Diana sedang sibuk menyuapi mama mertuanya dengan cheese cake. Keduanya tampak begitu akrab bahkan rasa-rasanya kini mama Vania hanya sibuk memperhatikan Diana daripada Nico dan Papa Nathan.
Namun hal itu dapat dimaklumi sebab Mama Vania sendiri sejak dulu sangat mendambakan memiliki seorang putri. Apalagi Diana begitu perhatian dan menyayangi Mama Vania seperti ibu kandungnya sendiri.
Namun sejak tadi Nathan memandang Diana dengan tatapan yang aneh. Sejujurnya dia masih terganggu dengan pengakuan Diana yang tadi mengatakan adik dari Nico, apa coba maksudnya, dan Nico sendiri tampak tidak memprotes.
Tak berselang lama suara dering ponsel Nico berbunyi, rupanya panggilan dari sekretarisnya.
"Pa aku angkat telepon dulu." ucap Nico.
"Ya.." jawab Papa Nathan.
tak lama Nico datang menghampiri semua orang di dalam ruang rawat inap Mama Vania.
"Maaf banget Nico harus ke kantor sekarang. Ada sedikit masalah, nggak apa-apa kan Diana kamu di sini dulu?" ucap Nico.
"Iya tidak apa-apa kak, selesaikan saja dulu pekerjaan kakak." ucap Diana kepada Nico.
Setelah Nico pergi kini giliran papa Nathan bertanya pada Diana, dia bukan tipe orang yang betah lama-lama memendam rasa penasaran sehingga dia harus segera tahu penyebabnya.
"Diana, boleh papa tanya sesuatu?" ucap Nathan dengan raut wajah serius.
"Iya pa.." Diana meletakkan piring ke atas nakas.
Mama Vania pun ikut penasaran dengan apa yang akan di tanyakan suaminya kepada menantunya itu.
"Tadi Papa nggak sengaja lihat kamu dan Nico sedang mengobrol dengan Dokter Dimas. Tapi kenapa kamu mengaku adik Nico? Papa tau kalian menikah bukan berlandaskan cinta tapi nak, jika kamu mengaku bukan istri Nico takutnya akan ada yang salah paham." ujar Papa Nathan akhirnya.
"Mengaku adik? yang benar saja Diana?" Mama Vania pun menyahut.
Melihat raut kecewa kedua mertuanya Diana pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Tak disangka apa yang dilakukan ini justru menimbulkan kesalahpahaman.
"Diana.. apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini? apa kamu tertekan?" Meski Nathan selalu bersikap dingin terhadap semua orang namun ketika dengan Diana dia merasa hal beda, gadis itu seperti putrinya sendiri.
"Papa.. maafkan Diana, bukannya Diana tidak bahagia dengan pernikahan ini tapi Diana terpaksa melakukannya karena Kak Nico." Diana yang menundukkan wajahnya kini perlahan menatap papa mertuanya.
Nathan dan Vania terkejut saat mendapati menantu perempuannya sudah berlinang air mata.
"Sayang, apa yang terjadi sebenarnya?" Vania menghapus air mata Diana.
AKhirnya Diana pun menceritakan tentang Nico yang mengakui Diana hanya adiknya di depan teman-temannya.
"Dasar anak itu memang harus diberi pelajaran." geram Nathan.
"Paa.. tolong jangan bahas ini dengan Kak Nico, Diana tidak ingin nantinya Kak Nico malah membenciku." ucap Diana.
"Tapi Diana, dia harus tau posisinya. Kalian ini sudah menikah." Nathan tak terima.
"Kak Nico pasti punya alasan tersendiri kenapa melakukan itu, pa apa ada masa lalu kak Nico yang sulit dilupakan? karena tak salah dengar aku ingat salah satu teman kak nico membahas tentang move on." ujar Diana.
Baik Nathan maupun Vania tampak terdiam dan saling memandang. Haruskah dia menceritakan tentang masa lalu Nico dengan Bianca? tapi daripada Diana mendengar dari orang lain lebih baik dia tahu dari sumber yang benar.
"Diana, Nico memang pernah mencintai seorang gadis. Dia sudah lama menaruh hati kepada gadis itu. Namun kenyataannya gadis itu sama sekali tak membalas perasaan Nico justru dia memanfaatkan demi kepentingannya. Mama sudah memperingatkan untuk menjauhi dan melupakan gadis itu namun hatinya yang terlanjur dalam membuatnya sulit untuk move on." Mama Vania akhirnya menceritakan tentang masa lalu Nico.
"Apa ini termasuk alasan kenapa Mama ingin segera menikahkan kak Nico dengan wanita lain?" Diana berusaha menyimpulkan.
"Sayang.. maafkan mama. Mama tidak bermaksud memanfaatkan kamu." Mama Vania menjadi semakin bersalah, dia justru mengorbankan gadis muda di hadapannya ini.
Semakin menangislah Diana, kenyataan baru ini rupanya begitu menyakiti hatinya, jika saja sejak awal dia tak melibatkan perasaannya mungkin tak akan sesakit ini.
Ya, Diana sejak awal sudah menaruh perasaan cinta kepada Nico, dia adalah pria pertama yang berhasil merebut hatinya. Sejak pertemuannya di Bali Diana mulai mengagumi Nico dan semakin lama perasaan itu berubah menjadi cinta. dan Diana baru menyadari akhir-akhir ini.
Apalagi setelah memutuskan untuk menikah dia mulai memusatkan perasaannya pada Nico, dia ingin mengabdikan hidupnya menjadi istri dari pria itu. Terus belajar berusaha menjadi yang terbaik.
"Diana.. Apa kamu mencintai Nico?" tanya Nathan.
Diana pun mengangguk meski masih dengan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
"Diana.. dengarkan Mama sayang, diantara Nico dan gadis itu tak ada ikatan hubungan apapun. mereka sudah selesai bahkan gadis itu sudah pergi jauh ke luar negeri. Dia juga terang-terangan tidak menyukai Nico karena dia tidak suka laki-laki." ucapan Mama Vania tentu langsung membuat Diana mengernyit.
"M-maksud mama.. "
"Ya, dia suka dengan perempuan, jadi jangan takut jika Nico akan berpaling." Mama Vania mengusap puncak kepala Diana.
Rasanya tak tega melihat menantu kesayangannya itu bersedih. Akhirnya Mama Vania menarik Diana dan mendekapnya dalam pelukan.
"Bersabarlah sayang, mungkin kisah kalian belum berjalan seperti yang kamu harapkan tapi jangan pernah menyerah. Mama Yakin kalian akan tumbuh menjadi pasangan yan luar biasa." Mama Vania berusaha menghibur Diana.
"Diana, Papa pikir ada untungnya kamu mengakui hal tersebut di depan Nico." ujar Papa Nathan yang langsung membuat Diana dan Vania menatapnya.
"Maksud Papa?" Diana mengernyit bingung.
"Manfaatkan saja kesempatan ini untuk mengetahui bagaimana perasaan Nico sesungguhnya. Tarik ulur perasaannya dengan membuatnya cemburu. Sebetulnya Papa melihat jika Nico mulai tertarik kepadamu namun dia masih bingung dengan hatinya. Buatlah dia menjadi penasaran denganmu dan buat dia merasa cemburu. Dengan begitu Nico akan mengetahui bagaimana perasaan dalam hatinya." ide yang diberikan oleh Papa Nathan rupanya cukup menarik.
"Begitu ya Pa? tapi bagaimana caranya membuat Kak Nico cemburu?" Diana yang masih polos dan tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun tampaknya cukup kesulitan.
"Tenang saja, Papa akan membantu kamu." senyum tipis tersungging di wajah pria paruh baya tersebut.
*****
Nico baru saja sampai di rumah sakit. Masalah yang terjadi di kantornya baru saja terselesaikan jadi dia langsung bergegas kembali menemui keluarganya.
"Maaf ya, aku tinggal darai tadi, ini baru selesai jadi langsung kesini." ujar Nico yang baru saja memasuki ruangan dimana Mama Vania dirawat.
"Kak Nico sudah makan?" tanya Diana.
"Belum, kamu?" tanya Nico balik.
"belum juga." Diana menggeleng.
"Kalian pergi makan siang dulu saja, di cafe rumah sakit ini saja lebih dekat." ujar Papa Nathan.
Diana dan Nico pun berjalan menuju cafetaria rumah sakit. Disana memang tersedia banyak menu makanan yang rasanya juga lumayan.
Saat menunggu makanan datang Diana tampak sibuk memainkan ponselnya dan tak lama kemudian Dimas datang menghampiri mereka.
"Hai Nico, Diana kalian disini juga rupanya?" tanya Dimas.
"Eh, Dokter Dimas. iya ini mau makan siang. Dokter Dimas sendiri?" ucap Diana dengan senyum ramahnya.
"Ini juga mau makan siang mumpung istirahat, boleh gabung nggak?."ujar Dimas.
"Boleh.. silahkan." jawab Diana cepat. Entah kenapa Nico tampak kurang suka saat Diana akrab dengan Dimas.
"Oh ya Diana, kalau boleh jangan panggil dokter dong, panggil nama aja biar lebih akrab." Dimas mulai mengajak Diana mengobrol.
"Hmm.. tapi kalau nama kurang afdol karena dokter Dimas usianya lebih di atas ku, gimana kalau aku panggil kakak.. Kak Dimas." jawab Diana.
"Uhhukk.. uhhukk.. uhhukk.." Nico yang sedang menyeruput orang juice langsung tersedak mendengar panggilan Diana kepada Dimas. Apa-apaan panggil kakak.
"Kak Nico pelan-pelan dong minumnya." Diana mengambil tissue dan memberikannya kepada Nico lalu dia kembali mengobrol dengan Dimas.
"Diana, kalau kamu butuh sesuatu selagi menemani mama kamu jangan sungkan-sungkan minta bantuan padaku ya." ujar Dimas. Sementara Nico langsung menoleh kepada DImas dengan wajah ketusnya.
"Iya kak makasih banyak. Tapi apa nggak apa-apa kalau aku ngerepotin Kak Dimas?" jawab Diana sambil diam-diam melirik Nico ingin tahu ekspresinya.
"sama sekali tidak apalagi membantu gadis secantik kamu." ujar Dimas menggombal.
BBRRAKK..
Nico reflek menggebrak meja karena tak tahan dengan interaksi dua urang di depannya. Apa-apaan ini...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Bhęå Thęå..
kiw kiwww ada yang panas membara tapi bukan api...namun kalbu yang terbakar cemburu...
2024-01-01
0
Yellyati Iyel
cemburu ni yeeee🤪
2023-12-03
0
Lusi Hariyani
lm g up thor...klo bs rutin dong thor jgn kecewakan pembaca
2023-12-03
0