Bab 13 alasan apa

Meski wajah nya masih sembab dan ujung netranya masih keluar air mata namun tak mengurangi nikmatnya menyantap burger.

Dengan keju melimpah serta double beef yang menggugah selera membuat burger tersebut hampir tidak muat digenggaman tangan mungil Diana.

Namun meski begitu Nico merasa lega, setidaknya istri kecilnya itu mau keluar kamar setelah drama berbagai bujukan.

Satu jam yang lalu, Nico benar-benar kalut dan khawatir sebab mendengar Diana tengah menangis terisak di dalam kamar. Sudah berulang kali Nico mengetuk pintu sambil memohon agar membukakan pintu dan meminta maaf.

Bukannya dibuka justru suara tangisan Diana semakin keras. Hal itu membuat Nico harus berputar otak untuk bisa membujuk Diana. Nico teringat akan makanan kesukaan Diana. Secepatnya dia memesan makanan itu dengan cara delivery order. Sementara menunggu makanan datang Nico sambil mempersiapkan kata-kata permintaan maaf yang tepat.

Jika biasanya Nico agak cuek dengan urusan perempuan kali ini rasanya beda, entah kenapa menatap Diana rasanya  dia ingin selalu membuat gadis itu bahagia. Gadis muda itu sudah mengorbankan masa depannya demi dirinya.

Setengah jam berlalu akhirnya pesanan makanan kesukaan Diana datang juga. Nico langsung menata di piring semenarik mungkin lalu memotretnya dengan kamera HP. Dia mengirim foto tersebut kepada Diana.

"Dek, kalau nggak mau kakak makan sendiri ya." ucap Nico dari balik pintu.

Dan benar saja akhirnya Diana langsung muncul dari balik pintu. Sudah Nico duga bahwa gadis itu tak mungkin melewatkan makanan kesukaannya.

Diana langsung berjalan keluar tanpa mengatakan apapun. Dia mengambil burger kesukaannya di atas piring dan langsung melahapnya.

Nico tersenyum lega saat melihat istri kecilnya itu makan dengan lahap. Dia pun langsung mengambil tissue dan menghapus saus yang belepotan di bibirnya.

"Enak?" tanya Nico yang dibalas anggukan oleh Diana.

"Maafkan kakak ya, kakak nggak bermaksud memaksa ataupun menyakiti perasaan kamu." Nico berjongkok sambil memegang lutut Diana.

Seketika pandangan Diana beralih pada suaminya yang menatapnya dengan sendu.

Diana yang belum selesai mengunyah burgernya membuat salah satu pipinya mengembung kini kembali menitikkan air mata.

"Loh, kok nangis lagi. Maaf-maaf yaudah kakak nggak bahas situ lagi. Maaf ya" NIco kembali panik.

"Aku bukan nangisin itu, tapi nangisin burger ini. Kenapa enak sekali. Hiks.. Hiks.." Lagi-lagi Nico hanya bisa membeo dengan tingkah random Diana. Dia sudah panik duluan karena membuat gadis itu sedih, bahkan dia sampai berpikir jauh jika saja Diana mengadu kepada kedua orang tuanya, mau ditaruh mana muka Nico.

"K-Kalau kamu mau nanti kakak belikan lagi, jangan nangis ya sayang.. cup..cup.." Nico menghapus air mata Diana sambil membujuknya seperti bocah balita.

"Kak.." panggil Diana setelah dirinya sudah tak menangis lagi.

"Ya Diana.." jawab Nico sambil melengkungkan senyumnya, takut-takut gadis itu menangis lagi.

"Maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kakak, aku masih kekanakan, aku juga belum bisa memberikan hak kakak." Diana menundukkan wajahnya.

"Aku ingin jujur pada kakak tapi aku takut.." imbuhnya.

"Jujur saja, kenapa takut?" jawab Nico.

"Aku takut kakak marah, kak.. bukannya aku tak peka dengan maksud kakak beberapa hari ini tapi aku hanya belum siap, ya aku tahu kita tak berdosa melakukan itu bahkan aku malah yang berdosa jika terus menolaknya tapi.." Diana menghela nafasnya yang sempat tertahan sambil menjeda ucapannya.

