Meski wajah nya masih sembab dan ujung netranya masih keluar air mata namun tak mengurangi nikmatnya menyantap burger.
Dengan keju melimpah serta double beef yang menggugah selera membuat burger tersebut hampir tidak muat digenggaman tangan mungil Diana.
Namun meski begitu Nico merasa lega, setidaknya istri kecilnya itu mau keluar kamar setelah drama berbagai bujukan.
Satu jam yang lalu, Nico benar-benar kalut dan khawatir sebab mendengar Diana tengah menangis terisak di dalam kamar. Sudah berulang kali Nico mengetuk pintu sambil memohon agar membukakan pintu dan meminta maaf.
Bukannya dibuka justru suara tangisan Diana semakin keras. Hal itu membuat Nico harus berputar otak untuk bisa membujuk Diana. Nico teringat akan makanan kesukaan Diana. Secepatnya dia memesan makanan itu dengan cara delivery order. Sementara menunggu makanan datang Nico sambil mempersiapkan kata-kata permintaan maaf yang tepat.
Jika biasanya Nico agak cuek dengan urusan perempuan kali ini rasanya beda, entah kenapa menatap Diana rasanya dia ingin selalu membuat gadis itu bahagia. Gadis muda itu sudah mengorbankan masa depannya demi dirinya.
Setengah jam berlalu akhirnya pesanan makanan kesukaan Diana datang juga. Nico langsung menata di piring semenarik mungkin lalu memotretnya dengan kamera HP. Dia mengirim foto tersebut kepada Diana.
"Dek, kalau nggak mau kakak makan sendiri ya." ucap Nico dari balik pintu.
Dan benar saja akhirnya Diana langsung muncul dari balik pintu. Sudah Nico duga bahwa gadis itu tak mungkin melewatkan makanan kesukaannya.
Diana langsung berjalan keluar tanpa mengatakan apapun. Dia mengambil burger kesukaannya di atas piring dan langsung melahapnya.
Nico tersenyum lega saat melihat istri kecilnya itu makan dengan lahap. Dia pun langsung mengambil tissue dan menghapus saus yang belepotan di bibirnya.
"Enak?" tanya Nico yang dibalas anggukan oleh Diana.
"Maafkan kakak ya, kakak nggak bermaksud memaksa ataupun menyakiti perasaan kamu." Nico berjongkok sambil memegang lutut Diana.
Seketika pandangan Diana beralih pada suaminya yang menatapnya dengan sendu.
Diana yang belum selesai mengunyah burgernya membuat salah satu pipinya mengembung kini kembali menitikkan air mata.
"Loh, kok nangis lagi. Maaf-maaf yaudah kakak nggak bahas situ lagi. Maaf ya" NIco kembali panik.
"Aku bukan nangisin itu, tapi nangisin burger ini. Kenapa enak sekali. Hiks.. Hiks.." Lagi-lagi Nico hanya bisa membeo dengan tingkah random Diana. Dia sudah panik duluan karena membuat gadis itu sedih, bahkan dia sampai berpikir jauh jika saja Diana mengadu kepada kedua orang tuanya, mau ditaruh mana muka Nico.
"K-Kalau kamu mau nanti kakak belikan lagi, jangan nangis ya sayang.. cup..cup.." Nico menghapus air mata Diana sambil membujuknya seperti bocah balita.
"Kak.." panggil Diana setelah dirinya sudah tak menangis lagi.
"Ya Diana.." jawab Nico sambil melengkungkan senyumnya, takut-takut gadis itu menangis lagi.
"Maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kakak, aku masih kekanakan, aku juga belum bisa memberikan hak kakak." Diana menundukkan wajahnya.
"Aku ingin jujur pada kakak tapi aku takut.." imbuhnya.
"Jujur saja, kenapa takut?" jawab Nico.
"Aku takut kakak marah, kak.. bukannya aku tak peka dengan maksud kakak beberapa hari ini tapi aku hanya belum siap, ya aku tahu kita tak berdosa melakukan itu bahkan aku malah yang berdosa jika terus menolaknya tapi.." Diana menghela nafasnya yang sempat tertahan sambil menjeda ucapannya.
"Tapi aku masih takut apalagi punya anak untuk saat ini, jujur aku belum siap. Maaf kak.. ampuni istrimu ini yang tak becus." Diana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil merosotkan tubuhnya dan duduk di lantai.
Nico terkejut dengan kata-kata maupun tindakan Diana. Dia akui Diana memiliki tutur kata yang selalu sopan dan terjaga. Dia bahkan tak malu untuk meminta maaf dan dia takut menyakiti hati orang lain.
Nico pun mengelus puncak kepalanya lalu membawanya ke dalam pelukan. Bukan marah ataupun kecewa namun Nico justru merasa senang dan bahagia. Dia tahu tak mudah memutuskan hal yang akan dijalaninya seumur hidup di usia yang masih muda begini.
"Nggak perlu minta maaf, kakak nggak akan marah, dan kakak hargai keputusan kamu. Jadilah diri kamu sendiri seperti ini kakak suka. Kakak akan sabar menunggu sampai kamu siap." Lagi, Nico mengulas senyumnya sambil menatap binar indah di netra Diana.
"Makasih kak.." Diana membalas senyuman Nico.
"Diana, boleh kakak tanya sesuatu?" Kini Nico menatap Diana dengan lekat.
"Sebenarnya apa alasan kamu mau menikahi kakak?"
DEG..
Diana langsung gelagapan saat ditanya tentang hal itu. Tidak mungkin baginya mengatakan sejujurnya bahwa dia menikahi Nico karena penyakit yang di derita mama Vania.
"A-anu.. i-itu.." Diana menggigit bibirnya sendiri, harus bagaimana ini? dia mesti menepati janjinya untuk tak membocorkan hal ini seperti permintaan Mama Vania atau harus jujur kepada Nico.
"Kenapa sayang?" Nico kembali menanyakan.
"K-karena aku suka kakak.." jawab Diana dengan buru-buru.
"Bener cuma karena itu? sejak kapan?" Nico masih penasaran, sebab dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya.
"S-sejak.. sejak.. kita pulang dari Bali, sejak kakak mengajakku jalan-jalan di pantai." Diana sedikit gemetar saat menjawabnya, namun sebisa mungkin gadis itu ingin memastikan bahwa NIco akan percaya dengan perkataannya.
Nico hanya menyunggingkan senyum, dia tahu Diana tak pandai berbohong namun untuk saat ini dia tak ingin menekannya lebih jauh. Dia harus bisa mengendalikan diri perlahan dan mencari tahu sendiri.
Namun dugaan kuat adalah dirinya melakukan ini karena rasa balas budi orang tuanya yang telah ditolong oleh kakeknya dulu, mungkinkah Diana dipaksa orang tuanya atau justru Mama dan Papa yang justru memaksanya. Jika memang bukan kehendak Diana maka Nico harus benar-benar membantu gadis itu, Nico tak ingin memaksa Diana dan mengorbankan masa depan gadis tak berdosa itu.
Entah kenapa rasa sesak kini menjalari hati Nico, dia tak tau pasti apa penyebabnya. Mungkinkah rasa iba dan kasian kepada Diana yang harus terpaksa menikah atau penolakan yang dilakukan Diana, jujur saja melewati hari-hari bersama gadis itu meski harus menguras kesabaran namun Nico sudah merasa nyaman.
"Diana, mau menginap di rumah Ibu tidak? mumpung kamu belum mulai kuliah dan kakak masih cuti kerja ayo kita habiskan waktu di sana." Kini Nico ingin sedikit meringankan kegundahan hati Diana, mau bagaimanapun sebaik-baiknya rumah adalah rumah masa kecil kita.
"Memang kakak mau? disana kan kampung? jauh dari keramaian apalagi fasilitasnya juga terbatas." Sejujurnya melihat bagaimana kehidupan Nico yang serba terjamin dengan semua fasilitas yang dia miliki membuatnya minder.
"Nggak apa-apa justru kakak senang disana sangat damai dan tenang, kakak butuh ketenangan sebelum kembali bergelut dengan pekerjaan. Mau ya?" Nico mencoba meyakinkan Diana.
"Hmm.. yaudah deh, tapi aku mau ketemu Mama Vania dulu. Boleh kan kak? kita belum menjenguk setelah mama pulang dari rumah sakit." Diana sejujurnya ingin mengatakan pada mertuanya bahwa dia tak ingin berlama-lama untuk menyembunyikan penyakit tersebut. Diana tak ingin kualat membohongi Nico terus.
