"Papa sudah menyiapkan calon istri untukmu."
Hening.
Suara piring yang beradu dengan sendok dan garpu kembali terdengar. Mereka berlomba untuk menyuap makanan ke dalam mulut sambil sesekali menyibukkan diri untuk mencuri pandang ke arah anggota keluarga yang lain.
"Ken, bagaimana menurutmu?"
Seorang lelaki setengah baya kembali bersuara untuk meminta tanggapan. Sebenarnya ia tahu, jika rencana yang akan dilakukan sama sekali tidak sesuai dengan kemauan putranya.
Tetap lelaki dengan rambut setengah putih itu mengutarakan keinginannya. Mungkin saja ada keberuntungan yang memihak padanya. Sebab ia begitu sayang terhadap putranya itu. Ingin melihatnya bahagia karena ada seseorang yang akan menemani hidupnya.
Malam itu semua keluarga Pratama berkumpul untuk melakukan makan malam. Sangat jarang momen seperti ini terjadi. Semua anggota keluarga berkumpul termasuk Ken.
Entah bagaimana bisa Kenan tidak menolak permintaan dari sang ayah untuk ikut makan malam bersama. Kini sepertinya lelaki itu sangat menyesal karena telah ikut berkumpul.
Sesekali tiga wanita cantik berbeda usia saling mencuri pandang ke arah Kenan yang masih membisu. Memang benar, jika Ken sama sekali tidak pernah dekat dengan tiga wanita itu. Sebabnya ia pun sangat jarang pulang dan lebih memilih untuk tinggal di apartemen.
"Apa, diammu ini artinya setuju de ...."
"Ken, belum ingin menikah untuk saat ini, Pa!"
Sangat tegas dalam mengucapkan. Kini kedua pasang mata tampak saling menatap. Ken sudah sangat cukup menahan diri untuk tidak menanggapi. Tapi sepertinya sang ayah memaksanya bersuara.
"Kenalan dulu tidak ada salahnya, Ken. Siapa tahu nanti, kamu cocok dengannya."
Lelaki tampan yang sudah mulai menua itu menatap sendu wajah putranya yang selalu mengingatkan dirinya pada cinta pertama.
"Aku sedang tidak berselera membicarakan perjodohan! Kumohon Papa mengerti!"
Mencoba mendesak keadaan supaya putranya berubah pikiran.
"Papa hanya ingin mencarikan istri terbaik untukmu! Apa salah yang papa lakukan?"
Seperti ada yang menggelitik hatinya, Ken menghentikan suapannya dan lebih tertarik untuk menatap sosok lelaki yang dulu sangat ia rindukan kedatangannya selepas bekerja.
Seketika Ken menghentikan suapannya. Kedua mata tertuju pada sosok lelaki yang berada di sampingnya.
Suasana mulai memanas atas percakapan yang saling menantang. Tampak Ken menggeretkan gigi untuk menahan amarahnya.
"Aku sudah memiliki calon sendiri, Pa!"
Bagus Pratama mengerutkan keningnya.
"Mengapa kamu tidak bilang dari tadi, Ken!"
Ken mengembuskan napas besar. Di antara berbohong dan bersandiwara, ia harus pandai mengatur diri untuk membawakan kedua peran sekaligus.
"Ken hanya menunggu dia siap bertemu dengan Papa," jelas Ken singkat.
Mengangguk paham atas jawaban yang didengarnya. Bagus Pratama masih merasa ragu atas jawaban yang diterima sebenarnya. Sebab ia tidak pernah tahu kabar baik mengenai putranya yang telah berusia kepala tiga itu menggandeng seorang wanita. Tapi, biarlah. Ia hanya ingin sebuah pembuktian.
"Ajak dia ke acara pesta perayaan ultah Nia minggu depan!"
Sedikit mengusik ketenangan jiwanya. Ken menggeretkan gigi menanggapi hatinya yang sedang kesal.
"Hem ... Baiklah!"
Akhirnya Ken mengambil keputusan yang sangat mustahil sebenarnya. Dekat dengan wanita saja tidak, dan sekarang ia telah berkata telah memiliki seorang kekasih.
Tapi, begitu saja ia merasakan ringan atas beban yang ditanggung ketika mengingat bayangan seorang gadis berkerudung yang sedang tersenyum.
Ya ... tidak ada yang tahu jika sejak dirinya bergabung di perusahaan yang lain milik keluarganya, kegiatannya hanya menyempatkan diri untuk mencuri pandang terhadap perempuan yang entah mengapa sangat menarik perhatiannya bahkan saat pertama kali berjumpa.
"Aku harus mencari cara untuk membuatnya ikut ke pesta itu," berbisik Ken dalam hati. Merasa sedikit cemas, tapi ia begitu yakin atas rencananya.
"Aku harus pergi."
Krreeeeettt ....
