Ibu memeluk Genia untuk menenangkannya,hingga Bocah itu tenang barulah Ibu berpamitan dengan kami karena bel masuk kelas sudah berbunyi.
"Baiklah,sepertinya Tante harus pergi.
Kalian masuklah ke dalam kelas,tidak perlu mengantarkan Tante karena ada Bean yang menemani Tante,"
jelasnya kepada Genia dan juga Rafael.
Setelah mengatakan itu,Ibu datang menghampiri ku dan memberikan sesuatu di kantong celana ku.
Dia tersenyum sambil menepuk-nepuk kantong celana ku dan setelahnya barulah dia berjalan menjauhi kami menuju ke arah Bean yang sudah menunggunya di ambang pintu.
Genia yang melihat Ibu memasukan sesuatu di saku baju seragam ku,langsung merasa sangat penasaran dan terus memaksa ku untuk memperlihatkan benda itu kepadanya.
Karena dia terus merengek hingga membuat ku muak,sehingga aku mengiyakan apa yang dia inginkan walaupun dengan berat hati.
Aku pun mengeluarkan benda yang di masukan Ibu di saku ku itu dengan perlahan-lahan.
Saat aku menarik benda itu keluar dari saku ku,ternyata itu adalah sebuah kalung hati yang bisa di buka dan di dalamnya terdapat foto Ibu yang sedang mengendong tubuh mungil dari seorang bayi yang mengemaskan.
Saat melihat hal itu,Genia langsung menunjuk ke arah potret itu dan memberi tahu ku siapa itu.
"Ini foto mu ketika masih bayi,dan kau tahu siapa yang mengambil potret itu?"
tanyanya kepada ku.
Aku dan juga Rafael menggelengkan kepala kami karena tidak mengetahui siapa yang mengambil gambar yang sangat indah itu.
Seketika Genia tersenyum lebar sambil menyilangkan tangannya.
"Itu adalah aku!"
ucapnya dengan nada cukup kencang dan penuh percaya diri.
Rafael langsung memujinya tanpa henti karena pengambilan gambar yang dilakukan oleh Genia ketika dia masih berumur 3 tahun itu.
"Wah... Luar biasa,kamu mempunyai bakat yang luar biasa!"
sorak Rafael.
Aku hanya terdiam dan terus menatap ke arah foto itu.Karena terlalu mengaguminya,aku tanpa sadar mengatakan sesuatu yang membuat Genia semakin berbangga diri.
"Terima kasih,atas bantuan mu telah membantu Ibu ku mendapatkan foto yang sangat berharga seperti ini."
Genia tiba-tiba mengusap lembut kepala ku,aku yang dari awal tidak menyukai Bocah Bodoh itu.Sontak menepis tangannya,hingga membuatnya tertegun setelah aku melakukan itu.
Rafael terkejut melihat ku,tetapi bukannya menjauhi ku.Dia malah semakin dekat ke arah ku dan mengandeng tangan ku dengan tangan kanannya.
Genia lagi-lagi menatap ku dengan sangat iri ketika Bocah Laki-laki itu memberikan perhatiannya kepada ku.
Aku yang melihat hal itu,langsung bisa mengetahui kalau dia menyukai Bocah ini dengan sepenuh hati.
......................
Waktu belajar berlalu seperti biasanya,
di mulai dengan memperkenalkan diriku kepada para murid yang lain dan di akhiri dengan pembahasan materi dari guru yang ada di kelas kami saat ini.
Hingga tidak terasa,suara Bel istirahat pun berbunyi.Semua murid serentak berlari keluar untuk menuju kantin dan beberapa lainnya menetap di kelas karena membawa makanan dari rumah.
Rafael mengeluarkan dua kotak bekal,
dan berlari menuju ke arahku yang saat itu keluar kelas untuk menuju ke arah kantin.Tiba-tiba aku di hentikan olehnya dengan dia cara menarik lengan baju ku.
Aku sontak berhenti dan langsung menoleh,saat aku menoleh ke arahnya.
Rafael menyodorkan kotak bekalnya kepada ku,aku yang mengira itu untuk ku.Langsung menolaknya dan berniat mengembalikannya tetapi ketika ingin memberikannya kembali.
Tiba-tiba Bocah itu celetuk menyebut nama orang lain hingga membuat wajah ku memerah karena malu.
"Maafkan aku,Olin.Tetapi ini aku siapkan untuk Genia,aku malu memberikannya sendiri jadi bisakah kamu membantu ku?"
tanyanya kepada ku.
Aku menganggukkan kepala ku dan mengambil kotak bekal itu.
"Baiklah,"
jawab ku singkat.
Rafael langsung tersenyum lebar ke arah ku dan melambaikan tangannya,setelah itu barulah dia masuk ke dalam kelas dan berkumpul kembali dengan teman-temannya.
Aku pun berjalan menuju ke arah kelas Bocah Bodoh itu,tidak butuh waktu lama.
Aku sampai di depan pintu kelasnya.
Ketika aku ingin memanggil namanya,
siswi yang ada di kelas Genia langsung berlari menuju ke arah ku dan memperlakukan ku layaknya seorang bayi yang imut.
"Uh...Imutnya!"
"Putri kecil,apa yang Anda lakukan di sini?"
"Gemes! Ayo peluk Kakak,Dek!"
"Mau roti?susu?atau coklat?"
Mereka terus berbicara kepada ku tanpa henti,hingga aku tidak mampu lagi menahan rasa muak ku mendengar celotehan dari para gadis-gadis ini.
Di saat aku sedang dalam kesulitan seperti ini,Genia tiba dan memisahkan ku dari para segerombolan gadis-gadis itu.Saat aku berhasil keluar dari situasi itu,aku langsung memberikan kotak bekal dari Rafael kepada Genia.
Saat aku menoleh ke arah wajah Genia,
aku semakin yakin kalau mereka berdua mencintai satu sama lain.Karena itu terlihat jelas dari wajah mereka berdua yang terus memerah,kalau ada yang pembicaraan tentang salah satu dari mereka di tambah perhatian dari mereka yang terlihat sangat tulus.
...----------------...
Melihat mereka yang seperti itu,aku jadi tidak ingin melanjutkan pertunangan ku bersama Rafael Gerald,karena aku juga tidak berminat untuk memiliki seseorang yang menaruh hatinya kepada orang lain.
Jadi aku pun memutuskan untuk mengakhiri pertunangan dan meminta persetujuan dari Darryl Edmond,setibanya aku di rumah nanti.
......................
Ketika aku selesai mandi dan berganti baju,barulah aku berjalan menuju ruangan kantor Darryl.Saat aku mengetuk pintu ruangan itu,Jack langsung membukakan pintu untuk ku dengan wajahnya yang terlihat sangat kelelahan.
Aku pun berjalan menuju ke arah Darryl yang pandangannya terus terfokus kepada lembaran dokumen kerjanya yang bertumpuk bagaikan gunung itu.
Melihatnya seperti itu,aku jadi tidak enak hati mengatakan apa yang ingin aku katakan.Saat pikiran ku terus berseteru untuk mengatakan hal itu atau tidak.
Di saat aku sibuk memikirkan hal itu,
tiba-tiba Darryl menatapku dan bertanya.
"Ada apa,Olin?apa ada sesuatu yang menganggu mu di sekolah?"
tanyanya kepada ku.
Aku menggelengkan kepala ku.
"Tidak,Semuanya berjalan baik,"
jawab ku.
Darryl tertegun dan menatap ku dari bawah ke atas.
"Apakah Kau baru mendapatkan luka atau kau hanya ingin mengucapkan terima kasih karena aku sudah memberitahu Ibu mu kalau kau bersekolah hari ini?"
tanyanya lagi.
Aku menganggukkan kepala ku,untuk menanggapi apa yang baru saja dia katakan.
"Saya sangat berterima kasih kepadamu anda karena telah memberitahu Ibu Saya tentang hal itu,"
ucap ku dengan .
Darryl menghentikan tangannya dan menatap ku dengan tajam.
"Sama-sama tapi bisakah kamu menganti cara bicara mu yang sangat sopan itu?aku merasa seperti berbicara dengan karyawan ku,"
tuturnya kepada ku.
Aku terdiam sebentar mendengar apa yang baru saja dia tuturkan,aku merasa sangat kesulitan untuk berbicara santai kepadanya karena aku terbiasa bicara seperti ini kepada Ayah ku saat aku masih beridentitas sebagai Jiazhen.-
"I-Iya... Ayah,"
jawab ku dengan terbata-bata.
"Nah itu jauh lebih baik,sebaiknya kau keluar dari tempat ini.Karena sebentar lagi para partner kerja Ayah tiba untuk rapat karena masalah gangster yang menganggu bisnis kita,"
jelasnya kepada ku.
Aku pun mengurungkan niat ku untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin aku katakan.Dan berjalan keluar dari ruangan itu,saat aku keluar dan berjalan menuju ke arah kamar ku.
Aku melalui beberapa orang yang sepertinya itu adalah orang-orang yang baru saja di katakan oleh Darryl tadi.
Aku yang penasaran dengan apa yang terjadi pada bisnis pria itu,karena ingin mengetahuinya aku pun berlari menuju ke arah belakang yang kebetulan ruangan kerja Darryl berada di lantai bawah,untuk menguping apa yang sedang mereka bicarakan dalam rapat hari ini.
Saat aku mendengarnya,seketika timbul perasaan ingin menghabisi orang-orang yang jahat itu,karena aku juga sudah lama tidak membantai orang-orang yang tidak tahu aturan seperti itu.Sehinga jiwa yang haus akan darah memenuhi diri ini hingga aku harus melampiaskannya.
Di tambah ini akan menjadi ladang uang ku yang akan aku dapat dari keluarga ku sendiri,maka dari itu aku sepertinya akan menyamar dengan identitas palsu dan mengambil keuntungan yang besar dari Darryl Edmond.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments