Widura menghabiskan setiap harinya dengan terus berlatih tanpa kenal lelah. Ia ingin segera memiliki kekuatan seperti di kehidupan pertamanya, bahkan melebihi dari itu.
Setiap pagi, Widura selalu melatih fisiknya. Setelah siang hari, Widura berlatih jurus-jurus yang berada di dalam kitab kuning. Saat ini Widura sudah menguasai 12 jurus dari 30 jurus yang ada di dalam kitab kuning. 12 jurus itu adalah jurus bertarung jarak dekat semua, semuanya tentu harus mengandalkan kelincahan dan kekuatan fisik yang besar.
Salah satu yang paling hebat adalah jurus Siamang Hantu. Jurus ini mengutamakan kecepatan dalam setiap serangannya, jurus ini di namakan Siamang Hantu karena kegesitannya dalam memberikan serangan yang sulit di tangkap mata. Bukan hanya cepat, serangan dari jurus Siamang Hantu mengarah langsung ke bagian vital lawan, sehingga dapat menyebabkan cedera dan kelumpuhan pada lawan.
Widura jelas mengingat bagaimana ia membantai lawannya hanya dengan menggunakan jurus Siamang Hantu.
"Jurus ini sungguh sangat berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang salah,"
Setelah hampir seharian berlatih, Widura memilih berjalan menuju sebuah sungai yang tidak jauh dari kediamannya.
Sungai itu cukup dalam, mungkin sekitar 10 meter lebih. Menurut cerita leluhurnya, di dasar sungai itu terdapat sebuah pusaka legenda, yaitu Tombak Trisula, namun belum ada yang menemukannnya. Mungkin sudah ratusan orang mencoba menyelami dasar sungai iti, tapi tidak pernah menemukan Tombak Trisula.
"Apa mungkin Tombak Trisula itu akan di temukan di kehidupan keduaku kali ini?" Widura bertanya kepada dirinya sendiri.
Widura mengambil posisi duduk bersila. Ia mulai bermeditasi. Kekuatan jiwa Widura sangat besar, jauh di atas anak seusia dengannya. Hal itu terjadi karena ia sudah hidup ratusan tahun.
Widura mulai bermeditasi atau bersemedi. Widura cukup cepat dapat berkosentrasi, meskipun ini semedi pertama Widura di kehidupan keduanya ini.
Widura dapat merasakan jika tenaga dalam yang ia miliki begitu sedikit dan lemah. Widura memang menyesali perkembangannya dalam hal tenaga dalam sangat lambat.
Widura mengingat-ingat kehidupan pertamanya, Widura mengingat salah satu tempat yang paling bersejarah di dalam hidupnya, sekaligus mengubah jalan takdirnya, yaitu Air Terjun Tujuh Bidadari yang berada di bukit hitam. Jarak antara bukit hitam dengan Kota Ampera sangatlah jauh.
"Air Terjun Tujuh Bidadari, aku harus mendatangi tempat itu, di sana menyimpan rahasia besar yang membuatku dapat dengan mudah menembus pendekar bumi hanya membutuhkan waktu tiga tahun saja..."
Widura lantas berdiri dan berjalan kembali menuju kediamannya. Saat baru beberapa langkah ia berjalan, Widura menangkap seorang laki-laki berdiri tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Laki-laki itu tampak memperhatikan rumah Pramesti. Widura melihat jika laki-laki itu memiliki niat buruk terhadap Pramesti. Sedetik kemudian Widura melotot tidak percaya, bukan Pramesti yang mereka incar tapi putri Sukma Ayu.
"Mereka ingin membuat kami terkena masalah jika Sukma Ayu di culik atau tewas, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi..."
Widura meloncat ke salah satu pohon yang tidak terlalu jauh dari laki-laki itu, tapi cukup untuk melihat semua yang di lakukan laki-laki itu dan aman untuk mengintai pergerakan laki-laki itu.
"Dari mana laki-laki ini berasal? Dia benar-benar ingin membuat keluarga Lentera hancur dengan cara menculik atau membunuh Sukma Ayu..." guman Widura di dalam hatinya.
Tiga jam berlalu, tapi laki-laki itu tidak melakukan pergerakan apapun. Dia hanya terus memperhatikan kediaman milik Pramesti. Nampaknya laki-laki itu sedang mempelajari situasi dan kondisi kediaman Pramesti. Barulah setelah itu dia akan bergerak dengan membawa beberapa orang untuk membantunya.
