Diana mendekap dadanya yang berdegup kencang dengan memegang erat handuk yang masih terlilit di tubuhnya.
Dia pun menatap tangannya sendiri yang tadi baru saja_ memegang 'itu'
Ah, rasa penasaran itu terjawab juga. Tapi ini bukanlah hal yang diinginkan saat ini. Terlalu mendadak dan dia belum siap.
Cepat-cepat Diana menggelengkan kepalanya berusaha membuang pikiran kotor itu. Dia segera meraih pakaian dan cepat-cepat memakainya sebelum Nico keluar dari kamar mandi. Jujur saja saat ini dia sangat malu luar biasa.
Setelah selesai Diana segera keluar dan mencari keberadaan ibunya. Ria ingin melepas rindu dan mengobrol dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu lagi masak apa?" Diana langsung memeluk Bu Wati dari belakang. Rasanya begitu rindu saat mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
"Ini lagi masak kare ayam kesukaan kamu. Suami kamu sukanya makan apa? Kalau nggak suka ini nanti ibu masakkan yang lain." ujar Bu Wati.
"Kak Nico suka apa aja kok bu nggak pernah pilih-pilih makanan. Kalau aku masak selalu dimakan habis." Diana masih bergelayut manja pada punggung ibunya membuat wanita paruh baya itu begitu gemas.
"Anak ibu tiap hari masakin suaminya nggak?" tanya abu Wati.
"Masak dong Bu, malahan kakak semenjak aku masakin jarang makan di luar. Katanya suka masakan aku yang rasanya medok gitu." Diana tersenyum manis saat mengingat bagaiman Nico selalu memuji masakannya.
"Alhamdulillah, jadi istri yang baik ya nduk, Salah dikit nggak apa-apa tapi tetap belajar lebih baik. Juga nurut sama suami, ibu lihat nak Nico juga baik sama kamu." UJar Bu Wati sembari mengulas senyum.
"Iya Bu, kak Nico baik banget kok sama Dina. Suka manjain aku kalau minta apa-apa langsung dituruti, hehe." Diana tampak meringis.
"Ya, tapi nggak boleh minta hal-hal yang memberatkan suami. Tetap jaga sikap sama hormat pada suami. Nggak boleh ngambekan juga membantah suami. Ngerti kan nduk?" Bu Wati tak henti-hentinya menasehati putrinya.
"Iya ibuku tersayang yang paling cantik, Diana ngerti kok. Aku mencontoh bapak sama ibu yang selalu sabar dan harmonis apapun keadaannya." ujar Diana sambil mengecup pipi Bu Wati.
Sementara Nico yang baru saja keluar kamar kini menghampiri keduanya di dapur. Diana yang melihat Nico langsung mengalihkan pandangannya. Dia masih sangat malu mengingat kejadian tadi.
"Eh, Nak Nico sudah makan belum? Ini ibu masak kare ayam. Nak Nico suka nggak atau mau dimasakin yang lain?" tanya Bu wati.
"Makasih ibu, tapi masih kenyang tadi sama Diana makan sudah beli waktu di perjalanan. Mungkin nanti saja sekalian makan malam. Kalau urusan suka ya jelas suka dong Bu, dari aromanya saja sudah wangi sedap begini." Nico mengulas senyum hangat kepada mertuanya.
Tak lama kemudian Pak Herman menghampiri Nico dan mengajaknya mengobrol di teras samping rumah.
"Nak Nico ayo ikut bapak saja, biar mereka kangen-kangenan sambil masak, hehe." ujar Pak Herman.
Diana langsung menghela nafas lega. Jujur saj dia sangat canggung menghadapi Nico sekarang. Rasanya ingin bersembunyi saja kalau bisa.
Sementara Nico asyik mengobrol dengan Bapak mertuanya, Diana pun juga mengobrol dengan ibunya.
"Emm.. Diana, ibu boleh tanya?" ucap Bu Wati.
"Iya bu, ada apa?" jawab Diana sambil mengulek sambal.
