Aku hanya terdiam dan menatap wanita itu,dia membalas menatap tajam ke arah ku yang terus terdiam tanpa mengatakan satu kata pun.
Apa yang aku lakukan saat ini,
membuatnya semakin kesal dan memerintahkan Nian yang berdiri tepat di belakangnya.
"Nian!Ambilkan aku benda itu!"
titahnya kepada Nian.
Nian yang mendengarkan apa yang di perintah oleh Lucy dan langsung bergegas mengambil benda yang entah apa itu.
Di saat Lucy terus mencaci maki ku,
Darryl hanya berdiri memandangi apa yang di lakukan oleh wanita itu kepada ku.Tanpa ada niatan untuk memisahkan ku jauh dari wanita ini.-
Tidak lama setelah aku menatap ke arah Darryl Edmond yang terus memandangi ku,Nian datang menghampiri Lucy dengan terbirit-birit sambil membawa benda yang di minta oleh Lucy tadi.
Ternyata itu adalah sebuah tongkat kayu berwarna coklat kegelapan bagaikan buah coklat yang telah matang dan sepanjang lengan orang dewasa lalu lebarnya kurang lebih seperti jari kelingking orang dewasa.-
Nian berdiri tepat di samping kirinya Lucy dan memberikan tongkat itu kepadanya,aku menatap tajam ke arah benda itu dan tanpa sadar aku malah tertawa melihat benda itu.
"Itu kah yang kau katakan sebagai hukuman?"
tanya ku kepadanya dengan nada meremehkan.
Setelah aku mengatakan hal itu,Wajah Lucy menjadi memerah karena perasaan kesalnya yang telah memenuhi dirinya.
Sehingga tanpa aba-aba,dia langsung melayangkan pukul demi pukulan ke arah paha ku hingga terlihat darah yang mengalir dari bawah kaki ku.
Rafael,Genia,Darryl dan juga Para Pelayan yang berada di tempat itu memejamkan mata mereka,karena tidak sanggup melihat pemandangan yang menyeramkan itu.
Aku hanya mengernyit menahan rasa perih dari pukulan itu,hingga akhirnya dia melemparkan tongkat itu ke arah bawah kaki Nian lalu pergi menjauh dari tempat ku saat ini.
Melihat Ibunya pergi meninggalkan tempat ini,Genia bergegas menarik lengan Rafael untuk mengikuti Ibunya.
Aku masih berdiri di tempat itu,dengan darah yang mengucur dari paha ku, Hingga membasahi karpet dimana aku berdiri saat ini.
Darryl yang dari tadi melihat semua kejadian itu,hanya terdiam menatap ku tanpa mengatakan apapun yang menunjukan rasa khawatirnya kepada Bocah bertubuh mungil yang menyedihkan ini.
Di saat semua pelayan membantu ku untuk kembali ke kamar,tiba-tiba Jack menepuk pundak ku lalu membisikkan sesuatu di telinga ku.
Aku pun menenangkan diri ku dan berfokus untuk mendengarkan apa yang ingin dia katakan.
"Nona Muda,datanglah ke ruang kerja Ayah anda saat ini juga."
Aku yang saat ini sedang di obati oleh Para Pelayan,langsung memerintahkan mereka semua untuk berhenti.Mereka seketika berhenti dan menjauhi ku.
Dengan kaki yang masih terasa perih dari luka pukulan Lucy yang membabi-buta itu,membuat ku berjalan terhuyung-huyung karena menahan rasa perih dan juga sakit yang terasa hingga ke tulang.
Jack pun menoleh ke arah ku karena tempo jalan ku yang terlalu lambat,sehingga dia pun berjongkok di depan ku dengan posisi membelakangi ku.
Aku yang pada saat itu tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan pada saat ini,membuat ku merasa sangat aneh dan tetap berjalan meninggalkannya.
Melihat ku tidak memperdulikannya,
Jack pun langsung berlari ke arah ku lalu menggendongku seperti seorang putri kerajaan yang membuat ku geli dan memberontak untuk di lepaskan.
Tetapi Jack mengabaikan apa yang aku lakukan dan terus melangkahkan kaki nya,aku yang melihatnya bersikeras seperti itu membuat ku tidak ingin melawan lagi dan mulai menenangkan diri,hingga kami pun tiba di depan ruangan kerja Darryl Edmond,tempat yang sangat tidak ingin aku datangi.
Jack pun mengetuk pintu terlebih dahulu,untuk meminta izin masuk ke dalam ruangan itu.Saat ketukan ketiga,terdengarlah suara Darryl dari dalam sana.
"Masuklah,"
ucapnya kepada kami berdua.
Aku pun masuk dengan Jack yang berjalan lebih dulu dari ku,saat aku sudah masuk dan berdiri tepat di depan meja kerja orang itu.Dia terus menatap ku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Aku merasa sangat kesal saat ini,
membuat ku tanpa sadar menatapnya dengan sangat sinis.
