Bab 10 | Pertemuan

Lucy menatapku dengan sangat sinis lalu meminta Sopir yang sedang membawa mobil yang kami tumpangi saat ini untuk berhenti.

"Hentikan Mobilnya!"

teriaknya kepada sopir itu.

Sopir yang saat ini sedang menyetir pun, langsung menghentikan mobil yang dia kendarai.

"Baik,Nyonya Lucy."

Tanpa berpikir panjang,dia langsung membuka pintu mobil yang ada tepat di samping ku dan mendorong ku keluar dengan sangat kasar.Hingga aku terjatuh dan tubuhku menghantam pinggiran aspal jalanan.

Setelah itu,dia memalingkan wajahnya dari ku dan menutup pintu mobil itu dengan sangat kencang lalu meninggalkan aku sendiri di jalanan yang sepi itu.

Aku hanya terduduk menahan rasa sakit dari benturan akibat dorongan Lucy tadi,sambil menatap mobil yang terus berjalan menjauhi diri ku.

Aku menghela nafas dan mulai mencoba bangun dari posisi terduduk ku saat ini,setelah itu barulah aku membersihkan pasir dan beberapa daun kering yang menempel pada celana ku.

Aku tidak terlalu panik menghadapi perlakuan yang di lakukan oleh wanita itu,karena jiwa yang sedang ada di tubuh anak ini adalah jiwa orang dewasa yang sudah merasakan berbagai macam perbuatan buruk dari Ibu Selir terdahulu yang bahkan lebih kejam dari ini.

Namun itu akan berbeda,jika bocah ini yang menghadapi semua yang terjadi saat ini.Seorang anak yang masih berumur 10 tahun dan memiliki tubuh yang lebih kecil dari anak-anak yang seumurannya.

Mengingat tatapan dari Lucy saat mendorong tubuh ku tadi,membuat ku geram dan ingin sekali menarik rambut merah ikal dari wanita licik itu.

Aku pun mulai mengingat-ingat jalan yang aku lalui tadi,aku hampir mengingat keseluruhan jalan yang aku lewati tetapi aku memutuskan untuk tidak pulang lebih cepat hari ini.

Jadi,aku pun memutuskan untuk mampir

ke suatu tempat yang sangat menarik jiwa ku hingga aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku darinya.

Sebuah bar yang dimana banyak sekali pria dan juga wanita dewasa yang keluar-masuk dari tempat itu,aku pun melangkahkan kaki ku dengan penuh percaya diri dan ketika aku berdiri tepat di depan pintu tempat itu.

Seorang laki-laki bertubuh besar dan kekar mencegat langkahku,aku pun mendongakkan leher ku untuk menatap wajah dari pria yang bertubuh besar itu.

Dia menatap ku dengan sangat tajam dan menutupi wajahku dengan telapak tangan kanannya yang besar,sebesar wajah ku.

"Pergilah,ini bukan taman bermain!"

ucapnya kepadaku dengan sangat tegas.

Aku pun berusaha melepaskan telapak tangan yang besar ini dari wajah ku dengan sekuat tenaga tapi aku tetap tidak sanggup melakukannya hingga akhirnya Pria itu melepaskan tangannya sendiri.

"Hah... Biarkan Saya masuk,Saya ingin mencicipi minuman itu sedikit saja..."

ucapku dengan lirih kepada Pria bertubuh besar itu.

Dia menggelengkan kepalanya ke arah

ku dan memberikan ku sebuah permen bergambarkan buah stroberi ke arah ku.

"Pergilah,Jangan mempersulit pekerjaan ku dan ambil ini,"

ucapnya kepada ku sambil mendorong ku dengan pelan menjauh dari pintu tempat itu.

Aku tidak semudah itu menyerah dan menuruti apa yang dia katakan,Aku mencoba berbagai macam cara untuk masuk ke dalam sana,mulai dari bersembunyi di antara segerombolan gadis-gadis,berpura-pura menjadi tukang antar paket bahkan aku juga mencoba membobol pintu arah belakang tetapi tetap saja ketahuan.

Hingga akhirnya,aku di tahan oleh Pria besar itu dengan tali yang mengingat tangan dan kaki ku.Dengan wajah ku yang manis dan cantik,aku pun mulai memasang ekspresi menyedihkan hingga beberapa Pria memintanya untuk membebaskan ku.

"Hei... Biarkan Putri Kecil itu masuk dan menghibur kami."

"Ya biarkan dia masuk."

"Ayo sayang,ikut Om..."

Tetapi Pria Besar itu mencegat mereka dan menggelengkan kepalanya ke arah mereka dengan tatapan matanya yang sinis hingga mereka semua yang ada di depan ku seketika ketakutan dan menyerah untuk membantuku.

Aku yang sudah lelah melakukan ekspresi wajah yang menjijikkan,hanya bisa duduk terdiam sambil melihat orang-orang masuk dan keluar.

Pria besar itu pun menoleh ke arah ku dan mengejekku.

"Kenapa kau terdiam,Bocah tengil.

Apakah kau sudah menyerah?"

Aku enggan untuk menoleh ke arahnya dan mulai menggerutu.

"Menyebalkan,padahal aku hanya ingin minum seteguk dan pergi."

Pria Besar itu pun menertawakan ku karena mendengar apa yang aku gerutu kan tadi,seolah-olah apa yang aku ucapkan hanyalah sebuah lelucon baginya.

Di saat dia terus terkekeh menertawakan ku,aku malah ingin menangis menatap ke arah gelas yang di pegang oleh Seorang Pria,gelas yang terisi penuh dengan minuman yang terlihat sangat menyegarkan itu.

Minuman yang terlihat berbeda dengan arak yang dulu aku minum,bahkan itu terlihat lebih enak.Apa mungkin itu adalah arak yang lebih berkualitas dari pada arak khusus yang di hidangkan saat perayaan kemenangan perang.

Aku terus membayangkan rasa segar saat minuman itu membasahi tenggorokan ku hingga tanpa sadar air liur ku mengalir dengan deras menatap ke arah gelas Pria itu.

Pria itu akhirnya melihat ku dan langsung menatapku dengan tajamnya ditambah dengan ekspresi kesalnya.

Saat melihatnya seperti itu,aku tidak merasa takut sama sekali.Malahan aku membalas tatapannya,hingga Pria itu menjadi semakin kesal dan berjalan menuju ke arah ku.

Di saat Pria itu hampir mendekati ku,

Pria Besar yang menjaga pintu masuk bar itu langsung mencegat Pria itu.

Melihat tatapan sinis dari Pria bertubuh besar itu,dia langsung mengurung kan niatnya untuk menghampiri ku.

Di saat Pria itu berjalan pergi menjauh dari kami,Pria Besar yang menolong ku tadi menoleh ke arah ku dan memasangkan kaca mata hitam yang ada di saku bajunya kepada ku.

Ketika aku berusaha melepaskannya dengan cara menggoyang-goyangkan kepala ku,dia langsung memperbaiki kaca mata yang hampir terjatuh itu.

"Jangan lepaskan itu,Bocah.Gunakanlah,"

ucapnya dengan nada datar.

Aku awalnya mengernyit dan masih berusaha melepaskannya tapi ketika aku melihat Seorang Wanita berjalan mengenakan benda ini,aku langsung  mengurungkan niat ku untuk melepaskan nya.

Karena dia terlihat sangat keren saat masuk ke dalam sana sambil mengenakan ini.

Pria Besar itu pun kembali tertawa melihat ku mengenakannya dengan penuh percaya diri.

"Lihatlah,kau terlihat sangat keren saat ini!"

ucapnya kepada ku dengan nada yang cukup keras.

Aku menatapnya sambil memiringkan kepala ku lalu menaikan salah satu alis ku.

"Aku sudah keren dari lahir,"

imbuhku dengan percaya diri.

Mendengar apa yang baru saja aku katakan,dia kembali terkekeh tanpa henti.

"Haha... Bocah yang penuh percaya diri,

Kita sudah sangat dekat sekarang.Jadi Siapa namamu?"

tanyanya kepada ku.

Aku engga untuk memberitahunya lebih dahulu jadi aku pun menanyakan hal yang sama kepadanya.

"...Katakan nama mu terlebih dahulu?"

Dia lagi-lagi tertawa mendengar apa yang aku katakan,setelah puas tertawa dia malah mengacak-acak rambutku.

"Panggil saja aku Uncle Rock,"

jawabnya sambil menatapku.

Setelah dia mengatakan namanya,aku pun balik memberitahu nama ku kepadanya.

"Salam kenal Uncle Rock,Saya Olin."

Tidak lama setelah kami berkenalan,

tiba-tiba lewatlah seorang Pria yang nampak tidak asing di mataku.Seseorang yang sangat membekas di pikiran ku dan tidak akan pernah terhapus hingga akhir hayatku.

Ming hao,bawahan ku yang mengkhianati ku dan menghilangkan nyawaku dengan sangat kejam.-

......................

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!