Suara kaki kursi menggesek lantai terdengar seketika. Hal itu mengejutkan anggota keluarga yang lain. Pandangan mata kini tertuju pada sosok lelaki tampan yang telah beranjak dari duduknya.
Ken tidak merasa tenang jika harus tetap berlama-lama di sana. Pasti akan ada banyak lagi pertanyaan yang bergantian meminta jawaban.
"Kamu tidak ingin menginap di sini, Ken?" tanya seorang wanita cantik yang terlihat masih begitu cantik di usianya yang sudah menginjak kepala empat.
"Mama sudah membersikan kamarmu."
Kembali wanita itu berucap dengan memamerkan senyuman manis. Tetap Ken tidak pernah tertarik dengan apapun yang telah dilakukan wanita itu. Meskipun ia tahu jika wanita itu sangat tulus melakukan kewajibannya sebagai seorang ibu.
Wanita yang paling disayanginya hanya satu dan tidak akan pernah tergantikan meski wanita itu telah meninggalkan dirinya untuk selama lamanya.
"Maaf, mungkin lain waktu."
Tidak banyak yang bisa diucapkan. Kerinduannya terhadap kasih sayang seorang ibu sebenarnya sudah tidak bisa ditahan. Tapi, sungguh hatinya masih belum bisa menerima kehadiran wanita itu sebagai pengganti ibu yang telah melahirkannya.
Ken mengalihkan pandangannya untuk menatap jam mahal berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan.
"Jam delapan aku harus menjemput seseorang."
Tersenyum bagus dan wanita yang telah dinikahinya dua puluh tahun lalu. Kedua orang itu bisa menebak atas perkataan yang baru didengar.
"Sepertinya Papa ketinggalan banyak cerita mengenai gadis itu."
"Yasudah, cepat berangkat! Jangan buat dia menunggu." tutur Indah selaku ibu tiri Ken.
Indah Anggraeni tersenyum sangat tulus. Menyelipkan doa terbaik untuk anak tiri yang masih belum juga bisa menerima kehadiran dirinya. Ia tidak menuntut apapun. Sebab ketulusan yang ia miliki sama sekali tidak meminta imbalan.
Ken tersenyum tipis menanggapi kebahagiaan yang terpancar dari kedua orang yang telah lama ia abaikan. Ada sesuatu yang menyejukkan hati, sangat teduh saat melihat raut wajah bahagia itu.
"Lain waktu, kalian akan mengenalnya."
"Selamat malam, Pa, Ma, dan ..."
Ken menatap kedua wajah gadis cantik yang berstatus sebagai adiknya dengan perasaan campur aduk. Seolah ada keinginan untuk memeluk mereka.
"Kalian berdua."
Senyuman lebar terpampang di wajah gadis-gadis manis yang terlihat seperti anak kembar. Mau bagaimana, usia Mia memang sangat dekat dengan Nia hanya berjarak tiga tahun.
Tanpa di sangka jika Nia si bungsu juga ikut beranjak dari duduknya. Ia tidak bisa menahan diri untuk tetap diam ditempat sedangkan hati begitu rindu ingin memeluk sosok kakak lelaki yang entah sejak kapan sangat disayanginya.
Mereka bertiga memang sangat jarang berkumpul bersama, sebab Ken lebih memilih untuk menjauh apalagi jika ada Indah, ibu tirinya yang ikut bergabung.
"Kak Ken!"
Menghentikan langkah sejenak dan menoleh ke belakang. Kini Ken disambut dengan pelukan hangat dari si bungsu. Gadis manis yang selalu bisa membuat Ken tersenyum merasakan kehangatan cinta kasih di dalam hati.
"Malam minggu sebelum perayaan pesta ultah kak Nia, Kak Ken nginep sini, ya!"
Gadis itu menatap Ken dan menuntut jawaban. Ia berharap sang kakak bisa menganggukkan kepalanya.
Ken tampak sedang berpikir dengan mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Nia pengen banget merayakan ultah bersama dengan keluarga. Sekalian berkumpul melepas rindu."
Nia tersenyum saat melepaskan pelukannya.
"Kan kakak jarang banget berkumpul sama kita."
Masih terdiam dan berpikir sejenak.
"Ya, Kak!"
Gadis berusia tujuh belas tahun itu memaksa, yang akhirnya ia pun mendapatkan jawaban cukup memuaskan.
"Hem ... baiklah!"
Tersenyum lebar penuh kelegaan gadis itu. Tanpa disangka jika Ken membawa tangan kanannya untuk menyubit sayang pipi si bungsu tersebut.
Sejumput rindu sedikit berkurang. Sebenarnya ia masih ingin bertahan di sana bersama dengan keluarganya. Sayang, ia begitu malu mengakui kerinduannya. Yang akhirnya, langkah kaki dibawanya pergi. Ken memilih pergi meninggalkan keluarga yang begitu sangat ia rindukan sebenarnya.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nurgusnawati Nunung
sayang juga sama adik tiri
2024-02-03
0