"Oke, mampir mama dulu terus berangkat ke rumah Bapak sama ibu." ucap Nico sambil mengacak rambut Diana.
Setelah menyiapkan pakaian dan beberapa keperluan lainnya Diana dan Nico kini siap untuk berangkat. Sesuai permintaan diana kini mereka mampir ke kediaman orang tua Nico.
Sampai di halaman rumah mertuanya Diana merasa sesak sendiri melihat bangunan megah bak istana itu. Sungguh jauh sekali dengan kediamannya di kampung.
Seketika hati Diana menjadi ciut sendiri, tak pernah terbayangkan dia menginjakkan kaki di mansion sebagus ini bahkan dia adalah anggota keluarga dari sang konglomerat itu.
"Dek.." Nico meraih tangan Diana dan menuntunnya ke dalam, tentu saja Diana yang sejak tadi melamun langsung tersentak.
"Ayo masuk katanya kangen mama." ucap Nico sambil merangkulkan lengannya pada pinggang gadis itu.
"Ah, iya ayo.." keduanya melangkah memasuki mansion itu.
Sampai di dalam dia melihat rumah itu tampak sepi hanya beberapa maid yang sedang bekerja.
"Mbak, mama dimana ya?" tanya Nico.
"Oh, Mas Nico. Nyonya ada di taman belakang Mas." jawab salah satu maid yang bekerja di mansion tersebut.
"Oke, akau akan kesana. Ayo sayang." ujar Nico sambil menuntun istrinya mencari keberadaan Mama Vania.
Namun pandangan tak mengenakkan didapatkan diana dari para pekerja di mansion tersebut. Mereka menatap Diana sebelah mata. Karen tau status Diana yang rasanya tak sederajat dengan keluarga Nico.
Sampai akhirnya keduanya menemukan Mama Vania yang sedang sibuk memeriksa tanaman hiasnya di taman belakang. Wanita itu sangat menyukai tanaman hias.
"Mama.." Ucap Nico dan Diana bersamaan.
"Loh, kalian kesini kok nggak bilang-bilang." Mama Vania sangat terkejut saat melihat anak dan menantunya datang.
Setelah mencuci tanga Mama Vania langsung memeluk Nico dan Diana bergantian. Bahkan mama Vania sengaja memeluk Diana lebih lama. Dia sangat menyukai menantu mudanya yang cantik itu.
"Anak cantik gimana kabarnya? Suami kamu bikin ulah nggak?" tanya Mama Vania.
"Mama malah nanyain Diana duluan ketimbang anak sendiri." gerutu Nico yang hanya dibalas cubitan di pinggang oleh Mama Vania.
"Alhamdulilah Diana baik dan Kak Nico juga baik ma." senyum merekah langsung tercipta di wajah imut Diana.
"Yaudah ayo kita mengobrol di dalam, tapi sayang sekali papa kamu belum pulang. Tadi ada janji main golf sama teman-temannya." ujar Mama Vania.
"Iy nggak apa-apa, kita cuma mampir sebentar soalnya mau jenguk bapak sama ibu di kampung." ucap Nico.
"Oh, mau kesana? Mama nitip salam buat mereka ya." ujar Mama Vania.
"Siap ma.." ucap Diana.
Setelah berbincang Nico pamit pergi ke toilet. Dan sekarang kesempatan Diana untuk bicara dengan Mama Vania.
"Ma, sebenarnya Diana kesini ada yang mau diomongin. Kak Nico terus menanyakan alasan Diana menikah. Diana nggak sanggup lagi buat bohong. Apa boleh kalau Diana jujur tentang sakit yang diderita mama? dan Diana pikir lebih baik kita jujur daripada membuat Kak Nico kecewa." ujar Diana hati-hati.
Mama Vania terdiam sejenak lalu baru menjawab saran menentunya.
"Tapi sayang mama masih belum siap." ujar Mama Vania.
"Belum siap apa ma?" tanpa diduga Nico menyahut ucapan mama Vania.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Aisyah farhana
jujur lebih baik karena kejujuran itu seperti obat pahit d awal tapi perlahan menyembuhkan
2023-12-11
0
Esther Lestari
lebih baik Nico tahu sakit apa mama Vania, kasihan Diana yg harus menyimpan rahasia terus
2023-12-10
3