"Dia benar-benar ingin memastikan rencana berjalan dengan lancar, dia pasti berasal dari salah satu keluarga besar di Kota Ampera,"
15 menit kemudian laki-laki itu melesat pergi meninggalkan tempatnya semula. Widura dengan sangat hati-hati mengikuti laki-laki itu. Jarak mereka cukup jauh, Widura tidak ingi terlalu dekat agar tidak memiliki resiko besar untuk ketahuan.
Laki-laki itu terus bergerak cepat membelah lebatnya hutan. Widura saat ini tertinggal cukup jauh. Hal ini di karenakan Widura belum menguasai ilmu meringan tubuh, bahkan di kehidupan pertamanya Widura tidak memiliki ilmu peringan tubuh yang tinggi.
Semakin lama jarak mereka semakin jauh, karena laki-laki yang sedang di buntuti Widura memiliki ilmu peringan tubuh yang lumayan tinggi.
Tiga jam kemudian laki-laki itu memperlambat gerakannya saat tiba-tiba di desa Air Merah. Tempat berdiam dirinya keluarga Komet.
"Tetua Dirga, syukurlah anda kembali dengan selamat," ucap seorang prajurit yang sedang berjaga.
"Kalian tenang saja, aku masih mengamati situasi di sana, ketika saatnya sudah tiba kita akan bergerak dan melenyapkan mereka secara halus," ucap Dirga sambil melangkahkan kakinya memasuki desa Air Merah.
"Haha, aku yakin sebentar lagi keluarga Lentera akan rata oleh tanah karena gagal menjaga putri Raja Jaka Kelana dari Kerajaan Jenggala," ucap prajurit itu sambil tertawa lantang.
"Inilah akibatnya jika berani bermain api dengan keluarga Komet, aku ingin lihat si sombong Argadana itu, apakah masih bisa berlagak pahlawan Kota Ampera saat desa Pasmah diratakan menjadi tanah..." seru prajurit lainnya.
Sementara itu Widura yang berdiri tidak jauh dari dua prajurit itu mengeram dengan kesal. Rupanya kelurga Komet sudah merencanakan semuanya sejak lama untuk menghancurkan keluarga Lentera. Di tambah lagi setelah mereka mengetahui jika keluarga Lentera mewarisi darah Serunting Sakti. Mereka semakin berambisi untuk menghancurkan seluruh garis keturunan keluarga Lentera.
"Sepertinya tujuan utama mereka adalah merebut kembali posisi Tuan Kota atau juga mengikuti tradisi kota lain yang mengukuhkan diri sebagai sebuah kerajaan?"
Widura mulai berpikir jika keluarga Komet akan mengkudeta posisi Tuan Kota dengan di awali dengan menghancurkan keluarga Lentera. Mereka mulai bergerak saat menyadari jika terdapat celah besar untuk menghancurkan keluarga Lentera tanpa harus menggerkan pasukan besar, yaitu dengan cara membunuh Sukma Ayu yang saat ini berada di desa Pasmah.
Sebenarnya rencana keluarga Komet ini bak sebuah pisau bermata dua. Jika mereka berhasil membunuh Sukma Ayu, maka semua rencana mereka akan berjalan dengan lancar, namun jika mereka gagal dan ketahuan maka mereka akan berhadapan langsung dengan Kerajaan Jenggala karena sudah berencana menghabisi putri Kerajaan Jenggala.
***
Dirga berjalan cepat menuju ruang pribadi ketua keluarga Komet. Ia ingin menyampaikan semua pengintaian dan pengamatannya terhadap keluarga Lentera.
"Ketua," Dirga berlutut memberi hormat kepada Batara ketua keluarga Komet.
"Dirga kau sudah kembali rupanya, informasi apa yang kau dapatkan?" tanya Batara.
"Aku menemukan jika Sukma Ayu sekarang tinggal bersama Pramesti, salah satu pendekar bumi yang berjuluk Kupu-kupu Beracun," lapor Dirga.
"Kupu-kupu Beracun, ini akan sedikit rumit sepertinya, besok aku perintahkan kau untuk kembali mengamati tempat tinggal Pramesti, barulah setelah itu kita mengatur jadwal perencanaan kita..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Nur Tini
rencana busuk pasti akan ketahuan juga
2022-10-27
0
Ahonk sundanese
kan udah di beri kitab sama sama inyek ke 6 masa lupa
2021-12-21
0
Teddy Benda
kupu kupu yg lucu
2021-10-14
0