"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya,Tuan?"
Tanya ku kepada Darryl Edmond.
Darryl menghela nafasnya dan menanggapi apa yang baru saja aku katakan.
"Berapa kali aku bilang kepada mu,untuk
memanggilku Ayah bukannya Tuan."
Aku memalingkan wajahku dan menatap ke arah yang lain.Melihat ku tidak tertarik untuk menanggapi apa yang baru saja dia katakan,membuatnya lagi-lagi menghela nafasnya.
"Ini adalah kesalahan ku karena tidak memberimu Guru Tata Krama lebih cepat seperti Genia,karena aku mengira kamu adalah keturunan murni dari seorang bangsawan seperti Ibumu,sehingga aku berpikir kalau kesopanan akan mengalir ke dalam dirimu tanpa perlu belajar tata kerama yang ketat seperti Kakak mu,"
tuturnya sambil memijat jidatnya.
"Ternyata darah bangsawan yang mengalir di darahmu hanyalah kesombongan dan juga ego yang tinggi,"
tambahnya.
Aku menatapnya dengan tajam lalu memalingkan wajah ku kembali,
"Perkataan terbodoh yang paling bodoh di dunia dan hanya orang ini yang mengucapkannya,sungguh menyebalkan bisakah ini berakhir dengan lebih cepat,"
gumam ku.
Melihat ku yang hanya terdiam,membuat Darryl tidak bisa mengatakan apapun lagi hingga dia pun meminta Jack untuk mendekat ke arahnya.Mereka terus berbincang dengan sangat serius dengan tatapan yang sesekali tertuju ke arah ku.
Pembicaraan mereka berakhir cukup lama hingga aku merasa darah dari luka ku kembali meneteskan mengalir di balik gaun ku.
"Angkatlah kepala mu,Theoline.Dan tatapan wajahku!"
titah Darryl Edmond dengan nada yang tegas kepada ku.
Aku pun menuruti apa yang dia pinta saat ini,walaupun aku enggan untuk melakukannnya.Di saat aku telah menatap ke arah Darryl Edmond dan juga Jack yang ada di hadapan ku.
Jack pun mengeluarkan selembaran kertas yang seperti baru saja di tuliskan oleh Darryl saat berbincang bersama Jack tadi.
"Karena kesalahan dan kelalaian yang di lakukan oleh Theoline Edmond,pada hari ini dan juga membahayakan penerus kedua dari keluarga Edmond.Sehingga untuk kebaikan bersama,Saya Darryl Edmond,Ayah Kandung Theoline Edmond.Memutuskan untuk memberi hukuman pengasingan kepada Theoline hingga dia berusia 15 tahun."
Setelah Jack membacakan itu,
aku hanya terdiam tanpa menunjukan ekspresi apapun dan juga tidak mengucapkan penolakan apapun dari apa yang telah di tetapkan oleh Orang Bodoh itu.-
Darryl terus memandangi ku seperti seseorang yang menunggu ku mengucapkan sesuatu protes tentang hal itu,tetapi apa yang dia tunggu saat ini tidak akan terjadi.Karena sebuah hukuman pengasingan yang jauh dari rumah ini adalah sebuah anugrah terbaik yang aku dapatkan oleh Orang ini.-
"Apa kau tidak keberatan dengan hukuman yang saat ini aku tetapkan untuk mu?"
tanya Darryl kepada ku.
"Tidak ada,apakah sore ini Saya bisa langsung berangkat?"
tanyaku balik kepadanya.
Darryl dan jack saling bertatapan,
seolah-olah kebingungan dengan reaksi yang aku perlihatkan kepada mereka berdua yang tadinya mengira aku akan menangis karena ketakutan dengan hukuman yang telah di tetapkan oleh mereka berdua.
"Apa kau tidak bertanya,kemana aku akan mengirim mu?"
tanyanya lagi kepada ku dengan keheranan.
Aku tidak tertarik untuk bertanya hal itu,
sehingga aku mengangkat pundak ku dan menaikan kedua alisku seperti seseorang yang tidak tahu dan tidak tertarik untuk tahu itu.-
"Apakah itu jauh dari sini?"
tanya ku kepada mereka berdua.
Jack menganggukkan kepalanya dan menunjukan ku sebuah peta lalu menjawab apa yang aku tanyakan tadi.
"Ya... Sangat jauh,Tuan Muda."
"Oh,itu bagus,"
sanggah ku.
Melihat reaksi ku yang sangat tenang tanpa memperlihatkan sedikit pun perasaan takut bahkan khawatir, membuat Darryl geram karena aku terlihat seperti meremehkan hukuman yang telah dia tetapkan.
Sehingga dia mengatur kembali,kemana sebaiknya menjadi tempat pengasingan yang tepat untuk ku.Saking seriusnya apa yang mereka berdua bicarakan saat ini,membuat ku bosan dan memutuskan untuk menjauhi mereka hingga mereka selesai berbincang-bincang.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments