Diana merasakan ciuman bertubi-tubi di wajahnya namun dia tetap dengan segala egonya memutuskan untuk terus memejamkan mata.
Sejujurnya dia sudah terjaga sejak tadi. Bahkan dia sudah setengah sadar saat Nico memindahkan dirinya ke atas ranjang. Namun karena rasa kantuk dan lelah yang tak dapat dihindari membuatnya malas membuka mata.
"Bidadariku kok masih betah banget molor sih, ini hampir siang loh sayang. Kamu belum sarapan." Nico kembali mengusal wajah Diana.
Diana sebenarnya malu saat ini melihat Nico. Seumur hidup Diana tak pernah menunjukkan tubuhnya pada siapapun kecuali orang tuanya yang telah merawatnya sejak bayi. Namun kini dia dengan pasrahnya memberikan seluruh tubuhnya pada seorang pria yang baru dikenalnya.
Meskipun statusnya sudah suami istri dan katanya sudah halal melakukan apapun. Tapi tetap saja ada rasa malu luar biasa. Bagaimana kalau ternyata tubuhnya ada sesuatu yang membuat Nico merasa jijik, bagaimana kalau tingkahnya kelewat batas semalam, bagaimana kalau.. masih banyak lagi argumen-argumen yang mengendap dalam pikirannya.
"Dek.. kamu marah sama kakak? kakak tau kok kamu udah nggak tidur. Maaf ya atas ulah kakak semalam." Nico sejujurnya mulai gelisah saat Diana terus mendiaminya begitu.
"Nggak apa-apa marah sama kakak, aku emang salah, tapi tolong bangun dulu dan sarapan. Kakak nggak mau kamu sakit Diana." Nico mengusap rambut Diana dan menyisihkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Aku nggak marah kok, aku cuma malu aja." Akhirnya Diana menjawab ucapan Nico.
"Dek.." Nico mendekatkan wajahnya dan menatap Diana dengan lekat.
"kenapa harus malu sayang?"
"Aku nggak pernah buka baju didepan orang lain. Dan semalam.. suaraku sepertinya mirip tikus kejepit." Diana menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Astaga, Sedari tadi Nico sudah panik sendiri takut Diana marah dan menuntutnya. Namun mendengar penjelasan istri polosnya itu membuat Nico ingin sekali tertawa kencang.
"Apanya yang mirip tikus kejepit sayang?" NIco masih tak habis pikir.
"Itu.. waktu kakak itu... jadinya nggak sadar aku ngomong enggak jelas." Diana menjelaskan dengan wajah yang sudah merona.
Lagi-lagi Nico harus bersabar dibuat geleng kepala dengan kepolosan Diana. Antara senang maupun heran. Nico jadi penasaran sebenarnya usia Diana benar-benar sudah sembilan belas tahun atau masih sepuluh tahun sih? Kok bisa-bisanya gadis itu sangat polos dan.. ah entahlah.
"Dek, kakak ini suami kamu, kenapa harus malu kalau kakak melihat semuanya yang ada pada diri kamu. Dan kalaupun kakak orang pertama yang melihat tubuh kamu itu justru kakak adalah manusia paling beruntung, sebab kamu adalah wanita hebat yang mampu menjaga kehormatan diri kamu. Nggak sembarangan mempertontonkan aset berharga itu kepada sembarang orang." Nico memberi pengertian pada Diana.
"Dan soal suara itu.. jujur saja itu adalah suara tersexy yang pernah kakak dengar, dan saking candunya kakak ingin mendengar suara itu setiap hari." Nico sedikit berbisik sengaja menggoda istrinya.
"Sexy apanya coba? masak aku harus menjerit-jerit gitu kan malu. Ntar orang lainnya dengar malah dikira aku lagai nggak waras." Diana mengerutkan keningnya tak habis pikir dengan kesukaan suaminya.
"Aduh dek, ya jangan mengeluarkan suara itu di depan orang lain dong. Cukup kakak aja yang boleh dengerin." pinta Nico.
Diana pun semakin heran dengan perkataan suaminya. Sebenarnya Nico itu beneran suka dengan suara anehnya atau hanya berusaha menghibur dirinya saja agar tak malu. Dia pun akhirnya beranjak dari ranjangnya.
"Dasar pria aneh.. selera kakak emang lain." Diana pun berjalan meski sedikit tertatih keluar kamar.
Sementara Nico hanya bisa membeo mendengar perkataan istrinya.
"Justru aku ini pria normal Diana. Suami mana yang nggak nafsu kalau dengar suara indah itu. Astaga.." Nico menepuk keningnya sendiri tak terima dengan perkataan Istrinya.
****
Di apartemen Hana sedang merasa tidak enak badan padahal nanti malam ada acara amal di salah satu perusahaan kolega Shaka, suaminya.
Namun setelah memasak tadi Hana merasakan meriang dan kepalanya terasa pusing. Alhasil dia menjadi lemas dan tak berdaya.
Terbiasa hidup mandiri sejak kecil membuat Diana tak mau merepotkan orang lain. Akhirnya dia mencari dan meminumnya berharap sore nanti sudah sembuh.
Efek meminum obat membuatnya merasa mengantuk sehingga Hana mulai terlelap dann tanpa sadar dia tertidur hingga sore hari.
Shaka yang baru pulang darii kantor merasa heran semua lampu di apartemen tersebut tidak ada yang dinyalakan. Saat masuk ke dalam kamar dia melihat istrinya yang tertidur dengan pulas nya.
Shaka pun akhirnya mengganti pakaian lalu mendekati Hana yang tampak pucat. Karena khawatir akhirnya dia mencoba mengecek suhu tubuhnya. Dan benar saja istrinya saat ini sedang demam.
"Sayang kamu sakit?" tanya Shaka khawatir.
"Mas.." ucap Hana dengan lemas.
"Kita ake rumah sakit saja ya sayang, aku nggak mau kama kenapa-napa." pinta Shaka.
"Aku nggak apa-apa Mas, cuma capek aja. Nanti juga sembuh sendiri. Kan nanti malam Mas harus datang ke acara amal kan." Hana mengulas senyumnya agar tampak baik-baik saja.
"Mas nggak akan pergi tinggalin kamu saat sakit begini Hana." Shaka mengusap pipi Hana yang terasa panas dengan tatapan tak tega.
"Tapi acara itu penting untuk kamu Mas, banyak para petinggi yang hadir dan Mas bisa membangun banyak relasi disana." ucap Hana mencoba meyakinkan suaminya.
"Tapi mana tega Mas tinggalin kamu sayang. Atau begini saja, Mas antar kamu ke rumah Mama biar ada yang jagain disana."
"Nggak perlu sayang, aku bisa sendiri istirahat di sini kok. Mas lupa ya kalau aku terbiasa sendirian sejak kecil? hal begini sudah biasa banget buat aku." Disinilah yang membuat Shaka merasa beruntung namun juga sedih. Dibalik semua sikap mandiri istrinya sebetulnya Hana menyimpan kesedihan dan kesepian selama ini.
"Hana, Mas tahu kamu itu sangat mandiri sejak dulu. Tapi tetap saja mas nggak tega sayang, sekarang kamu adalah tanggung jawab Mas. Nggak akan mas biarkan kamu sendiri lagi." Kini Shaka memeluk Hana dengan penuh kasih sayang.
"Makasih ya Mas, sejak kenal kamu hidupku jadi penuh warna." Hana membalas pelukan suaminya.
"Aku yang harusnya lebih beruntung memiliki kamu Hana."
Namun kemesraan mereka tak berselang lama saat ponsel Shaka terus berdering.
"Mas, ada telepon tuh diangkat dulu ya." Hana menepuk bahu Shaka yang masih setia memeluknya. Akhirnya dengan malas Shaka beranjak untuk mengangkat teleponnya.
"Halo, ada apa Amanda?" Shaka berbicara pada Amanda sekretarisnya dengan meloudspeaker sehingga Hana bisa mendengarnya.
"Pak, Tuan Samir yang dari Dubai dipastikan nanti hadir di acara amal. Pak Shaka kalau bisa juga hadir di acara itu. Ini menyangkut proyek baru perusahaan agar beliau bisa lebih percaya jika anda yang membicarakannya langsung." ucap Amanda yang berada dari balik telepon.
"Ya, tapi aku nggak janji. Istriku sakit soalnya." Shaka pun menutup teleponnya.
Hana yang mendengarnya langsung ikut merespon Shaka.
"Mas, datang saja, aku bisa istirahat sendiri kok. Proyek ini kan penting buat Mas." pinta Hana.
"Tapi sayang.." Shaka masih berat meninggalkan Hana.
"Aku nggak apa-apa sayang.."
Akhirnya Shaka pun menuruti permintaan Hana meski sedikit tidak rela. Bahkan dia terlihat tak bersemangat sama sekali mengingat acaranya nanti dia harus datang sendiri tanpa didampingi Hana.
"Nanti langsung telepon kalau merasakan sesuatu ya. Mas akan stand by nunggu telepon kamu." ujar Shaka sambil mengecup kening Hana sebelum berangkat.
"Iya sayang, hati-hati di jalan." ujar Hana saat Shaka beranjak pergi.
Selanjutnya Hana kembali meminum obat setelahnya tertidur dengan pulas.
Hingga tak sadar entah berapa lama Hana tertidur tau-tau dia melihat suaminya sudah tertidur pulas di sampingnya. Namun anehnya Shaka masih mengenakan pakaian yang digunakan saat menghadiri acara tadi.
Hana pikir mungkin Shaka lelah dan terlalu mengantuk sehingga dia enggan mengganti baju. Tak mau berpikir macam-macam Hana pun kembali memeluk suaminya.
Hingga keesokan paginya Hana yang sudah merasa lebih baik pun terbangun dengan keadaan lebih segar. Ternyata benar dirinya hanya kelelahan saja butuh banyak istirahat karena akhir-akhir ini dia sibuk mengurus usaha salon milik adik iparnya yang saat ini masih terbaring koma.
Hana menoleh menatap suaminya yang masih tertidur menghadapnya. Hana hendak mengecup pipi Shaka namun dia terhenti dan terkejut saat melihat noda lipstick berbentuk bibir ada di beberapa tempat. Mulai dari pipi, leher hingga kerah bajunya.
"Astaga Mas.. appa yang kamu lakukan semalam." Hana sampai gemetar melihat hal itu.
******
"Halo, ada apa Bi?"
Nico yang sedang bersantai menikmati secangkir kopi buatan Diana sambil menatap hijaunya kebun sayuran milik mertuanya harus terganggu karena adanya panggilan dari bibi asisten rumah tangga di kediaman Mamanya.
"Mas Nico kapan pulang, Ini nyonya pingsan lagi Mas. Tuan sedang pergi ke luara kota. Bibi bawa nyonya ke rumah sakit saja ya." ucap Bibi panik.
"Ya Bi, tolong bawa Mama ke rumah sakit dulu. Minta bantuan Pak Tejo. Aku akan secepatnya kembali." Wajah Nico berubah pias saat mendengar Mamanya kembali sakit.
"Astaga Ma, apa yang sedang terjadi kenapa Mama di sering sakit?"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
apakah sakit yang mama Nico rahasiakan selama ini akan terbongkar??? dan bagaimana reaksi Nico saat tau kalau ternyata diana justru sudah tahu tentang sakit yang diderita mamanya selama ini..
2023-12-21
1
🔴🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅢🅦🅔🅔🅣ᵃⁿᵍᵍᶦ
waduuhh shaka cari ribut aja nih kamu.. pulang² dah penuh dgn noda lipstik di wajah..
2023-12-21
0
𝘛𝘳𝘪𝘚
terbongkar kah nnti sakitnya mama nya nic,,, gimana y reaksi Nico kl th nanti/Frown/
2023-12-20
1