"gimana hubungan kamu sama Nico? Kalian sudah bisa saling menerima satu sama lain kan?" tanya bu Wati, dia penasaran saja takut hubungan pernikahan ini tak berjalan dengan baik.
"Baik kok bu, kata kak Nico sih kita sekarang lagi pacaran halal. Sebenarnya aku sendiri belum begitu paham gimana pacaran soal ya belum pernah. Ngikut kakak aja, ternyata enak ya bebas nggak takut dosa Bu." Diana memang sangat polos sedari dulu. Pak Herman sangat protektif terhadap putrinya karena pergaulan remaja akhir-akhir ini banyak sekali yang kebablasan.
"Terus, kamu sudah.." entah kenapa rasa penasaran Bu Wati semakin bertambah saja.
"Sudah apa Bu?" tanya Diana.
"Itu, anu.. Kamu, em kalian sudah tidur bareng belum?" tanya Bu Wati malu-malu.
"Oh, itu. Sudah lah bu, tiap hari malahan." jawab Diana dengan entengnya.
"H-hah? Tiap hari?" Bu Wati sampai memutar tubuhnya menghadap putrinya.
"Emang.. Nggak capek?"
"Enggak lah, apanya yang mesti capek Bu? Justru ngilangin capek dan bikin nyaman. Diana sendiri yang minta sama kak Nico." seketika kedua netra Bu Wati langsung melotot mendengar penuturan Diana.
"Astaga, ku kira putriku benar-benar polos, beberapa minggu menikah saja sudah berubah. Jangan-jangan.. Dia maniak?" batin bu Wati ketar-ketir.
Rupanya apa yang ditangkap Diana dan Bu Wati tentang obrolan itu jelas beda pemahaman. Diana pikir makna tidur adalah benar-benar tidur memejamkan mata saja. Sementara Bu Wati sudah berpikir jauh.
Hingga akhirnya menjelang. Keluarga itu berkumpul di ruang keluarga. Menggelar tikar sambil membawa makanan di atasnya. Mereka akan makan malam bersama-sama.
Ada meja makan sebenarnya namun kebiasaan lama yang lebih nyaman makan bersama di lesehan begini justru membuat suasana menjadi lebih nikmat. Ditambah lagi hawa dingin yang mulai terasa karena kediaman keluarga Diana memang berada di lereng pegunungan.
Diana dengan telaten melayani Nico, mengambilkan makanan di piringnya. Hal itu bukan hanya membuat Nico senang namun juga kedua orang tua Diana.
"Gimana nak suka sama masakan ibu ndak?" tanya Bu Wati.
"Suka, enak banget mirip masakan Diana. Bener kan sayang?" Diana yang dipanggil sayang didepan kedua orang tuanya tentu langsung tersipu malu.
"i-iya.. Kan memang itu resep dari ibu." ucap Diana sedikit tergagap.
"Bu, aku boleh nambah kan? Enak banget soalnya." Nico nampak meringis saat melihat piringnya sudah kosong.
"Iya tentu boleh, ini masih banyak. Habiskan nggak apa-apa nak." Bu Wati dan Pak Herman begitu senang sebab menantunya yang berasal dari keluarga konglomerat kaya raya namun selalu bersikap santai dan tak pilih-pilih.
Hingga acara makan malam itu selesai mereka pun menghabiskan waktu mengobrol dan berbagi cerita, kerap kali mereka juga saling bercanda. Keluarga itu benar-benar tampak harmonis dan bahagia dengan segala kesederhanaannya.
"Sudah malam ini, bapak sudah ngantuk. Kami mau tidur dulu ya. Kalian istirahat saja nak." Pak Herman dan Bu Wati akhirnya pergi tidur lebih dahulu.
Kini tinggal Diana dan Nico yang masih di ruang keluarga. Akhirnya juga memutuskan untuk istirahat. Namun saat berjalan ke kamar Diana memperhatikan suaminya yang tampak tertatih.
"Kakak kenapa? Kakinya sakit?" tanya Diana.
"Nggak tau nih dari tadi buat jalan kayak ketusuk di telapak kaki. Kayaknya kena duri pas jatuh di lumpur tadi deh, kan kakak pake sendal tadi." ujar Nico.