"Tapi aku masih takut apalagi punya anak untuk saat ini, jujur aku belum siap. Maaf kak.. ampuni istrimu ini yang tak becus." Diana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil merosotkan tubuhnya dan duduk di lantai.

Nico terkejut dengan kata-kata maupun tindakan Diana. Dia akui Diana memiliki tutur kata yang selalu sopan dan terjaga. Dia bahkan tak malu untuk meminta maaf dan dia takut menyakiti hati orang lain.

Nico pun mengelus puncak kepalanya lalu membawanya ke dalam pelukan. Bukan marah ataupun kecewa namun Nico justru merasa senang dan bahagia. Dia tahu tak mudah memutuskan hal yang akan dijalaninya seumur hidup di usia yang masih muda begini.

"Nggak perlu minta maaf, kakak nggak akan marah, dan kakak hargai keputusan kamu. Jadilah diri kamu sendiri seperti ini kakak suka. Kakak akan sabar menunggu sampai kamu siap." Lagi, Nico mengulas senyumnya sambil menatap binar indah di netra Diana.

"Makasih kak.." Diana membalas senyuman Nico.

"Diana, boleh kakak tanya sesuatu?" Kini Nico menatap Diana dengan lekat.

"Sebenarnya apa alasan kamu mau menikahi kakak?"

DEG..

Diana langsung gelagapan saat ditanya tentang hal itu. Tidak mungkin baginya mengatakan sejujurnya bahwa dia menikahi Nico karena penyakit yang di derita mama Vania.

"A-anu.. i-itu.." Diana menggigit bibirnya sendiri, harus bagaimana ini? dia mesti menepati janjinya untuk tak membocorkan hal ini seperti permintaan Mama Vania atau harus jujur kepada Nico.

"Kenapa sayang?" Nico kembali menanyakan.

"K-karena aku suka kakak.." jawab Diana dengan buru-buru.

"Bener cuma karena itu? sejak kapan?" Nico masih penasaran, sebab dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya.

"S-sejak.. sejak.. kita pulang dari Bali, sejak kakak mengajakku jalan-jalan di pantai." Diana sedikit gemetar saat menjawabnya, namun sebisa mungkin gadis itu ingin memastikan bahwa NIco akan percaya dengan perkataannya.

Nico hanya menyunggingkan senyum, dia tahu Diana tak pandai berbohong namun untuk saat ini dia tak ingin menekannya lebih jauh. Dia harus bisa mengendalikan diri perlahan dan mencari tahu sendiri.

Namun dugaan kuat adalah dirinya melakukan ini karena rasa balas budi orang tuanya yang telah ditolong oleh kakeknya dulu, mungkinkah Diana dipaksa orang tuanya atau justru Mama dan Papa yang justru memaksanya. Jika memang bukan kehendak Diana maka Nico harus benar-benar membantu gadis itu, Nico tak ingin memaksa Diana dan mengorbankan masa depan gadis tak berdosa itu.

Entah kenapa rasa sesak kini menjalari hati Nico, dia tak tau pasti apa penyebabnya. Mungkinkah rasa iba dan kasian kepada Diana yang harus terpaksa menikah atau penolakan yang dilakukan Diana, jujur saja melewati hari-hari bersama gadis itu meski harus menguras kesabaran namun Nico sudah merasa nyaman.

"Diana, mau menginap di rumah Ibu tidak? mumpung kamu belum mulai kuliah dan kakak masih cuti kerja ayo kita habiskan waktu di sana." Kini Nico ingin sedikit meringankan kegundahan hati Diana, mau bagaimanapun sebaik-baiknya rumah adalah rumah masa kecil kita.

"Memang kakak mau? disana kan kampung? jauh dari keramaian apalagi fasilitasnya juga terbatas." Sejujurnya melihat bagaimana kehidupan Nico yang serba terjamin dengan semua fasilitas yang dia miliki membuatnya minder.

"Nggak apa-apa justru kakak senang disana sangat damai dan tenang, kakak butuh ketenangan sebelum kembali bergelut dengan pekerjaan. Mau ya?" Nico mencoba meyakinkan Diana.

"Hmm.. yaudah deh, tapi aku mau ketemu Mama Vania dulu. Boleh kan kak? kita belum menjenguk setelah mama pulang dari rumah sakit." Diana sejujurnya ingin mengatakan pada mertuanya bahwa dia tak ingin berlama-lama untuk menyembunyikan penyakit tersebut. Diana tak ingin kualat membohongi Nico terus.

"Oke, mampir mama dulu terus berangkat ke rumah Bapak sama ibu." ucap Nico sambil mengacak rambut Diana.

Setelah menyiapkan pakaian dan beberapa keperluan lainnya Diana dan Nico kini siap untuk berangkat. Sesuai permintaan diana kini mereka mampir ke kediaman orang tua Nico.

Sampai di halaman rumah mertuanya Diana merasa sesak sendiri melihat bangunan megah bak istana itu. Sungguh jauh sekali dengan kediamannya di kampung.

Seketika hati Diana menjadi ciut sendiri, tak pernah terbayangkan dia menginjakkan kaki di mansion sebagus ini bahkan dia adalah anggota keluarga dari sang konglomerat itu.

"Dek.." Nico meraih tangan Diana dan menuntunnya ke dalam, tentu saja Diana yang sejak tadi melamun langsung tersentak.

"Ayo masuk katanya kangen mama." ucap Nico sambil merangkulkan lengannya pada pinggang gadis itu.

"Ah, iya ayo.." keduanya melangkah memasuki mansion itu.

Sampai di dalam dia melihat rumah itu tampak sepi hanya beberapa maid yang sedang bekerja.

"Mbak, mama dimana ya?" tanya Nico.

"Oh, Mas Nico. Nyonya ada di taman belakang Mas." jawab salah satu maid yang bekerja di mansion tersebut.

"Oke, akau akan kesana. Ayo sayang." ujar Nico sambil menuntun istrinya mencari keberadaan Mama Vania.

Namun pandangan tak mengenakkan didapatkan diana dari para pekerja di mansion tersebut. Mereka menatap Diana sebelah mata. Karen tau status Diana yang rasanya tak sederajat dengan keluarga Nico.

Sampai akhirnya keduanya menemukan Mama Vania yang sedang sibuk memeriksa tanaman hiasnya di taman belakang. Wanita itu sangat menyukai tanaman hias.

"Mama.." Ucap Nico dan Diana bersamaan.

"Loh, kalian kesini kok nggak bilang-bilang." Mama Vania sangat terkejut saat melihat anak dan menantunya datang.

Setelah mencuci tanga Mama Vania langsung memeluk Nico dan Diana bergantian. Bahkan mama Vania sengaja memeluk Diana lebih lama. Dia sangat menyukai menantu mudanya yang cantik itu.

"Anak cantik gimana kabarnya? Suami kamu bikin ulah nggak?" tanya Mama Vania.

"Mama malah nanyain Diana duluan ketimbang anak sendiri." gerutu Nico yang hanya dibalas cubitan di pinggang oleh Mama Vania.

"Alhamdulilah Diana baik dan Kak Nico juga baik ma." senyum merekah langsung tercipta di wajah imut Diana.

"Yaudah ayo kita mengobrol di dalam, tapi sayang sekali papa kamu belum pulang. Tadi ada janji main golf sama teman-temannya." ujar Mama Vania.

"Iy nggak apa-apa, kita cuma mampir sebentar soalnya mau jenguk bapak sama ibu di kampung." ucap Nico.

"Oh, mau kesana? Mama nitip salam buat mereka ya." ujar Mama Vania.

"Siap ma.." ucap Diana.

Setelah berbincang Nico pamit pergi ke toilet. Dan sekarang kesempatan Diana untuk bicara dengan Mama Vania.

