Desa Pasmah, Kota Ampera.
"Anas, apakah kau sudah mengusir bocah sialan?" tanya Argadana kepada putranya itu.
"Ayah, kau tidak seharusnya berucap seperti itu, biar bagaimanapun dia tetap darah dagingmu," Anas membela putra sulungnya itu.
"Kau masih sudi menganggap dia sebagai anakmu, dia sudah mempermalukan keluarga kita, aku Argadana pahlawan kota Ampera tidak akan sudi menganggap dirinya sebagai cucuku," Argadana langsung menepis ucapan Anas. Sejak Argadana mengetahui jika Widura memiliki kristal Merah Darah, ia sudah memutuskan tidak akan pernah menganggap Widura sebagai cucunya.
Argadana sebenarnya sudah mengetahui jika Widura sudah meninggalkan desa Pasmah selama lebih dari satu bulan, namun dirinya tidak ingin mengatakan kepada Anas. Argadana beranggapan jika Anas tidak mengetahui hal itu.
Anas yang sudah mengetahui jika putra sulungnya itu menghilang entah kemana. Kedatangannya ke kediaman Argadana (Orang tuanya) untuk meminta ayahnya untuk mengutus beberapa orang untuk mencari keberadaan Widura, namun sepertinya itu tidak mungkin terjadi melihat dari cara Argadana menyambut kedatangannya.
Anas memilih kembali ke kediamannya. Ia tidak ingin berdebat lebih lama dengan ayahnya, Anas sendiri menyadari jika ayahnya sungguh begitu membenci putra sulunglnya itu yang hanya memiliki kristal Merah Darah di dalam tubuhnya yang menunjukan jika dirinya tidak berbakat menjadi seorang pendekar hebat di masa depan.
Anas berencana akan pergi seorang diri untuk mencari putranya itu. Ia tidak ingin membawa beberapa orang pengawal yang akan membuat ayahnya itu semakin membenci putranya itu.
***
Pagi-pagi sekali ketika Anas sudah bersiap pergi untuk mencari keberadaan putra sulungnya itu. Ia di kejutkan dengan keberadaan Widura yang baru tiba dengan pakaian compang-camping dan lusu karena termakan waktu.
"Akhirnya kau kembali juga, aku sangat cemas saat kembali ke desa kau sudah menghilang," Anas langsung memeluk putra sulungnya itu dengan begitu erat. Anas jelas tidak perduli dengan buruknya bakat yang di miliki oleh Widura.
Baginya Widura tetaplah putra sulungnya dan ia tetap menyayangi Wisuda meskipun bakatnya begitu buruk untuk dapat menjadi seorang pendekar hebat di masa depan nanti.
"Ayah tidak usah terlalu cemas, aku baik-baik saja," ucap Widura sambil menyeka keringat di keningnya.
Anas hanya bisa memberi semangat kepada Widura, untuk memberi sumber daya untuk mendukung kemajuan Widura, ia tidak berani.
"Kau harus berlatih dengan rajin, agar menjadi yang paling kuat di antara yang paling kuat, ayah akan memberikan sumber daya milik pribadi ayah untuk mendukung kemajuanmu," Anas terus berusaha membuat Widura memiliki semangat yang besar untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik.
Widura tentu ingat di kehidupan pertamanya. Ayahnya hanya mampu mencapai pendekar bumi, karena hampir segala sumber daya yang ia miliki di berikan kepada dirinya.
Di kehidupan kedua kali ini, Widura bertekad untuk menjadi lebih kuat tanpa harus menggunakan sumber daya pribadi ayahnya. Ia tidak ingin kembali melihat ayahnya gagal mencapai pendekar langit dan kembali tewas dalam sebuah misi di karenakan kemampuannya yang terlalu lemah.
"Sesuatu yang buruk yang terjadi pada kalian semua, tidak akan pernah terjadi di kehidupan keduaku kali ini," guman Widura.
"Ayah tidak usah terlalu memikirkan diriku, aku akan menjadi kuat dengan caraku sendiri, ayah hanya perlu tetap sehat untuk melihatku berada di kasta tertinggi jagad dunia persilatan." ucap Widura meyakinkan ayahnya. Ia tidak ingin kesalahan kembali terulang.
Anas tersenyum lembut mendengar semangat dari anak sulungnya itu. Entah apa yang telah terjadi kepada Widura selama menghilang, namun Anas dapat merasakan tekad yang besar dari dalam diri Widura.
Setelah itu Anas langsung mengajak Widura masuk ke dalam rumah dan membiarkan Widura untuk beristirahat sementara waktu.
Setelah Anas pergi meninggalkannya sendirian di kamar, Widura mulai mengatur semua yang harus ia lakukan untuk dapat mencapai kekuatan seperti di kehidupan pertamanya.