"Yaudah ayo aku periksa di dalam. Siapa tahu beneran kena duri." Diana pun membantu Nico masuk ke dalam kamar.
Sementara di ruangan lainnya tepatnya di kamar orang tua Diana tampak Bu Wati dan Pak Herman masih mengobrol berdua.
"Pak.. Pak.. Tadi ibu nggak sengaja ngobrol sama si gendhuk. (*panggilan anak perempuan pada orang jawa.) sepertinya Diana sudah berubah deh Pak." ujar Bu Wati.
"Berubah gimana Buk? Bapak pikir masih tetap sama, konyolnya juga." ujar Pak Herman.
"Bukan begitu pak, maksud ibu itu.." Bu Wati pun menceritakan tentang obrolan mereka saat di dapur tadi.
"Masak sih buk? Bapak pikir dia masih polos, malahan bapak khawatir kalau saja nak Nico harus menahan sabar dengan kepolosan putri kita." ujar Pak Herman.
"Ya makanya itu Pak, semoga aja dia nggak membuat suaminya kewalahan ya. Sepertinya itu gen dari bapak deh, suka minta setiap saat. Nafsuan." ujar Bu Wati. Sementara Pak Herman hanya meringis saja.
"Habis ibu cantik sih, apalagi kalau cuman berdua di rumah, jadi nostalgia jaman pengantin baru kan?" goda pak Herman.
"Dasar, itu sih maunya bapak aja. Untung ganteng." jawab Bu Wati lirih. Keduanya memang selalu romantis meski usianya sudah tak muda lagi.
"Sudah ah, bapak haus mau ambil minum dulu." Pak Herman beranjak dari ranjangnya.
"Mau ibu ambilkan?" tanya Bu Wati.
"Nggak usah sayang." Pak Herman mengerlingkan matanya membuat Bu Wati salah tingkah.
Saat berjalan menuju dapur kebetulan melewati kamar Diana. Pak Herman yang awalnya biasa saja tak sengaja mendengar suara yang cukup gaduh dari dalam.
"Aahhh.. Dek, pelan-pelan dong. Aduh." tampak suara Nico.
Sementara Bu Wati yang ikut ke dapur karena haus pun heran dengan suaminya yang diam mematung didepan kamar putrinya.
"Pak ngapain?" bisik bu Wati.
Pak Herman pun hanya diam sambil telunjuknya didepan bibir. Menginterupsi istrinya agar tak bersuara.
"Makanya kakak terlentang aja biar aku yang eksekusi nih. Tahan ya.." ucap Diana.
"Aaahh.. Ahh dek cabutnya pelan-pelan perih nih." Nico kembali mengaduh.
"Ditahan bentar ini nanggung kak. Naah.. Plong kan." jawab Diana.
"Iya sih tapi sakit." Jawab Nico.
"Iya soalnya panjang ini kak, lumayan gede lagi." mendengar hal itu baik pak Herman dan Bu Wati hanya bisa ternganga sambil bergidik ngeri.
Keduanya pun memutuskan untuk langsung kembali ke kamar melupakan niatan untuk mengambil air minum.
Sedangkan di dalam kamar Diana tampak tersenyum puas setelah berhasil mencabut duri yang cukup panjang menancap di telapak kaki Nico.
"Pantesan sakit banget buat jalan dek, durinya aja segede gini." Nico menatap ngeri duri yang berhasil dicabut istrinya.
"Yaudah sini kakinya aku kompres air hangat buar nggak bengkak." Ujar Diana sebelum akhirnya pergi ke dapur mengambil air hangat.
...***********...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Maliq Ebrahim
dikira orangtuanya lagi nganu kan hahaha lucubnget kannico sama diana
2024-01-23
0
Muztafa Aly
haha mungkin pak herman sama istrinya dkira mereka melakukan hbngan suami istri hihi lucu qm niko
2023-12-16
1
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
astaga... bapak sama ibu salah faham dgn kegiatan dikamar Nico dan Diana nih😂😂
2023-12-15
0