bahagia
88 karya baru
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1 Bimbang
2
Bab 2 Sebuah keputusan
3
Bab 3 Hari pernikahan
4
Bab 4 tak diakui
5
Bab 5 menarik perhatian
6
Bab 6 sebuah rencana
7
Bab 7 cemburu
8
Bab 8 jujur
9
Bab 9 belum siap
10
Bab 10 go public
11
Bab 11 teman toxic
12
Bab 12 teori vs praktek
13
Bab 13 alasan apa
14
Bab 14 gara-gara lumpur l
15
Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16
Bab 16 omongan tetangga
17
Bab 17 posesif
18
Bab 18 Gara-gara jamu
19
Bab 19 mirip tikus kejepit
20
Bab 20 Akhirnya terungkap
21
Bab 21 memutuskan pergi
22
Bab 22 menyesal
23
bab 23 situasi sulit
24
Bab 24 rindu tapi gengsi
25
Bab25 kabar duka
26
Bab 26 Surat perpisahan
27
Bab 27 Takut kehilangan
28
Bab 28 ada yang ketahuan
29
Bab 29 musuh dalam selimut
30
Bab 30 Demam tinggi
31
Bab 31 diusir seketika
32
Bab 32 kecil cabe rawit
33
Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34
Bab 34 Diana ngambek.
35
Bab 35 menanggung akibatnya
36
Bab 36 kembali bermanja
37
Bab 37 obrolan dua sahabat
38
Bab 38 sebuah wejangan
39
Bab 39 Menarik perhatian
40
Bab 40 Yang jadi Prioritas
41
Bab 41
42
Bab 42 pusat perhatian
43
Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44
Bab 44 sebuah hadiah
45
Bab 45 berangkat
46
Bab 46 ternyata...
47
Bab 47 kejutan
48
Bab 48 fakta yang sebenarnya
49
Bab 49 tempat damai
50
Bab 50 biang masalah
51
Bab 51 orang dari masa lalu
52
Bab 52 melampiaskan kekesalan
53
Bab 53 sedih dan senang
54
Bab 54 belum siap memaafkan
55
Bab 55 Hamil?
56
Bab 56 kembali mesra
57
Bab 57 kecurigaan Evan
58
Bab 58 penangkal mual
59
Bab 59 Dimabuk cinta
60
Bab 60 pengganggu
61
Bab 61 Musibah dan kehilangan
62
Bab 62 Keputusan Diana
63
Bab 63 sama-sama terpuruk
64
Bab 64 dukungan dari sahabat
65
Bab 65 Memperbaiki diri
66
Bab 66 masih saling cinta
67
Bab 67 tawaraan pekerjaan
68
Bab 68 Saling merindukan
69
Bab 69 aku merindukanmu
70
Bab 70 fakta yang sebenarnya
71
Bab 71 Aku temani tidur
72
Bab 72 aku ingin pacaran
73
Bab 73 rumah impian
74
Bab 74 menunggu jawaban
75
Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76
Bab 76 masih dirahasiakan
77
Bab 77 Luka di masa lalu
78
Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79
Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80
Bab 80 Akhirnya direstui
81
Bab 81 Semuanya untukmu
82
Bab 82 pulang kampung
83
Bab 83 Kehangatan keluarga
84
Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85
Bab 85 Ya, aku menerimanya
86
Bab 86 mengikhlaskan
87
Bab 87 akhir bahagia
88
karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!