Widura memilih untuk memulai dari hal kecil, yaitu melatih fisiknya agar menjadi lebih kuat dan berotot. Widura ingin kembali memiliki bentuk fisiknya di kehidupan pertamanya. Dada bidang dan kedua lengan yang berisi membuat dirinya begitu gagah nan rupawan.
***
Di pagi yang cerah Widura langsung berjalan menuju Kota Ampera yang berjarak sekitar satu jam perjalanan.
Widura memilih berjalan pagi-pagi sekali untuk mengindari beberapa anak seusianya yang sering membuli dan memukuli dirinya.
Namun nasib baik belum pihak kepada Widura. Dalam perjalanan ia di sergap oleh rombongan Adnan, orang yang paling suka membuli Widura.
Jika di kehidupan sebelumnya, Widura akan lari terbirit-birit saat melihat mereka, tapi di kehidupan kali ini Widura terus melangkah maju mendekati mereka.
"Kalian lihat, sampah itu sudah sungguh berani!!!" tunjuk Adnan kepada Widura yang sudah berdiri tidak berdiri tidak jauh dari mereka. Adnan salah satu mutiara kebanggan desa Pasmah, karena Adnan lahir dengan bakat kristal Jingga. Sehingga membuat dirinya memiliki masa depan yang cerah dan besar. Saat ini Adnan sudah mencapai pendekar taruna gerbang 5.
"Dia sudah benar-benar ingin mati, karena terlalu putus asa dengan nasibnya," ejek Anub sambil tertawa merendahkan Widura.
"Kau seharusnya sudah mati, jika bukan karena kau anak dari ketua dan cucu dari pahlawan kota Ampera," Adnan tertawa dan melemparkan batu berukuran sebesar tinju kearah Widura. Batu itu sudah di suntikan tenaga dalam di dalamnya sehingga dapat melesat dengan cepat ke arah Widura.
Widura yang sudah memiliki pengalaman bertarung hidup mati selama ratusan tahun tidak mengalami kesulitan menangkap batu yang di lemparkan oleh Adnan.
Adnan dan dua orang anak buahnya itu begitu terkejut saat melihat Widura menangkap batu itu dengan sangat mudah.
"Jika hanya seorang pendekar taruna saja tidak akan mampu melukaiku di kehidupan kedua ini," guman Widura.
Adnan yang mendengar hal itu langsung di buat panas dan emosi, "Anub, ibung habisi sampah itu, buat dia meminta ampun dengan bersujud di bawah kakiku," perintah Adnan kepada dua orang bawahannya yang sudah mencapai pendekar taruna gerbang tiga.
Anub dan Ibung langsung bergerak berjalan mendekati Widura. Keduanya cukup percaya diri dapat mengalahkan Widura. Mengingat Widura belum memiliki kemampuan untuk menyimpan tenaga dalam di dalam tubuhnya.
Anub dan Ibung kompak langsung mengarahkan pukulan mereka tepat di bagian dada Widura. Di luar dugaan mereka, Widura dengan sigap menepis pukulan mereka, tidak hanya sampai di situ Widura juga melesatkan pukulan balasan kepada Anub dan Ibung.
Anub dan Ibung jelas begitu terkejut. Memang pukulan Widura tidak memiliki daya tekanan yang besar, namun cukup untuk membuat keduanya merasakan sedikit sesak di bagian dadanya.
Pukulan yang di lesatkan Widura memang tidak mengandung atau di sertai tenaga dalam. Akan tetapi Widura memfokuskan seluruh kekuatannya ke dalam pukulannya itu, sehingga membuat pukulan itu menjadi lebih kuat dan memiliki daya tekanan, meskipun tidak besar.
"Sudahlah jangan menghalangi langkahku yang sedang terburu-buru ini atau kalian akan menyesal telah menghalangi langkahku ini," seru Widura kepada Adnan, Anub, dan Ibung.
"Bagus, kau sudah semakin berani kepadaku, aku ingin lihat sampai batas mana keberanian yang kau miliki itu," ucap Adnan dengan lantang dan emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun kepala, "Anub, Ibung mari kita beri sampah ini sebuah pelajaran berharga," perintah Adnan yang langsung di ikuti anggukan setuju oleh Anub dan Ibung.
"Aku sudah mengingatkan kalian, tapi kalian tidak mengindahkan peringatkan dariku, maka terimalah nasib buruk kalian hari ini,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Dhody Up
kalau d dunia nya pasti d masakan oleh warga kakek nya wedura.
2024-02-19
0
Iron Mustapa
😃
2023-12-05
0
Imet Armis
mantab Dura hajar
2023-03-01
0