"Ma, sebenarnya Diana kesini ada yang mau diomongin. Kak Nico terus menanyakan alasan Diana menikah. Diana nggak sanggup lagi buat bohong. Apa boleh kalau Diana jujur tentang sakit yang diderita mama? dan Diana pikir lebih baik kita jujur daripada membuat Kak Nico kecewa." ujar Diana hati-hati.

Mama Vania terdiam sejenak lalu baru menjawab saran menentunya.

"Tapi sayang mama masih belum siap." ujar Mama Vania.

"Belum siap apa ma?" tanpa diduga Nico menyahut ucapan mama Vania.

...****************...

Terpopuler

Comments

Aisyah farhana

Aisyah farhana

jujur lebih baik karena kejujuran itu seperti obat pahit d awal tapi perlahan menyembuhkan

2023-12-11

0

Esther Lestari

Esther Lestari

lebih baik Nico tahu sakit apa mama Vania, kasihan Diana yg harus menyimpan rahasia terus

2023-12-10

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bimbang
2 Bab 2 Sebuah keputusan
3 Bab 3 Hari pernikahan
4 Bab 4 tak diakui
5 Bab 5 menarik perhatian
6 Bab 6 sebuah rencana
7 Bab 7 cemburu
8 Bab 8 jujur
9 Bab 9 belum siap
10 Bab 10 go public
11 Bab 11 teman toxic
12 Bab 12 teori vs praktek
13 Bab 13 alasan apa
14 Bab 14 gara-gara lumpur l
15 Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16 Bab 16 omongan tetangga
17 Bab 17 posesif
18 Bab 18 Gara-gara jamu
19 Bab 19 mirip tikus kejepit
20 Bab 20 Akhirnya terungkap
21 Bab 21 memutuskan pergi
22 Bab 22 menyesal
23 bab 23 situasi sulit
24 Bab 24 rindu tapi gengsi
25 Bab25 kabar duka
26 Bab 26 Surat perpisahan
27 Bab 27 Takut kehilangan
28 Bab 28 ada yang ketahuan
29 Bab 29 musuh dalam selimut
30 Bab 30 Demam tinggi
31 Bab 31 diusir seketika
32 Bab 32 kecil cabe rawit
33 Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34 Bab 34 Diana ngambek.
35 Bab 35 menanggung akibatnya
36 Bab 36 kembali bermanja
37 Bab 37 obrolan dua sahabat
38 Bab 38 sebuah wejangan
39 Bab 39 Menarik perhatian
40 Bab 40 Yang jadi Prioritas
41 Bab 41
42 Bab 42 pusat perhatian
43 Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44 Bab 44 sebuah hadiah
45 Bab 45 berangkat
46 Bab 46 ternyata...
47 Bab 47 kejutan
48 Bab 48 fakta yang sebenarnya
49 Bab 49 tempat damai
50 Bab 50 biang masalah
51 Bab 51 orang dari masa lalu
52 Bab 52 melampiaskan kekesalan
53 Bab 53 sedih dan senang
54 Bab 54 belum siap memaafkan
55 Bab 55 Hamil?
56 Bab 56 kembali mesra
57 Bab 57 kecurigaan Evan
58 Bab 58 penangkal mual
59 Bab 59 Dimabuk cinta
60 Bab 60 pengganggu
61 Bab 61 Musibah dan kehilangan
62 Bab 62 Keputusan Diana
63 Bab 63 sama-sama terpuruk
64 Bab 64 dukungan dari sahabat
65 Bab 65 Memperbaiki diri
66 Bab 66 masih saling cinta
67 Bab 67 tawaraan pekerjaan
68 Bab 68 Saling merindukan
69 Bab 69 aku merindukanmu
70 Bab 70 fakta yang sebenarnya
71 Bab 71 Aku temani tidur
72 Bab 72 aku ingin pacaran
73 Bab 73 rumah impian
74 Bab 74 menunggu jawaban
75 Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76 Bab 76 masih dirahasiakan
77 Bab 77 Luka di masa lalu
78 Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79 Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80 Bab 80 Akhirnya direstui
81 Bab 81 Semuanya untukmu
82 Bab 82 pulang kampung
83 Bab 83 Kehangatan keluarga
84 Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85 Bab 85 Ya, aku menerimanya
86 Bab 86 mengikhlaskan
87 Bab 87 akhir bahagia
88 karya baru
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1 Bimbang
2
Bab 2 Sebuah keputusan
3
Bab 3 Hari pernikahan
4
Bab 4 tak diakui
5
Bab 5 menarik perhatian
6
Bab 6 sebuah rencana
7
Bab 7 cemburu
8
Bab 8 jujur
9
Bab 9 belum siap
10
Bab 10 go public
11
Bab 11 teman toxic
12
Bab 12 teori vs praktek
13
Bab 13 alasan apa
14
Bab 14 gara-gara lumpur l
15
Bab 15 Gara-gara lumpur ll
16
Bab 16 omongan tetangga
17
Bab 17 posesif
18
Bab 18 Gara-gara jamu
19
Bab 19 mirip tikus kejepit
20
Bab 20 Akhirnya terungkap
21
Bab 21 memutuskan pergi
22
Bab 22 menyesal
23
bab 23 situasi sulit
24
Bab 24 rindu tapi gengsi
25
Bab25 kabar duka
26
Bab 26 Surat perpisahan
27
Bab 27 Takut kehilangan
28
Bab 28 ada yang ketahuan
29
Bab 29 musuh dalam selimut
30
Bab 30 Demam tinggi
31
Bab 31 diusir seketika
32
Bab 32 kecil cabe rawit
33
Bab 33 Peringatan dari Kakak ipar
34
Bab 34 Diana ngambek.
35
Bab 35 menanggung akibatnya
36
Bab 36 kembali bermanja
37
Bab 37 obrolan dua sahabat
38
Bab 38 sebuah wejangan
39
Bab 39 Menarik perhatian
40
Bab 40 Yang jadi Prioritas
41
Bab 41
42
Bab 42 pusat perhatian
43
Bab 43 ucapan tak menyenangkan
44
Bab 44 sebuah hadiah
45
Bab 45 berangkat
46
Bab 46 ternyata...
47
Bab 47 kejutan
48
Bab 48 fakta yang sebenarnya
49
Bab 49 tempat damai
50
Bab 50 biang masalah
51
Bab 51 orang dari masa lalu
52
Bab 52 melampiaskan kekesalan
53
Bab 53 sedih dan senang
54
Bab 54 belum siap memaafkan
55
Bab 55 Hamil?
56
Bab 56 kembali mesra
57
Bab 57 kecurigaan Evan
58
Bab 58 penangkal mual
59
Bab 59 Dimabuk cinta
60
Bab 60 pengganggu
61
Bab 61 Musibah dan kehilangan
62
Bab 62 Keputusan Diana
63
Bab 63 sama-sama terpuruk
64
Bab 64 dukungan dari sahabat
65
Bab 65 Memperbaiki diri
66
Bab 66 masih saling cinta
67
Bab 67 tawaraan pekerjaan
68
Bab 68 Saling merindukan
69
Bab 69 aku merindukanmu
70
Bab 70 fakta yang sebenarnya
71
Bab 71 Aku temani tidur
72
Bab 72 aku ingin pacaran
73
Bab 73 rumah impian
74
Bab 74 menunggu jawaban
75
Bab 75 Maaf, perasaan tak bisa dipaksa
76
Bab 76 masih dirahasiakan
77
Bab 77 Luka di masa lalu
78
Bab 78 Perdebatan di pagi hari
79
Bab 79 Aku takkan melepaskanmu
80
Bab 80 Akhirnya direstui
81
Bab 81 Semuanya untukmu
82
Bab 82 pulang kampung
83
Bab 83 Kehangatan keluarga
84
Bab 84 Lebih cepat lebih baik
85
Bab 85 Ya, aku menerimanya
86
Bab 86 mengikhlaskan
87
Bab 87 akhir bahagia
88
karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!